
"Sejak kapan Delia hilang ingatan, apa sudah lama?" Faisal pura-pura tidak mengetahui apapun tentang Delia. Faisal ingin mendapatkan informasi lebih dari Devan, terkait Delia.
"Sudah tujuh bulan, lebih kayaknya." Devan sama sekali tidak menaruh curiga pada Faisal. Dia berkata jujur tentang apa yang dia ketahui tentang Delia.
"Ya sudah Van, saya pergi dulu ya. Takut Sisi nungguin saya," pamit Faisal, dirasa sudah mendapatkan informasi yang ia butuhkan. Faisal pergi meninggalkan Devan dan Cahaya. Faisal juga sudah membayar makanan yang di makan Devan dan Cahaya.
Faisal pergi dengan langkah pasti, dia percaya kalau takdir masih berpihak padanya. Faisal melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, dia ingin cepat sampai di sekolahan Sisi. Faisal ingin bertemu dengan Delia, dia akan mencoba menceritakannya pada Delia.
Faisal ingin menyakinkan Delia, kalau dia Yulia, istrinya. Dia sudah tidak sabar lagi, ingin melihat ekspresi Sisi. Saat mengetahui kalau Delia adalah Bundanya. Faisal sampai juga di sekolahan Sisi. Semua siswa sudah tidak ada di halaman sekolah. Itu artinya, pentas segera di mulai. Faisal langsung menuju aula, tempat pentas itu di mulai.
Semua yang hadir adalah ibu-ibu yang mendampingi anak-anaknya. Delia duduk di bangku depan, dekat dengan para juri. Sementara Sisi tidak terlihat disitu, mungkin dia masih persiapan dibalik panggung. Faisal mencoba untuk mencari tempat duduk yang masih kosong. Ada satu bangku kosong, namun sayang jauh dari tempat duduk Delia. Faisal akhirnya duduk di bangku kosong itu juga. Matanya tak beralih ke arah Delia. Hari ini Delia memang kelihatan lebih cantik. Gaun dan hijab yang digunakan sangat serasi.
Sekarang giliran Sisi yang tampil, setelah MC memanggil namanya. Sisi datang dari samping podium. Sisi memakai kebaya cilik, dan dandanan bak Ibu Kartini. Sisi terus melihat ke arah Delia, dia tidak menyadari kehadiran ayahnya.
Ibu....
Dimana pun engkau berada
Engkau tetaplah pahlawan ku..
Meski kau tak lagi ada disisi ku..
Namun doamu kian menyertaiku...
Apalah arti sebuah anak..
Kalau tak bisa berbakti pada ibunya..
Ibu... sebongkah berlian tak akan sanggup..
Untuk membayar perjuangan mu..
__ADS_1
Ibu...
Dimana engkau kini...
Mengapa tinggalkan aku sendiri...
Aku tak bisa berjalan...
Aku tersesat....
Saat engkau memilih untuk pergi...
Ibu...
Pulang lah ..
Dalam keadaan apapun....
Sebagai wujud baktiku padamu...
Angin...
Sampaikan rindu ini untuk Ibu....
Dengan lantang Sisi membacakan puisi tentang ibu. Dia begitu menghayati isi dari puisi tersebut. Semua orang ikut menitikkan air matanya. Begitupun juga dengan Delia. Dia sangat tersentuh saat mendengar Sisi membacakan puisi itu. Ada rasa bersalah dalam diri Delia. Usai membacakan puisi itu, Sisi berlari memeluk Delia. Mereka berdua seperti memiliki ikatan batin.
Faisal yang melihat pemandangan ibu dan anak sedang berpelukan. Ada perasaan yang tak menentu, ada sebuah harapan yang harus ia wujudkan. Istrinya, kini sudah ada di depan mata. Dia tidak akan menyia-nyiakan lagi kesempatan ini. Dia akan memperjuangkan kembali istrinya. Dia akan menebus kesalahannya yang dulu, yang banyak menyakiti hati istrinya. Kali ini Faisal akan membuktikan cintanya pada Yulia, dengan caranya sendiri.
Acara selanjutnya adalah acara lain-lain, dan diisi dengan makan bersama di sekolahan itu. Saat semuanya sudah beranjak pergi, tinggal Delia dan Sisi. Faisal mendekat ke arah mereka.
