Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku

Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku
Mengetahui kenyataan


__ADS_3

Di kediaman Bu Sundari, tampak seluruh penghuninya sedang berada di teras rumah itu. Seorang wanita berjilbab pink, sudah siap dengan kopernya. Wanita itu tampak sumringah dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya. Hari ini, dia akan bertemu dengan kedua orangtuanya dan adik-adiknya. Namun ada sesuatu yang membuat wanita itu sangat bersemangat untuk pulang ke Jogja, karena hari ini adalah hari pernikahan kedua sahabatnya. Dari semalam dia sudah menyiapkan semuanya, karena rencananya dia akan mengambil jadwal penerbangan awal. Tapi karena sesuatu hal, dia harus mengundur keberangkatannya ke Jogja. Meskipun sedikit kecewa, namun tak lantas membuat wanita itu pupus harapan. Walau dia tidak bisa melihat secara langsung akad nikah kedua sahabatnya, paling tidak dia masih bisa menghadiri resepsinya.


"Nenek beneran gak mau ikut?" tanya Sisi pada Neneknya. "Kakek juga, kenapa kalian gak ikut aja ke Jogja. Sekalian refreshing, Nek, Kek!" lanjut wanita itu sedikit cemberut.


"Nggak sayang! Kita di sini aja, nanti kalau kamu sudah mau menikah, kami akan dampingi kamu, kok!" goda Pak Erlangga di ikuti gelak tawa dari pasangan suami istri itu.


"Kakek, Sisi kanan masih mau lanjutin kuliah Sisi. Kalaupun Sisi terima perjodohan itu, bukan berarti Sisi mau cepet-cepet nikah!" seloroh Sisi yang masih enggan membahas tentang pernikahan.


"Hmmm, iya-iya sayang! Ehmmm cucu Nenek ini kalau lagi cemberut gini, tambah cantik loh!!!" Bu Sundari mencubit kecil dagu Sisi, sontak membuat Sisi tersipu.


"Ya udah Nek, Kek, Sisi pamit ya! Assalamualaikum," pamit Sisi pada keduanya.


Supir Pak Erlangga bergegas mengambil alih koper di tangan Sisi, lalu di masukkan ke dalam bagasi mobil. Diikuti oleh Sisi yang mulai naik kedalam mobil. Setelah menyimpan koper Sisi, supir itu langsung masuk ke bangku kemudi, dan mulai menghidupkan mesin mobilnya. Dari balik jendela Sisi melambaikan tangannya kearah kakek dan neneknya seiring mobil itu menjauh dari kediaman pak Erlangga.


Di waktu yang sama, Ilham dan Uminya juga akan bertolak ke Jogja. Sesuai rencana, mereka akan melamar Sisi, lusa. Sengaja mereka tidak pulang ke Lembang terlebih dahulu. Karena Abinya Ilham sudah berada di Jogja lebih dulu dan menunggu kedatangan mereka.


"Semuanya udah siap, sayang?" tanya Umi Qoniah pada putranya yang berjalan kearahnya sambil menyeret kopernya.


"Sudah Umi!" jawab Ilham tersenyum tipis. Mereka berdua berjalan ke depan diikuti oleh Syifa dan umi Kalsum di belakangnya.


"Dek, Mbak titip Asyifa ya! Inshaa Allah kami Ilham gak lama, kok! Setelah urusannya selesai, Ilham akan segera kembali kesini!" pamit Umi Qoniah pada adik perempuannya seratnya menitipkan putri kesayangannya itu.


"Iya Mbak Yu! Mbak Yu gak usah khawatir, Syifa pasti akan kok dengan saya," ujar Umi Kalsum terkekeh.


"Doain ya Dek. Semoga semuanya berjalan dengan lancar!"

__ADS_1


"Aamiin!"


"Umi, ayo kita berangkat!" seru Ilham pada Uminya.


"Ya sudah kami berangkat dulu ya, assalamualaikum!"


"Waalaikumussalam!"


Ilham dan Umi masuk kedalam mobil sedan yang berhenti tepat di depan mereka. Namun, mata Ilham tak lepas memandang kearah rumah pak Erlangga. Tatapannya sendu, hingga raut wajah berubah menjadi murung. Seakan tak memiliki harapan lagi untuk dia memperjuangkan cintanya. Bagi Ilham, patuh pada kedua orangtuanya itu hal yang wajib. Dia percaya, apa yang menurut orangtuanya baik, maka akan membawa kebaikan pula untuk dirinya. Walau dia harus mengorbankan perasaannya.


Umi Qoniah yang melihat putranya terlihat murung, hanya bisa menyunggingkan senyumnya. Dan berharap semua rencananya bisa berjalan dengan lancar, sehingga bisa menyatukan putranya dengan wanita yang dicintainya itu dalam ikatan sakral sebuah pernikahan.


