
Gaburon berdeham sebelum berkata, “Sebelum aku memulai pelajaran, aku ingin bertanya sesuatu pada kalian...”
“Apa itu?” Tanya FastStone penasaran.
“Apa yang harus kau miliki pertama sebelum belajar ilmu pedang?” Tanya Gaburon.
“Kemampuan?” Tsuyoshi mengangkat tangannya.
“Tidak...”
“Pedang yang bagus, mungkin...” Lynx mengangkat tangannya.
“Bukan juga...”
Slitherio berpikir keras lalu mengangkat tangannya, “Keinginan dan perasaan, mungkin?”
“Ya, keinginan dan perasaan...” Gaburon menepuk kepala Slitherio pelan, “Kau benar...”
“Kenapa keinginan? Karena dari keinginanlah, muncul sebuah kenyataan...” Gaburon memulai.
“Apa kalian tahu kenapa kebanyakan pendekar pedang itu memiliki dendam?” tanya Gaburon lagi.
“Karena mereka sudah melupakan semua itu dan menjadikan dendam itu sebagai pengingat tentang kegagalannya.”
“Kebanyakan dendam itu muncul karena sebuah kegagalan seseorang dalam melindungi sesuatu yang berharga baginya.”
“Karena kegagalan itu memicu sebuah keinginan untuk menjadi lebih kuat dan mungkin, beberapa pendekar pedang tidak menyimpan dendam itu karena menurut mereka, meskipun mereka berhasil membalaskan dendam itu, kemungkinan untuk mengembalikan sesuatu yang berharga baginya mungkin tidak ada.”
“Lalu, kenapa perasaan disebut sebagai salah satu syarat mempelajari ilmu pedang?” Lynx mengangkat tangannya.
“Tentang itu, aku lupa...” Gaburon menggaruk kepalanya, ia sendiri masih belum memahami pelajaran satu itu, bahkan setelah ribuan tahun berlalu setelah ia menerima pelajaran itu.
Reiy menepuk pundak Gaburon, “Kalau kau tidak tau, kenapa kau menawarkan pelajaran seperti itu?” Reiy menatap Gaburon dalam-dalam, “Jangan bilang kalau yang kau ingat hanya itu saja?”
Gaburon mengangkat tangannya lalu mengacak rambut Reiy, “Seperti yang kau katakan...”
__ADS_1
Slitherio, FastStone, Lynx, dan Tsuyoshi menghela napas panjang, tentu yang paling bersemangat diantara semua orang disana hanya mereka berempat.
Mereka berharap dapat meningkatkan pemahaman mereka tentang ilmu pedang, tetapi Dewa Pedang sendiri hampir lupa dengan pelajarannya sendiri.
“Meski aku lupa, aku memiliki hadiah untuk kalian...” Gaburon tersenyum canggung lalu mengeluarkan sebuah buku.
“Buku ini berjudul 'Puncture of Sky'. Buku ini berisi seni melakukan tusukan dengan ceoat dan mematikan, hanya dalam beberapa hari kalian dapat menguasainya dengan baik.” Gaburon meletakkan buku itu di depannya, “Aku akan memberikan buku sejenis ini pada kalian semua...”
Gaburon mengeluarkan sekitar empat buku lagi dan meletakkannya di depannya. Slitherio, FastStone, Tsuyoshi, dan Lynx mengeluarkan liur mereka, mereka sungguh tergoda untuk mengambil salah satu diantara lima buku itu.
“Hehehe...” Gaburon menyeringai sebelum mengambil semua buku itu dan menyimpannya kembali didalam jubahnya, “Jawab pertanyaanku barulah kalian bisa mendapatkan buku-buku ini...”
“Agar kalian siap memasuki tingkatan tertinggi, yaitu Dewa dan menjadi abadi, kalian harus mengetahui satu hal. Apa itu?” Gaburon bertanya sambil tersenyum lebar.
“Tanpa ada perasaan dan harus meninggalkan segala urusan keduniawian serta berusaha mencapai puncak dari penyempurnaan kekuatan Spirit.” Slitherio mengangkat tangannya setelah berpikir keras selam hampir setengah jam.
Hari semakin larut saat mereka belajar dari Gaburon. Lampu di markas utama dan kediaman Slitherio sudah dinyalakan serta di tepi tebing itu terang berkat cahaya dari bulan yang bulat sempurna.
“Sedikit lagi...” Gaburon menyatukan jari telunjuknya dengan jari jempolnya lalu menatap Slitherio.
Diantara sekitar tujuh belas anggota Guild Sevens yang duduk berkumpul disana, hanya Slitherio dan FastStone saja yang terus me gajukan pertanyaan ataupun menjawab pertanyaan dari Gaburon.
Reiy sendiri memilih duduk di ujung tebing dan menatap laut yang luas. Ia tahu kalau kekuatannya berada di posisi terbawah para dewa-dewi dan ia tidak dapat disetarakan dengan Twelve First Gods.
