
"Astaghfirullahalladzim," racau Faisal menghentikan mobilnya. Dino yang melihat sahabatnya itu menghentikan mobilnya dengan mendadak, kemudian bertanya.
"Kenapa, Sal?" Faisal pun turun dari kemudinya seraya berkata.
"Aku menabrak sesuatu." Dino pun menyusul sahabatnya untuk turun dari mobilnya. Mereka berjalan kearah depan mobil.
Seseorang terbaring di aspal, sembari mengerang kesakitan. Tak ada luka yang parah dari wanita itu. Hanya beberapa saja yang lecet. Dua orang pria itu ikut membantunya berdiri. Setelah wanita itu berdiri. Faisal meminta maaf pada wanita itu.
"Maafkan saya, saya tidak sengaja." Wanita itu tampak tersenyum sembari menahan sakit di sikunya.
"Saya yang salah. Saya nyebrang tidak hati-hati," ucapnya sungkan.
"Biar kita bawa aja ke rumah sakit," tawar Dino tapi di tolak oleh wanita itu.
"Saya gak apa kok. Cuma lecet dikit. Nanti di beri Betadine juga sembuh." Faisal menatap kearah sahabatnya. Meminta bantuan padanya, apa yang akan harus dia lakukan.
"Baiklah kalau begitu. Ini kartu nama saya, terus ini ada sedikit uang untuk membeli Betadine. Jika ada sesuatu jangan sungkan hubungi nomor itu," ujar Faisal merogoh kantong jasnya dan mengambil kartu nama dan sejumlah uang lalu di berikan pada wanita itu.
"Ah saya rasa tidak perlu. Terimakasih," tolak wanita itu kemudian pergi meninggalkan mereka berdua. Faisal dan Dino tidak mencegahnya, karena memang wanita itu uang menolak niat baiknya.
"Ya sudah. Ayo kita pergi dari sini!" ajak Dino menginginkan sahabatnya yang terus memandang kearah wanita itu pergi.
"Iya."
Mereka berdua melanjutkan perjalanan menuju ke rumah sakit. Faisal juga sudah meminta orang-orangnya untuk menyiapkan tempat agar mereka bisa melakukan konferensi pers.
Sesampainya di rumah sakit mereka berdua langsung menuju ke aula, yang sudah disiapkan oleh pegawai Faisal.
Mereka mengklarifikasi berita yang sedang beredar itu. Dan meminta pihak pers tidak lagi memberitakan rumah sakit sejahtera. Untuk berita yang sudah terlanjur publik. Faisal meminta berita itu segera diklarifikasi. Di rasa semuanya sudah jelas. Faisal mengundurkan diri dari tempat itu menuju ke ruangannya.
Sesampainya disana, dia sudah disambut dengan putrinya. Sisi memang sengaja menunggu ayahnya kembali kerumahnya. Karena ada sesuatu yang ingin ia bicarakan. Terkait omongan Hanif siang tadi.
"Ayah," ucapnya memeluk Faisal yang baru saja masuk. Faisal hanya tersenyum dan mengacak-acak rambut putrinya. Sikap manjanya yang membuat Faisal begitu sayang pada Sisi.
"Ada apa ini. Pasti ada maunya." Sisi pun tergelak karena rencananya sudah bisa ditebak oleh ayahnya.
__ADS_1
"Selamat ya, Yah. Akhirnya kasus itu bisa Ayah selesaikan dengan baik." Mereka berdua kemudian duduk di sofa.
"Itu juga berkat doa kamu, bundamu dan orang-orang yang mAsih sayang dengan Ayah," sahut Faisal membuat putrinya kembali memeluknya.
"Yah, ada yang ingin Sisi sampaikan ke Ayah," kata Sisi malu-malu. Faisal tampak menggeleng seraya berkata.
"Tuh kan bener, katakan sayang. Ada apa?" Dengan ragu-ragu dan memberanikan diri, Sisi pun mengutarakan maksudnya.
"Hanif mau melamar Sisi di depan Ayah dan Bunda. Kira-kira Ayah kapan ada waktu untuk itu." Wajah Sisi berubah merah semu. Karena Ayahnya menggodanya.
"Hmmm anak Ayah ternyata udah dewasa ya. Gak terasa udah ada yang mau meminang gadis kecilnya Ayah. Yang jelas laki-laki itu beruntung bisa mendapatkan cinta dan hati kamu, sayang. Kalau untuk itu, Ayah bicarakan dulu dengan bunda mu. Karena bunda mu juga belum kembali kesini," jawab Faisal atas pertanyaan putrinya. Wanita itu pun bisa mengerti dengan keputusan Ayahnya.
