
Job Musician kurang lebih mirip dengan musisi di dunia nyata. Memerlukan latihan bertahun-tahun untuk mampu menjadi musisi handal.
Seperti itu juga yang terjadi pada pemilik job Musician. Perlu waktu lebih dari dua bulan untuk dapat mencapai puncak tingkat Beginner.
“Tetapi, pada tingkat berapa Masterymu saat ini?” Tanya Slitherio.
“Puncak Intermediate, sedikit lagi mencapai Advance.” Jawab Li sambil menunduk lemah.
“Apa?! Puncak Intermediate?!” Atra, Naze, dan Whu yang paling terkejut diantara mereka. Mereka saja bisa sampai di tingkat Advance setelah melewati Hell Castle.
“Ya, aku baru mencapainya setelah membantu kalian tadi.” Jawab Li sambil tersenyum tipis.
“Lalu, untuk apa kau memberikan topeng ini padaku?” tanya Li sekali lagi.
“Untuk membantumu melewati level 200 dan mencapai puncak dari dunia, God.” Jawab Slitherio.
Li bergetar sejenak sebelum bertanya, “God? Mereka benar-benar ada?”
“Kau sudah tau?” tanya Slitherio dan Geisha bersamaan.
“Tadi kalian beritahu, bukan?” Li menaikkan alisnya, “Sebab itu aku tau...”
“Sudahlah, lebih baik kau terima dan setiap kau bermain di hadapan para penonton, ingatlah selalu untuk memakai topeng ini.” Slitherio mengayunkan tangannya.
“Baiklah...” Li mengangguk sambil tersenyum, “Aku akan berusaha...”
Slitherio mengangguk kemudian berjalan meninggalkan kota itu bersama teman-temannya.
Sebelum Atra berjalan, ia berkata pada Li, “Semangat...”
Li melebarkan matanya, “Hmm...” Li mengangguk.
Hari itu, mereka pergi dengan meninggalkan sebuah legenda. Legenda tentang empat makhluk yang berani melawan segerombolan monster berjumlah besar.
Legenda Lima Makhluk Bukan Manusia...
***
Dua hari berlalu sejak mereka meninggalkan kota Merchania. Sekarang, mereka sudah berada di depan pintu masuk Oxyvian Labyrinth.
Oxyvian Labyrinth kurang lebih berbentuk seperti goa, tetapi memiliki dua pintu yang berukuran sangat besar. Di pintu-pintu itu terukirkan sebuah gambar dua makhluk yang menyerupai manusia dengan tiga kepala dan enam tangan.
Selama perjalanan, mereka berhasil membuat enam rekan mereka mencapai level 200 dan berevolusi menjadi Dark Knight. Tubuh mereka sudah kembali berbentuk seperti manusia pada umumnya, tetapi ada tanda api hitam di dahi mereka.
Meski mereka berevolusi, mereka tetap memakai Equip yang menjadi Equip mereka dulu.
Slitherio membuat party yang terdiri dari dirinya, Geisha, Naze, Atra, dan Whu. Ia juga mencoba memasukkan Asheuin bersama teman-temannya, tetapi batas untuk anggota NPC dalam satu party adalah lima orang, jadi keenamnya tidak bisa dimasukkan bersama-sama.
__ADS_1
Leader Party adalah Slitherio. Entah apa yang membuat teman-temannya selalu memilihnya untuk menjadi Leader Party, tetapi sepertinya dirinya memiliki suatu bakat untuk menjadi pemimpin.
Setelah menjadi Leader Party, Slitherio mencoba mengakses Oxyvian Labyrinth dan muncullah satu jendela informasi dihadapannya.
[Kau akan memasuki Dungeon tingkat Impossible!
Apa kau yakin?]
“Yakin.”
Setelah Slitherio berkata begitu, pintu dungeon terbuka dan menunjukkan ruangan yang amat gelap. Slitherio menarik pedangnya kemudian berjalan masuk perlahan.
Ia pernah mendengar kalau kekuatan Dungeon tingkat Impossible amatlah hebat, setiap Monsternya kurang lebih berkekuatan setara dengan Boss Monster di Dungeon tingkat Hard.
Setelah semuanya masuk dan pintu tertutup kembali, puluhan monster berbentuk serigala dan ular datang mendekati mereka semua.
Begitu para monster itu mendekat, Slitherio langsung memainkan pedangnya dan ia berhasil membunuh satu serigala yang berwarna hitam.
Yang lainnya tidaklah merasa kesulitan karena keberadaan tiga pemain yang memiliki Special Job dan satu pemain yang memiliki Grand Job. Pemain itu adalah Naze.
Saat sedang dalam perjalanan, Naze berhasil mendapatkan Grand Jobnya. Jobnya saat ini adalah Wind Archer.
Dengan job Wind Archer, Naze dapat melepaskan beberapa anak panah yang mengandung kekuatan angin yang besar. Naze sendiri mendapatkan skill itu setelah mencari di toko online yang banyak terdapat di forum.
Perlu waktu berjam-jam sampai akhirnya Naze berhasil menemukan skill itu dan langsung mengganti jobnya menjadi Wind Archer.
Mereka memulihkan diri dahulu barulah melanjutkan.
“Hei, apa aku boleh memberi Asheuin sesuatu?” tanya Atra disela perjalanan.
“Sesuatu seperti apa?” tanya Whu. Ia ikut mendengarkan.
“Skill.” Jawab Atra. Ia kemudian mengeluarkan satu buku kemudian memberikannya pada Asheuin.
Asheuin menatap Atra yang tersenyum kemudian barulah ia menerimanya. Saat Slitherio membaca judul buku itu, ia merasa asing dengan skill itu.
