Remaist Online: Return Of The Legend

Remaist Online: Return Of The Legend
71. Phoenix Gold Kingdom


__ADS_3

“Oxyvian Labyrinth berada di dataran tertinggi Midvast, hutannya para Monster berkekuatan tinggi, Vlavian Mountain.” Lanjut Deviasy.


“Seingatku di dekat Forgotten Forest ada Gate of Beast Hell. Kita juga bisa meletakkan satu jendral disana, King Cobra.” Ujar Demino. Ia kemudian mengambil lagi satu Hell Sins Fruit.


“Kau ambil lagi?!” Seru Sueta melihat Demino, “Buah itu langka dan kau malah memakannya seperti meminum air! Sialan kau!”


“Kenapa juga hal ini terjadi lagi?” Gumam Leone.


Kejadian ini pernah terjadi beberapa tahun lalu ketika mereka merencanakan untuk menyerang Midvast. Demino mengambil jatah dirinya dan jatah milik Leone, memaksa Leone memiliki kemampuan paling rendah diantara mereka selama beberapa minggu.


Jatah yang barusan diambil Demino adalah jatah milik Leone. Vet mengusap wajahnya, Bagune dan Louse memilih diam menatap itu semua, dan Deviasy memilih mengambil jatahnya untuk dimakan sendiri.


“Jadi begini setelah melihat reaksi Lavenia...” Leone mengabaikan kejadian itu dan melanjutkan.


Leone sangat mengharapkan Lavenia berhasil mendapatkan Crystal Magic Stone dan mengirimkannya ke tempat ini.


Satu rencana Leone setelah melihat ambisi Wagata yang gagal adalah membangkitkan lagi Wagata dan Fadexion. Leone berencana mengepung lagi Sky Empire dan berniat menghancurkan Sky Empire.


“Pertanyaanku adalah, kenapa harus Sky Empire? Bukankah ada Land Empire, Ocean Empire, dan Under... Lupakan yang terakhir.” Usul Louse. Ia tidak melanjutkan nama kekaisaran yang terakhir karena mengetahui Underworld Empire bekerjasama dengan mereka.


“Karena di Sky Empire ada satu benda yang dapat digunakan untuk membentuk tubuh baru bagi Death God...”


***


Phoenix Gold Kingdom berada di dalam kawah gunung mati yang pernah menjadi gunung paling aktif di masanya, Blanc Mountain. Phoenix Gold Kingdom didirikan oleh salah satu leluhur para ras abadi, sang Dewa Api.


Dan disinilah Slitherio, Atra, Naze, Whu, dan Geisha kini berada. Atra dipakaikan jubah yang menutupi seluruh tubuhnya dan topeng yang dipakainya saat pertempuran di perbatasan.


Di depan mereka kini terbentanglah pemandangan sebuah gunung yang memiliki sebuah kerajaan yang diakui sebagai salah satu kerajaan besar oleh dunia, Phoenix Gold Kingdom.


“Tunggu. Kami akan melakukan pemeriksaan.” Cegat salah satu penjaga pintu masuk Phoenix Gold Kingdom.


“Atas dasar apa kalian melakukan pemeriksaan pada kami sedangkan teman-teman ras kalian tidak kalian periksa?” tanya Naze dengan geram.


“Aku merasakan aura yang tidak menyenangkan dari orang bertudung ini. Buka tudungnya.” Jelas salah satu penjaga kemudian mencoba membuka tudung jubahnya Atra.


Ini adalah salah satu rencana Slitherio. Ia akan membuat keributan kemudian mengatakan kalau Atra adalah duta perdamaian dari BloodThirsty Kingdom.


“Tunggu, aku akan menjelaskan semuanya...” Slitherio menghentikan tangan penjaga itu kemudian menjelaskan.


“Oh, ia adalah duta perdamaian dari BloodThirsty Kingdom?” tanya salah satu penjaga yang sedari tadi menonton kejadian ini, “Aku tidak percaya...”


“Tidak percaya ya sudah...” Slitherio kemudian menggeser tubuh penjaga itu kemudian berjalan melewatinya.


“Hei, kami belum memastikan apa kau jujur atau tidak...” penjaga yang tadi berniat memeriksa mereka menepuk pundak Slitherio kemudian mencengkeramnya.

__ADS_1


“Apa ini...”


Pundak Slitherio terasa keras karena Jirah yang dipakainya. Ia memakainya untuk meyakinkan kalau dirinya adalah salah satu diantara mereka.


Slitherio tersenyum lebar sebelum berbalik dan menangkap tangan penjaga itu kemudian melemparnya ke belakang. Sambil melempar, ia berkata, “Tangkap ini, Atra...”


Atra tersenyum dibalik topengnya, ia kemudian bergumam, “Touch the Soul...”


Touch the Soul adalah salh satu skill yang ditemukan Atra di perpustakaan BloodThirsty Kingdom. Ia mempelajarinya karena ia berpikir akan berguna nanti.


Skill ini dapat membuat penggunanya menangkap benda apapun itu tanpa kesulitan yang berarti, mau itu benda besar atau benda kecil. Semua bisa ditangkap jika memakai skill ini.


Atra mengayunkan tangannya kemudian menangkap tubuh penjaga yang terlempar ke arahnya dan membantingnya ke tanah.


