Remaist Online: Return Of The Legend

Remaist Online: Return Of The Legend
236. Cinta pandangan pertama


__ADS_3

Ryan memegangi kepalanya dengan satu tangan lalu mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Rayhan yang melihatnya segera bertanya, “Kenapa?”


“Mungkin ayahmu masih kepikiran tentang hal yang dulu pernah ia lakukan sampai ayahnya bisa mengambil paksa ponselnya...” Ujar Raisya. Ia lalu menatap Ryan.


“Apakah pengalaman itu adalah titik terendah yang pernah ayah alami?” Tanya Ria.


Ryan menatap semuanya, “Ah, tidak. Ada lagi yang lebih rendah dari saat itu...”


***


Sebulan berlalu dan ponsel Ryan akhirnya dikembalikan oleh ayahnya. Ryan menerima ponsel itu dengan hati gembira.


Bagaimana tidak gembira kalau selama sebulan ini Ryan bahkan tak diizinkan melihat ponselnya meski hanya sesaat. 


Selama sebulan, Ryan serasa ingin melompat dari lantai dua kamarnya ke bawah saling bosannya.


Seluruh buku yang dulu dibelikan oleh kedua orangtuanya bahkan sudah habis ia baca, dalam seminggu ia sudah selesai membacanya.


Karena tak ada kerjaan lain, ia akhirnya terpaksa meminjam lebih dari 5 Volume manga milik Hendra. 


Ia juga meminjam banyak sekali manga milik Rei, salah satu Otaku yang ada di sekolahnya. Bosan terus melanda dirinya sampai pada akhirnya ia menyerah dan ia terpaksa belajar.


“Belajar ternyata tak terlalu mengerikan...” ujar Ryan saat ditanyai oleh Hendra.


“Otakmu pasti bermasalah...” Liem menatap Ryan dengan tatapan aneh.


“Yah, dua minggu pertama memanglah membosankan, tetapi selama dua minggu itu aku belajar kalau tak selama belajar itu membosankan...” ujar Ryan.


Satu bulan itu telah mengubah kepribadian Ryan menjadi lebih baik dari sebelumnya, bahkan lebih baik dari yang sebelumnya memang sudah pada dasarnya baik.


“Oh ya, season 3 sudah selesai dan season 4 telah datang...” ujar Ray. 


“Eh?!” Ryan memegangi kepalanya, “Bagaimana bisa season selesai sebelum aku bisa naik ke Platinum 5?!”


“Itu memang pada dasarnya keputusan sistem dan kita tak bisa melanggarnya ataupun mengubahnya...” ujar Budi.


“Oh ya, sekarang kita sekolah hanya sebentar saja, bukan? Bagaimana kalau kita bermain sebentar disini?” usul Don. Semuanya menyetujui kecuali Ryan. Wajah Ryan segera mengerut.

__ADS_1


Hari Sabtu memang adalah hari kesukaan mereka karena sekolah hanya sebentar dan sisa waktunya bisa dipakai untuk bermain Rank.


“Kenapa Ryan?” Ray menyadari perubahan wajah Ryan sehingga ia bertanya.


“Ponselku, sepertinya tidak ada di dalam tasku...” Ryan memeriksa tasnya lalu berkata, “Aku takkan ikut...”


“Ketinggalan? Kalau begitu kita mainnya saat pulang saja...” ujar Liem sambil menghela napasnya panjang.


***


Waktu Ray, Ryan, Liem, Don, dan Hendra berada dalam satu kelas hanyalah setahun dan setelah itu kelas mereka akan diacak oleh sekolah.


Sudah berlalu enam bulan sejak kejadian ponsel Ryan yang diambil paksa oleh ayahnya dan sejak itulah Ryan berubah menjadi orang yang lebih rajin.


Tak tanggung-tanggung, Ryan mendapat posisi nomor delapan di jajaran sepuluh siswa terpintar di SMP 8. Itu sudah prestasi yang membanggakan bagi Ryan sendiri.


Di posisi pertama ada seorang perempuan yang mendapat julukan Otak Mesin saking pintarnya. Namanya adalah Raisya Endranto.


Dia sendiri diletakkan di kelas 8-1 dan Ryan berada di kelas yang sama dengannya, bersama Ray tentunya yang mendapat posisi nomor tiga dari seratus orang terpintar.


Isi kelas 8-1 adalah orang-orang pintar, rata-rata. Ray yang melihat 30 orang yang mendapat kelas 8-1 saja bahkan terkejut.