"Iya Ayah. Makasih ya, Yah. Karena Ayah adalah Ayah terbaik di dunia ini." Kebahagiaan mereka terhenti saat Hanif menghubungi ponsel Sisi.
"Iya, sayang. Ada apa?" ucapnya membuka suara lewat ponselnya.
"Apa!!"
"Aku kesana sekarang!!" Sisi menutup ponselnya setelah itu pamit pada ayahnya.
"Innalilahi, ya udah kamu cepetan bantu Hanif." Sisi bergegas keluar dari ruangan ayahnya menuju ke UGD. Menyusul Hanif yang sudah menunggunya disana. Bilqis tiba-tiba pingsan dan badannya memar-memar.
Dengan diantar oleh Iqbal, Bilqis pun sampai di rumah sakit. Dengan cepat Hanif menangani pasiennya itu. Sudah hampir dua Minggu, pasiennya tidak datang ke rumah sakit. Mengingat perubahan yang membaik pada dirinya. Tapi tiba-tiba, Bilqis tak sadarkan diri.
Sisi ikut membantu Hanif, menyiapkan apa-apa yang dibutuhkan oleh rekan sekaligus kekasihnya. Setelah memeriksa dan memberi pertolongan untuk pasiennya, Hanif meminta pada perawat untuk membawa Bilqis ke ruang rawat.
Felisa yang baru saja tiba di rumah sakit langsung mencari dimana putrinya di rawat. Setelah menemukan tempatnya, dia langsung menuju ke ruangan itu. Kebetulan Dini dan Iqbal sudah berada di sana untuk menjaga Bilqis.
"Apa yang terjadi dengan Bilqis huhuhu," ucap Felisa saat dia baru saja masuk. Dino langsung menghampiri istrinya untuk menenangkan wanita itu.
.
"Sabar sayang. Andi kita gak apa kok. Dokter Hanif sudah memeriksanya." Hanif kemudian menghampiri suami istri itu.
"Dok bisa kita bicara sebentar. " Dino melepaskan pelukannya dari tubuh istrinya dan berjalan menjauh dengan dokter yang menangani putrinya.
__ADS_1
"Sepertinya kondisi Bilqis semakin menurun. Kita harus lakukan kemoterapi. Kalau tidak." Belum selesai Hanif berbicara.
"Lakukan yang terbaik menurut dokter!" potong Dino. Dia tidak sanggup mendengar kelanjutan dari kata-kata dokter muda itu.
"Baiklah kalau begitu, besok saya akan jadwalkan Bilqis untuk melakukan kemoterapi," tutur Hanif.
"Kira-kira berapa lama. Bilqis akan melakukan kemoterapi nya Dok?" tanya Dino lagi.
"Sampai sel-sel kanker dalam tubuh Bilqis mati," jelas Hanif.
Raut wajah Dino semakin gusar. Dia tahu pengobatan kanker dengan kemoterapi itu sangat menyakitkan untuk pasiennya. Dan tingkat kesembuhannya pun tidak 100%. Itu yang membuat laki-laki itu tertunduk lemas. Dia tidak akan sanggup melihat anaknya menderita lebih lama lagi.
Iqbal dengan setia menjaga dan menemani kekasihnya yang belum sadarkan diri. Felisa pun sama, dia tidak beranjak disampingnya putrinya. Sesekali dia memanggil putrinya agar segera sadar. Melihat putrinya terbaring lemas lagi, membuat wanita itu tak henti-hentinya meneteskan air matanya.
"Tante yang sabar, Ya. Sisi tahu ini berat untuk Tante. Tapi Tante gak boleh terlihat lemah di depan Bilqis, kasihan dia Tante." Sisi berusaha memberi support untuk tantenya. Dia pun sama, dia juga sedih dengan keadaan adiknya itu.
"Makasih, ya sayang."
Hanif dan Sisi kemudian meninggalkan ruang rawat Bilqis. Mereka melanjutkan lagi pekerjaannya.
"Sayang, aku ke toilet dulu ya!" pamit Sisi saat mereka dalam perjalanan menuju keruangannya.
"Iya. Mau aku antar, ngga?" goda Hanif mendapat cubitan mesra dari kekasihnya.
.
Aughhh." Tanpa menghiraukan Hanif, Sisi buru-buru menuju ke toilet. Karena sudah tidak bisa di tahan lagi.
Saat dia akan masuk ke toilet. Veronica memanggil namanya.
"Dokter Sisi, tunggu!!" sapanya menghentikan langkah Sisi.
"Dokter Veronika. Ada apa?" tanya Sisi sedikit curiga dengan wanita di hadapannya itu. Gelagat tidak beres meliputi wajah Veronika.
To be continued
__ADS_1