
Cahaya membawa Devan masuk kedalam apartemen nya, untuk diobati. Devan duduk di sofa ruang TV. Cahaya mengambil air hangat dan lap, untuk mengompres lengan dan bibir Devan. Dengan hati-hati, Cahaya mengompresnya. Devan hanya meringis kesakitan.
"Aghrhhh, pelan-pelan bisa gak sih?" protes Devan.
"Ini juga udah pelan, Mas. Lagian cowok kok lebay amat sih, Mas. Kan cuma di giniiin aja sakit, ls tadi pas berkelahi gak sakit." Cahaya mengelap bekas memarnya Devan, dengan sedikit hati-hati.
"Ya lain lah, udah ah ngomong Ama kamu gak pernah ada benarnya," gerutu Devan, cahaya tersenyum.
"Kamu belum makan?" tanya Devan, Cahaya menggeleng.
"Ya udah, kita makan bareng aja. Lagian sama, aku juga belum makan," ajak Devan dan Cahaya langsung kegirangan.
Setelah meletakkan mangkok dan lap nya, Devan mengajak cahaya untuk makan siang bersama. Mereka kemudian keluar dari apartemen menuju restoran yang akan di pilih Devan. Devan mengajak Cahaya makan, di restoran langganan dia dan Delia. Restoran yang menjual makanan khas kota Jogja. Meskipun menunya sederhana, tapi disain tempatnya lumayan kekinian.
Devan masuk ke restoran itu, dan mencari tempat duduk yang masih kosong. Kalau jam makan siang begini, restoran ini banyak diserbu oleh pembelinya. Kebanyakan yang membeli turis-turis asing yang sedang berlibur di sana.
Setelah mendapat tempat duduk, Devan dan cahaya memesan makanan. Devan memesan, nasi abang plus ceker Kecak, ditambah dengan gudeg dan telur asin. Amalia pesan mangut kebuli, nasi yang di lihat menggunakan priuk di atas arang, ditambah ikan mangut yang disantan pedas, lengkap dengan lalapan nya. Sembari menunggu pesanan, Devan sibuk mengecek ponselnya. Dia berharap Delia chat atau SMS, tapi harapannya pupus. Delia tidak mengabarinya, Devan hanya menaikkan alisnya dan membuang nafasnya kasar. Melihat reaksi Devan, Cahaya mulai menggodanya.
"Kenapa Mas Devan? ceweknya gak ngasih kabar ya?" Goda Cahaya mendapat lirikan tajam dari Devan.
__ADS_1
"Bukan urusan kamu!"
"Eits deh... gitu aja ngambek. Lagian Mas Devan aneh sih, bukannya ngabisin waktu sama ceweknya di weekend gini. Ini malah nyamperin aku, hahaha"
"Diam kamu" sungut Devan.
"Lagian kenapa kamu gak mau dijodohkan dengan orang tua kamu. Apa kamu udah punya pilihan sendiri?" tanya Devan.
Cahaya menggeleng, "Ogah amat dijodohin Ama orang yang gak aku kenal. Kalau dijodohin nya sama Mas Devan, cahaya mau. hahaha" canda Cahaya kemudian di lempar tisue oleh Devan.
"Saya nya gak mau, nikah Ama cewek bar-bar kaya kamu." Disela obrolan mereka, pesanan mereka datang. Devan dan cahaya segera menyantap makanan mereka. Mereka makan dengan lahapnya, sampai-sampai ada sisa makanan di dekat bibir Devan. Cahaya mengambil tisyu dan perlahan di arahkan tangannya ke mulut Devan. Karena kaget, Devan tidak sengaja memegang tangan Cahaya. Devan menatap kearah Cahaya, tatapan mereka terkunci. Lama mereka mematung dengan pikirannya masing-masing.
"Ngapain sih kamu." Dibuangnya tangan Cahaya setelah Devan tersadar dari lamunannya.
"Dasar cewek aneh." Devan menggelengkan kepalanya.
Di pagi Senin yang bertumpuk pekerjaan, Faisal sampai juga di rumah sakit. Sisi dijemput oleh Felisa, jadi Faisal tidak mengantarnya. Faisal berangkat pagi-pagi sekali, bahkan Sisi belum dijemput Felisa. Faisal ingin menyelidiki kasus kecelakaan itu, siapa korban yang satunya lagi.
