
“Ah, sudah tanggal satu. Aku balik dulu ya...” Ryan menghabiskan makanan ringannya. Ia kemudian menunggu Raisya menghabiskan makanannya kemudian turun bersama.
“Sebaiknya kau tidur saja sekarang, sudah malam.” Ujar Ryan ketika sudah sampai di kamarnya Raisya.
“Okey. Nanti beritahu aku kapan kita bisa melanjutkan perjalanan lagi. Sampai jumpa.” Ujar Raisya sebelum menutup pintu dan meninggalkan Ryan yang berdiri sambil memandangi pintu itu.
“Sendirian lagi...” Gumam Ryan sebelum turun dari lantai dua dan pulang dengan berjalan kaki.
Jalanan sudah sepi, hampir tidak terlihat orang yang masih berkeliaran di jalan. Ya ini disebabkan karena jam yang sudah menunjukkan pukul dua belas malam dan sudah berganti tahun. Orang-orang mungkin ingin menyiapkan diri menghadapi tahun yang baru dan melanjutkan kehidupan.
“Mungkin akhir tahun boleh meriah, tetapi kehidupan akan berjalan seperti biasanya ketika tahun sudah berganti...” begitulah pikiran Ryan saat melihat kembang api bersama ayahnya dulu.
Sekarang, dunia sudah berubah. Mungkin orang-orang akan melakukan apa yang mereka inginkan tanpa mengetahui bahwa kehidupan tidak akan berubah meskipun mereka melakukan hal yang berbeda di setiap kehidupan.
Tanpa terasa, Ryan akhirnya sampai di depan rumahnya. Rumahnya terlihat gelap dan sedikit menyeramkan. Tetapi tidak dengan Ryan.
Rumah itu sudah menjadi saksi hidup Ryan semenjak ia mulai belajar berjalan hingga saat ini. Banyak hal yang telah ia lalui bersama rumah itu.
Rumah yang terlihat menyeramkan diluar mungkin saja menyimpan kenangan yang indah, tanpa disadari orang lain. Itulah salah satu alasan Ryan menjadi seorang arsitek. Ia ingin menciptakan sebuah kenangan yang indah hanya dengan sebuah rumah.
Ryan memasuki rumah itu dan menyalakan lampunya. Tak lupa, ia memeriksa setiap ruangan untuk memastikan setiap barang masih ada di tempatnya.
Ryan mematikan lampu di luar setelah memastikan setiap barang dirumahnya masih di tempatnya semula. Kini hanya lampu dikamar Ryan saja yang masih menyala. Ia kemudian menyetel alarmnya menjadi pukul 07.30. Ia kemudian meletakkan kembali jam wekernya kembali di tempatnya.
Ryan membaringkan tubuhnya di kasurnya sambil merenung. Apa yang kulakukan selama ini benar?, Pikir Ryan.
Ia sudah menyelesaikan tiga Chapter Plot of Hell Empire dan kembali dikenal orang. Ia merasa bahwa mungkin dirinya akan menjadi buronan nomor satu Hell Empire seandainya hell Empire itu benar-benar ada.
Ryan mematikan lampunya kemudian tidur. Ia harus tidur dan mengisi kembali tenaganya untuk menghadapi tantangan yang akan muncul dihadapannya nanti.
***
Pagi pukul 07.30...
“Kring!” suara alarm mengisi kesunyian di kamar Ryan. Ryan bangun dengan perlahan kemudian meraih jam weker dan membantingnya ke kasur. Jam itu langsung berhenti berbunyi begitu mengenai kasurnya.
Ryan mengambil jam wekernya kemudian meletakkannya lagi di tempatnya semula. Ia kemudian berjalan menuju dapur dan mencari makanan.
Yang masih tersisa di dapurnya hanyalah gula, garam, teh, dan susu. Bisa dibilang susu adalah minuman kesukaannya sejak masih kecil hingga sekarang.
Ryan mengambil panci air dan mengisinya dengan air kemudian merebusnya. Sambil menunggu, ia melihat toples yang berisi bahan sederhana sembari bergumam.
