
Di pusat kota sudah ada keramaian yang tak terhingga, yaitu sekumpulan pemain yang mungkin mencoba untuk bertemu langsung dengan Slitherio.
Karena hal itu, FastStone terpaksa mengeluarkan ketujuh pedangnya dan menggunakannya untuk menahan semua pemain itu.
FastStone mengajak Atra, LoghSeveria, Asvi, Ovyx, Zynga, dan Lynx untuk membantunya memegangi ketujuh pedangnya. Whu membantu dengan membuat satu clon yang membawa tongkatnya dan ia sendiri membantu dengan Golden Staffnya.
Bukannya menyepi karena delapan anggota Guild Sevens menghadang, keramaian malah semakin menjadi karena keributan yang ditimbulkan.
Beberapa NPC penduduk bahkan tidak mampu untuk melihat apa penyebab dari keramaian yang terjadi di kotanya itu.
Slitherio memutuskan untuk turun perlahan dan mendarat di belakang FastStone lalu menepuk pundaknya pelan.
“Slitherio? Syukurlah kau mau datang, jika terlambat sedikit saja mungkin kami tidak akan bertahan lebih lama...” FastStone berusaha menurunkan katananya dengan oerlahan, tetapi pemain di depannya tidak membiarkannya menurunkan katananya.
Keramaian semakin menjadi dan semakin bising saja saat Slitherio mendarat dan muncul di hadapan semuanya.
Beberapa pemain perempuan histeris saat melihat Slitherio, sedangkan sebagian dari pemain laki-laki mengepalkan tangannya, sebagian lagi mulai menyiapkan diri mereka untuk berfoto dengan Slitherio.
“Tunggu sebentar. Darimana kalian mendapatkan katana itu?” Slitherio merasa kalau FastStone ataupun Lynx memiliki katana. Satu orang yang terlibat saat Kota Hostix diserang melintas di pikiran Slitherio saat melihat dua katana yang dipegang oleh FastStone dan LoghSeveria.
“Jangan pernah mengatakan kalau pemilik kedua katana itu adalah dia?” Slitherio mencoba menanyakannya pada FastStone.
“Tsuyoshi pemilik dua katana ini dan ia sedang mencari tali di perpustakaan!” FastStone berkata dengan setengah berteriak karena suasana di tempat itu membuat suaranya tidak akan didengar oleh Slitherio.
Yang dimaksud datang dengan tangan kosong. Saat itulah Slitherio baru ingat kalau di perpustakaan tidak menyediakan benda yang disebut dengan tali.
“Wakil ketua FastStone, tali yang anda maksud tidak ada di perpustakaan!” Tsuyoshi berkata dengan suara sedikit berteriak. Ia lalu menatap Slitherio dan terkejut.
“Ketua Slitherio rupanya. Anda dicari oleh para penggemar anda.” Tsuyoshi berkata dengan santai.
Slitherio mengangkat tangannya dan seketika situasi menjadi senyap. Slitherio tersenyum lalu berkata, “Jika menginginkan fotoku, kejarlah aku!” Slitherio lalu menghilang dari tempat itu.
Posisi Slitherio selanjutnya adalah atap dari salah satu dari tujuh cafe yang ada mengelilingi air mancur di pusat kota.
__ADS_1
Slitherio melakukan sesuatu dan dengan cepat posisinya kembali berpindah. Beberapa orang yang mencari fotonya segera mengejar Slitherio dengan cepat.
Tak sedikit yang memilih mengikuti Slitherio dari atas atap dan terjadilah kejar-kejaran di atas atap antara Slitherio dengan para penggemarnya.
“Mari kita lihat stamina kalian sebesar apa...” Slitherio mempercepat lajunya dan dengan ceoat jarak kembali tercipta. Beberapa pemain memilih berhenti dan menyisakan satu orang yang terus mengejar Slitherio tanpa henti.
Slitherio tersenyum dan mempercepat kecepatannya lalu melesat mengelilingi Kota Hostix kira-kira sebanyak dua kali putaran.
Di awal-awal, pemain yang berhasil mengejar Slitherio masih memiliki napas yang teratur. Tetapi, makin jauh mereka melesat dan mengelilingi kota, napas pemain itu sudah semakin tidak beraturan.
Pada akhirnya, karena kasihan Slitherio akhirnya berhenti dan menerima permintaan pemain itu, yaitu berfoto dengannya.
Beberapa pemain yang tidak menyerah memburu foto dengan Slitherio segera mendekat dan berfoto dengan Slitherio secara bergantian.
Secara perlahan, beberapa pemain yang berniat berfoto dengan Slitherio segera bubar dan menyisakan setidaknya lima pemain yang ingin berbincang dengan Slitherio.
“Baik, apa yang kalian inginkan?” Slitherio bertanya di dekat air mancur pusat kota saat ia sudah kembali dari acaranya.
“Wawancara, bagaimana cara anda mengalahkan semua lawan anda di event?” salah satu dari lima pemain itu bertanya.