Faisal menemui perawat bagian administrasi, dia menanyakan identitas korban kecelakaan yang sama dengan istrinya. Faisal mendapat informasi dari Situ, bahwa benar satu korbannya lagi adalah Delia. Faisal semakin yakin lagi, kalau yang meninggal bukan istrinya, tapi Delia. Tapi dia masih belum tahu, bagaimana membuktikan itu.
__ADS_1
Faisal mempunyai ide, tapi dia ragu, idenya akan berhasil. Satu-satunya jalan yang bisa membuktikan itu, dengan melihat tas yang di bawa oleh Delia, sewaktu kecelakaan itu terjadi.
Di kediaman Pak Erlangga, Deli Serdang membereskan pakaian yang kurang sudah tak terpakai lagi. Rencananya akan ia sumbangkan ke panti asuhan. Delia sedang memilah-milah, bajunya. Tiba-tiba dia menemukan sebuah tas, tapi Delia tidak mengenali tas itu. Delia ingin menanyakannya pada mamanya.
Deloa beranjak mencari mamanya, kebetulan mamanya sedang menyiram bunga di taman, samping Rumahnya.
"Ma.. Mama.." panggil Delia.
"Iya sayang, Mama di samping." sahut Bu Sundari.
"Ma ini tas siapa? kenapa kok ada di lemari Delia?" Delia menunjukkan tas yang dibawanya pada Bu Sundari.
Bu Sundari terkejut, saat Delia membawa tas itu. Tas itu memang sengaja di sembunyikan dari Delia oleh Bu Sundari. Sekarang setelah tas itu, ditemukan oleh Delia, dia bingung harus berbuat apa.
"Sini sayang, ini tasnya Mama yang udah g dipake lagi," jawab Bu Sundari
"Oh gitu ya, ya udah ini Delia membalikan" Delia menyerahkan tas itu pada mamanya, tanpa melihat isi dari tas itu. Bu Sundari bisa bernafas lega, karena Delia tidak menaruh curiga padanya.
Bu Sundari sudah mengetahui kalau Delia, itu Yulia. Karena penampilannya yang jauh berbeda saat belum terjadinya kecelakaan itu. Awalnya dia ragu, namun setelah pihak rumah sakit memberikan tas itu padanya. Bu Sundari menjadi yakin, kalau putrinya yang meninggal itu. Bu Sundari mendapat informasi, kalau saudara kembar Delia kecelakaan dari tetangganya Pak Sukamto. Kebetulan mereka teman arisan, dari situlah Bu Sundari menjadi sangat yakin kalau Delia yang meninggal. Alih-alih tak mau, kehilangan anak angkatnya, Bu Sundari menyembunyikannya dari siapapun, termasuk suaminya sendiri. Egois memang, tapi ya seperti itulah Bu Sundari yang sudah terlanjur sayang pada anak angkatnya. Tidak memikirkan kebahagiaan lain yang terenggut, karena keegoisannya.
__ADS_1
Faisal menemui petugas operasional Cctv, dia ingin melihat kembali rekaman Cctv tujuh bulan yang lalu. Dia menemui pak Cahyo, untuk memutar kembali Cctv tujuh bulan yang saat, kecelakaan yang menimpa istrinya. Pak Cahyo dengan sabar, mengotak-atik komputer nya. Setelah lelah mencarinya, ternyata Cctv itu terhapus. Faisal harus lebih bersabar lagi, untuk menyelidiki kasus ini. Dia bisa menyimpulkan, kalau semua ini sudah ada yang merencanakan. Faisal berhadapan dengan orang-orang yang licik. Dia harus berhati-hati lagi dalam melangkah ke depannya.
Faisal menemui Dino, saat sudah jam istirahat. Dia menceritakan secara detail pada Dino. Sebagai sahabat, Dino sangat mensupport apapun yang akan dilakukan oleh Faisal. Dino juga berharap, kalau Delia itu adalah Yulia. Dia kasihan pada Faisal dan Sisi. Faisal tidak pernah senekat ini sebelumnya, tapi saat mengenal Yulia, Faisal memang lebih berani. Dan rencana Faisal kedepannya adalah, ingin bertemu dengan orang tua angkatnya Delia.