Remaist Online: Return Of The Legend

Remaist Online: Return Of The Legend
118. Ketidakmampuan


__ADS_3

Sepuluh Guild Profesional tidak mengetahui masalah yang terjadi di Syacth, sampai sebuah berita dari Guild Reister tersebar di seluruh markas Guild Profesional.


Isinya adalah tentang bantuan dari markas cabang Guild Reister yang dihancurkan yang berada di kota Syacht. Si penulis pesan permintaan bantuan sendiri terbunuh tepat setelah menulis pesan itu dan menyebarkannya di ruang bicara Guild Reister.


Sean yang membaca pesan itu segera mengumpulkan tiga wakil ketua Guild mereka, yaitu Lea, Robin, dan Abraham.


Lea adalah seorang wanita dengan ras Moon Elf dengan job Nature Archer, Robin adalah pria dengan ras Barbarian dengan job Berserker, dan Abraham adalah seorang pria dengan ras Dwarf dengan job Blacksmith.


Mereka memenuhi panggilan Sean dan berkumpul di markas utama mereka yang ada di Land Empire.


“Apa kalian sudah membaca pesan yang aku tinggalkan?” tanya Sean. Semua mengangguk.


“Apa kita akan pergi membantu ke Syacht?” tanya Lea.


“Tentu saja, tetapi setelah aku mendengar kekuatan lawan, aku sedikit ragu untuk pergi kesana.” Sean menggelengkan kepalanya.


“Tapi nama besar kita akan tercoreng jika sampai kita tidak memberikan bantuan.” Abraham menggaruk kepalanya.


“Itu dia...” Sean menggaruk dagunya, “Kekuatan kita sudah lumayan banyak berkurang karena penaklukan kita ke Great Swamp, jika ditambah dengan kerugian yang mungkin akan datang dari pertempuran ini, bisa dipastikan nama Guild Reister akan turun ke jajaran terakhir Guild Profesional.”


“Biar begitu, setidaknya kita sudah memberikan sedikit bantuan, bukan?” Robin bertanya sambil memejamkan matanya dan menunduk.


Sean terlihat berpikir sebentar lalu berkata, “Biar aku saja yang pergi seorang diri kesana dengan Geon...”


Abraham, Robin, dan Lea membelalakkan matanya, mereka tahu kalau Geon adalah kartu as mereka jika Guild Reister terancam hancur. Tidak mereka sangka Geon akan Sean ajak pergi ke Syacht.


Geon adalah seekor naga yang dibesarkan langsung oleh Sean sejak Sean mendapatkan job Dragon Knight. Sebenarnya ada tiga pemain dengan job Dragon Knight di Guild Reister, tetapi kekuatan tiga pemain ini amatlah hebat.


Ketiga pemain itu adalah Sean, JadeRed, dan Gustavo. Mereka dikenal memiliki peliharaan sendiri yang berbentuk naga. Diantara tiga naga itu, hanya Geon sajalah yang terkuat, bahkan melebihi kekuatan Sean sendiri.


Tiga wakil ketua Guild Reister mengangguk. Mereka terpaksa membiarkan Sean membawa peliharaannya untuk pergi membantu daripada nama mereka harus tercoreng.


***

__ADS_1


Syacht Stadium pukul tiga sore...


Pertarungan sudah berjalan selama dua jam dan sudah ada jatuh korban pula. Naze, Clarey, Atra, Selena, Ovyx, LoghSeveria, dan Lynx tewas setelah gagal mengeroyok Visidha.


Kata-kata tentang pentingnya kualitas dibanding kuantitas ternyata benar adanya. Buktinya, dengan keroyokan 18 orang tetap tidak mampu menumbangkan Visidha sedikitpun.


Enam Pilar Naga belum datang, padahal jika dipanggil seperti tadi, Enam Pilar Naga akan langsung datang dan bersiap menunggu perintah.


Tetapi kali ini, Enam Pilar Naga tidak datang setelah satu setengah jam lebih dipanggil sebelumnya.


Bantuan dari Visidha sudah datang sejak tadi dan formasi mengeroyok Visidha akhirnya buyar.


Slitherio, Whu, Riana, Serioza, dan Trestio mengeroyok Visidha sedangkan sisanya mengurus pasukan bantuan Visidha.


Wagata, Fadexion, Zen, dan Fisvion datang lalu membantu pasukan bantuan Visidha. Dengan begitu, pertarungan Visidha bisa lebih leluasa.


