Remaist Online: Return Of The Legend

Remaist Online: Return Of The Legend
206. Perpustakaan VI


__ADS_3

“Bagaimana kondisinya?” Tanya Slitherio begitu mereka sampai di rumah Holy Light Goddess dan Wissie membawa Ice Phoenix itu ke dalam, menemui Holy Light Goddess Lisy.


“Cukup buruk, ia mengalami kehabisan stamina serta kehabisan kekuatan Spiritnya ketika ia jatuh di pinggir pantai.” Ujar Wissie, “Apa kalian ingin menunggunya?”


Slitherio terlihat berpikir keras kemudian menjawab, “Ya, kami akan menunggunya...”


“Baiklah kalau begitu...” Wissie mengambil alat pancingannya, “Aku akan pulang dan ikan tadi akan menjadi milik kalian...” Wissie lalu pergi.


Slitherio melambaikan tangannya kemudian melirik Geisha, “Apa kau mau menunggunya?”


“Kalau ia tidak macam-macam, akan kutunggu dia...” Geisha menghela napasnya. Ia lalu masuk.


“Memangnya kita boleh masuk?” tanya Sean sambil melirik ke dalam.


“Kalian boleh masuk sambil menunggu...” Geisha terdengar memanggil semuanya untuk masuk.


Slitherio menggaruk kepalanya lalu masuk bersama yang lainnya.


***


Ice Phoenix itu lumayan lama pingsannya, sampai matahari hampir tenggelam ia belum juga sadar.


“Ini sudah sore, apa kita akan tetap menunggunya?” FastStone menggaruk kepalanya sambil menguap. Ia sudah bangun dari tidurnya saking bosannya menunggu.


“Kalau setengah jam lagi ia tidak sadar, kita kembali ke perpustakaan...” ujar Slitherio sambil memegangi dagunya.


“Kau sudah mengatakan itu sebanyak sepuluh sekali!” Sean memukul pundak Slitherio dengan keras.


“Kalau kalian lelah, kalian boleh menitipkannya padaku...” seorang wanita dengan wajah cantik muncul sambil memberi hormatnya. Ia adalah Lisy, sang Holy Light Goddess.


“Aku bisa berdiri...” suara yang serak terdengar di belakang Liat, membuatnya segera berbalik lagi dan masuk ke ruangan itu.


Slitherio dan yang lainnya kembali menunggu Lisy sambil menghela napasnya. Tak lama, Lisy muncul dengan orang yang tadi ditolong oleh Slitherio.


“Dia sudah baikan dan kalian boleh memutuskan, apakah ingin ditinggalkan disini atau mengikuti kalian...” Lisy menunjuk wanita disebelahnya dengan jempolnya.


“Aku ingin mengikuti kalian...” wanita itu menjawab dengan nada pelan.


Sean, FastStone, dan Naze menepuk dahi mereka keras-keras, sampai menimbulkan suara. Slitherio dan Geisha hanya memijat keningnya, sedangkan Li dan Clarey hanya mengusap wajah mereka.


“Baiklah, ikut kami...” Slitherio menghela napasnya lalu berjalan keluar, “Terima kasih Holy Light Goddess Lisy...”

__ADS_1


“Sampai jumpa...” Lisy melambaikan tangannya begitu Slitherio dan teman-temannya keluar dari rumahnya.


***


“Dan begitulah ceritanya bagaimana aku bisa sampai disini...” wanita itu selesai menceritakan latar belakang kejadian tadi siang.


Wanita itu mengenalkan dirinya sebagai Quinn, Ice Phoenix yang terbang dari Benua Eastest untuk mengikuti ujian dari para dewa.


Ia memiliki sekitar 20 kekuatan Spirit dan kebetulan saja kekuatan Spiritnya habis ketika terbang di udara menuju pintu masuk Gods Island.


Setidaknya ia sudah terbang selama hampir sebulan di atas Triangle Sea dan ia tersesat. Ia sempat mendarat di Purple Crystal Island dan sempat juga mendarat di Purple Pearl Island.


“Oh ya, apa kau mengenal orang yang bernama Veny dan Buu di Purple Pearl Island?” tanya Slitherio. Tentu ia penasaran dengan kabar dua orang itu.


“Veny itu dikatakan telah kembali ke Benua South bersama dengan sepuluh pengikutnya. Si Buu itu sendiri, ia menjadi pendekar pedang terbaik yang ada untuk melindungi Purple Pearl Island.” Jawab Quinn.


“Begitu ya...” Slitherio mengangguk.


Disaat Slitherio dan Qiun berbincang, teman-teman Slitherio asyik mengintip dua orang itu dari luar ruangan. Di ruangan itu hanya ada Slitherio, Quinn, dan Geisha.


Alasan Geisha ikut Slitherio adalah untuk mengawasi suaminya itu agar tidak macam-macam di belakangnya.


