Remaist Online: Return Of The Legend

Remaist Online: Return Of The Legend
76. Penempa terbaik


__ADS_3

Slitherio sekarang sedang berada di depan sebuah tempat yang menurut Atra merupakan tempat menempa terbaik di Phoenix Gold Kingdom. Ia pergi seorang diri karena Geisha sudah tidak tersambung lagi setelah Slitherio tersambung lagi di Midvast.


Semalam mereka berbincang dengan Chizui sampai pukul sebelas malam, yang artinya jam dua siang di dunia nyata. Slitherio memilih memutuskan sambungan sejenak untuk mengistirahatkan tubuhnya.


Slitherio kembali tersambung pukul setengah sembilan malam dan hari ternyata sudah pagi di Midvast. Slitherio mengetuk pintu satu persatu kamar temannya dan tidak ada satupun yang merespon.


“Kenapa mereka ini?” begitulah pikiran Slitherio saat melihat tidak ada satupun temannya yang merespon panggilannya, “Positif saja, mungkin mereka sedang tidur...”


Akhirnya Slitherio pergi sendirian dengan bertanya pada penduduk sekitar dan ia pun sampai di tempat tujuannya dengan susah payah.


Slitherio masuk setelah mengetuk pintu dan mengedarkan pandangannya di dalam toko itu. Toko itu disebut sebagai tempat menempa terbaik menurut penduduk sekitar, bahkan Atra pun mengakuinya.


“Ada yang bisa dibantu?” seorang kakek tua keluar dari sebuah ruangan dan menyapa Slitherio.


“Itu... Aku ingin memperbaiki pedangku dan juga membeli satu pedang baru.” Slitherio memberikan Flame Phoenix Sword dan memberikannya pada kakek itu.


Kakek itu menerima Flame Phoenix Sword dan memeriksanya. Raut wajah kakek itu berubah saat melihat nama pedang Slitherio.


“Ini... Flame Phoenix Sword? Darimana kau mendapatkannya?” tanya kakek itu dengan nada terkejut.


Belum sempat Slitherio menjawab, kakek itu sudah berlutut dan berkata, “Saya memberi hormat pada Jendral Tertinggi Zon...”


Slitherio kebingungan menghadapi situasi dihadapannya saat ini. Ia kemudian meminta kakek itu berdiri dan membiarkan kakek itu memperkenalkan dirinya.


“Namaku adalah Exeter, seorang penempa generasi keempat penempa Lima Senjata Api yang dimiliki Phoenix Gold Kingdom. Maafkan saya atas sikap tidak sopan saya tadi.” Exeter membungkuk sedikit dan memperkenalkan dirinya.


Slitherio menaikkan alisnya, dimana letak ketidak sopanan kakek ini tadi. Ia menepis pikiran itu kemudian bertanya, “Kau tadi berkata Lima Senjata Api? Apa itu?”


Exeter mengangkat badannya kemudian menatap Slitherio kebingungan, “Anda tidak tau?”


Slitherio mengangguk dengan raut wajah tidak bersalah.


“Artinya anda bukan Jendral Tertinggi Zon?” tanya Exeter dengan sopan.


“Tidak...”

__ADS_1


Exeter menggaruk kepalanya, “Begitu...”


“Begini ceritanya...” Slitherio menceritakan pertemuannya dengan Zon dan saat ia berguru dengan Zon. Bagian dimana ia mendapatkan Soul Remaist tidak ia ceritakan.


“Jendral Tertinggi Zon mengirimkan anda untuk menyelamatkan dunia? Impian Jendral Tertinggi sangatlah mulia...” Exeter mengelus dagunya.


“Baiklah, aku akan menceritakan asal usul Lima Senjata Api ini...” Exeter mulai bercerita setelah menenangkan dirinya yang masih terkejut dengan cerita Slitherio.


Menurut pendahulunya Exeter, Lima Senjata Api ditempa dengan baja Urotunium dan menggunakan api dari perut bumi kemudian ditempa selama sebulan penuh. 


Selama sebulan penuh ini, yang terjadi saat penempaan hanya diketahui oleh penempanya sendiri. Orang lain tidak ada yang diperbolehkan mengetahui proses penempaannya.


Ide awal penempaan senjata ini bermula saat sang Dewa Api kembali datang ke Phoenix Gold Kingdom setelah puluhan tahun meninggalkan kerajaan ini.


Beliau mengatakan bahwa kerajaan ini kekurangan penempa yang mumpuni. Oleh sebab itu, raja kedua puluh Phoenix Gold Kingdom mencari ke seluruh penjuru Midvast untuk menemukan penempa terbaik untuk membuatkan mereka senjata.


Siapa yang tau kalau penempa terbaik di Midvast ada di dalam kerajaannya sendiri. Sang penempa yang masih muda mencoba menempa lima senjata selama lebih dari sebulan dan memberikan lima senjata itu pada rajanya.


Pada awalnya, sang penempa dianggap bercanda saat mengatakan ia telah menempa lima senjata terbaik di Phoenix Gold Kingdom. Nyatanya, senjata-senjata itu mampu mengalahkan semua senjata para jendral, bahkan ada satu senjata yang menghancurkan senjata salah satu jendral.