"Ayah...Ayah datang..." Sisi yang menyadari kehadiran ayahnya, berlari minta di gendong.
__ADS_1
"Iya sayang, Ayah disini dari tadi. Ayah lihat pertunjukan Sisi tadi, bagus sekali" puji Faisal membuat wajah Sisi merah merona.
"Terimakasih ya sudah mau hadir di acara Sisi," ucap Faisal yang sudah dihadapan Delia.
"Iya sama-sama, saya senang bisa menemani Sisi. Dia anak yang pintar, dan juga periang," tutur Delia memegangi tangan Sisi.
"Kita langsung pulang aja ya, makan siang di rumah aja. Bi Imah udah masakin makanan kesukaan Sisi," ajak Faisal pada Sisi dan Delia.
"Tidak usah Mas, saya pulang naik taksi aja," tolak Delia.
"Saya tidak suka penolakan Del, jadi saya mohon ikutlah dengan kami." Faisal membujuk Delia supaya mau ikut dengannya. Dia akan melancarkan aksinya, agar Delia mengingat kembali.
Di rumah Faisal, banyak kenangan manis yang pernah mereka lalui berdua. Mungkin sedikit banyak akan bisa memancing ingatan Delia sekarang. Karena itu, Faisal harus berhasil membawa Delia ke rumahnya.
"Bunda, Sisi mohon Bunda ikut Sisi pulang. Sisi mau makan bareng Bunda." Sisi mengatupkan kedua tangannya di dadanya, dia memohon pada Delia. Delia tak akan tega melihat anak itu bersedih, akhirnya dia mau ke rumah Faisal.
"Iya sayang, Bunda mau." Faisal tersenyum puas, semoga ini awal yang baik agar keluarga mereka bersatu lagi.
Mereka bertiga mengendari motornya, Faisal tidak mau ambil resiko. Dia memilih mencari jalan pintas, untuk menuju ke rumahnya. Kalau lewat jalan raya, takutnya akan ditilang oleh polisi. Karena menyalahi aturan yang berlaku. Mereka seperti sebuah keluarga yang bahagia. Sisi mampu mencairkan suasana antar Faisal dan Delia.
Mereka sampai di rumah, bik Imah yang mengetahui majikannya datang, langsung membukakan pintu pagarnya. Faisal memarkirkan motornya digarasi, setelah itu mereka bertiga turun. Bi Imah dengan cekatan menyiapkan makanan di atas meja makan. Makanan rumahan sudah tertata rapi di meja makan. Faisal mengajak Delia langsung ke meja makan. Sebenarnya perut Faisal udah kenyang, tapi dia tidak boleh melewatkan momen ini bersama istrinya.
Mereka sudah duduk ditempat mereka masing-masing. Delia menyendok kan makanan ke piring Sisi. "Bunda, kok Ayah gak di ambil ini?" tanya Sisi saat Delia tidak menyendok kan kanan ke piring Faisal. Faisal hanya tersenyum, dia beruntung Sisi bisa sedikit membantu rencananya. Dengan canggung, Delia menyendok kan namanya ke piring Faisal. Faisal hanya menatap Delia, pemandangan yang selama tujuh bulan ini hilang. Kini bisa dilihat lagi oleh Faisal, meskipun hanya sementara. Tapi Faisal yakin, dia akan bisa mengembalikan ingatan istrinya kembali.
Mereka bertiga makan dengan tenang, tidak ada suara yang terdengar di meja makan. Sisi dengan lahapnya memakan habis makanannya. Usai makan siang, Delia membantu membereskan meja makan.
Faisal dan Sisi menunggu Delia di ruang keluarga. Ruang itu memiliki banyak kenangan, saat-saat mereka bercanda ria. Faisal akan memulainya dari sana. Delia sudah selesai membantu bi Imah membereskan meja makan. Delia kemudian menyusul Sisi dan Faisal. Mengetahui kehadiran Delia Faisal mencoba setenang mungkin. Perasaannya kini tak menentu, Faisal saat berhadapan langsung dengan Delia. Dengan tiba-tiba Faisal memeluk Delia, mendekap erat tubuh Delia. Sepertinya Faisal hilang kendali. Dia tidak bisa mengontrol perasaannya. Faisal sudah amat sangat rindu pada sosok wanita yang ada di dekapannya.
To be continued..
Tunggu kelanjutannya siang nanti ya...
__ADS_1
Terimakasih...