“Uakh...”


“Apa kau tidak terlalu keras padanya?” tanya Naze.


“Tidak. Aku tidak berniat mencari masalah dengannya tapi ia malah mencari masalah denganku...”


Atra membuka tudung jubahnya dan melepas topengnya. Dibalik topeng tercakarnya itu tersimpan wajah yang terlihat pucat.


“Ah, satu lagi...” Atra kemudian mengeluarkan sesuatu. Sebuah lencana.


“Atra, kau... Highest General?” tanya Whu dengan nada tidak percaya.


Slitherio menyingkapkan jubahnya dan memperlihatkan Jirah merah keemasan yang dipakainya dibalik jubahnya.


“Hormat pada jendral!” dengan cepat, dua penjaga yang tadi mencegat mereka berlutut dan memberikan hormatnya.


“Hais, orang-orang sombong...” gerutu Geisha.


“Aku yakin Slitherio memiliki alasan melakukan ini semua...” ujar Naze sambil berusaha tenang.


“Apa Jendral ingin langsung menemui Yang Mulia Chizui?” tanya salah satu penjaga yang masih berlutut.


“Tidak, aku ingin singgah sebentar kemari. Lagipula, aku bukanlah jendral kalian.” Ujar Slitherio kemudian menyuruh Atra memakai topengnya lagi. Ia kemudian berjalan meninggalkan kedua penjaga itu yang masih berlutut.


Naze, Whu, dan Geisha mengikuti dari belakang Atra yang sudah lebih dulu menyusul Slitherio.


Situasi didalam Phoenix Gold Kingdom nyaris tidak ada bedanya dengan situasi di BloodThirsty Kingdom. Perbedaannya hanya terletak di warna bangunan yang berwarna merah gelap.


“Entah apa yang ada dipikiran para penduduk Phoenix Gold Kingdom sampai mewarnai bangunan mereka dengan warna seperti ini.” Komentar Naze saat melihat bangunan-bangunan itu.


“Kita akan mencari restoran kemudian bertanya disana tempat menginap yang murah disini.” Ujar Slitherio mengatakan rencana mereka selama di Phoenix Gold Kingdom.

__ADS_1


“Sekalian juga aku ingin mencari penempa yang menempa pedangku ini.” Lanjut Slitherio sambil menggenggam gagang pedangnya.


“Baiklah...”


Kelimanya kemudian berjalan berkeliling Phoenix Gold Kingdom yang bisa dikatakan cukup besar untuk diletakkan dalam sebuah kawah gunung yang sudah mati.


Hampir setengah dari setengah jam mereka berkeliling dan baru mendapatkan restoran. Mereka masuk dan memesan makanan.


“Makanan disini dimasak dengan api Phoenix yang dapat meningkatkan kemampuan untuk sementara.” Ujar pelayan ketika Geisha menanyai cara memasak disini.


“Aku baru tau api Phoenix ternyata berguna juga untuk memasak...” ujar Whu sambil menatap Slitherio.


Disebabkan karena situasi di restoran itu yang ramai, sosok Atra yang memakai jubah dan topeng berhasil membuat beberapa orang disana menjadi waspada dengannya.


Beberapa orang juga terlihat ingin menghabisi Atra ditempat, entah apa tujuan mereka.


Pesanan mereka datang dan mereka pun memakannya. Yang pertama selesai adalah Whu. Entah jurus apa yang dipakainya sampai ia bisa makan secepat itu, Slitherio tidak tau.


“Aku akan mencari penginapan yang kurang lebih dekat dari istana.” Ujar Whu kemudian berlari keluar restoran.


“Kenapa harus dekat dengan istana?” tanya Naze setelah Whu keluar dari restoran itu.


“Aku ada yang ingin dibicarakan dengan raja Phoenix Gold Kingdom. Hal yang rahasia.” Jawab Slitherio.


Yang selesai setelah Whu adalah Naze, kemudian Atra, Geisha, dan terakhir Slitherio. Waktu berjalan cepat setelah Slitherio menghabiskan makanannya. Whu sudah mengirimi Slitherio pesan dan ia sudah menunggu mereka di atas atap penginapan yang sudah ditemukan.


“Hehe...” Slitherio bangun kemudian pergi perlahan setelah menghabiskan makanannya. Ia kemudian meletakkan sekantung uang dan secarik kertas.


“Kau tadi menuliskan sesuatu diatas kertas kecil, apa yang kau tulis?” tanya Naze saat melihat Slitherio meletakkan sekantung uang dan secarik kertas.


“Hehe...” Slitherio tertawa kecil kemudian berjalan menjauhi restoran itu.


***


“Jika tidak punya uang cukup kenapa makan disini?!” salah satu pelayan yang bekerja di tempat tadi Slitherio dan teman-temannya makan menemukan secarik kertas dan sekantung uang.


“Positif saja, mungkin mereka sudah kelelahan berpetualang dan sudah tidak memiliki uang yang cukup.” Komentar salah satu rekannya.


“Benar juga...”


‘Teruntuk pelayan yang menerima kertasku ini...


Aku dan teman-temanku tidak memiliki cukup uang untuk membayar seluruh makanan kalian, jadi aku menyerahkan uang yang terbilang sedikit untuk kalian.


Sampai jumpa'

__ADS_1


__ADS_2