
Faisal mengamati satu persatu kata-kata yang ditulis Yulia. Faisal baru sadar, kalau ternyata Yulia sudah mengetahui tentang masa lalunya. Tubuh Faisal seketika melemas, tulang di tubuhnya seakan runtuh. Dia merutuki kebodohannya selama ini, harusnya dia sadar, saat sikap Yulia yang aneh, akhir-akhir ini. Faisal kembali meraih ponselnya, berharap Yulia sudah bisa dihubungi. Faisal menelpon kembali nomor Yulia. Namun, jawabannya masih sama. Nomor Yulia diluar jangkauan. Faisal membanting handphone nya di kasur, diremasnya surat Yulia.
Faisal sama sekali tidak bisa berfikir jernih, apa yang akan dilakukannya sekarang. Saat adzan Maghrib berkumandang, Faisal melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim. Sholat magrib yang biasa ia lakukan bersama istri dan anaknya. Kini, dia harus mengerjakannya seorang diri. Dalam doanya dia meminta, agar dipermudah mencari istri dan anaknya.
Usai sholat magrib, Faisal bergegas ke rumah Dino. Dia berfikir, Felisa pasti tahu keberadaan Yulia. Di lajukannya mobilnya dengan cepat. Faisal tak lagi menghiraukan keselamatan nya, yang paling penting saat ini, dia bisa bertemu lagi dengan istri dan anaknya.
Rumah Dino dan Felisa terasa sepi, sepertinya mereka tidak di rumah. Dan benar saja, assisten rumah tangga Dino memberi tahu, kalau majikannya lagi berada di Bandung. Faisal lagi-lagi harus menelan kekecewaan. Dia berjalan dengan putus asa, kembali ke rumahnya. Faisal bingung, apa yang harus dilakukan nya sekarang. Satu-satunya petunjuk adalah Felisa. Tapi, dia tidak ada sekarang.
Faisal tak langsung pulang ke rumahnya. Dia mencari Yulia dibeberapa tempat yang mungkin akan Yulia datangi. Dimulai dari butiknya, disana juga tidak ada. Karyawan yang akan menutup butik Yulia mengatakan, kalau sudah tiga hari Yulia tidak datang ke butik. Faisal sempat berfikir akan mencari Yulia, di rumah orang tuanya. Namun, Faisal takut jika orang tua Yulia akan kecewa padanya. Sudah dua kali Yulia kabur dari rumahnya. Dan masalahnya sama, masa lalu Faisal. Egonya dikalahkan dengan rasa bersalah nya dia pada Yulia dan Sisi. Faisal bergegas menuju ke rumah mertuanya. Berharap, Yulia ada disana bersama putrinya.
"Assalamualaikum Ma, Pa" Faisal memberi salam, saat dia sudah ada di dalam rumah mertuanya. Namun, Faisal melihat sekeliling rumah itu, tidak ada tanda-tanda Yulia ada di sana. Namun Faisal belum menyerah, dia mengira Yulia ada di kamarnya.
"Waalaikumussalam nak Faisal, oh iya, kemarin Yulia menitip pesan pada Mama. Katanya, nak Faisal kalau mau makan disini saja. Mampir tidak sempat, jika harus mengatakan makanan ke rumah nak Faisal." Faisal mencerna kata-kata Mama Siti, itu artinya Yulia memang benar tidak ada di rumah itu.
Sepertinya Yulia sudah merencanakan kepergiannya, agar tidak di ketahui siapa pun. termasuk, orang tuanya.
"Papa bersyukur Yulia bisa mengembangkan bisnis nya diluar kota. Dari dulu cita-citanya menjadi pembisnis yang hebat." Timpal ayah dengan bangga menyanjung Yulia. Tanpa disadari, Faisal mendapat informasi lagi dari mertuanya. Kalau Yulia berada di luar kota, tapi tempat nya dimana?, Faisal belum tahu.
" Kamu yang sabar ya nak Faisal, jika ditinggal oleh Yulia. Dan Papa mohon izinkan Yulia berkarya."Pak Sukamto benar-benar tidak menaruh curiga akan kepergian putrinya, disebabkan oleh Faisal. Faisal hanya menanggapi semua ucapan mertuanya dengan senyuman. Faisal tidak menyangka Yulia akan secerdik ini, pergi tanpa membuat orang tuanya merasa khawatir.
