Remaist Online: Return Of The Legend

Remaist Online: Return Of The Legend
237. Cinta pandangan pertama II


__ADS_3

Sebulan berlalu dengan sedikit kehidupan No Life Ryan. Bangun, melihat daftar anime yang akan rilis hari itu, mandi, menyapu, makan, rebahan, nonton anime, baca manga, main game, rebahan sampai sore, bangun, jalan-jalan di halaman rumah, mandi, makan, rebahan sampai pagi, itulah kegiatan Ryan selama liburan.


No Life begitu, Ryan tetap berusaha menjaga agar tubuhnya tetap sehat seperti dulu dengan menyempatkan diri berjalan di halaman rumah selama tiga puluh menit.


Dan pembelajaran kembali berjalan seperti biasa setelah sebulan berlalu saat liburan itu. Kedua orangtuanya tidak mengajaknya berlibur karena menurut mereka Ryan sudah memiliki rencananya sendiri saat berlibur.


Ryan sudah lupa oleh perempuan yang pernah membuatnya ternganga lama bersama Ray. 


Ray sendiri ingat wajahnya saja, tetapi lupa namanya. Ryan juga mengalami hal yang sama.


“Perempuan yang waktu itu cantik, hanya saja aku lupa siapa namanya...” ujar Ray saat mereka saling menghubungi.


“Aku juga...” ujar Ryan, “Intinya wajahnya amatlah berbeda dari orang-orang yang kukenal sebelumnya...”


“Memangnya kau pernah bertemu dengan orang yang cantiknya hampir setara dengannya?” tanya Ray.


“Siapa ya, aku lupa. Intinya aku sering bertemu orang seperti itu saat jalan-jalan di dekat rumahku...” jawab Ryan.


“Yah, hari sekolah kembali seperti biasa dua hari lagi, kuharap aku bisa mengingat wajahnya saat bertemu lagi dengannya...” ujar Ray. Ia tentu tak melupakan kata-kata yang dikeluarkan oleh perempuan itu.


Dan itulah pembicaraan yang membawa mereka pada sesuatu yang disebut cinta. Ray sendiri hanya mengagumi Raisya, tetapi Ryan sudah menyukai Raisya saat mereka baru bertemu.


Memang hal yang tak wajar karena anak SMP yang sudah tahu apa itu cinta, tetapi itulah yang dirasakan oleh Ryan.


“Oi, Ryan. Apa kau mendengarku?” seseorang mengibaskan tangannya di depan wajah Ryan yang melamun saat makan, “Apa yang kau pikirkan?”


“Ah, tidak ada. Aku hanya...” Ryan tak menyelesaikan omongannya saat orang yang ia sukai tiba-tiba lewat di belakang temannya, yaitu Rei dan Don.


“Apa?” tanya Hendra. Ia semakin tidak paham dengan temannya yang satu ini.


“Dia sedang jatuh cinta, mohon diam...” Rei berkata, “Dalam salah satu karya seorang penulis ternama di Indonesia, jika ada seseorang yang sulit untuk diajak komunikasi serta selalu melamun, itu biasanya diartikan dengan orang itu sedang jatuh cinta...”


“Mana ada!” Ryan langsung memalingkan pandangannya dan menatap Rei, “Kuberitahu ya, aku takkan suka pada siapapun kecuali dia juga suka padaku...”


“Jaman begini mana ada perempuan yang suka duluan pada laki-laki, aneh sekali kau...” Don menatap Ryan sambil tersenyum lebar, "Kecuali perempuan itu kagum pada si laki-laki itu..."


“Biasanya, orang seperti itu akan didahului oleh orang lain...” ujar Hendra. Ia lalu tertawa kecil.

__ADS_1


“Aku biarkan diriku didahului oleh orang lain untuk urusan strategi, tetapi aku takkan membiarkan diriku didahului oleh orang lain soal cinta...” ujar Ryan penuh percaya diri.


“Kalau kau berkata seperti itu dua tahu lalu, aku pasti akan melempari dirimu dengan semangkok kuah bakso ini untuk menyadarkan dirimu...” ujar Don sambil menunjuk mangkok miliknya yang sudah kosong.


“Kalau aku, menyukai Raisya itu dengan alasan kagum, tak ada yang lain...” ujar Ray sambil tersenyum canggung. Rei, Hendra, Ryan, Don, dan Dido segera terdiam.


“Kau tidak panas...” Don menyentuh kening Ray.


“Kau tidak menderita flu, bukan?” Ryan menatap Ray, “Aku tak ingin mendengar kata-kata itu dari mulut orang terpintar ketiga di sekolah.”


“Aku sungguh-sungguh.” Ray berkata dengan wajah serius.


“Ah, Ryan, sepertinya kau sudah didahului oleh Ray deh...” ujar Don sambil menepuk pundak Ryan.


***


Dua bulan berlalu sejak pembicaraan tak masuk akan yang dimulai oleh Ryan sendiri dan ia kembali menjalani kehidupannya seperti biasa.


