Remaist Online: Return Of The Legend

Remaist Online: Return Of The Legend
165. Pertempuran Sahara Desert III


__ADS_3

Slitherio menarik Flame Phoenix Sword dan Darkness Fire Sword kemudian melesat menghampiri Leone lalu menyerang Leone dengan kedua pedangnya.


Kecepatan gerak Slitherio memang amat tinggi, tetapi kecepatan mata Leone untuk memperhatikan gerakan Slitherio juga cukup tinggi dan berada di atas Slitherio, sehingga saat Flame Phoenix Sword Slitherio hampir menyentuh kepala Leone, Leone mengangkat tangannya dan menahan pedang itu.


Slitherio menarik pedangnya kemudian maju kembali menyerang Leone yang kembali menyambut serangan Slitherio dengan kedua tangannya.


Keduanya terus bertukar serangan tanpa skill sampai pada akhirnya kedua kembali mengambil jarak.


“Sepertinya kau belum mengeluarkan seluruh kemampuanmu?” Slitherio bertanya dengan tatapan tajam. Ia menebak kalau kekuatan penuh Leone adalah saat ia memegang Death Ruler Sword, pedang yang Slitherio temukan di Hell Castle.


“Bagaimana kau tahu?” Leone mengangkat tangan kanannya yang mengeluarkan api hitam, “Apa mungkin...”


Slitherio tersenyum lebar, “Biarlah saja!” Slitherio melesat dan mengarahkan Darkness Fire Sword ke arah jantung Leone.


Leone kembali bergerak cepat dan menahan ujung Darkness Fire Sword yang terbilang tajam itu. Telapak tangan Leone tertusuk pedang merah gelap itu.


Slitherio memutar Flame Phoenix Sword yang ada di tangan kanannya dan menebaskan pedangnya yang sudah dialiri sedikit Mana. Flame Phoenix Sword berbagai bah warna menjadi merah dan mengincar leher Leone.


Leone tersenyum lebar dan membiarkan Flame Phoenix Sword Slitherio mengenai lehernya. Hasilnya...


TRANG!


Suara besi saling berbenturan terdengar di sekitar Slitherio dan Leone. Slitherio yang tak percaya kembali mengulangi hal yang sama dan hasilnya tetap sama.


Darkness Fire Sword yang tertancap di telapak tangan Leone terlepas dan sekarang Slitherio seperti memandang monster saat melihat Leone.


“Kuharap kita bisa bertarung lebih lama lagi!” Slitherio melesat dan memberikan belasan serangan tebasan dengan dua pedangnya itu.


***


Sean menarik Gold Dragon Swordnya dan melesat menyerang Visidha. Kekuatannya dulu dan sekarang berbeda jauh, ia yakin bisa mengimbangi Visidha.


Sean menggenggam pedangnya dengan satu tangan dan menebas Visidha yang tersenyum lebar. 

__ADS_1


Sean berputar dan mendaratkan serangan di dada Visidha. Visidha masih tersenyum lebar.


Sean mengalirkan Mananya kemudian berseru, “Armament!”


Gold Dragon Sword yang awalnya berwarna putih keemasan berubah menjadi hitam saat dialiri Mana oleh Sean.


Skill ini Sean pelajari dari Atra karena Sean sendiri yang memintanya. Skill Sean bisa dibilang banyak, tetapi tak ada yang mampu meningkatkan serangan pedangnya. Atra hanya mengangguk dan mengajarinya.


Gold Dragon Sword tidak mengandung elemen apapun, membuat Sean dapat mempelajari skill Armament dan memakainya dalam pertarungan.


Sean melompat mundur kemudian melesat dengan kecepatan tinggi menuju Visidha dan Sean berhasil menggoresnya sedikit.


“Si-sialan!” Visidha mengepalkan tangannya dan mencoba memukul Sean. Sean menahannya dengan Gold Dragon Sword.


“Apa?!” Visidha menarik kembali pukulannya.


Sean tersenyum lebar kemudian kembali mengayunkan pedangnya dari kiri ke kanan, kanan ke atas, atas ke kanan bawah, kanan bawah ke kiri atas, kiri atas ke bawah, dan dari bawah ke atas. Semuanya dilakukan dengan Gold Dragon Sword yang masih memakai skill Armament.


