Remaist Online: Return Of The Legend

Remaist Online: Return Of The Legend
184. Cuti untuk sang pahlawan dan masakan asin


__ADS_3

Ryan berdiri lalu berjalan menuju dapur. Raisya mematikan televisi dan mengikuti Ryan ke dapur, “Apa yang kau cari?”


“Makanan...” Ryan membuka kulkas dan teringatlah ia akan sesuatu. Ia dan Raisya belum mengisi ulang persediaan bahan makanan.


Ryan menutup kulkas dan berbalik kemudian menatap Raisya, *Tidak ada makanan, ya?”


Raisya menggeleng kemudian berkata, “Kau belum membeli bahan makanan...”


Ryan memijat keningnya lalu berkata, “Aku akan menemui Pak Fendi karena aku dipanggil olehnya...”


Pak Fendi adalah pimpinan yang dimaksud oleh Ryan sebelumnya. Ryan dipanggil karena katanya ada urusan yang penting yang ingin Pak Fendi bicarakan.


“Oh, sekalian beli bahan makanan, ya...” ujar Raisya kemudian menepuk pundak Ryan dan berjalan menuju kamar, “Aku mandi dulu.”


Ryan menatap itu lalu berjalan menuju kamarnya, ia akan mengambil jaketnya dan bersiap menuju rumah Pak Fendi.


Ryan mengunci pintu rumah dari dalam dan keluar lewat pintu belakang. Ryan membawa kunci pintu belakang dan berjalan menuju rumah Pak Fendi yang berada di dekat tempat kerjanya.


Ryan melewati minimarket tempatnya biasa berbelanja, toko elektronik tempatnya bertemu dengan Raisya, dan terus berjalan sampai melewati sebuah pertigaan kemudian belok ke kiri dan sampailah di tempat kerjanya.


Ryan melihat ke dalam dan menemukan tempat itu sepi. Ia lalu berjalan lagi dan masuk ke sebuah gang dan menyusuri gang itu sampai ujungnya.


Ryan berhenti di depan sebuah rumah yang besarnya menyetarai rumahnya sendiri dan memencet tombol belnya.


Ryan melihat pintu gerbang itu dengan datar lalu memencet belnya sekali lagi. Ryan menghembuskan napasnya. Ia lalu memencet tombol belnya sekali lagi dan suara terdengar dari dalam.


“Tunggu sebentar!” seorang pria dengan tubuh tinggi berjalan keluar dan membuka pintu gerbang.


“Mau masuk?” tawar pria itu. Ryan menggeleng.


“Lagipula yang ingin kubicarakan tidak memerlukan tempat sepi untuk membicarakannya...” pria itu bukan lain adalah Pak Fendi, “Aku hanya ingin mengatakan kalau cutimu kuperpanjang...”


“Eh?” Ryan kebingungan, apa kesalahan yang telah ia lakukan, “Tunggu sebentar, maksudnya apa?”


“Cutimu kuperpanjang.” Jawab Pak Fendi datar, “Aku tahu kalau kau memiliki kegiatan yang sepertinya lebih penting dari pekerjaanmu ini...”


“Tidak usah berbelit-belit, katakan saja, apa yang terjadi?” tanya Ryan dengan nada serius.


“Kuucapkan selamat padamu karena telah menyelesaikan 8 Chapter Plot of Hell Empire...” Pak Fendi menepuk kedua pundak Ryan keras.


“Darimana anda mengetahuinya?” Ryan mengangkat kedua tangan Pak Fendi yang ada di atas pundaknya. Ia lalu menatap Pak Fendi dengan tatapan serius.

__ADS_1


“Dari Lein dan Rangga...” jawab Pak Fendi. Ia lalu menunjukkan grup pekerjaannya dan menampilkan pesan dari Lein.


“Sang pemain terkuat nomor satu yang memiliki gelar Flame Sword God sebenarnya ada Ryan!” begitulah isi dari pesan Lein.


“Lalu ini dari Rangga...” Pak Fendi lalu menggeser layar ponselnya ke atas dan memperlihatkan pesan dari Rangga.


“Aku baru menyadari Slitherio sang Flame Sword Emperor itu sebenarnya adalah Ryan!”


“Sialan dua orang itu...” Ryan mendengus kesal, ia lalu menatap Pak Fendi yang memasukkan ponselnya kembali ke kantongnya, “ Ada lagi yang ingin anda katakan?”


“Selamat atas pernikahanmu...” Pak Fendi mengulurkan tangannya, Ryan menyambuynya dan keduanya bersalaman sejenak.


