Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku

Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku
Foto itu


__ADS_3

"Mas, Yulia buatkan teh manis ya!" ucap Yulia yang menghampiri Faisal di ruang kerjanya. Faisal menghentikan aktivitasnya sesaat, dan tersenyum kearah istrinya.


"Nggak usah, sayang. Ini juga udah mau selesai." Yulia mendekati Faisal yang kembali mengotak-atik labtobnya. Dia melihat kearah sekilas kearah monitor setelah itu menatap suaminya. "Hmmm, jangan liatin Mas kayak gitu, sayang. Mas paling gak bisa, kalau kamu merhatikan Mas seperti itu." Faisal kembali menghentikan aktivitasnya, dan menarik tangan istrinya hingga jatuh kepangkuannya.


"Mas, ihhh nanti kalau anak-anak masuk gimana?' Yulia berusaha melepaskan cengkraman tangan suaminya yang sudah melingkar di pinggulnya. "Mas, lepasin!" Faisal semakin gencar menggoda istrinya dengan menempelkan bibirnya di tengkuk Yulia.


"Kamu yang godain aku sayang. Sekarang rasakan akibatnya." Bulu kuduk Yulia mulai berdiri, tak ingin suaminya terus melancarkan aksinya, Yulia mencubit kecil punggung tangan Faisal, sontak membuat Faisal merenggangkan tangannya. "Sakit sayang!" keluh Faisal, dan Yulia langsung beranjak.


"Lagian nanti kalau anak-anak lihat gimana. Kalau mau mesra-mesraan ya di kamar Mas!" seru Yulia cemberut. Perkataan Yulia membuat Faisal tertantang. Faisal langsung menarik diri dari tempat duduknya, dan menarik pelan tangan Yulia agar istrinya itu bisa mengikutinya. "Mau kemana, Mas?"


"Ke kamar lah! Kan kamu sendiri yang bilang tadi," jawab Faisal dengan menyunggingkan senyumnya.


"Tapi itu!" Yulia menunjuk ke arah belakang.


"Udah! Gak usah dipikirin. Lagian, aku kan kangen sama kamu sayang," bisik Faisal membuat Yulia membelalakkan matanya. Tujuannya datang ke ruang kerja suaminya untuk membuatkan minuman, malah berakhir dengan kejahilan suaminya.


Saat mereka sedang turun dari tangga, sayu-sayu terdengar suara orang ngobrol dari ruang tamu.


"Saya mohon, Tan. Beri tahu saya, dimana Sisi berada!" Faisal langsung merenggangkan pegangan tangannya dan menatap kearah istrinya untuk mempertanyakan apa yang ada di dalam pikirannya.

__ADS_1


"Sayang, ada tamu kayaknya!" terima Faisal setelah tidak mendapat jawaban dari Yulia.


"Iya, Mas! Kita lihat, yuk ke depan!" ajak Yulia, dan mereka berjalan menuju ke ruang tamu. Setelah sampai di sana, mereka berdua sedikit terkejut melihat siapa tamunya itu.


"Dokter Hanif!" sapa Faisal, kemudian duduk di sebelah putranya. "Sudah lama disini?" tanyanya pada Hanif. Sementara pria yang di sebutkan namanya menatap melas kearah Faisal dan Yulia.


"Su-dah Dok!" jawabnya dengan nada gugup. "Kedatangan saya kesini adalah.." Hanif menjeda kalimatnya. "Saya ingin bertemu dengan Sisi, Dok. Izinkan saya bertemu dengan dia Dok!" pintanya dengan tatapan memelas.


Mendengar itu, Faisal bisa menyimpulkan kalau pria yang di depannya ini sudah mengetahui kebenaran itu. Hanif terlihat malu saat bertemu dengan Faisal, malam itu. "Maaf Dok, bukannya kami tidak ingin memberi tahu dimana Sisi berada. Karena memang dia yang meminta, agar merahasiakan keberadaannya dengan anda," jelas Faisal.


Pupuslah harapan Hanif saat itu juga. Karena, dia tidak mendapatkan informasi tentang keberadaan Sisi di rumah Faisal. Padahal dia sangat berharap, kalau Faisal bisa luluh saat datang ke rumah itu dengan wajah penyesalan. "Lagian, Dok! Untuk apa lagi Dokter bertemu dengan putri saya. Saya nggak mau tunangan anda akan salah paham jika kalian bertemu nanti!" seru Faisal, membuat Hanif semakin tersudut.


"Tapi saya mau minta maaf langsung dengan dia Dok! Saya mohon beritahu saya dimana Sisi berada saat ini!" ucap Hanif memohon-mohon dengan Faisal.


"Dok, tapi saya mau mendengarnya langsung dari telinga saya!" seru Hanif lagi.