“Seandainya aku memiliki dua pedang seperti Slitherio...” Sean menatap Slitherio yang sedang menghadapi Leone sesaat sebelum mengalihkan pandangannya kembali ke Visidha.


Tangan Visidha mengepal, kepalan tangan Visidha mengeluarkan api berwarna hitam dan Visidha langsung menatap Sean tajam kemudian melancarkan satu pukulan yang langsung dihindari oleh Sean.


Saat pukulan Visidha meleset, Sean melihat celah di dada Visidha dan berniat menyerangnya, tetapi tangan kiri Visidha yang sudah mengepal langsung meluncur dan mengenai Sean dengan cukup keras.


Sean terpental dan mendarat di dekat Carey yang sedang bertarung melawan Vet.


“Sean?!”


***


Carey menarik pedang tipisnya dan menahan serangan Vet yang menyerangnya duluan.


“Biarkan aku yang menghabisimu, Greed Sins!” Vet tertawa lepas dan memainkan pisau kecilnya dengan lihai.

__ADS_1


Carey yang seperti melihat lelucon segera bertanya pada Vet, “Hei, apa kau mencuri pisau ibumu? Apa kau tidak akan dimarahi olehnya?”


Pertanyaan Carey itu membuat Vet terbakar emosi dan ia berseru, “Apa kau bilang?!”


Vet tak menunggu jawaban dan melesat cepat menuju Carey yang memasang wajah siaga. Ia sudah melatih teknik menghindarinya dan ia yakin akan hal itu.


Vet juga sebenarnya tak mengetahui kemampuan Carey sehingga ia hanya maju saja dan Carey menghindarinya dengan serangan yang indah.


Pedang tipisnya terlihat tidak berbentuk ketika dilihat dari samping, mau bagaimanapun pedangnya itu dibuat oleh temannya yang memiliki kemampuan menempa yang tinggi. Carey yang memintanya karena akan mengecoh lawan nantinya.


Nyatanya, Vet tidak mengetahui kemampuan pedang itu dan ia hanya menerobos maju saja, menghunuskan pisaunya dengan cepat tanpa mengetahui kalau pisaunya itu akan terbelah menjadi dua ketika berbenturan dengan pedang tipis Carey.


Mana Vet terbilang kuat, sampai mampu membuat pisau biasa seperti itu menjadi seperti pisau tingkat Legendary. Tetapi karena ia terbakar emosi karena pertanyaan Carey, ia lupa mengaliri pisau itu dengan Mananya.


Pisau itu terbelah menjadi dua dan Vet dengan cepat melepaskannya untuk menghindari tangannya yang nanti akan terbelah dua.


Carey menarik pedangnya dan menatap Vet puas. Ia menatapnya lama sebelum pada akhirnya Vet tersenyum lebar.


Vet menghilang dan digantikan oleh Vet yang bertubuh kurus nan kering. Ini adalah teknik mengelabui lawan.


Tetapi Carey sudah mengetahui jenis teknik ini dan ia langsung maju menyerang Vet tanpa mengetahui kalau kekuatan Vet meningkat pesat saat mengambil wujud seperti itu.


Vet mengangkat kepalan tangannya dan memukul Carey dengan keras di perutnya tanpa ampun.


Carey segera terpental jauh dan ia berusaha menguasai dirinya kemudian ia berdiri lagi. Vet melesat dengan kepalan tangannya dan Carey menahannya.


Keduanya terus bertukar serangan sekitar lebih dari dua puluh serangan sebelum mereka kembali mengambil jarak.


HP Carey tersisa kurang dari 75% karena dipukul oleh Vet. Terasa amat sakit.


Disaat Carey sedang berusaha mengatur strategi untuk bisa menghadapi Vet, seorang pria terpental dan terjatuh di sebelah Carey.


Carey mengenalinya sebagai Sean, ketua aliansi Midvast sekaligus Ketua Guild Reister dan memegang gelar sebagai pemain terkuat nomor satu sedunia.

__ADS_1


“Sean?!”


__ADS_2