Remaist Online: Return Of The Legend

Remaist Online: Return Of The Legend
192. Nine Element di Bumi II


__ADS_3

Sembilan orang dihadapan mereka melepaskan aura mereka bersamaan dan secara tiba-tiba. Tetapi Slitherio sudah memiliki rencana tersendiri.


Aura bisa dikeluarkan sedikit demi sedikit, tergantung dari keinginan seseorang. Dan itulah yang Slitherio manfaatkan sekarang.


Slitherio meminta yang lainnya untuk melepaskan sekitar 20% dari gabungan seluruh kekuatan Murderous Aura dan Fighting Aura.


Karena 20% inilah, mereka sekarang bisa bertahan dari terpaan sembilan God Aura. God aura adalah aura yang khusus didapatkan seorang manusia setelah disahkan menjadi Dewa.


Slitherio lalu melepaskan sebagian auranya dan yang lainnya mengikuti. Sedikit demi sedikit, mereka akhirnya mampu mengimbangi sembilan aura itu.


“Hehehe, menarik...” pria yang berdiri di tengah-tengah dan memiliki tubuh kekar tertawa kecil. Ia adalah Thunder God Jay.


“Bagaimana kalau kita uji mereka sekali lagi?” seorang wanita yang memakai jubah biru bertanya dengan Telepati. Ia adalah Ice Goddess Luna.


“Boleh...” pria yang hanya memakai celana panjang dan tubuh mengkilap mengiyakan. Ia adalah Metal God Tany.


Secara perlahan, aura kesembilannya meningkat lebih kuat, membuat Slitherio sekali lagi merasa tertekan. Tetapi ia sudah merencanakan ini sebelumnya dengan yang lainnya.


“Jika kalian merasakan kalau aura mereka sedikit bertambah, lepaskan sedikit aura kalian, entah itu Murderous Aura ataupun Fighting Aura...” begitulah ucapan Slitherio sebelumnya.


Mereka lalu kembali melepaskan aura yang sedikit lebih kuat, membuat seorang pria yang membawa batu mengerutkan dahinya.


“Bagaimana mungkin mereka bisa menyetarai gabungan 30% aura kita?” pria itu bukan lain adalah Earth God Monte.


“Kalau mereka sudah tumbang sejak tadi, berarti mereka tidak pantas untuk menapakkan kaki mereka disini...” seorang wanita dengan jubah biru dengan motif gelombang air menatap Monte kesal.


Semua pembicaraan itu dilakukan dengan teknik Telepati, membuat semua pembicaraan itu tidak akan didengar oleh Slitherio dan yang lainnya.


“Baiklah, kita tingkatkan sampai 55%...” Jay menatap semuanya dengan serius. Ia bisa merasakan kalau mereka tidak main-main dengan kata-kata kalau mereka ingin menjadi dewa.


Tepat setelah itu, mereka langsung melepaskan 25% aura mereka lagi dan menekan delapan orang di hadapan mereka.


Slitherio dan yang lainnya segera meningkatkan aura mereka lalu kembali menyeimbangkan diri masing-masing. Kekuatan itu benar-benar merupakan kekuatan paling tinggi yang pernah mereka hadapi.


“Apa?!” yang paling tidak tenang di antara sembilan dewa adalah Jay dan Zein. Mereka dianggap sebagai dewa terkuat dan delapan orang di hadapan mereka saat ini bahkan belum tumbang setelah mereka melepaskan 55% aura mereka.


“Baiklah, kita tambahkan sampai 75%!” Tany merasakan kalau ini adalah seluruh kekuatan yang bisa ia keluarkan saat di bumi. Kalau mereka sampai melepaskan 90% aura mereka, bumi bisa berantakan.


Kejadian seperti itu sudah pernah terjadi sebelumnya, saat pertarungan dahsyat antara Life God Xue dan Death God Benario. Pertarungan itu menghancurkan hampir seperempat bumi dan menyebabkan Benua Eastest hancur sebagian.


Mereka terdiam setelah mendengar ucapan Tany yang terdengar serius. Tany tak pernah berpikiran kalau ia akan kalah oleh sekelompok orang pendatang.

__ADS_1


Tanpa mereka ketahui, keringat dingin mulai bercucuran di wajah Slitherio, Sean, dan FastStone. Mereka bertiga diam di posisi depan dan yang lainnya berdiri di sebelah mereka.


Mereka berdiri berjajar, tetapi yang paling banyak menerima aura adalah tiga orang ini. Alasannya, karena mereka bertiga berdiri lebih dekat dengan sembilan dewa dan itu cukup untuk membuat tiga orang yang terkenal akan kekuatan mereka di medan perang berkeringat dingin.


“Baiklah, kita lepaskan 60% aura kita...” Jay menyimpulkan setelah melalui diskusi panjang di Telepati.


Setelah itu, aura memberat dan sembilan dewa melepaskan 5% aura lagi untuk menekan delapan orang itu.


Kali ini, Slitherio, Sean, Atra, Li, FastStone, Naze, Clarey, dan Geisha melepaskan seluruh aura mereka dan nyatanya, seluruh aura mereka tidak mampu menekan balik aura sembilan dewa.


Aura yang dilepaskan Li membuat tubuhnya terlihat bercahaya biru, aura yang dilepaskan Geisha terlihat berwarna abu-abu, dan aura Clarey terlihat berwarna hitam. Mereka lalu jatuh terduduk dengan wajah berkeringat dingin dan deras.


Yang masih bertahan adalah Slitherio, Sean, FastStone, Naze, dan Atra. Slitherio menarik pedangnya dan menancapkannya sambil berkata dengan lirih, “Kita... Masih bisa...”