Setelah kekuatannya diakui, lima senjata itu dinamai dengan nama Lima Senjata Api. Kelimanya adalah Great Flame Sword, Flame Phoenix Sword, Spirit Flame Spear, Staff of Flame Despair, dan Flame Ragging Hand.


Kelima senjata itu dijadikan pusaka Phoenix Gold Kingdom dan diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi.


Slitherio terpana saat mendengar cerita itu, sang Dewa Api datang langsung dihadapan para hambanya.


“Itu, seperti apa wujud sang Dewa Api?” tanya Slitherio.


“Tidak ada yang tau wujud sebenarnya dari Dewa Api. Wujudnya hanya sedikit orang yang mengetahuinya.” Exeter menggelengkan kepalanya, “Tetapi aku akan memberitahu ya dengan sedikit pelajaranku saat belajar di akademi sejarah.


“Wujud beliau kurang lebih adalah manusia dengan aura api yang menyelimuti seluruh tubuhnya. Beliau juga membawa pedang di pinggangnya dan juga beliau memakai jubah berwarna merah menyala. Pedang di pinggangnya dikatakan mampu menghancurkan seluruh gunung ini hanya dengan satu tebasan.” Ujar Exeter.


“Begitu...” setidaknya Slitherio sudah membayangkan wujud Dewa Api ini.


“Sekarang, jika tidak ada yang ingin anda tanyakan, saya akan mulai memperbaiki Flame Phoenix Sword.” Exeter membawa pedang itu dengan perlahan dan masuk ke ruangannya lagi.

__ADS_1


Slitherio duduk di salah satu kursi kemudian mengedarkan pandangannya lagi. Ia menemukan cukup banyak senjata yang memiliki bentuk yang bagus, namun masih terlalu bagus dibandingkan Flame Phoenix Sword.


Flame Phoenix Sword memiliki bentuk pedang seperti pada umumnya, tetapi pedang ini tidak memiliki pembatas antara gagang dan bilah pedangnya. Keduanya hanya dipisahkan dengan baja tebal yang berbentuk persegi panjang yang jika dilihat dari depan sangatlah tipis, tetapi dari samping terlihat tebal. 


Bilahnya sendiri terlihat tipis jika dilihat dari samping, tetapi terlihat memiliki garis dari ujung bilah yang lancip dan sampai di perbatasan antara gagang dan bilah. Panjang bilahnya sendiri sekitar satu meter kurang, jika dihitung dari sisi panjang dan bagian lancip di ujung bilahnya


Slitherio tidak tau apa yang membuat pedangnya terlihat seperti memiliki ilusi, tetapi kekuatannyalah yang besar.


Mampu bertahan selama puluhan tahun dan sudah dibawa bertempur dimana-mana, pedang itu jelas memiliki sejarah yang lebih panjang dari umur slitherio sendiri dan pastinya memiliki banyak kenangan dengan pemilik sebelumnya. 


Sudah berlalu hampir seperempat jam sejak Exeter mulai memperbaiki pedangnya. Dan sudah berlalu seperempat jam Slitherio terus berkeliling toko itu. 


Ia sebenarnya tertarik dengan satu pedang yang memiliki gagang berwarna hitam dengan bilah yang juga berwarna hitam kemerahan. Entah kenapa dirinya sangat menyukai warna pedang itu.


Tak lama, Exeter keluar dari ruangannya dan menyerahkan Flame Phoenix Sword kepada Slitherio dan meminta bayarannya.


Bayarannya lumayan murah untuk biaya perbaikan senjata legendaris, sekitar 1 gold. Jumlah yang sedikit kecil bagi Slitherio.


“Apa pedang itu dijual?” Slitherio menanyakan tentang pedang hitam kemerahan itu pada Exeter.


“Oh, pedang itu ya? Aku tidak menjualnya, tetapi jika kau menginginkannya maka ambillah.” Ujar Exeter kemudian mengambilkan pedang itu.


“Namanya adalah Darkness Fire Sword. Aku membuatnya dari baja Kazezuchi yang aku temukan di kaki Blanc Mountain.” Ujar Exeter kemudian menyerahkan pedang itu.


“Apa kau yakin tidak menjualnya?” tanya Slitherio sekali lagi.


“Yakin. Tidak ada orang di Phoenix Gold Kingdom yang mau membeli pedang aneh itu.” Ujar Exeter kemudian memberikan Darkness Fire Sword pada Slitherio, “Aku menambahkan atribut kekuatan dan kecepatan di pedang ini, jadi kekuatan dan kecepatannya sudah tidak diragukan lagi.”


Slitherio mengambilnya kemudian berkata, “Sampai jumpa...”


Exeter mengantar Slitherio pergi dan Slitherio pergi kemudian menghilang diantara gang-gang kecil. 


“Hmm, anak aneh... Menyukai pedang hitam seperti itu...” gumam Exeter sambil tertawa kecil sebelum masuk ke tokonya lagi.


**Ada yang penasaran dengan bentuk Flame Phoenix Sword?

__ADS_1


Gambarnya sudah ada di sampul** :)


__ADS_2