Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku

Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku
Seratus tuju belas


__ADS_3

Selepas menghadiri acara syukuran Yulia, Devan mengantar Cahaya balik di apartemennya. Namun ditengah jalan, mereka di hadang oleh orang suruhan papanya Cahaya. Mereka sudah membuntuti Cahaya dan Devan, sejak berangkat ke acara tadi.


"Siapa mereka? kenapa menghadang mobil kita?" Devan menghentikan mobilnya mendadak.


"Waduh, itu kan semua orang suruhan Papa!" jawab Cahaya yang mengenal salah satu dari orang suruhan papanya.


Salah satu orang itu menggedor kaca pintu mobil Devan. Mereka semua berjumlah enam orang. Badannya tinggi, besar seperti atlet angkat besi. Devan yang melihat tubuh mereka cuma bisa menelan Slavina nya.


"Kita harus gimana Mas? Cahaya gak mau kalau mereka menangkap Cahaya. Huhuhu." Tangis Cahaya pecah, membuat Devan tidak bisa berfikir.


"Buka pintunya, atau kami akan dobrak!" seru ketua dari orang-orang itu.


Dengan perasaan yang berkecamuk dalam dadanya, Devan akhirnya turun dari mobilnya. Sementara Cahaya dilarang turun oleh Devan.


"Mau jadi pahlawan dia, berani juga turun dari mobilnya! hahahaha" ejek salah satu dari mereka.


"Mau kalian apa!" Devan masih mencoba untuk mengumpulkan keberaniannya. Dia tidak mau terlihat takut pada mereka.


"Hahaha, harusnya kami yang tanya seperti itu. Mau kamu apa? menyembunyikan Non Cahaya dari Pak Handoko!" salah satu dari mereka menarik kerah baju Devan.


"Non turun! kalau Non tidak mau kami berbuat kasar pada Non!" salah tau dari mereka mendekat ke arah Cahaya.


"Jangan turun Cahaya!" teriak Devan, mencegah Cahaya turun dari mobilnya.


"Brengsek Lo!" bughh, satu Bogeman mendarat di perut Devan. Devan berusaha melawan mereka dengan membalas pukulan orang itu, tapi teman yang lainya sudah dulu memukul Devan sampai babak belur.


"Mas Devan!!!!" teriak Cahaya dari dalam mobil. Cahaya tidak tega melihat Devan terus dihajar oleh orang suruhan papanya. Dengan ragu Cahaya turun dari mobil Devan, dan disambut dengan salah satu bodyguard papanya.


"Mas Devan hiks hiks, maafin Cahaya,' lirih Cahaya, yang sudah di apit oleh bodyguard papanya.


"Kenapa kamu turun Cahaya?" Devan berusaha mendekat ke arah Cahaya, namun di tarik oleh teman yang lainnya.


"Mas Devan, Mas Devan gak perlu berkorban untuk Cahaya. Cahaya akan ikut mereka, untuk pulang ke rumah Papa." Cahaya hanya bisa menangis melihat wajah Devan yang sudah memar-memar.

__ADS_1


"Itu artinya, kamu akan menerima perjodohan itu?" tanya Devan tak percaya dengan keputusan Cahaya. Cahaya hanya mengangguk, dia tidak punya pilihan lain, selain menerima perjodohan itu.


"Bagaimana dengan aku Cahaya? aku..." Devan tak lantas melanjutkan kata-katanya. Dia masih ragu, atas perasaan nya sendiri.


"Mas Devan..Cahaya tidak punya alasan untuk menolak perjodohan itu. Hehehehe Cahaya kan masih jomblo," canda Cahaya ditengah-tengah ketegangan yang terjadi.


"Aku mohon, jangan terima perjodohan itu Cahaya. Karena aku mencintaimu!" tegas Devan, menyakinkan perasaanya sendiri.


Pengakuan cinta yang diucapkan oleh Devan, membuat Cahaya sedikit terkejut. Cahaya sendiri memiliki perasaan yang sama pada Devan. Kebersamaan mereka memang belum cukup lama, tapi kekonyolan Cahaya mampu membuat hati Devan berpaling dari Delia.


Setelah berhasil membuat Cahaya turun dari mobil Devan. Anak buah pepaya memaksa Cahaya untuk ikut ke mobil mereka. Devsn hanya bisa melihat Cahaya di bawa oleh anak buah papanya. Dari kejauhan Cahaya berusaha memberontak, namun tenaganya kalah dengan para bodyguard papanya.


"Mas Devan, Cahaya juga cinta Mas Devan!!" teriak Cahaya saat sebelum dia masuk ke mobil anak buah pak Handoko. Devan hanya tersenyum getir, dia tidak tahu harus berbuat apa sekarang ini. Kenapa disaat seperti ini, dia baru sadar, kalau dia sudah jatuh cinta pada Cahaya.