“Setelah Plot of Hell Empire selesai, pekerjaan akan kembali. Mungkin aku harus belajar minum kopi untuk bersiap terjaga sepanjang malam.” Gumam Ryan saat melihat toples tempatnya menyimpan susu bubuknya.
Air yang direbusnya kini sudah matang, Ryan memindahkannya ke termos yang berada tidak jauh dari wastafel tempatnya biasa mencuci piring.
__ADS_1
Ryan mengambil satu kantong teh dan menyeduhnya dengan air hangat yang baru dibuatnya. Ryan juga mengambil satu bungkus biskuit. Ia kemudian berjalan menuju tempat makan.
Setelah memastikan dirinya nyaman, ia mulai melakukan kegiatan wajibnya saat pagi hari, yaitu sarapan.
Sembari sarapan, Ryan mengira-ngira seperti apa jalan dewa itu.
Meskipun sudah sempat terlintas dipikirannya saat berhasil menyelesaikan Hell Castle, ia tetap tidak percaya dengan pikirannya sendiri.
Mencapai puncak tingkat Master? Advance saja berjumlah 25 level, apalagi Master yang memiliki level sebanyak 35 level.
Melihat tiga syaratnya saja sulit, mungkin yang lagi dua lebih sulit lagi.
Seluruh skill yang dimiliki Slitherio sudah mencapai tingkatan puncak Intermediate, termasuk semua skill yang jarang dipakainya. Kemungkinan jika ingin menjadi dewa maka harus menjadikan semua skillnya menjadi tingkat Master.
Weapon Masterynya sudah melewati awal Advance dan sekarang sudah mencapai pertengahan tingkatan Advance.
Ryan juga melihat bahwa sudah semakin banyak pemain yang melewati tingkat Advance. Sepertinya mereka ingin mencapai tingkatan tertinggi dalam permainan.
Tak terasa, satu gelas teh dan satu bungkus biskuit habis selama Ryan berpikir. Berpikir tidak akan membuat Ryan menghentikan kegiatan yang sedang dilakukan.
Ryan mencuci gelasnya dan membuang bungkus biskuitnya. Ia sempat melongok ke dalam tempat sampah dan ia melihat hanya beberapa bungkus makanan yang berada di dalamnya.
Ia kemudian menyapu rumahnya dan membersihkan kamarnya. Rumahnya terlihat bersih karena baru kemarin siang ia mengepelnya. Ia berencana mengepel rumahnya sebulan sekali untuk memastikan rumahnya tetap bersih.
Ia akan tersambung karena ia telah berjanji akan bertemu lagi di hutan wilayah kekuasaan Phoenix Gold Kingdom dan bertemu dengan Atra. Mungkin saja Atra ingin mencari perkara dengan para Phoenix, pikir Ryan.
“Midvast, aku kembali...”
***
Slitherio menoleh ke sekelilingnya. Suasana sekelilingnya malam. Ia masih didalam hutan dan ia tidak sendirian.
Di hutan tersebut, selain Slitherio juga ada seorang wanita yang memakai jubah hitam bertudung dan ia terlihat lebih misterius dibanding dirinya.
“Oh, tak kusangka bisa bertemu dengan Flame King yang terkenal itu.” Ujar wanita itu dengan pelan.
Slitherio tau kalau wanita itu sudah ada ditempat itu sebelum ia sampai disana. Ia tetap bersikap tenang kemudian bertanya, “Darimana kau tau?”
“Dari pakaianmu yang berwarna merah menyala dan pedang bersarung merah dipinggangmu itu.” Jawab wanita itu sebelum berjalan mendekat, “Dan aku ingin tau perbedaan kekuatan kita.”
Setelah ia berkata begitu, ia mengangkat tangannya dan seekor makhluk yang terikat melayang tidak jauh dari mereka.
“Kalahkan dia kemudian barulah aku mengakuimu sebagai Flame King.” Ujar wanita itu setelah melepas ikatannya di monster itu. Monster itu berbentuk belalang dan belalang itu berwarna hijau gelap.
