
Dua minggu setelah pertempuran di Sahara Desert...
Ryan berdiri di depan pintu apartemen Raisya dengan gugup. Entah apa yang menyebabkannya, Ryan merasa gugup saat akan melakukan hal yang pertama baginya.
“Santai saja saat kau melakukannya...” Rio yang lebih tidak ahli dari Ryan soal menyatakan perasaan hanya memberinya saran itu.
“Daripada kau menyatakan perasaanmu lewat chat, yang dia jawab itu hanya chatmu, bukan perasaanmu...” Hendra yang lebih tidak pintar dari Rio memberi saran yang sedikit lebih baik.
Selama dua minggu ini, Ryan sudah berlatih menyatakan oerasaan dengan Rio. Terlihat seperti penyuka sesama saat melihat Ryan berlatih, tetapi Ryan tidak punya orang untuk diajak seperti itu.
Lima anggita Squad N5S lainnya memilih mengalihkan pandangan mereka saat Ryan meminta tolong pada mereka, membuat Ryan menghembuskan napasnya.
“Semoga berhasil!” gumam Ryan pelan sebelum berniat mengetuk pintu, tetapi yang dicari malah sudah membuka pintu duluan.
“Eh?” Raisya menatap Ryan, “Kenapa kau kesini?”
Ryan menggaruk kepalanya, tangan kirinya yang membawa setangkai bunga ia sembunyikan di belakang punggungnya.
Rio yang bersembunyi di jauh dari keduanya hanya bisa menepuk dahinya. Ia terlihat seperti penguntit saat mengintip Ryan.
“Emm...” Ryan mencoba mengingat apa yang sudah ia latih dengan Rio.
Sial, kenapa lupa?!, Umpat Ryan sambil menggaruk kepalanya.
“Kenapa kau menggaruk kepalamu? Apa kepalamu gatal?” Raisya mendekat sambil mencoba melihat kepala Ryan dengan berjinjit, memang tinggi Raisya hanya sedikit lebih pendek dari Ryan sekitar 5 centi.
Ryan berjalan mundur sambil berkata, “Tidak apa-apa...” Ryan tersenyum lebar.
“Bakat Ryan untuk menyatakan perasaan memanglah rendah...” secara tiba-tiba, Leo berdiri di sebelah Rio. Untung saja ia berjalan dengan senyap saat melihat Rio, jadi Rio tidak mendengar langkah Leo.
“Diam!” bisik Rio sambil menyentuh mulut Leo dengan telunjuknya.
“Aku hanya berkomentar...” bisik Leo lalu ikut mengintip Ryan.
“Dan juga, apa yang ada di balik punggungmu itu?” Raisya mencoba menoleh ke belakang Ryan, tetapi Ryan bergerak cepat mundur lagi.
Ingatlah!, Batin Ryan sambil merapatkan giginya. Ia kemudian teringat sesuatu.
__ADS_1
“Emm, aku sudah mengagumimu sejak kita masih kelas 2 SMP sampai sekarang. Jadi, apa kau mau menjadi kekasihku?” Ryan mengeluarkan setangkai bunga yang ia sembunyikan di balik punggungnya itu.
Raisya menatap Ryan tidak percaya, tetapi ia berusaha tersenyum, “Baru kali ini aku melihat orang yang menyatakan perasaannya dengan setangkai bunga...” Raisya lalu menutup mulutnya yang tertawa kecil.
“Oh, salah ya? Kupikir bunga karena Rio mengatakan perempuan menyukai bunga...” Ryan menggaruk kepalanya. Ia lalu merogoh kantong jaketnya kemudian mengeluarkan sebuah kotak.
“Eh? Kenapa dia membawa-bawa namaku?” Rio menggaruk kepalanya, “Aku tidak ingat pernah mengatakan hal itu...”
“Masa?” Hendra muncul dan menatap Ryan dengan seksama, “Apa yang dilakukan kapten kita dengan gadis itu?”
“Sstt...” Rio dan Leo menutup mulut Hendra dengan keras dan memintanya diam.
“Selera Ryan bisa dibilang bagus juga...” Justin yang ikut berdiri di sebelah Rio mengelus dagunya.
“Perempuan itu merupakan teman SMP Ryan dulu...” Rio berniat menceritakan saat dirinya menjadi nyamuk saat tahun baru lalu, tetapi Hendra, Leo dan Justin menutup mulut Rio.
“Diam!” bisik ketiganya, “Aku ingin mendengar kata-kata apa yang akan membalas perasaan Ryan...”
“Sebuah cincin ini mewakili seluruh perasaanku selama ini dan hari ini aku akan memberikannya padamu...” Ryan membuka kotak itu dan memperlihatkan isinya. Sebuah cincin sederhana berwarna perak.