“Kalau begitu, bukankah saingannya bertambah berat?” tanya Ryan. Teman satu rekan strateginya mendapat kelas 8-3, yaitu Don dan Liem.


Disana, kelas 8 dibagi menjadi 5 kelas dan kelas 8-1 serta kelas 8-2 adalah kelas unggulan yang isinya hanya orang pintar. Saingan disana betul-betul berat, Ray yang menjadi orang terpintar dari sekolah Ryan dulu saja sampai mengatakan itu.


“Siapa bilang?” suara seorang perempuan terdengar di belakang keduanya. Langsung saja Ryan dan Ray menoleh ke belakang dan melihat siapa yang bertanya tadi.


Seorang perempuan yang cantik dengan rambut yang terikat menatap keduanya, “Kita akan bersaing lagi, Ray Pratama?”


Ray menatap perempuan itu, begitu juga Ryan. Dia adalah Raisya Endranto, orang yang dianggap orang terpintar di seluruh sekolah.


“Oh, benar juga...” Ray menggaruk kepalanya, ia tak bisa berkonsentrasi karena cantiknya Raisya itu. Ryan juga sama.


“Sampai jumpa satu bulan lagi, di kelas 8-1...” Raisya melambaikan tangannya sambil mengedipkan sebelah matanya.


Ray dan Ryan salah tingkah saat melihat itu, sampai Don dan Hendra menyapa keduanya.

__ADS_1


“Oh, jadi itu Raisya? Aku tak menyangka dia secantik itu...” Don menatap seorang perempuan yang sedang berjalan menjauh dan menuju gerbang.


“Kalian berdua sampai menganga begitu, bagaimana mungkin ia bisa tidak cantik?” tanya Hendra.


“Lupakan itu...” Ryan mengibaskan tangannya tanpa mengalihkan pandangannya pada Raisya yang sudah amat jauh.


“Menarik, kutunggu kepintarannya...” gumam Ryan pelan.


***


“Pantas aku merasa seperti sedang diawasi waktu itu, ternyata kau rupanya...” Raisya menatap Ryan datar.


“Hehehe...” Ryan menggaruk kepalanya.


“Jadi begitu, caranya ayah bisa bertemu pada ibu...” Rayhan mengelus dagunya, “Aku mengerti...”


“Bukan, masih jauh!” Ryan memukul pundak Rayhan pelan, “Masih jauh untuk mengatakan kalau saat itu adalah saat pertama kami bertemu...”


“Masih panjang ya? Sampai kapan? Jam sudah mau jam 00.00 malam...” Ria melihat ponselnya. Mereka sedang duduk di teras rumah dan terlihatlah kalau malam semakin larut dan suhunya semakin dingin.


“Benar, aku bisa bangun siang besok...” Rayhan berdiri dan menatap Ryan, “Ayah, kami berdua tidur duluan ya?” 


Ryan mengangguk lalu berkata, “Baiklah, tidurlah duluan. Kami akan menyusul nantinya...”


***


“Sampai mana ceritanya kemarin?” tanya Ryan. Hari sudah malam dan Ryan berniat melanjutkan ceritanya.


“Sampai saat ayah bertemu dengan ibu.” Ria lalu menatap ibunya, “Seperti apa wajah ayah saat kalian berdua bertemu?”


Ryan menatap Ria datar, “Apa yang kau pikirkan?”


“Aku hanya berpikir kalau wajah ayah setidaknya tampan dan wajah ibu itu cantik...” ujar Ria menjawab pertanyaan ayahnya.


“Yah, apa kalian mau mendengar sebulan liburan ayah yang membosankan?” tanya Ryan. Ia ingin mengalihkan pembicaraan karena caranya mengenal Raisya bisa dibilang unik.


“Tidak, kalau sudah membosankan, pasti ayah seperti orang No Life, tidak ada kehidupan...” ujar Rayhan. Ia sendiri penasaran dengan hobi ayahnya yang dulu, selain bermain game, membaca manga, dan menonton anime.

__ADS_1


“No Life?” tanya Raisya. Ia sendiri sebenarnya tahu kalau kehidupan Ryan dulu bisa dibilang tidak ada kehidupan sejak mengenal anime.


Ryan menggaruk kepalanya, “Ayah skip ya, bagian liburan ayah itu, ayah akan menceritakan tentang nyanyian ayah saat di perpustakaan yang membuat ayah mengenal ibu kalian lebih dalam...”


__ADS_2