Remaist Online: Return Of The Legend

Remaist Online: Return Of The Legend
219. Stadium Hostix II


__ADS_3

[Dari: FastStone


Tipe: PvP


Waktu: Tak terbatas


Terima?]


Slitherio menerima permintaan itu dan bergerak menuju tengah arena. Saat Slitherio sampai di tengah arena, hitungan sudah menunjukkan angka 0.


Slitherio menatap ke tempat FastStone sebelumnya berdiri dan ia tidak ada disana. Slitherio mengedarkan pandangannya sambil menarik Heaven Flame Sword. Karena FastStone memakai pedang Myhtic-nya, sebab itulah Slitherio akan melawannya dengan pedang tingkat yang sama.


Slitherio melompat tinggi dan tempat Slitherio tadi berpijak kini ada sebuah pedang berwarna biru. Slitherio tak pernah melepas Heaven’s Visionnya dan ia mengetahui kalau FastStone sejak tadi berdiri di belakangnya sambil menghunuskan satu pedangnya.


“Duel dua pedang?” Slitherio menaikkan alisnya saat melihat FastStone yang berdiri dengan dua pedang. 


FastStone tersenyum lebar, ia lalu melompat mundur dan Slitherio turun dan mendarat di hadapannya.


“Aku akan menantangmu dengan dua pedang ini...” ujar FastStone lalu berseru, “Blue Sword!”


Kedua pedang di tangan FastStone berubah warna menjadi biru gelap dan ia melesat dengan kecepatan tinggi.


Slitherio mengangkat pedangnya kemudian melesat mengadu pedangnya dengan pedang milik FastStone.


Adu pedang itu membuat debu-debu di sekitar mereka beterbangan dan pandangan penonton menjadi terhalang debu.


Di dalam debu-debu itu, terlihat cahaya berwarna biru dan merah yang sedang beradu diiringi oleh suara logam saling berbenturan. Tak lama, Slitherio dan FastStone memisahkan jarak serta berhenti sebentar.


“Padahal kau jarang bertarung, bagaimana kemampuanmu bisa bertahan?” tanya FastStone sambil menaikkan alisnya.


“Mau bagaimana lagi, ini adalah nasibku karena menjadi pemain terkuat...” Slitherio menaikkan bahunya, tanda ia sendiri tidak paham dengan kemampuannya sendiri.

__ADS_1


FastStone mengeratkan genggamannya lalu berseru, “Sword Control Technique: Twins Sword: Blue Wave Slash!”


FastStone berputar dan melepaskan gelombang berwarna biru sebelum melesat kembali dan berseru, “Sword Control Technique: Twins Sword: Horizontal Cut!”


Kedua pedang FastStone menebas dari atas ke bawah dan Slitherio menahannya dengan kedua pedangnya.


Dari pertukaran ini saja bisa terlihat kalau FastStone sedang terburu-buru menyelesaikan pertarungan sehingga terlihat celah di tubuhnya.


“Hei, kau melupakan bagian tubuh lawanmu, lho...” ujar Slitherio sambil menyeringai lebar sambil mengangkat kaki kirinya dengan perlahan dan menendang perut FastStone yang terbuka itu.


FastStone segera terpental dan Slitherio tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia lalu menyusul FastStone dan mengayunkan kedua pedangnya dari atas ke bawah lalu dari kanan ke kiri kemudian dari kiri ke atas dan dari atas ke bawah. Ia lalu menebaskan pedang di tangan kirinya ke arah kanan dan pedang di tangan kanannya yang menebas dari arah atas ke bawah.


FastStone tentu tidak berkutik saat diserang seperti itu. Ia hanya menerima semua serangan itu sampai semua serangan itu berhenti. Slitherio melompat mundur.


“Sudah saatnya kau melihat Skillku yang lain...” FastStone menyarungkan kedua pedangnya, “Sword Control Technique: Twins Sword: Flying Sword...”


FastStone menarik kedua pedangnya dan kedua pedang itu bergerak ke arah Slitherio. Slitherio mengetahui skill ini karena memang skill ini adalah salah satu dari sekian banyaknya skill milik FastStone yang membuatnya dikenal sebagai War God.


Slitherio menangkis dua pedang itu dengan kedua pedangnya lalu ia melesat mendekati FastStone tanpa mengurangi waspadanya pada sekitarnya.


