Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku

Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku
Bismillahirrahmanirrahim, Sisi mau


__ADS_3

Sisi dan Syifa bergabung dengan Bu Sundari dan Umi Qoniah. "Umi, ini Kak Sisi. Dia cantik, kan!" Sifa memperkenalkan Sisi pada Uminya. Dari raut wajah Umi Qoniah, dia begitu tertegun melihat sosok cantik dan lembut duduk di sebelahnya.


"Subhanallah, cantik banget. Saya Uminya Syifa dan Ilham. Senang bisa bertemu dengan kamu, sayang!" puji Umi Qoniah pada Sisi, setelah itu mencubit kecil dagu Sisi, membuat Sisi menundukkan wajahnya.


"Terimakasih, Umi!" balas Sisi dengan perasaan gugup.


"Hmmm, sepertinya Umi kamu suka dengan cucu Nenek. Gimana kalau cucu Nenek ini dijodohkan dengan Kakakmu, Ilham," goda Bu Sundari, semakin membuat Sisi menjadi canggung.


"Wah, cocok Nek," sambung Syifa, dan merek bertiga tergelak. Sementara Sisi, dia belum berani mendongakkan wajahnya kearah mereka.


"Oh, iya Nak Sisi. Apa kamu punya Kakek yang tinggal di Lampung?" tanya Umi Qoniah pada Sisi untuk menyakinkan kalau wanita itu sama dengan cucu teman suaminya.


"Ada Umi, Kakek dari Ayah, Umi!" jawab Sisi dengan gugup.


Setelah mendengar jawaban dari Sisi, Umi Qoniah langsung menyunggingkan senyumnya. Dia harus mempercepat ta'aruf untuk Iqbal pada Sisi. Dia tidak ingin, menyia-nyiakan kesempatan ini. Bagi dia, Sisi adalah wanita yang tepat untuk anaknya. Selain cantik, Sisi adalah wanita yang cerdas. Dan yang paling penting, Sisi adalah muslimah yang bisa menjaga dirinya dengan menutup auratnya.


"Emangnya kenapa Umi? Kok tanya gitu sama Kak Sisi?" tanya Syifa penasaran.


"Nggak kok Ga, gak ada apa-apa kok. Oh iya, sudah sore. Kalau gitu kami pamit pulang dulu, Ya Bu!" pamit Umi Qoniah pada Bu Sundari. "Sayang, main-main ke rumah Syifa ya!" Setelah itu memandang ke arah Sisi.


"Iya Umi. Inshaa Allah."


"Terimakasih sotonya, Bu. Salam untuk Ilham ya," sambung Bu Sundari.


"Inshaa Allah, nanti saya sampaikan. Kalau begitu kami permisi dulu. Assalamualaikum!"

__ADS_1


"Waalaikumussalam!"


Sepeninggal mereka berdua, Bu Sundari meminta Sisi untuk membawa soto pemberian dari tetangganya itu kedapur. "Sayang, kamu bawa sotonya kedapur. Nanti kita makan bareng-bareng dengan Kakekmu. Nenek mau menelpon Kakekmu dulu." Sisi langsung membawa rantang itu kedapur. Sementara Bu Sundari, dia ke kamarnya untuk mengambil handphonenya yang sedang di charger. Dia akan menghubungi suaminya agar bisa pulang cepat hari ini.


Meskipun di usianya yang sudah senja. Pak Erlangga masih aktif ke kantor. Sekedar memantau kinerja karyawan-karyawannya. Apalagi, sekarang sudah memasuki akhir tahun. Jadi, akan banyak laporan-laporan penting yang harus ditangani langsung oleh beliau.


*******


Ditempat lain


Umi Qoniah dan Syifa yang baru saja pulang dari kediaman Bu Sundari, terlihat senang. Karena ternyata Sisi gadis yang di taksir oleh putranya adalah wanita yang akan di jodohkan oleh suaminya. Mereka langsung masuk ke dalam dan mencari keberadaan Ilham. "Ham..." panggil Umi Qoniah pada putranya yang sedang membaca buku di kamarnya.


"Iya Umi, ada apa?" Ilham menutup buku yang ia baca kemudian beralih memandang Uminya.


"Pokoknya kamu harus nikah dengan wanita pilihan Abi mu!" titah Umi Qoniah tiba-tiba, sontak membuat Ilham mengerinyitkan keningnya. Dia bingung dengan sikap Uminya yang tiba-tiba memaksa kehendaknya setelah bertemu dengan Sisi.


"Nggak, bukannya begitu. Umi suka kok dengan Nak Sisi. Tapi, Umi lebih suka dengan gadis pilihan Abimu," jawab Umi Qoniah menyunggingkan senyumnya. Sepertinya dia punya rencana terselubung untuk Ilham dan Sisi.


"Terserah Umi saja, inshaa Allah Ilgam terima dengan ikhlas." Ilham terlihat lemas dengan keputusan Uminya.