“Istri yang mengerikan...” Naze menggigit bibirnya, ia sendiri tidak membayangkan apakah Clarey sama dengan Geisha atau tidak.


“Apa kau bertemu dengan seekor monster besar yang memiliki taring besar serta panjang tubuh yang tak terkira?” tanya Slitherio. Quinn menggeleng.


“Sialnya kita waktu itu...” Geisha memijat keningnya.


“Benar, tentang sejarah Ice Phoenix, apa kau mengetahuinya?” tanya Slitherio. Ia tiba-tiba saja teringat dengan kisah FolkChase lebih dari sebulan lalu.


“Benar, dan kau adalah Fire Phoenix, bukan?” Quinn mengembangkan sayapnya, seketika aura dingin menyebar ke seluruh ruangan, bahkan sampai keluar ruangan.


Mereka yang mengintip pembicaraan itu seketika kedinginan yang tak terkira, “Bagaimana mungkin wanita lemah seperti itu bisa memiliki aura sekuat ini?” gumam Sean sambil menggigil kedinginan.


Slitherio dan Geisha tidak bereaksi ketika diberi aura seperti itu. Bagi mereka, aura seperti ini hanya terasa seperti semut ketika dibandingkan dengan aura Luna.


“Benar...” Slitherio mengangguk, “Dan jangan kira aku akan bergabung denganmu, aku belum mempelajari teknik semacam itu...”


“Ehem!” suara dehaman keras terdengar setelah Slitherio mengatakan hal itu. Suara itu adalah milik Geisha.


“Jika kau selesai mempelajari teknik itu, cobalah bergabung denganku. Kau akan merasakan kekuatan yang meningkat setelahnya...” Quinn tertawa cekikikan.

__ADS_1


“Kalau kau mau melakukannya, berikan seluruh kekuatanmu padaku!” Geisha menghentikan Slitherio yang berniat berbicara lagi dan menadahkan tangannya.


“Atas dasar apa kau mengatakan hal itu?” Quinn menatap Geisha tajam.


“Atas dasar kalau dia adalah suamiku...” Geisha merangkul tangan Slitherio dan menyandarkan kepalanya di pundak Slitherio.


“Kau tidak terlihat kuat di mataku...” Quinn menatap Geisha dengan mata semakin tajam. Slitherio berani mengatakan kalau ada kilatan petir di mata Quinn.


“Memang berapa jumlah kekuatan Spirit yang kau miliki?” Quinn berdiri dan meletakkan kedua tangannya di pinggangnya.


“28 kekuatan Spirit, mau apa kau lagi?” Geisha tersenyum penuh kemenangan.


“Baru segitu saja sudah bangga, aku yang memiliki 20 kekuatan Spirit tidak akan bangga...” Quinn tetap tidak melepaskan tatapan mata tajamnya pada Geisha.


“Bukan bangga, tetapi senang karena ia memilihku sebagai teman hidupnya selamanya...” Geisha semakin lebar senyumannya.


“Tidak ada hubungannya!”


“Memang tidak ada, tetapi bagiku ia memilihku bukan karena suatu kebetulan. Jadi, berikan seluruh kekuatanmu padaku...”


Slitherio mengusap wajahnya dengan kasar, tak ia sangka kalau bagian dimana ia sedang menanyai asal-usul Quinn malah berubah menjadi perdebatan tidak penting semacam ini.


“Slitherio, menurutmu apakah aku kuat?” tanya Geisha setelah ia selesai debat dengan Quinn.


“Kuat, hanya saja kau kekurangan kekuatan Spirit...” Slitherio menjawab dengan senyuman palsu.


“Dengar apa yang ia katakan? Kau lemah!” Quinn tersenyum penuh kemenangan.


“Dia tidak mengatakan lemah!”


“Coba pahami maksudnya!”


“Kenapa kalian tidak coba berdamai saja dan duel di sini, adu aura saja. Bagaimana?” Slitherio yang sejak tadi tertekan karena perdebatan ini akhirnya memilih angkat bicara.


“Setuju!” setelah Quinn berseru, aura dingin segera terasa dan menyebar di seluruh ruangan itu.


“Ini adalah Murderous Aura, Phoenix Aura, dan Fighting Aura yang kumiliki. Kau akan tamat sekarang, Geisha...” Quinn menyeringai.


“Oh ya?” Geisha melepaskan rangkulannya lalu berdiri. Aura yang menekan terasa di ruangan itu. Angin segera tercipta dari benturan dua aura itu.


“Aku melepaskan Murderous Aura dan Fighting Aura dengan seluruh kekuatannya. Kaulah yang akan tamat...”

__ADS_1


Kini, wajah Quinn berubah menjadi sedikit berkeringat. Ia tak menyangka kalau lawannya tidak berbohong tentang kekuatannya.


__ADS_2