"Maaf Dok, saya tahu perasaan anda saat ini. Tapi, saya tidak bisa memberitahu keberadaan putri saya pada anda. Anda harus menghargai itu. Kalaupun kalian di takdirkan berjodoh. Biar takdir sendiri yang mempertemukan kalian," tutur Faisal membuat Hanif menyerah. "Anda harus hargai tunangan anda. Dokter Veronika akan sedih jika tahu anda sengaja mencari putri saya," lanjut Faisal, membuat hatinya Hanif memanas. Panas bukan karena dia ingin marah. Tapi, karena dia menyesal dengan keputusannya yang tergesa-gesa.


Hanif akhirnya pamit dari rumah Faisal, dan dia memilih untuk kembali ke rumahnya. Harapannya harus pupus lagi, padahal dia hanya ingin meminta maaf secara langsung pada Sisi. Tapi, sepertinya kesempatan itu tidak di berikan padanya oleh keluarga Faisal. Dengan perasaan yang membuncah dalam dadanya, Hanif memacu kendaraannya dengan sangat kencang hingga dia tidak perduli lagi dengan keselamatannya dan mobilnya berhenti tepat di halaman rumahnya.

__ADS_1


Rasa kecewa, sedih, dan menyesal meliputi hatinya saat ini. Hanif yang sudah keluar dari mobilnya, langsung masuk ke dalam rumahnya tanpa mengucapkan salam. Tubuh lunglainya menuntun pria itu untuk duduk di sofa ruang tamu. Karena frustasinya, Hanif mengacak-acak rambutnya, dan memberantaki barang-barang yang terletak di meja hingga berceceran di lantai. Tak hanya itu, Hanif berteriak-teriak menyebut nama Sisi. Tangisnya pecah, hingga di dengar oleh Bu Tari yang sedang menonton TV di ruang tengah. Beliau langsung mendekati putranya.


"Nif, kamu kenapa lagi? Apa Sisi tidak mau memaafkan mu, Nak!" ujar Bu Tari mengelus pundak putranya.


"Hanif belum bertemu dengan Sisi, Bun. Sisi pergi Bun, Sisi pergi!!!" tangisnya pecah, hingga Bu Tari menarik pelan kepala Hanif agar bisa bersender di bahunya. "Hanif benar-benar sudah kehilangan dia Bun!!" racaunya dengan suara parau.


"Sabar sayang, kamu yang sabar ya. Kamu harus ikhlaskan dia, sayang!" Bu Tari hanya bisa menghibur putranya yang terpuruk itu. "Serahkan semuanya pada Allah. Jika kamu masih ditakdirkan untuk bertemu dengan Sisi. Maka Allah akan mengatur pertemuan kalian. Sekarang Jeju harus ikhlas dengan ketentuanya." Kata-kata bundanya sedikit membuat pria itu lebih tenang. Dia menarik kembali kepalanya yang bersender di bahu bundanya, setelah itu dia mengambil ponselnya. Dia baru ingat, kalau dia menyimpan nomor Bilqis. Mungkin, wanita itu bisa memberitahu keberadaan Sisi, saat ini.


Awalnya, Hanif menelpon Bilqis. Namun karena hari sudah larut, jadi panggilan telponnya tidak di jawab oleh Bilqis. Akhirnya dia mengirim pesan pada wanita itu. Isi pesannya adalah keberadaan Sisi, dia minta pada Bilqis memberitahunya.


Hanif menyimpan kembali ponselnya dan berharap akan ada kabar baik, esok. Setelah itu, dia mulai membereskan barang-barang yang berserakan di lantai karena ulahnya, hingga dia mengambil satu benda yang berada tepat di bawah kakinya. Saat dia mengambil benda itu, sorot matanya menangkap sebuah kertas yang terletak di bawah sofa, tempat dua duduk saat itu. Segera Hanif ambil kertas itu, dan ternyata kertas itu adalah sebuah foto. Dan Hanif sangat mengenali foto itu, karena orang yang berada di dalam foto itu, sama persis dengan foto Kakeknya.


"Bun, ini foto kakek! Kenapa ada di sini?" tanya Hanif pada Bu Tari yang ikut membantu Hanif membereskan barang-barang itu. Kemudian Hanif menyerahkan foto itu pada bundanya.


"Iya, ini foto kakek mu. Kenapa bisa ada di sini?" Bu Tari mengambil foto itu dari tangan anaknya, dan setelah melihat foto itu dia kembali bertanya pada Hanif. "Seingat Bunda, Bunda gak pernah punya foto itu sayang!" lanjut Bu Tari. Mereka berdua di buat bingung dengan foto itu.


"Atau jangan-jangan foto ini milik..." Bu Tari menjeda kalimatnya sembari mengingat-ngingat sesuatu.


To be continued

__ADS_1


Sedikit demi sedikit kebenaran akan terkuak, jadi jangan bosen ya baca cerita ini. Dan kalian juga harus hargai ending cerita ini bagaimana...jangan di hujat, jangan di buli... karena perjuangan Hanif tidak selesai sampai di situ😭😭😭😭


Sebenarnya gak rela... tapi mau gimana lagi, udah aku konsep sebelumnya dan gak mau di rubah lagi hanya karena pengen kalian seneng😂😂😂 Hargai author ya, di endingnya kalian bakalan nyesek😭😭😭


__ADS_2