Dengan perasaan tak menentu, Devan pulang ke rumahnya. Dia bertekad untuk memperjuangkan cintanya. Devan akan meminta orang tuanya untuk melamarkan langsung Cahaya untuknya. Sebelum Pak Handoko menjodohkan dengan pria pilihannya itu.


Devan disambut oleh bundanya, bundanya terkejut saat mendapati wajah anaknya babak belur. Bundanya mendekati Devan, kemudian bertanya, "Devan, apa yang terjadi pada kamu, Nak?" bunda Devan memegang sudut bibir Devan yang membiru.


Pak Feri yang baru turun dari lantai dua, ikut bergabung dengan Devan dan bundanya yang duduk di ruang keluarga. "Ah, Cemen gitu aja sudah kalah," ejek pak Feri tersenyum mengejek Devan. " Ayah, kok malah ngomong begitu sih!" seru buk Seruni melototi psk Feri.


Devan hanya diam tak menanggapi kedua orangtuanya. Dia sedang berfikir bagaimana caranya ngomong pada mereka.


"Pasti gara-gara cewek," tebak pak Feri, membuat devan menunduk.


"Lihat Bun anakmu, gara-gara cewek sanksi babak belur kayak gitu," ucap pak Feri semakin mengejek Devan.


"Pa, Devan mau ngomong sesuatu pada Papa!" ujar Devan, mencoba membuka suara.


"Ada apa, katakan saja, mungkin Papa bisa bantu," jawab pak Feri tenang.


"Pa, Devan mau Papa melamarkan seorang gadis untuk Devan!" ucapan Devan membuat pak Feri dan Bu Seruni tersenyum menyelidik.


"Siapa perempuan beruntung itu, yang sudah mengambil hati seorang Devan Tanoto?" tanya Pak Feri menaikan sebelah alisnya.

__ADS_1


"Putri Pak Handoko pemilik perusahaan konveksi terbesar di Jogja Pa," jawab Devan jujur, membuat ekspresi pak Feri seketika berubah.


"Sulit... sulit.." gumamnya menggelengkan kepalanya.


"Apanya yang sulit Pa?" tanya Devan bingung.


"Pak Handoko gak akan mengisi putrinya menikah dengan kamu. Karena....!" jawab pak Feri tak melanjutkan kata-katanya.


"Karena apa Pa?" tanya Devan penasaran.


"Suruh Bunda mu yang jawab!" pak Feri mengalihkan pertanyaan Devan pada Bu Seruni. Sepertinya memang ada sesuatu dari masa lalu mereka yang membuat Pak Feri pesimis, kalau Devan bisa menikahi Cahaya.


Bu Seruni cuma bisa melotot saat pak Feri melempar pertanyaan Devan padanya. Dia sendiri juga bingung, bagaimana harus mulai menjelaskan nya.


"Jadi, Pak Handoko itu mantan nya Bunda saat kuliah dulu. Sebenarnya kami sudah mau akan menikah. Tapi, dia mengkhianati Bunda. Setelah itu, Papa mu melamar Bunda dan Bunda menerimanya. Pak Handoko salah paham pada Papamu, di kiranya Papa mu yang mempengaruhi Bunda. Sampai akhirnya Papamu dan Pak Handoko berkelahi, sampai mengakibatkan Pak Handoko masuk rumah sakit. Sampai sekarang Pak Handoko masih menaruh dendam dengan Papa mu." jelas Bu Seruni membuat Angga mengelap wajahnya kasar.


"Terus Bagaimana dong ini Pa, Bun, Devan sayang banget dengan Cahaya?" tanya Devan meminta solusi pada Bunda dan Papanya.


"Nanti Papa coba bantu kamu, untuk ngomong ke Handoko. Bila perlu Papa akan memohon pada Handoko, agar mau menikahkan putrinya dengan kamu," ujar Pak Feri memberi solusi masalah Devan.


Ucapan papanya membuat hati Devan sedikit lega. Meskipun dia ragu, kalau pak Handoko akan luluh. Tapi, dia juga tidak bisa hanya tinggal diam diri tanpa ada usaha. Mungkin ini langkah awal dari usaha Devan. Untuk hasilnya, urusan nanti.


"Makasih Pa, Bun!" Devan menekuk kedua orang tuanya. Devan adalah putra tunggalnya pak Feri. Jadi, apapun akan dia lakukan untuk membuat Devan bahagia. Termasuk menghilangkan harga dirinya di depan pak Handoko.


To be continued...


Maaf ya kemarin gak update...


Kita bahas dulu ya Devan dan Cahaya, satu-satu dulu biar gak bingung. hehehehe


Salam santun dari saya...


Terimakasih masih setia menunggu kelanjutan novel ini

__ADS_1


__ADS_2