Sean, FastStone, dan Atra mengangguk, sedangkan keringat Naze semakin banyak keluar.


Jay menaikkan alisnya, “Apa kalian yakin? Jika kami mengeluarkan 3% lagi aura kita, bisa dipastikan kalian akan tumbang, bagaimana?”


“Kami, akan menerimanya...” Sean menarik pedangnya yang tersarung laku menancapkannya di tanah, sama seperti yang dilakukan Slitherio.


“Kalian memang keras kepala...” Zein menggelengkan kepalanya, ia lalu melepaskan 5% auranya dan itu cukup memberatkan Slitherio dan yang lainnya.


Aura Slitherio berubah warna menjadi merah terang, menyinari semua yang ada disana. Pertarungan antar aura itu membuat angin keras datang dan memporak-porandakan hutan dekat Gods Altar berada.


Di Kota Fana, Kota Abadi, dan Kota Dewa, angin kencang melewati tiga kota itu dan sampai menerbangkan banyak sekali barang-barang.


Di laut, laut semakin tidak tenang setelah hampir satu jam berlalu saat air laut yang tidak tenang saat kedatangan Ice Goddess Luna dan Ocean Goddess Eny.


Badai besar melanda seluruh bumi, membuat siapapun yang melihatnya percaya kalau para dewa kembali turun ke dunia dan memberikan ujian bagi siapapun yang ingin menantang langit.


***


Utara Midvast, Kota Hostix...


Angin besar melanda, laut semakin tidak beraturan, ditambah dengan awan hitam berkumpul di satu tempat yang jauh, membuat beberapa orang mulai berpikiran yang tidak benar.


Termasuk juga para anggota Guild Sevens yang sekarang sedang berkumpul di markas utama.


“Aku yakin Slitherio dan yang lainnya sudah mencapai Gods Island...” ujar LoghSeveria di ruang pertemuan.


“Pertanda ini mungkin menggambarkan kalau ujian bagi calon dewa sudah dimulai...” ujar Riana. Ia menatap ke sekelilingnya. Ia merasakan tatapan aneh dari orang-orang di sekitarnya.

__ADS_1


“Kenapa kalian menatapku seperti itu?” tanya Riana kesal. Ia tidak biasa dilihati seperti itu.


“Tidak, hanya saja aku mulai merasa kalau kau berubah...” Asvi menatap Riana santai.


“Apa kau mau kutebas dengan kipasku ini?” Riana mengangkat kipasnya lalu memakainya untuk menunjuk Asvi.


“Kau hanya berani dengan orang yang lebih lemah...” Ovyx mendengus, “Coba kau mengatakan itu pada Ketua Guild Reister Whu?”


“Kalau itu tidak berani...” Riana menggaruk kepalanya.


“Baiklah, yang terpenting sekarang adalah aku bisa merasakan kalau kekuatan Slitherio dan mereka yang pergi kesana sudah memiliki kekuatan yang besar...” LoghSeveria berdeham sejenak, “Mungkin kita memiliki kekuatan lebih juga, tetapi kapasitas yang bisa Slitherio tampung amatlah terbatas...”


“Apa kau tahu kenapa Slitherio hanya meminta dua Remaister saja yang diminta menjaga Midvast?” tanya Whu. Ia sudah berdiri di depan pintu dengan santai. Ia lalu berjalan duduk di tempatnya biasa.


“Karena ia membutuhkan beberapa orang yang bisa menjaga Midvast, itulah yang kudengar dari sembilan Ketua Guild Profesional lainnya...” ujar Whu.


Memang, setelah Whu diminta menjaga Guild Reister, ia selalu mendapatkan rutinitas yang sama dengan Sean, yaitu mengurus pertemuan ketua Guild Profesional seminggu sekali.


Whu juga mendengar tentang kabar kalau ada beberapa pemain baru yang diturunkan di benua lain.


“Kalau begitu, bukankah yang harus pemain baru ini utamakan adalah menjadi kuat secepatnya?” tanya Lynx. Ia mendengar tentang kabar itu juga.


“Benar...” Whu lalu membagikan apa yang ia dengar dari sembilan Ketua Guild lainnya.


Menurut Zero dan Alex, mereka yang turun di benua lain akan mengalami masalah yang disebut dengan kekurangan level.


Di benua lain, ada banyak sekali monster serta ras yang jauh lebih kuat dari Benua Midvast. Yang artinya, untuk memasuki benua lain harus membutuhkan level tertentu baru bisa memasukinya.


“Lalu, bagaimana cara mereka bisa menaikkan level?” tanya Renne. Ia bisa memahami kesulitan menaikkan level.


“Tidak ada alias nol persen mereka bisa berkembang cepat...” jawab Whu. Ia terlihat serius.


“Dan ancaman yang harus dihadapi disana lebih besar dari Benua Midvast...” lanjut Whu. Ia memejamkan matanya.


“Bersyukurlah kita sudah diturunkan di Benua Midvast dengan kekuatan monster yang terbilang lemah...”


“Dan juga, kita bisa berkembang sejauh ini berkat bantuan dari Slitherio yang bisa terus meningkatkan batas level dengan cepat...”


“Aku mendengar dari Atra kalau Slitherio itu tak pernah mati, apa itu benar?” LoghSeveria yang sering berburu dengan Atra sesekali juga berbincang hal tidak penting. Sebut saja hal yang tadi itu.


Semua orang segera terdiam, “Masa?”

__ADS_1


__ADS_2