“Itu saja?” tanya Ryan lagi. Pak Fendi mengangguk.


“Baiklah, aku kembali dulu ya...” Ryan melambaikan tangannya dan berlari menjauh meninggalkan Pak Fendi yang masih berdiri di tempatnya.


***


“Daging beku, sayur beku, ini saja?” tanya Raisya ketika Ryan sudah sampai di rumah.


“Memangnya apa lagi yang harus kubeli?” tanya Ryan sambil meminum air.


“Setidaknya kau belilah bahan untuk bumbu masakan, garam, atau apapun itu yang bisa dipakai untuk menambah rasa pada makanan...” Raisya menepuk dahinya, ia sendiri bingung dengan cara apa Ryan bisa bertahan dengan makanan sederhana dan tak ada rasanya seperti ini.


“Ada yang kurang? Aku akan mencarinya sekarang...” Ryan mengangkat kepalanya sedikit, menatap Raisya.


“Tidak jadi...” Raisya mendengus dan memalingkan pandangannya dari Ryan. Ia memindahkan barang belanjaan Ryan ke dalam kulkas.


Ryan menggaruk kepalanya, “Memangnya ada yang kurang.” Tanya Ryan sekali lagi.


“Tidak ada...” jawab Raisya tanpa memandang Ryan.


Ryan menghela napasnya lalu berjalan mendekat. Ia lalu berdiri di belakang Raisya dan memeluknay dari belakang.


“Kesal ya?” tanya Ryan sambil tersenyum tipis.


“Tidak...” jawab Raisya. Ia lalu tersenyum lebar.


“Sudah kuduga kau itu sebenarnya tidaklah kesal...” Ryan berkata di sebelah telinga Raisya.


“Tidak, aku betulan kesal...”

__ADS_1


“Karena apa?”


“Entahlah, mungkin karena kau mengabaikanku tadi di kamar?” tanya Raisya.


“Memangnya kau mau dekat denganku yang belum mandi selama hampir tiga hari?” tanya Ryan balik. Wajah Raisya langsung berubah.


“Ternyata itu...” Raisya tertawa kecil.


Ryan melepas pelukannya dan berdiri di sebelah Raisya, “Apa kau mau kumasakkan sesuatu?”


“Seperti?” 


“Sayur tumis atau ayam goreng, mungkin...” Ryan berpikri sambil mengetuk dagunya dengan jari telunjuk.


“Memangnya kau bisa membuat sayur tumis tanpa bumbu?” tanya Raisya kebingungan. Baru kali ini ia melihat orang sebodoh Ryan.


“Kau meremehkan kemampuan masakku...” Ryan tersenyum lebar kemudian mengambil penggorengan, “Akan kuperlihatkan kemampuan lain dari pemain terkuat nomor satu sedunia!”


Ryan lalu memasak hanya dengan sayur, sedikit air, garam, dan secuil kaldu ayam. Raisya yang melihatnya semakin kebingungan dengan masakan yang dibuat oleh Ryan.


Tak perlu waktu lama bagi Ryan untuk menyelesaikan makanan sederhana itu. Ryan memindahkan hasilnya ke atas piring berukuran sedang kemudian menyajikannya di atas meja.


“Sayur yang memiliki kuah bening?” gumam Raisya sambil melihat makanan itu.


Ryan memilih mengambil sendok lalu memakannya dengan perlahan, “Hmm, terlalu banyak garam...”


Raisya menaikkan alisnya, “Kebanyakan garam?” ia lalu mengambil sendok dan mengambil sagur sedikit lalu memakannya.


Dahi Raisya langsung mengkerut saat merasakan sayur dan sedikit kuah bening itu, “Kau memasaknya memakai air atau air laut?!”


“Air biasa, tentu saja...” jawab Ryan lalu mengambil lagi makanannya.


“Ini terlalu asin!” Raisya meletakkan sendoknya cepat dan mengambil air lalu meminumnya.


“Kalau asin tinggal kita tambah lagi kaldu ayamnya...” ujar Ryan sambil menghabiskan sayur itu. Ia lalu meletakkan piringnya di tempat cuci piring.


Raisya hanya bisa menghembuskan napas panjang karena ucapan Ryan itu, “Darimana kau mempelajari hal itu?”


“Sendiri...”


Ryan lalu berjalan kembali ke kamarnya sambil berkata, “Aku akan tidur lagi...”

__ADS_1


Raisya berpikir sejenak lalu menggelengkan kepalanya dan mengikuti Ryan untuk tidur di kamarnya.


__ADS_2