“Trikmu boleh juga, tetapi aku lebih kuat darimu...” ujar Slitherio kemudian melompat mundur. Ia lalu menyimpan Heaven Flame Sword dan melesat hanya dengan Flame Phoenix Sword.


Keduanya melesat dan saling mengadu pedang masing-masing sebelum akhirnya FastStone mengambil jarak dengan Slitherio. Napas FastStone sendiri sudah tidak beraturan.


“Eh, bagaimana napasmu sudah tidak beraturan begitu?” tanya Slitherio heran. FastStone sendiri menggeleng.


“Bukannya aku kelelahan, tapi...” napas FastStone ternyata masih teratur dan ia menunjuk ke langit, “Sekarang sudah malam...”


“Eh?!” 


***

__ADS_1


Duel yang awalnya hanya dilaksanakan untuk mencari pengguna pedang terbaik malah berakhir hanya dengan kemenangan Slitherio melawan FastStone. Pertarungan sendiri belum berakhir, tetapi diakhiri karena hari sudah malam.


Kalaupun dilanjutkan, bisa berlangsung berhari-hari hanya untuk membuat para dewa kelelahan atau mengakui kekalahannya.


Sebab itulah mereka berniat melakukan duel lagi di tempat yang lain, di Heaven Empire karena katanya disana auranya lebih kuat dan bisa membuat siapapun yang berduel disana akan merasakan kelelahan yang berlebihan.


Ketua Guild Profesional yang memiliki markas di luar Midvast setuju untuk mengunjungi Heaven Empire tanpa tahu apa tujuan mereka kesana.


“Kita kesana ingin meminta bantuan, bukan?” tanya Sean balik saat ditanyai oleh Luvian.


“Bantuan?” Luvian memahami kalau Sean ingin meminta bantuan Heaven Empire untuk menyelesaikan Chapter terakhir. 


“Kita mungkin boleh mencoba untuk melawan musuh dengan musuhnya, bukan?” usul Zero yang pemikirannya sudah ada di kepala Sean dan Slitherio sebelumnya.


Dan keputusan itulah yang akhirnya mengantarkan para pemain terkuat untuk pergi ke Heaven Empire.


Dari lebih dari 20 pemain tingkat God, hanya separuhnya saja yang pergi ke Heaven Empire. Dengan alasan keamanan Midvast, sebab itulah sebagian dewa lagi diminta untuk berjaga di Midvast.


***


Slitherio, Sean, Luvian, Zero, FastStone, Whu, Riana, Carey, Lore, Wilhelm, Rifa, dan Vius berkumpul di Benua Northev setelah sepakat untuk pergi lewat sana.


Alasannya, karena ras Dragon bisa memberikan tumpangan menuju Heaven Empire yang murah dan sederhana. 


Karena Sean sudah dikenali oleh para ras Dragon lainnya, mereka akhirnya diberikan tumpangan bersama dengan Chao dan Ware. Kebetulan saja keduanya ingin berjalan-jalan dan keduanya setuju untuk mengantar mereka.


Menurut ingatan Sean, lokasi Heaven Empire kira-kira berada di atas laut dan berdiri diatas gunung yang amat tinggi yang menembus awan-awan. Sean bahkan sempat mengira kalau itu adalah Gunung Tanpa Batas yang pernah disebut oleh Zein.


“Heaven Empire berada di atas langit dan dipindahkan oleh kakek Daishi, sang kaisar pertama Heaven Empire, yaitu Vend...” Chao menceritakan tentang sejarah Heaven Empire ketika kedua terbang kesana. Chao sendiri terbang perlahan karena Slitherio berpesan kalau mereka ingin berbincang dengan dewa terkuat di dunia.


“Ahaha, aku tidaklah sekuat yang kalian pikirkan. Beruntung sajalah aku bisa menahan aura Tuhan sebanyak 95% itu bersama dengan Zein, Jay, Tany, Monte, Max, Xue, Benario, Vesta, Kina, Luna, dan Eny itu...” Chao menyebutkan semua dewa elemen yang ikut dengannya ke Gods dan menjadi sekelompok makhluk yang berhasil menginjakkan kaki mereka di pulau tersuci di bumi, Gods Island.

__ADS_1


“Apa kalian mau mendengar tentang sifat-sifat para dewa yang tidak kalian ketahui itu?” tanya Chao yang dijawab oleh semua orang dengan anggukan, termasuk Ware.


“Ceritakan saja guru, aku juga penasaran...” ujar Ware, membuat semua orang melirik ke arahnya.


__ADS_2