Tetapi, Nature Goddes sebagai gurunya mengajarkan agar selalu pantang menyerah dalam mencapai keinginannya itu. Buktinya, Nature Goddes diakui sebagai Dewi yang mampu mengendalikan bumi hanya dengan menutup matanya dan mengatur segalanya.
Mirip Tuhan, batin Reiy saat melihat Nature Goddes yang sedang mengendalikan bumi.
Reiy menatap Gaburon kembali dan melihat Gaburon yang sedang membagikan buku-buku yang tadi dikeluarkannya.
“Kalian harus mempelajari isi buku ini dengan baik dan temui kami di Gods Island...” ujar Gaburon lalu berjalan mendekati Reiy kemudian menggenggam tangan Reiy erat lalu menghilang.
Slitherio menatap buku yang ia terima. ‘Immortal Flame' adalah judul buku yang ia dapatkan.
Mungkin diantara empat orang yang mendengarkan pelajaran Gaburon dengan baik, mungkin FastStone adalah yang paling beruntung.
__ADS_1
FastStone mendapatkan sebuah skill yang bernama 'Sky Defiant'. Skill ini membuat penggunanya mengayunkan pedangnya dengan cepat lalu menusukkannya ke arah lawan dengan waktu yang cepat juga.
Tsuyoshi lebih baik dibanding Slitherio. Ia mendapatkan sebuah skill yang bernama 'Four Sky Sword'. Skill ini membuat penggunanya melompat ke atas dan memutar pedangnya dengan cepat sebelum mendarat turun dengan pedang yang menancap ke tanah dan menciptakan empat pedang yang jika diambil, membuat pengguna skill ini dapat melesat dan menusukkan pedangnya dengan cepat ke arah lawan.
Lynx mendapat sebuah skill yang disebut 'Divine Sword'. Skill ini membuat penggunanya dapat menciptakan pedang dari Mana dan menggunakannya dalam pertarungan. Skill ini termasuk dalam skill series dan ada satu skill yang menarik perhatian Gaburon dulu.
Yaitu 'Throw Sword'. Skill ini membuat penggunanya melemparkan pedangnya lalu melesat menghampiri pedang itu dan menggunakannya untuk menyerang musuh.
Bisa dibilang, skill-skill yang diberikan oleh Gaburon amatlah kuat jika dilihat dari deskripsi singkatnya.
Slitherio, Tsuyoshi, FastStone, dan Lynx tidak akan menyia-nyiakan skill ini. Mereka lalu berbalik dan melihat dua belas anggota Guild Sevens lainnya tertidur di tepi tebing itu, karena mereka sama sekali tidak memahami pelajaran dari Gaburon.
Tak lama, satu persatu orang disana memutuskan sambungan dan tersisalah Slitherio dengan Atra, Whu, Geisha, dan Clarey.
“Sekarang kita hanya perlu memutuskan sesuatu...” Slitherio menatap Geisha, “Bagaimana dengan Gold Winged Lion?”
“Setidaknya ia memiliki kekuatan yang melebihiku saat selevel dengannya.” Geisha berkata sebelum bersiul.
Gold Winged Lion terbang dari arah hutan dan mendarat di depan Slitherio lalu bersujud.
“Eh?” Slitherio mengangkat alisnya sambil menggaruk kepalanya, “Apa yang terjadi?”
“Aku memberitahunya kalau kau adalah orang yang menyelamatkannya, jadi ia berlaku seperti itu...” Atra mengangkat bahunya. Ia tidak tau kalau kejadian sebenarnya malah sebaliknya.
Slitherio mengangguk, ia lalu menatap Whu yang bertanya, “Bagaimana dengan tujuh hari sebelumnya?”
“Setidaknya, seluruh ketua Guild Profesional setuju untuk mengikuti perburuan ke Gate of Beast Hell.” Slitherio tersenyum canggung, “Meski aku sebelumnya mendapat masalah...” ia lalu menceritakan semua yang terjadi di Kota Verys.
Geisha dan Whu tidak dapat menahan tawa saat Slitherio bercerita saat dirinya dicegat penjaga markas dan disebut sebagai penduduk biasa.
“Hei, kalian itu tidak tau kalau saat itu aku sudah menahan pukulanku. Jika aku sampai melepaskan pukulanku, maka aku akan dianggap sebagai penantang seluruh Guild Reister.” Slitherio menepuk pundak Whu keras dan melakukannya berulang kali.
“He-hei, yang tertawa itu bukan hanya aku saja. Geisha juga!” Whu menahan tangan Slitherio yang menepuk pundaknya dengan keras berkali-kali, sampai HPnya berkurang ke angka 98%.
Atra dan Clarey hanya tersenyum saat melihat kebersamaan diantara para anggota Guild Sevens. Meski berbeda kekuatan dan penampilan, mungkin juga ras, tetapi mereka tetap bersama tanpa membeda-bedakan teman-temannya.
__ADS_1