__ADS_1
Setelah makan malam yang dengan keterpaksaan, Faisal pulang ke rumahnya. Dia hanya mendapat informasi, kalau Yulia pergi ke luar kota. Tepatnya dimana, dia belum mengetahuinya. Sampai rumah, Faisal tak langsung masuk ke kamarnya. Dia berjalan menuju ruang makan, ruang di mana obrolan hangat di pagi hari yang keluarga kecil itu lakukan. Faisal menatap hampa ruangan itu, Faisal tidak menyangka. Jika dia, akan MXmembuat Yulia pergi lagi dari rumahnya.
"Kenapa kamu pergi lagi Yul... kenapa?"
"Yulia......" Teriaknya sambil mengacak-acak rambutnya.
"Dimana kamu Yul... dimana.... dimana..?" Kepedihan yang dirasakan oleh Yulia, kini dirasakan pula oleh Faisal. Selama ini dia salah, dia pikir Yulia akan tahu perasaannya yang sebenarnya. Kalau selama ini, dia sudah mencintai Yulia sepenuhnya. Lelah berteriak dan menangis, Faisal tertidur di ruang makan. Dia tidur sambil duduk, dan kepala nya diletakan di meja.
Ditempat lain..
Yulia dan Sisi rebahan di kamar, kamar yang lebih sempit dibandingkan kamarnya di rumah Faisal. Usai sholat isya, Sisi minta di dongeng kan untuk menemani tidurnya.
"Bunda, Sisi kangen Ayah!" Rengek Sisi yang belum bisa tidur.
"Kenapa Ayah gak telpon kita Bun?" Sisi mendongakkan kepalanya, menatap melas Yulia.
"Sayang, dengerin Bunda ya! Ayah sibuk saat ini, Ayah banyak kerjaan, jadi belum sempat telpon kita." Yulia berbohong pada Sisi. Ponselnya memang tidak di aktifkan sedari Yulia sampai di rumah Pamannya.
"Sekarang Sisi bobok dulu ya nak, besok kita jalan-jalan lihat gajah." Imbuh Yulia mengalihkan perhatian Sisi, Sisi hanya mengangguk patuh.
__ADS_1
Saat Sisi sudah terlelap, Yulia membuka ponselnya, mengganti kartu lamanya dengan yang baru. Yulia berharap, kepergiannya kali ini benar-benar membuat Faisal sadar. Dengan cara menutup akses komunikasi antara dia dan Faisal. Setelah mengganti kartunya yang baru, Yulia menghubungi Felisa. Dia ingin tahu apakah Faisal mencarinya di rumah Felisa.
📞 "Iya Yul Assalamualaikum."
📞 " Waalaikumussalam Sha.. Gimana Sha, apa mas Faisal ke rumah kamu Sha..
📞 " Iya, sesuai dugaan kita, tempat pertama yang akan di tuju, ya rumah aku.
📞 " Kamu janji ya, jangan beritahu mas Faisal. Aku pasti pulang kok, tapi untuk saat ini, aku belum bisa.
📞 " Iya sayang, lagian biar tahu rasa tuh laki kamu. Udah dikasih istri cantik, pinter Sholehah lagi, masih aja mikirin mantannya..
📞 " Aku tutup dulu ya Sha, salam untuk mas Dino. Sampaikan juga sama mas Dino, agar tidak memberitahu keberadaan Yulia pada mas Faisal, Assalamualaikum."
Usai menjawab salam dari Yulia, Felisa menutup telponnya. Felisa dan Dino, kini mereka ada di rumah. Mereka sengaja berbohong, agar Faisal tidak menemui mereka. Dino dan Felisa bekerjasama pada Yulia.
"Sayang, apa gak sebaiknya kita kasih tahu aja Faisal, tentang dimana keberadaan istrinya." Dino selalu tidak tega, jika melihat Faisal menderita.
'No..no..no.. Awas aja kalau sampai mas Dino beritahu ke mas Faisal, siap-siap aja gak dapet jatah dari aku." Felisa merasa kesal, karena Dino selalu membela Faisal. Dino yang mendapat ancaman dari Felisa, tidak berani lagi berkutik. Dino memang lebih bucin, jika bersangkutan dengan Felisa. Rasa sayang dan cintanya amat sangat besar. Apapun, apapun yang di minta Felisa, Dino dengan sigap akan mengabulkannya. Namun bukan berarti membuat Felisa besar kepala, lantas seenaknya berbuat yang tidak-tidak pada Dino.
__ADS_1
To be continued..
Gimana nih, masih mau lanjut gak nyoksa Faisal nya...