Remaist Online: Return Of The Legend

Remaist Online: Return Of The Legend
205. Memancing dan Ice Phoenix


__ADS_3

Dua hari telah berlalu sejak duel maut yang dilakukan oleh Slitherio dan Sean di stadium yang kini sudah hancur sebagian.


Keduanya memilih berlatih pedang saja dengan pedang Simple milik Geisha. Kebetulan saja Geisha memiliki tumpukan pedang berkualitas Epic ke bawah.


Sebenarnya Slitherio memiliki pedang-pedang itu dari Oxyvian Labyrinth, tetapi ia jarang mengeluarkannya karena setiap ia memiliki waktu untuk mengeluarkannya, ia pasti akan lupa.


Ketika itulah Slitherio akhirnya ingat dengan tumpukan pedang Epic yang ia dapatkan ketika di Oxyvian Labyrinth.


Tak tahu harus diapakan karena ia memiliki sekitar 50 pedang Epic dan Ancient, ia akhirnya memilih menjualnya di tokonya.


Slitherio yang menghilang selama hampir sebulan telah menyebabkan kehebohan yang luar biasa. Ditambah dengan hilangnya dua ketua Guild Profesional membuat keseimbangan di Midvast berkurang.


Tetapi seperti yang disebutkan sebelumnya, menghilangnya dua pemain terkuat nomor satu dan dua tetap tidak mengurangi kewaspadaan 11 Guild Profesional.


Karena permainan telah berlangsung selama satu tahun, seharusnya ada beberapa guild yang mampu mengimbangi 11 Guild Profesional.


Neil Young dan Alberto Aquilani menetapkan, bagi guild yang ingin mendapat posisi di 11 Guild Profesional, diharuskan untuk menantang salah satu dari mereka dan harus menang untuk mendapat posisinya.


Sejauh pertempuran besar di Sahara Desert selesai, sudah ada 10 guild batu yang menantang 11 Guild Profesional dan semuanya kalah.


Sebab itulah, muncul istilah tak terkalahkan bagi 11 Guild Profesional ini. Dari 11 Guild Profesional itu, hanya Guild Sevens, Guild Reister, dan Guild Darkness saja yang tidak pernah sekalipun ditantang oleh guild-guild baru. Alasannya, mereka terlalu kuat.


Ditambah sejak Sean dan Slitherio hilang, nyaris tidak ada ketua guild yang cukup bodoh untuk menantang 3 guild ini. Keberadaan JadeRed, Luvian, dan Whu cukup untuk menakuti semua guild-guild baru ini.


“Begitulah berita yang kudapatkan dari Whu dan JadeRed di Midvast...” Sean menyelesaikan laporannya pada Slitherio.


Sehari lagi, mereka akan memasuki bulan kedua sejak mereka menginjakkan kaki mereka di Gods Island. Kini mereka sedang menyiapkan diri untuk ujian selanjutnya sambil memperkuat diri dengan Life Core. 


Pilihan Life Core ini mereka ambil karena tidak mungkin mereka berburu di Gods Island yang diawasi oleh sembilan dewa elemen dan juga agar tidak menimbulkan kecurigaan di mata sembilan orang ini.


Status mereka kini rata-rata berada di angka 2.000, membuat mereka bisa menghancurkan batu karang besar hanya dengan satu pukulan.


Hari ini, mereka berniat melakukan hal yang tidak wajar dilakukan pemain terkuat, yaitu memancing di pinggir pantai bersama dengan Hook God Wissie.


***

__ADS_1


Pinggir pantai...


“Kalau kalian ingin memancing, kenapa kalian belum membeli umpannya?” seorang pria yang memakai topi jerami dan membawa pancingan menatap Slitherio dengan teman-temannya yang hanya membawa pancingan serta kailnya.


“Eh, saya tidak memperkirakan itu...” Sean menggaruk kepalanya sambil tertawa kecil.


“Sudahlah, aku tahu satu umpan murah...” Wissie berjalan meninggalkan mereka dan kembali ke hutan, entah apa yang dicarinya.


Tak lama, Wissie kembali dengan satu kotak berwarna hitam. Tak terlihat isi dari kotak itu.


“Apa ini?” Geisha menatap kotak hitam itu.


“Ini adalah umpan murah yang kumaksud...” Wissie membuka kotak itu dan mengeluarkan isinya.


“Daging kecil-kecil?” Sean, Slitherio, FastStone, dan Clarey memasang wajah datar mereka begitu Wissie mengeluarkan isi kotak.


“Jangan remehkan kekuatan daging kecil-kecil ini!” Wissie menaikkan daging itu ke atas, “Daging ini adalah daging Forest Chicken yang terkenal akan aromanya yang amat kuat!”