"Kamu kenapa sayang? Kok kayak sedih gitu?" Umi Qoniah bertanya pada Ilham.


Pria itu memandang ke wajah uminya seraya tersenyum tipis, agar terlihat sedang baik-baik saja. "Ilham gak sedih kok, Umi!" kilah Ilham.


Mobil itu melaju dengan cepat menuju ke bandara. Namun, Ilham meminta supirnya untuk menghentikan mobilnya. "Pak, tolong berhenti di depan wanita itu!" titahnya menunjuk seorang wanita yang tengah berdiri di bahu jalan dengan membawa kopernya.


Sisi terpaksa berdiri di tempat itu, karena tiba-tiba mobil yang di kendarainya pecah mobil. Sehingga supirnya tidak bisa mengantarnya ke bandara. Karena itu Sisi sedang menunggu taksi lewat di sana.


Mobil sedan berwarna hitam berhenti tepat di depan Sisi. Wanita itu sedikit terkejut, namun saat tahu siapa yang ada di dalam mobil itu, Sisi sedikit lega. Ilham menurunkan kaca mobilnya, sehingga umi Qoniah bisa melihat Sisi.


"Umi!" Wanita itu tersenyum ramah kearah Sisi.


"Sayang, kamu kok ada disini?" tanya Umi Qoniah pada Sisi.

__ADS_1


"Iya Umi, mobil Sisi pecah ban!" Mendengar hal itu, Ilham langsung turun dan menghampiri wanita itu.


"Kamu mau kemana?" Kemudian Ilham bertanya pada Sisi.


"Ke Bandara," jawab Sisi tak berani memandang wajah Ilham.


"Wah, kebetulan banget sayang. Bareng kaki saja!" tawar Umi Qoniah.


"Iya, kita bareng saja! Kebetulan kami juga akan ke bandara," timpal Ilham menawarkan tumpangan untuk Sisi.


Sisi melihat kearah jam tangannya, setelah itu dia memutuskan untuk ikut bersama dengan Ilham dan umi Qoniah. Mengingat, dia akan terlambat tiba di bandara kalau menunggu taksi lewat di tempat itu.


Ilham membukakan pintu untuk Sisi, setelah itu menyimpan koper Sisi kedalam bagasi. Lalu, dia duduk masuk kedalam dan duduk di samping bangku kemudi. Sementara Sisi, dia duduk di belakang bersama dengan umi Qoniah.


Di dalam perjalanan menuju ke Bandara. Hanya terdengar obrolan antara Sisi dan umi Qoniah. Sementara Ilham, dia sedang menerka-nerka perihal kepulangan Sisi ke Jogja. Dan itu pun dia dengar saat uminya bertanya tujuan Sisi ke bandara.


"Oh iya, sayang! Kamu ke Jogja ada keperluan khusus atau sekedar ingin berkunjung dan kangen dengan Ayah dan Bunda kamu?" tanya Umi Qoniah yang bisa menebak isi pikiran putranya.


"Sahabat Sisi ada yang menikah, Umi. Jadi, Sisi diharuskan pulang oleh dia," jawab Sisi jujur. Ilham melirik wajah Sisi dari balik kaca spion, pun dengan Sisi. Wanita itu juga melirik wajah Ilham dari balik kaca spion sehingga pandangan mereka tidak sengaja bertemu. Sontak membuat Ilham mengarahkan pandangannya ke sembarang arah untuk menutupi kegugupannya.


"Cuma itu?" Pertanyaan Ini Qoniah membuyarkan kecanggungan mereka berdua.


"Eh, Sisi akan melakukan ta'aruf dengan pria pilihan kakek Sisi, Umi!" Jawaban dari Sisi seakan membakar hati Ilham. Pria itu tertunduk lemas setelah itu. Dia tidak menyangka, kalau nasibnya sama dengan Sisi dan mulai berandai-andai kalau Sisi adalah wanita yang akan dijodohkan dengan dia.


"Wah, selamat ya sayang! Kok bisa kebetulan begini, ya! Ilham juga akan melakukan ta'aruf dengan wanita pilihan Abinya." Sama halnya dengan Iqbal, hari Sisi terasa berdebar-debar setelah mendengar pernyataan itu dari mulut Umi Qoniah. Entah kenapa hatinya begitu sakit mendengarnya, padahal Sisi belum mempunyai perasaan apa-apa dengan Ilham.

__ADS_1


Seketika suasana menjadi hening. Dua inshan itu sedang berkelana dengan pikirannya masing-masing. Sedangkan Umi Qoniah justru senyum-senyum sendiri membayangkan pertemuan putranya dengan Sisi di kediaman Faisal nanti!!!


To be continued


__ADS_2