“One Heaven Dragon?” gumam Asheuin sambil berjalan. Ia kemudian berhenti kemudian membaca buku itu.
“Hah, kita menunggu dia?” tanya Atra sambil melepaskan napasnya. Slitherio mengangguk.
Ia kemudian mendapat jendela informasi yang menginformasikan bahwa Asheuin berhasil mempelajari skill baru.
Slitherio tersenyum saat melihat nama skill yang baru Asheuin dapatkan. Tetapi ia tidak dapat tenang saat melihat deskripsi skill yang baru saja Asheuin dapatkan.
“Me-memanggil naga surga?!” Slitherio mengerutkan alisnya, “Apa-apaan itu?”
“Naga surga?” tanya Whu dan Geisha bersamaan.
__ADS_1
“Kita lihat saja nanti...” ujar Atra kemudian tersenyum lebar.
Mereka kemudian melanjutkan perjalanan. Di dalam labirin jarang ditemukannya monster yang berkeliaran. Mereka hanya berkumpul di satu tempat tertentu.
Ada juga beberapa jebakan yang nyaris saja membunuh mereka dengan sadis. Untung saja mereka tidak meremehkan labirin yang didalamnya lumayan sepi, jika saja mereka meremehkannya mungkin ini akan jadi kegagalan pertama mereka di Remaist Online.
Dengan bantuan insting Naze yang bisa dibilang mampu mendeteksi segala bahaya di depan, mereka mampu menebak letak dari beberapa jebakan.
Selama satu jam ini, mereka hanya bertemu dengan satu ruangan monster dan tak terhitung jumlahnya jebakan yang berhasil mereka lewati.
Sekarang, mereka sudah berada di depan ruangan kedua sejak mereka memasuki Dungeon ini.
Slitherio mengeratkan genggamannya pada pedangnya, sudah satu jam ia menggenggam pedangnya.
“Ayo!” Slitherio berlari masukd an diikuti oleh yang lainnya.
Yang menyambut mereka disana adalah ratusan monster yang berbentuk tengkorak berjalan dengan memakai jubah yang hanya menutupi pundaknya.
“Perkiraanku, jumlah para tengkorak ini kurang lebih sebanyak dua ratus tengkorak...” Naze melihat tengkorak-tengkorak itu dengan teliti.
“Sepertinya lebih dari itu...” Atra menunjuk ke enam pintu yang tersebar di sisi-sisi ruangan itu.
“Hah, mereka hanya menang jumlah saja...” Whu mengangkat Golden Staffnya kemudian melesat maju menyerang tengkorak itu. Dalam satu ayunan tongkat, Whu berhasil membuat kepala para tengkorak itu terlepas dari tempatnya.
“Ini... Skull?” Geisha yang sejak tadi berpikir mengerutkan dahinya saat terlintas satu makhluk yang memiliki ciri-ciri mirip seperti tengkorak-tengkorak di depan mereka.
Skull adalah monster yang berbentuk rangka berjalan. Biasanya para Skull akan hidup berkelompok dan diciptakan dengan skill Summon: Skull.
Skill Summon memiliki banyak jenisnya, tergantung dari makhluk yang ingin dipanggil. Ada yang berbentuk mayat hidup, rangka berjalan, maupun beberapa ksatria kematian.
Pengguna skill Summon dipanggil dengan nama Summoner. Summoner adalah First Job untuk para Mage.
Slitherio dan Atra memilih ikut menyerang dengan senjatanya masing-masing. Naze dan Geisha memilih menggunakan busur mereka untuk membantu rekan mereka yang maju menjadi Attacker sekaligus Defender bagi mereka.
Asheuin dengan pedangnya maju membantu dengan teknik pedangnya yang mematikan. Sen ikut maju bersama yang lainnya dengan senjatanya masing-masing.
Sen menggunakan sarung tangan besinya, Adhie dengan pedang besarnya, Dee dengan tongkat besinya, Zeo dengan tombak hijaunya, dan Bhiosa dengan perisai yang berbentuk seperti pedang. Kombinasi senjata mereka yang beragam membuat proses pembersihan musuh menjadi lebih cepat.
Tetapi, ada satu pikiran yang selalu muncul di pikiran Slitherio. Jika seandainya dua ratus Skull itu termasuk dalam gelombang pertama, maka akan banyak gelombang Skull yang akan datang menghampiri mereka.
“Zeo, Bhiosa, Dee, kalian mundur bersama dengan Atra dan Geisha. Biarkan aku bersama Naze dan Whu yang menghadapi Skull ini bersama Asheuin, Sen, dan Adhie.” Slitherio berkata sambil melawan balik para Skull itu yang masih keluar dari enam pintu yang ada di sisi-sisi ruangan itu.
“Baik tuan.” Zeo, Dee, dan Bhiosa meletakkan senjata mereka di punggung mereka sebelum berjalan menjauh bersama dengan Atra dan Geisha yang sedang memulihkan diri mereka sendiri-sendiri.
Mereka semua setidaknya yakin dengan kemampuan tinggi milik Slitherio, Naze, dan Whu. Dengan bantuan Asheuin, Sen, dan Adhie, mereka mampu melawan sisa gelombang Skull yang pertama.
Setelah yakin tidak ada Skull yang keluar dari pintu-pintu di sisi-sisi ruangan itu, Slitherio, Whu, dan Naze segera berlari menjauhi tempat pertarungan tadi dan membiarkan Atra, Geisha, Dee, Zeo, dan Bhiosa berlari memasuki tempat pertarungan. Mereka kemudian langsung memasang posisi siaga dan menunggu.
__ADS_1