Berkat yang yang didapatkan Ryan dari bermain Remaist Online, Ryan akhirnya bisa membeli cincin ini dengan murah. Setidaknya bukan cincin palsu, gumam Ryan saat membeli cincin itu.
Ryan mengeluarkannya kemudian bertanya sekali lagi, “Jadi, apa kau mau menjadi kekasihku?”
Raisya seperti mengeluarkan air mata dan menjawab dengan anggukan kecil. Ryan tersenyum bahagia dan Raisya mengangkat tangannya kemudian Ryan memakaikan cincin itu di jari manis Raisya.
Ryan tersenyum menatap Raisya yang langsung memeluknya setelah menerima cincin itu.
“Aku baru mengetahui Ryan memiliki sisi romantis juga...” Hendra menatap Ryan sambil tersenyum tipis, “Kapan aku akan mendapatkan teman hidupku?”
“Mimpilah!” Rio menepuk pundak Hendra pelan dan berkata, “Jalanmu masih panjang...”
“Aku masih sulit mendengar kata-kata itu dari orang yang mendapatkan calon teman hidupnya dengan tidak sengaja...” Justin menggerutu sambil menatap Ryan.
Semua orang mengetahui kalau Rio sudah menyatakan perasaannya pada Clare sekitar dua hari sebelumnya. Bisa dibilang kalau minggu itu adalah minggu paling bahagia dalam hidup Ryan dan Rio.
Ryan membalas pelukan Raisya dan tersenyum makin lebar. Tak pernah ia sangka hari yang ia rancang selama dua minggu dengan susah payah akan berakhir dengan lupanya seluruh naskah yang sudah ia latih dengan Rio.
__ADS_1
“Kenapa aku terharu saat melihat itu?” Justin merasa air matanya keluar sedikit, ia langsung menyekanya dan mengalihkan pandangannya.
“Oi Rio...” Hendra menepuk pundak Rio yang sedang menatap Ryan dengan terharu, “Bagaimana caramu bisa mendapatkan Clare?”
Rio menatap Hendra heran, “Kenapa kau bertanya seperti itu?”
“Rahasia...” Hendra menatap Rio tajam, “Beritahu...” Hendra merangkul Rio dan tersenyum lebar.
Rio menatap Hendra datar kemudian menjawab, “Tumbuhkan perasaan itu dengan perlahan. Percayalah, cinta akan datang dengan sendirinya...”
Ucapan Rio seperti menyambar ketiganya. Mereka lalu berlari turun dan meninggalkan Rio yang menatap mereka dengan kebingungan.
“Apa yang mereka rencanakan?” gumam Rio sebelum menatap Ryan yang sudah saling tatap dengan Raisya.
“Baiklah, tugasku sebagai guru cinta Ryan sudah berakhir dan aku sudah melihat hasil pelajarannya...” Rio berjalan turun sambil bersiul santai.
Ryan menatap Raisya dalam-dalam, “Sekarang kita sudah saling mengetahui perasaan kita masing-masing dan sudah tidak ada rahasia lagi, bukan?”
Raisya mengangguk kemudian melihat ke arah tangga, “Aku melihat beberapa temanmu di sana dan mereka sudah kembali...”
“Aku tidak mengajak mereka...” Ryan bersiul dengan kacau. Itu juga adalah hasil latihan keras Ryan selama enam bulan ini.
“Akhirnya kau bisa bersiul juga ya?” Raisya mengacak rambut Ryan dan tersenyum lebar. Hari ini adalah hari paling bahagia menurutnya selama ia bernapas di bumi.
“Memang kau bisa?” Ryan bertanya dengan nada mengejek.
“Bisa...” Raisya lalu memajukan bibirnya. Suara merdu lalu terdengar dari mulutnya.
FHIUU!
Ryan mendengarnya dengan seksama sebelum melakukan sesuatu yang penulis tak bisa tuliskan disini. (Paham, kan dengan alasan saya tidak bisa menulisnya?)
Raisya terkejut saat Ryan melakukan itu, tetapi ia hanya diam dan membiarkan Ryan melakukannya.
Ryan menarik kembali dirinya kemudian mengacak rambut Raisya, “Aku kembali dulu, ya...”
Ryan berjalan mundur dan memberikan setangkai bunga tadi kemudian berjalan turun tangga.
__ADS_1
Raisya menerimanya dan menatap cincin di jarinya kemudian bunga ditangannya sambil bergumam, “Ayah, ibu, kakak, Raisya sudah memiliki teman hidup yang akan menemani Raisya selama sisa hidup Raisya...”