"Rencananya, kami akan menemui orang tua si gadis itu setelah umi pulang dari sini. Yang Umi dengar, gadis itu akan pulang ke Indonesia untuk menghadiri pernikahan sahabatnya. Jadi, itu kesempatan untuk Umi ta'aruf kan dia buat kamu," terang Umi Qoniah sudah mengatur semuanya. "Kalau masalah menikah, itu bisa dilakukan setelah dia lulus kuliah tidak apa. Yang penting, Umi sudah mengikat gadis itu," lanjutnya seraya tersenyum puas.


"Iya Umi, atur saja yang terbaik buat Ilham!" seloroh pria itu pasrah.


Umi Qoniah pergi dari kamar Ilham, dia akan menghubungi suaminya untuk membicarakan ini dengan sahabat suaminya itu. Agar orang tua di gadis tidak terkejut dengan kedatangan mereka. Umi Qoniah sudah tidak sabar ingin segera mempertemukan mereka berdua.

__ADS_1


Sementara Ilham. Dengan tatapan kosong, pria itu memandang ke arah rumah Bu Sundari. Perasaannya kini diliputi kekalutan, dia ingin menolak perjodohan itu dan ingin mengatakan kalau dia mencintai Sisi. Tapi, dia tidak mau membuat orang tuanya kecewa. Dia memilih untuk menerima perjodohan itu, dan mengubur cintanya terhadap Sisi. "Mungkin, takdir tidak menyatukan kita. Tapi, aku bersyukur sudah bisa mengenal mu," gumamnya tersenyum sinis untuk dirinya.


Terdengar Adzan magrib berkumandang. Ilham bergegas menuju ke masjid dengan menggunakan motornya. Saat motor Ilham akan keluar dari pagar rumahnya, disaat itulah Sisi yang baru pulang dari minimarket menuju kerumahnya. Mereka bertemu, dan saling menatap. Setelah itu, Sisi melempar senyumnya kearah Ilham, namun Ilham tidak membalasnya. Pria itu memilih untuk melakukan kendaraannya dan menghindari Sisi. Sedikit rasa kecewa dari dalam diri Sisi. Tapi, dia siapa? Toh hubungan mereka hanya sebatas dosen dan mahasiswi nya saja. Terlepas jika di rumah, mereka bertetangga.


"Kenapa, sikapnya beda!" gumam gadis berhijab maroon saat masuk kedalam rumahnya. Gadis itu memilih untuk ke kamarnya dan melaksanakan sholat magrib, setelah terdengar suara iqoomat. Tak ingin berlama-lama dengan pikirannya, lebih baik dia fokus dengan ibadahnya. Usai sholat magrib, rutinitas Sisi mengaji Al-Qur'an tak pernah dia lewatkan.


"Sodaqallahhuladzim." Sisi menutup Al-Qur'an dan meletakkan kembali di meja belajarnya. Tak lama setelah itu suara dering ponselnya berbunyi, dan dilihatnya Bundanya yang menelpon. Sisi bergegas mengangkatnya dan mengalihkan dengan panggilan video.


"Assalamualaikum Bunda," ucapnya girang.


"Waalaikumussalam sayang, kamu makin hari makin cantik saja sayang!" goda Yulia sebelum menyamping niatnya.


"Ah Bunda, Sisi jadi curiga nih. Pasti ada sesuatu nih, ujung-ujungnya," balas Sisi, Yulia pun tergelak.


"Sayang, ada yang ingin bunda sampaikan ke kamu." Yulia menjeda kalimatnya, setelah melihat wajah anaknya berubah menjadi serius. "Kakekmu berniat menjodohkan kamu dengan putra pemilik pesantren tempat beliau berguru dulu," lanjut Yulia.


Sisi hanya diam, tak menanggapi kalimat Bundanya. "Sayang, Kakek lakukan itu karena dia ingin laki-laki yang terbaik buat kamu." Yulia tahu, Sisi pasti sedikit terganggu dengan rencana papa mertuanya. "Kami hanya ingin, kamu bahagia dunia akhirat sayang. Dan inshaa Allah, pria ini akan bisa membimbing kami dunia dan akhirat, sayang."


"Tapi, Sisi masih kuliah Bun," tolak Sisi mencari alasan.


"Iya Bunda tahu, sayang. Kalian bisa ta'aruf dulu, sayang. Lagian, pria itu belum ada di sini, Kok! sambung Yulia mulai membujuk Sisi.


Sisi berfikir sejenak, setelah itu dia setuju. "Iya udah Bun, inshaa Allah Sisi mau. Bismillahirrahmanirrahim, semoga laki-laki itu adalah jodoh Sisi dunia akhirat." Sisi mengambil keputusan itu, karena dia sudah pasrah dengan jodohnya. Tidak ada salahnya, dia menuruti perjodohan itu.


"Alhamdulillah, aamiin. Ya udah Bunda kasih tahu Kakek dulu, ya!" Sisi mengangguk dan Yulia menutup telponnya setelah mengucapkan salam.

__ADS_1


"Waalaikumussalam."


__ADS_2