“Semoga tak terlambat!” Ryan berlari sambil memakai jaketnya. Ia hari ini bangun agak siang dan jarak dari rumahnya ke sekolah lumayan jauh.


“Ryan, ingat sarapanmu!” Seru ibunya dari dapur.


“Oke, Bu!” Ryan meraih roti yang tak berisi apa-apa dan menggigitnya sambil memakai sepatunya.


“Mau ayah antar?” tanya ayahnya dari ruang santai. Ayahnya hari ini sedang libur dan Ryan seharusnya meminta ayahnya mengantarnya.


“Tidak, Ryan akan berangkat sendiri...” Ryan selesai memakai sepatunya laku berseru, “Ryan berangkat sekolah!”


Ryan akan memakai sepeda gunung milik ayahnya untuk pergi ke sekolah. Ia tak mengatakannya karena tak tahu kalau ayahnya ternyata memiliki sepeda seperti ini.


Ryan menaiki sepeda itu dan langsung memacunya sambil memakan rotinya. Bahkan saat mengebut sekalipun Ryan bisa memakan dua roti yang ditumpuk.


“Sial, lampu merah lagi!” Ryan mengerem sepedanya dan menatap ke atas. Lampu lalu lintas berwarna merah dan ini adalah pertanda buruk baginya.


Saat lampu hijau, Ryan langsung memacu sepedanya lagi dengan kecepatan tinggi dan untungnya yang terlambat bukan hanya dia saja.


Ada Hendra, Rei, dan seorang perempuan lagi di dekat mereka. Wajah perempuan itu amat cantik, Ryan saja bahkan sampai menganga saat melihat perempuan itu.

__ADS_1


“Yah, kita terlambat bersama...” ujar Rei, “Aku kemarin keasyikan bermain sampai-sampai aku lupa waktu...” 


“Tetapi tidak denganku...” Ryan menatap perempuan itu, “Aku terlambat karena tak bisa tidur...”


“Kenapa?”


“Manga Over Kill kemarin mencapai chapter 102 dan itu akhirnya gantung, lho! Aku masih penasaran seperti apa kelanjutannya!” seru Ryan sambil menjambak rambutnya.


“Hei kalian...” perempuan itu yang sejak tadi diam berbicara, “Sudah boleh masuk, apa kalian ingin menjadi penunggu pintu gerbang?” tanyanya sambil berjalan masuk. Ia juga membawa sepedanya masuk.


“Tidak!” seru Rei, Ryan, dan Hendra bersamaan lalu berjalan bersama masuk sekolah.


Rei, Ryan, dan Hendra berpisah. Rei dan Hendra berjalan menuju kelas mereka masing-masing, sedangkan Ryan akan memarkir sepedanya bersama dengan perempuan tadi.


Terlambatnya tadi itu ternyata belum terlalu terlambat. Hanya lewat sepuluh menit dari bel tanda masuk kelas.


Ryan berjalan di belakang perempuan itu dan terlihat kalau Ryan seperti menguntit perempuan itu.


Semakin jauh Ryan berjalan, ia seperti mengenal jalan yang ia lewati, “Bukankah ini...”


Itu adalah jalan menuju kelas 8-1, kelas Ryan dan mereka ternyata searah. Alasan Ryan mengikuti perempuan itu karena merasa pernah melihat tas miliknya dan sepedanya. Sebab itulah Ryan mengikutinya.


Sebagai langkah lain kalau-kalau kelas mereka berbeda, Ryan sudah menyiapkan diri untuk berlari menuju kelasnya. Nyatanya, Ryan tidak tahu kalau ia satu kelas dengan perempuan di depannya saat ini.


“Permisi...” perempuan itu mengetuk pintu kelas lalu membukanya sedikit, “Maaf saya terlambat...”


Ryan menaikkan alisnya, ia merasa seperti pernah mendengar suara itu. Tapi dimana?


“Oi, Raisya. Pelajaran masih belum dimulai dan kau sudah berlaku sopan saja...” sebuah suara terdengar dari dalam kelas yang seperti memanggil perempuan itu untuk masuk.


“Eh?!” Ryan tak bisa menghentikan dirinya untuk terkejut. Bagaimana tidak terkejut kalau perempuan yang sejak tadi ia ikuti adalah perempuan yang ia sukai, Raisya.


Ryan menunggu Raisya masuk lalu ia mengikuti dari belakang. Ryan langsung berjalan menuju tempat duduknya yang ada di barisan belakang. Ia duduk bersama seseorang yang bernama Resa July. Mereka masih kurang akrab meski telah duduk bersama selama dua bulan.


“Oh, kau sudah datang? Kukira kau tidak akan datang...” ujar Resa sambil membiarkan Ryan duduk.


“Tunggu sebentar, aku harus menenangkan diriku dulu...” Ryan mengatur napasnya, sudah cukup ia terkejut hari ini.

__ADS_1


__ADS_2