Visidha bisa bertarung dengan leluasa, tetapi tidak dengan Slitherio, Serioza, dan Trestio. 


“Aku datang!” seorang pria datang sambil menarik pedangnya dan ikut bergabung dengan Serioza.


“Zaburo?” Serioza terkejut melihat Zaburo yang datang.


“Maaf terlambat...” Zaburo tersenyum lebar sambil menunjuk ke belakangnya dengan pedangnya.


Terlihat pasukan berjirah ungu datang dengan dipimpin oleh dua orang yang masing-masing membawa pedang dan tombak. Keduanya memakai jirah berwarna biru.


“Despian? Lyne?” Serioza semakin terkejut, “Bukankah kalian seharusnya menjaga istana?”


“Bagaimana bisa kami menjaga istana yang tidak berisi Yang Mulia...” Despian memberi hormatnya.


Slitherio berdecak saat melihat teman-temannya satu persatu. Whu yang paling hebat diantara mereka sekalipun akhirnya terpaksa mati, menyisakan Slitherio, Riana, Li, dan Geisha.


Napas keempatnya terbilang kacau, mereka menghadapi situasi yang lebih hebat dibanding saat pertempuran di perbatasan.

__ADS_1


Slitherio melompat mundur, diikuti oleh Riana dan Geisha. Li berada pada posisi yang aman dan tidak akan bisa dicapai oleh siapapun, yaitu di atas stadium bersama Trestio.


“Kau tenang saja, aku ada disini dan kau tidak akan kubiarkan mati...” Trestio menepuk pundak Li yang tangannya mulai lelah memetik senar Storm Harp.


Trestio menggunakan teknik jarak jauhnya untuk tetap memastikan dirinya berada di dekat Li. 


FastStone sebelumnya meminta Trestio untuk menjaga Li mengingat hanya Li seorang yang tidak memiliki skill lari kecuali Wind Step.


“Tidak ada pilihan... Music Instrument Skill: Storm Music!” Li mengangkat tangannya dan petir biru kembali menyambar ke bumi, tetapi kali ini Li yang memanggil petir itu.


Inilah kekuatan asli dari Storm Harp, salah satu dari sekian banyaknya Equip Legendary yang memiliki elemen dan berkekuatan dahsyat. Flame Phoenix Sword salah satunya.


Li diselimuti oleh petir biru dan menyambar kesana kemari dengan dahsyatnya. Serioza sudah mengerahkan seluruh tekniknya bersama dengan Sky Splitting Hammer.


Visidha menoleh dan menatap Li yang terus memberikan senar Storm Harpnya yang diselimuti petir. Ia lalu melesat menuju Li dan meninggalkan Slitherio, Riana, Geisha, Serioza, dan Zaburo yang mengeroyoknya.


Trestio yang menyadari kalau Li menjadi sasaran Visidha segera merentangkan tangannya dan menghadang Visidha yang langsung berhenti.


“Hei, minggir...” Visidha mengepalkan tangannya lalu melancarkan pukulannya.


Slitherio yang melesat dengan kecepatan tinggi segera menggunakan kedua pedangnya untuk menahan pukulan Visidha dan terpental ke atas.


Slitherio mengendalikan dirinya lalu melesat kembali turun dan menancapkan Darkness Fire Sword lalu melompat menjauh. Ia melesat lagi menuju Visidha dan berseru, “Flame Warmage Technique: Flame Palm!”


Telapak tangan Slitherio diselimuti api lalu ia dengan cepat memberikan serangan tapaknya ke punggung Visidha. HP Visidha menurun ke 1.489.999.


“Nani*?!” Slitherio mengumpat keras lalu melompat menjauh. Ia lalu kembali melesat dan berniat menancapkan Flame Phoenix Sword, tetapi pedangnya sudah lebih dulu ditangkap oleh Visidha. (*Bahasa Jepang: Apa)


“Mengacau...” gumam Visidha sebelum melemparkan Slitherio ke bawah dan Slitherio pun ditangkap oleh Riana.


Kini, kondisi sudah semakin memburuk disebabkan karena kedatangan pasukan Serioza maupun pengawal Trestio masih tetap tidak mampu membalikkan keadaan.


Saat itulah, seseorang menepuk pundak Slitherio pelan dan orang itu berkata, “Beristirahatlah sebentar...”

__ADS_1


__ADS_2