“Ada kabar kalau anda berhasil mengalahkan Dragon King Sean dan mendapatkan gelar Sword Emperor, apa itu benar?” pemain yang lain bertanya pada Slitherio.
“Benar...” Slitherio mengangguk lalu mengusulkan agar melakukan wawancara itu di markas utama Guild Sevens. Semua orang mengangguk lalu berjalan menuju jalur penghubung kediaman Slitherio dengan pusat kota.
Lima pemain yang mewawancarai Slitherio terkagum-kagum saat melihat susunan kediaman di sepanjang jalur itu. Ada beberapa patung yang sedang dibuat di depan markas Guild Sevens untuk menghormati para anggota Guild Sevens.
“Apa ini markas utama Guild Sevens? Terlihat sama saja dengan kediaman anda...” salah satu pemain mengomentari bentuk markas utama yang dibuat mirip dengan kediaman Slitherio.
“Aku memang merancang markas ini agar bentuknya sama dengan kediaman para anggota Guild Sevens.” Slitherio menunjuk markas utama yang berukuran sedang.
Mereka lalu masuk dan duduk di meja bundar yang menjadi tempat Slitherio dengan yang lainnya melakukan pertemuan ataupun sekedar bersantai sejenak.
“Ada juga kabar bahwa yang menyebabkan Kota Syacht menghilang dari map adalah anda, benar begitu?” tanya salah satu pemain.
__ADS_1
Slitherio mengangguk lalu bertanya, “Apa tidak ada yang ingin menanyakan kabar para wakil ketua Guild Sevens?”
“Ah iya, benar. Bagaimana cara wakil ketua Whu mendapatkan Soul Remaist milik Staff God Shoun?” tanya salah satu pemain.
Whu menjawab, “Dengan membunuhnya, tentu saja...”
“Bagaimana perasaan anda setelah mendapatkan gelar Sword Emperor dan menjadi pemain terkuat nomor tiga di Remaist Online?” salah satu pemain yang belum bertanya sejak tadi mengajukan pertanyaan.
“Begini, sejujurnya aku juga bingung ingin mengatakan apa. Tapi intinya nama Guild Sevens sudah mulai dikenal dan diakui oleh para pemain dunia.” Slitherio menjawab sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.
“Kabar tentang lima jalan Dewa sudah tersebar dan yang menyebarkannya itu adalah anda, bisa kami mendengar semua jalan itu semuanya?” tanya salah satu pemain sambil mempertajam pendengarannya.
“Beberapa caranya mungkin sudah kalian pikirkan, tetapi tiga lagi mungkin terdengar mustahil untuk kalian semua capai...” Slitherio lalu mulai menjelaskan dengan panjang lebar.
Lima pemain yang mewawancarai Slitherio segera berubah saat mendengar tiga syarat terakhir untuk menjadi dewa.
“5 kekuatan Spirit? Mengalahkan monster 10 level lebih tinggi dari level kita? Mencapai Gods Island?” tiga dari pemain itu segera berpikir, sedangkan dua lagi menggaruk kepala mereka.
“Mustahil?” tanya Slitherio yang langsung dijawab dengan anggukan cepat.
“Tentu tidak jika kalian bekerja sama dengan pemain lainnya...” Slitherio lalu mengeluarkan buku yang judulnya 'Kisah para Dewa’, “Apa kalian ingin mendengar kisah dari dua belas Dewa pertama yang berhasil melewati luasnya samudra dan ekstrimnya cuaca samudra demi mencapai Gods Island?”
Lima pemain yang ada disana segera mengangguk, sedangkan LoghSeveria, Asvi, Ovyx, Lynx, dan Zynga menaikkan alisnya. Whu, Atra, dan Naze sudah pernah membaca buku itu sehingga mereka bertiga beranjak keluar dari markas.
“Apa kalian yakin mendengarkan kisah ini?” tanya Slitherio sekali lagi, “Aku pernah membaca kisah dan kurang lebih menghabiskan waktu empat jam untuk membaca keseluruhan isi buku ini dan memahaminya.”
“Entahlah, tetapi kami ingin mendengar kisah itu...” Zynga menoleh ke sekelilingnya, “Benar?”
Semua orang mengangguk. Slitherio akhirnya memutuskan untuk membacakan kisah itu pada pemain di hadapannya dengan perlahan.
**Banyak sekali pembaca yang memanggil saya dengan panggilan 'Kak', padahal sudah saya katakan sebelumnya kalau saya ini mungkin lebih muda dari kalian semua.
Ada juga beberapa yang memanggil dengan sebutan 'Thor', padahal saya bukan dewa petir yang ada di cerita barat itu_-.
__ADS_1
Intinya kalau ingin berinteraksi dengan penulis silahkan untuk bergabung di grup penulis. Tidak dibayar dan tidak akan dipungut biaya. G R A T I S.
Dah lah, sampai jumpa di dua chapter selanjutnya**.