
Asheuin, Sen, dan Bhiosa sedang bersantai disaat Adhie melaporkan hasil patrolinya bersama Dee dan Zeo.
“Asheuin, ada pasukan jirah berwarna hitam datang dengan jumlah sekitaran 1.000 orang datang mendekat. Kita apakan mereka?” Lapor Adhie dengan wajah serius.
Asheuin mengambil pedangnya yang ia letakkan di sebelahnya lalu berkata, “Cegah mereka memasuki kota. Kalian pakailah perlengkapan kalian, kita akan pergi menahan mereka.”
Asheuin berjalan menuju perpustakaan, tempat Enam Pilar Naga menyimpan seluruh perlengkapannya bersama dengan seluruh buku teknik mereka. Adhie, Sen, dan Bhiosa mengikutinya.
“Apa kau sudah meminta Dee dan Zeo menahan mereka sebentar?” tanya Asheuin disaat mereka sedang mengenakan perlengkapannya.
“Sudah.” Adhie mempercepat persiapannya. Ia lalu mengambil pedang besarnya yang berukirkan naga hijau di seluruh bilah pedangnya.
Adhie dan Asheuin melesat setelah mereka selesai duluan, Asheuin ingin meminta Dee dan Zeo untuk mengenakan perlengkapannya.
Saat mereka sampai di pusat kota, beberapa orang yang membawa senjata sedang berkumpul dan seperti sedang menunggu perintah.
“Ada apa?” Adhie maju dan bertanya pada seorang pria yang mengenakan jirah seperti samurai dengen membawa dua pedang lengkung di pinggang kanannya.
“Kami mendengar kalau kota ini diserang, jadi kami berkumpul untuk ikut membantu mempertahankan kota ini.” Pria itu menjelaskan alasan mereka berkumpul di pusat kota.
“Baiklah-baiklah, aku paham. Kau yang membawa dua pedang lengkung, kau yang membawa tombak biru, dan kau yang memakai pakaian hijau, ikut kami ke gerbang kota. Sisanya berlindung di rumah masing-masing.” Asheuin menunjuk beberapa orang dan mengajak mereka untuk ke gerbang kota.
Beberapa masih diam di tempat itu, tetapi keramaian itu segera bubar ketika Adhie menatap tajam mereka semua.
Asheuin, Adhie, Sen, dan Bhiosa melesat dengan kecepatan tinggi menuju gerbang kota yang bisa dibilang masih terkendali.
Kekuatan Dee dan Zeo sebenarnya cukup untuk menumpas habis seluruh penyerang, tetapi saat melihat jumlah dan pancaran kekuatan yang dilepaskan oleh 1.000 pasukan itu, Adhie memutuskan untuk meminta bantuan pada Asheuin.
Tiga orang yang dipilih oleh Asheuin memperkenalkan diri mereka masing-masing. Pria yang membawa dua pedang lengkung di pinggang kanannya bernama Tsuyoshi, pria yang membawa tombak biru bernama Wilhelm, dan wanita yang memakai pakaian hijau bernama Crysant.
Sebenarnya, ketiga orang yang dipilih oleh Asheuin adalah pemain dan dua diantaranya memiliki nama di seluruh Midvast.
__ADS_1
Tsuyoshi dijuluki sebagai 'Twin Katana' disebabkan karena ia selalu membawa dua katana di pinggang kanannya.
Wilhelm dikenal sebagai 'Blue Spear' karena dirinya selalu membawa tombak yang di sepanjang batang tombaknya berukirkan naga berwarna biru. Skillnya juga luar biasa hebatnya, sehingga dirinya disebut-sebut sebagai Spearman terhebat di Midvast.
Crysant sendiri sebenarnya adalah salah satu pemain baru yang kebetulan dimunculkan di Kota Hostix. Ia mengambil ras Ilith dan memakai senjata cambuk tanaman.
Saat mereka sampai, seperempat dari 1.000 Hell Knight berhasil dikalahkan oleh Dee dan Zeo. Tetapi sebagai bayarannya, tubuh mereka babak belur karena dikeroyok dari segala arah.
Mereka lalu bertukar posisi dan mulai bertarung. Dee dan Zeo kembali ke kota sedangkan Asheuin, Adhie, Sen,dan Bhiosa bertarung bersama dengan Tsuyoshi, Wilhelm, dan Crysant.
Crysant menarik cambuk tanamannya lalu mulai memainkannya dengan lentur. Tetapi serangannya serasa seperti angin sepoi ketika mengenai para Hell Knight.
HP para Hell Knight yang menyerang sebesar 30.000 dan seharusnya itu tidaklah menjadi masalah bagi Enam Pilar Naga.
Yang membuatnya menjadi pertarungan yang sulit adalah kerjasama diantara mereka. Ketika HP kawan mereka tersisa sedikit, Hell Knight yang lain akan melindungi yang HPnya sedikit.