“Kau memintaku melawan belalang lemah ini? Kau pasti bercanda...” ujar Slitherio setelah melihat ikatan di belalang itu.
__ADS_1
“Oh, kau mengatakan belalang ini lemah? Aneh sekali kau...” ujar wanita itu dengan nada menyindir.
“Kau tidak percaya? Akan kubuktikan...” Slitherio menarik Phoenix Flame Sword dan menghela napasnya. Slitherio tau monster ini dan seberapa kuatnya.
Belalang ini bernama Jade Crane. Jade Crane ini memiliki kekuatan serangan yang lemah, kecepatan yang tinggi, dan pertahanan yang bisa dibilang lemah. Menurut Slitherio sendiri, kekuatan Jade Crane ini dibawah Unique Spider level 50 sampai 65 di Blood Dungeon.
Slitherio pernah menghadapi satu Jade Crane saat perjalanannya menuju Altar of King.
Saat itu, kemampuannya mungkin tidak mencukupi untuk melawan Jade Crane level 55 satu lawan satu. Namun kini, ia yakin dengan kemampuannya sendiri.
“Dari yang kudengar, Flame King lebih sering menggunakan tangan apinya dibanding pedangnya. Namun sekarang aku akan melihat kemampuan pedangnya...” ujar wanita itu sebelum menghilang.
Slitherio menarik napasnya sebelum bergumam, “Flame Sword Technique: Dance of Flame Sword...”
Slitherio memainkan pedangnya sedemikian rupa sehingga terlihat seperti menari. Si wanita yang tadi mengantarkan belalang itu bahkan sampai terpaku di atas cabang pohon dibelakang Slitherio.
“Apa yang akan dilakukannya?” gumam wanita itu.
Jade Crane tidak membiarkan Slitherio menyelesaikan tariannya sehingga ia memilih maju duluan.
“Satu kesalahanmu adalah tidak membiarkan aku menyelesaikan gerakanku, maka aku akan memberikan beberapa tebasan yang mungkin akan membuatmu menyesal pernah dilahirkan didunia.” Ujar Slitherio dingin sebelum menyambut serangan Jade Crane itu.
Jade Crane menyerang menggunakan capit depannya, sementara mulutnya digunakan untuk menggigit lawannya.
Slitherio melepaskan pedangnya dari capitan Jade Crane dan melompat mundur sebelum melesat maju menggunakan sayapnya. Sudah jarang dirinya memakai sayapnya sehingga ketika ia memakainya lagi, kecepatannya meningkat pesat.
“Apa itu? Kenapa aku tidak melihat tubuhnya sekalipun?” gumam wanita itu sambil menyipitkan matanya.
Slitherio melesat ke belakang Jade Crane dan memberikan tebasan kemudian ia berputar kekiri dan kembali memberikan tebasan.
Slitherio melompat ke sisi kiri Jade Crane sambil menebaskan pedangnya ke punggung Jade Crane kemudian menebas sisi kiri itu dengan perlahan tetapi terasa dalam. Terakhir, ia berputar ke depan dan memberikan tebasan.
Mungkin untuk menggambarkannya terasa lambat, tetapi yang terjadi sebenarnya sangatlah cepat.
Wanita itu yang menonton pertarungan itu dari atas pohon pun sampai mengusap matanya. Setiap tebasan Slitherio menghasilkan gelombang pedang yang mengandung elemen api yang sangat kuat.
Setelah selesai memberikan tebasan terakhir, Slitherio menyarungkan pedangnya. Tepat ketika pedangnya selesai tersarung, terlihatlah tubuh Jade Crane yang hancur berkeping-keping sebelum menghilang.
Mata wanita itu bulat sempurna hingga nyaris lepas dari tempatnya. Akhirnya, ia mengetahui perbedaan kekuatan diantara mereka berdua.
**Apa masih ada yang kurang?
Kalau ada, jangan sungkan untuk memberitahu kekurangannya ada dimana.
Itu saja. Sehat selalu dan jangan lupa Likenya**.
__ADS_1