Geisha hanya menepuk dahinya, tentunya ia mengenal nama daging itu karena ia sering memakainya untuk makanan mereka ketika di kapal sebelumnya.


Dan kini, bahan masakan nomor satu itu kini dijadikan umpan memancing oleh Wissie? Dia oasti sudah gila.


“Kenapa? Apa kalian tidak jadi mencobanya?” Wissie tersenyum lebar sambil merakit alat pancingannya, “Ini juga bisa menjadi latihan kalian untuk menghadapi ujian keempat nantinya...”


Masalah ujian, Sean sudah mengatakannya sebelumnya saat di perjalanan menuju kemari. Wissie hanya tersenyum mengerikan ketika Sean dan FastStone menceritakan hal itu.


“Kalian lihat kemampuanku ini!” Wissie berlari menuju pantai dengan cepat dan berlari diatas air. Kejadian itu cukup untuk membuat semua orang terkejut.


“Eh?! Awas pusaran airnya!”


Semua orang segera tersadar dari terkejutnya dan mencoba mencegah Wissie berlari lebih jauh lagi. Tetapi gagal.


Wissie sudah berdiri tenang di tengah lautan sambil memancing menggunakan pancingannya yang diselimuti batu-batu hijau.


Butuh waktu selama hampir setengah jam sampai Wissie akhirnya mendapatkan mangsanya, yaitu seekor ikan besar yang menggigit umpan Wissie.

__ADS_1


Wissie menarik mulut bagian bawah ikan itu lalu menariknya ke pantai dengan santai. Karena terlalu lama berada di atas laut, ikan itu akhirnya mati.


“Bagaimana caranya anda melakukan itu?” Slitherio menunjuk Wissie seperti menunjuk monster, “Bukankah disana seharusnya ada pusaran air?”


“Aku punya satu pertanyaan untuk kalian...” Wissie meletakkan pancingannya, “Berapa jarak antara pusaran air itu ke garis pantai ini?”


“Sekitar 100 m, mungkin?” Geisha menaikkan bahunya.


“Salah, jawabannya adalah 500 m dari sini...” Wissie lalu duduk di pinggir pantai, “Yang kalian lihat waktu menuju kemari adalah ilusi yang diciptakan oleh Tuhan, seolah-olah pusaran itu berada dekat dengan Gods Island tapi nyatanya terletak jauh dari sini...”


“Itu diciptakan untuk mengecoh siapapun yang mencoba mendekat ke Gods Island...” ujar Wissie lalu menunjuk ke laut.


“Apa kami boleh mencobanya?” Slitherio memasang wajah semangatnya, ia meraih satu daging kecil yang ada di kotak hitam itu lalu memasangnya di kailnya.


Setelah selesai, Slitherio segera berlari ke arah pantai dan berlari melewati lautan dengan cepat. Setelah yakin berada di tempat Wissie tadi, ia lalu memulai kegiatan memancingnya.


Semua orang segera berseru lalu melakukan seperti yang Slitherio lakukan. Setelah selesai, saat mereka berniat berlari ke dekat Slitherio, sesuatu jatuh dari atas langit.


Seekor burung dengan bulu berwarna biru terang jatuh dengan kecepatan tinggi menuju tempat Slitherio berdiri tenang.


“Slitherio, awas!” Atra berniat mengejar Slitherio, tetapi yang selanjutnya terjadi kembali membuat mereka terkejut.


Slitherio menjatuhkan pancingannya lalu terbang ke atas dan mendekati burung itu. Ketika keduanya semakin dekat, burung itu berubah menjadi seorang wanita dengan jubah berwarna biru.


Slitherio sempat ragu untuk menangkapnya, tetapi ia tidak memiliki pilihan lain dan memilih menangkapnya. Urusan diomeli oleh Geisha, itu urusan belakangan.


Slitherio menangkapnya dan membawanya ke tempat teman-temannya menunggu dengan wajah berkeringat dingin. Tak mereka sangka kalau Slitherio bisa bereaksi secepat itu saat ia hampir saja dijatuhi oleh seseorang.


“Kita bawa dia ke Holy Light Goddess...” ujar Wissie setelah memeriksa napas wanita itu. Ia lalu mengangkat wanita itu dan menggendongnya di punggungnya kemudian melesat kembali ke Kota Dewa. Yang lainnya mengikuti.


“Hei, apa yang kau lakukan tadi?” Geisha menyikut Slitherio dengan wajah kesal, “Untung saja ia terluka, kalau tidak aku akan memukulmu.”


“Kenapa? Iri karena kau tak pernah sepertinya, kubawa terbang dengan posisi seperti itu?” Slitherio tersenyum jahil.


Geisha mendengus kencang kemudian melesat lebih cepat lagi. Slitherio menggelengkan kepalanya lalu mengikuti Geisha dan yang lainnya.

__ADS_1


__ADS_2