Meskipun sudah dibantu dengan skill One Heaven Dragon, tetap saja sulit untuk mengalahkan seluruh Hell Knight itu.
“Bukan urusanmu!” salah satu Hell Knight menjawab dengan nada ketus.
“Tidak ada pilihan.” Asheuin terus memainkan pedangnya yang diselimuti oleh cahaya hijau, “Green Sword Technique: Soaring Dragon!”
Asheuin menusukkan pedangnya dan energi pedang berwarna hijau keluar dari ujung pedang Asheuin lalu melesat maju menusuk apapun yang ada dihadapannya.
Meski skill ini kuat, tetapi Mana yang dihabiskan untuk mengeluarkan satu skill saja amatlah banyak.
Dee dan Zeo kembali ke luar Kota Hostix bersama dengan sebagian Guard of Hostix.
Guard of Hostix sebagian besar berada di level 150, membuatnya menjadi pasukan elit Guild Sevens yang menciptakannya.
Disisi lain, Tsuyoshi mengalami sedikit kesulitan. Meski dengan dua pedang dapat membuatnya lebih unggul, tetapi skill pedangnya bisa dibilang tidak mendukung dalam melepaskan diri dari keroyokan.
__ADS_1
Wilhelm lain lagi. Ia yang menggunakan tombak dapat melakukan serangan memutar dengan diikuti oleh Crysant. Ia mengusahakan diri agar memisahkan dari dari keroyokan seperti itu, tetapi sedikit sulit karena pasukan lawan yang lebih kuat.
Disaat itulah, bantuan dari dalam kota muncul dan langsung membantu mereka. Waktu terasa lambat ketika mereka bertarung, tetapi waktu berjalan cepat.
Tak terasa satu setengah jam mereka bertarung dan sudah lebih dari setengah pasukan penyerang Kota Hostix berhasil dibunuh.
Kondisi Enam Pilar Naga dan Guard of Hostix tidak pada kondisi yang bagus. Tsuyoshi, Wilhelm, dan Crysant hanya mengalami masalah HP sedikit. Tetapi masalah itu sudah dibereskan dengan mengonsumsi Potion pemulih HP dan Stamina Potion.
Asheuin dan Enam Pilar Naga lainnya mendapat panggilan dari Slitherio, tetapi mereka tidak bisa meninggalkan pertempuran yang mempertaruhkan keberadaan Kota buatan Slitherio.
“Semuanya, serahkan sisa pasukan ini pada kami berdua!” Wilhelm berseru lalu mengangkat tinggi-tinggi tombaknya, ia sempat berdiskusi dengan Tsuyoshi dan sepakat untuk menyelesaikan sisanya berdua saja.
“Kau kembalilah ke kota dengan enam ksatria hijau itu. Serahkan sisanya pada kami.” Tsuyoshi berkata pada Crysant dan mendorongnya kembali ke kota. Ia lalu menghunuskan kedua katananya.
Pembersihan seperti ini akan menghabiskan waktu sekitar setengah jam, tetapi waktu itu lebih dari cukup untuk membuat seluruh penyerang kota mati.
“Baiklah, waktunya bersenang-senang!” Tsuyoshi mengangkat satu katananya yang dipegangnya di tangan kanan di depan dan satu katana lagi ia letakkan di belakang leher.
Wilhelm segera maju dengan sisa kekuatannya lalu mulai bertarung dengan sedikit lambat. Kecepatannya sudah berkurang sejak satu setengah jam lalu dan kecepatannya yang sekarang hanyalah sisa dari kecepatan sebenarnya.
Tsuyoshi memiliki stamina yang sulit digambarkan. Meski melewati pertarungan satu setengah jam, tubuh virtual Tsuyoshi tidaklah mengalami kelelahan yang berlebihan.
Mereka akhirnya berhasil menyelesaikan pertarungan sesuai dengan perkiraan awal, yaitu sekitar setengah jam.
Tepat setelah Tsuyoshi menebas musuh terakhir, sebuah jendela informasi muncul di hadapan semua pemain di Midvast.
[Selamat, Chapter 05: Rise of Darkness Soldier akhirnya selesai!
1.000 Hell Knight berniat menyerang Kota Hostix untuk mencari Bola Kegelapan yang merupakan pusaka Hell Empire, tetapi niat mereka dihentikan oleh pelindung Kota Hostix, yaitu Guard of Hostix, Enam Pilar Naga, Wilhelm, Tsuyoshi, dan Crysant.
Dengan begitu, batas level ditingkatkan menjadi level 700 dan Chapter 06: Gate of Beast Hell dimulai]
__ADS_1
Wilhelm tidak menghiraukan jendela informasi itu dan terjatuh di tengah-tengah medan pertempuran. Tsuyoshi berniat kembali ke kota, tetapi tubuhnya tidak mendukung sehingga ia jatuh di dekat Wilhelm dengan kedua tangannya yang masih menggenggam kedua katananya.