Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku

Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku
persidangan


__ADS_3

Dengan di bantu pihak kepolisian, Dino mengantar simple darah itu ke kantor forensik. Agar cepat di tangani, dia memberikan beberapa sejumlah uang pada petugas yang bertanggung jawab.


Sekitar dua jam lebih, Dino dan dua orang polisi menunggu di ruang tunggu kantor itu. Tak lama setelah itu, salah satu petugas keluar dari ruangan itu dan memberikan satu amplop ke tangan Dino, dan satu amplop lagi ke tangan salah satu dari dua polisi itu.


Dino kembali ke rumah sakit untuk menyerahkan hasil dari laporan forensik mengenai sidik jari yang menempel di kantong darah yang di tuker itu. Dari situlah, Faisal akan tahu siapa pelaku yang sebenarnya.


Setelah sampai di rumah sakit, Dino langsung menuju ke ruangan Faisal. Kebetulan disana, hanya ada pemilik ruangan itu. Dia masuk kedalam, saat Faisal sudah memerintahkannya untuk masuk.


"Ini hasil laporan forensik, yang kamu minta." Dino menyerahkan amplop yang ia bawa, setelah itu dia duduk di kursi sampingnya.


Faisal membuka amplop itu, setelah mengetahui isi dari amplop itu sebuah senyuman tersungging dari sudut bibir Faisal. Dino yang menatap wajah sahabatnya, menjadi penasaran. Apa isi dari amplop itu.


"Sesuai dugaan ku, akhirnya kasus ini bisa terkuak juga," gumamnya menambah rasa penasaran pria di depannya.


"Siapa pelakunya, Sal?" tanya pria itu.


"Dia ada disekitar kita!" jawab Faisal yakin. Setelah itu dia menghubungi seseorang untuk masuk ke ruangannya.


Tak lama kemudian, seorang pria yang seumuran dengan Hanif masuk keruangan Faisal. Pria itu langsung menghadap kearah Faisal.


"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya pria itu. Faisal pun mengangguk dan meminta pria itu untuk duduk terlebih dulu di sofa. Apa yang diperintahkan bosnya, langsung di kerjakan oleh pria itu. Dia kemudian duduk di sofa, tak jauh dari tempat duduk Dino. Disusul oleh Faisal yang ikut duduk disana.


"Tolong kamu panggilkan, orang-orang yang saya sebut ini. Kumpulkan mereka di ruang meeting. Ada yang ingin saya sampaikan kepada mereka," titah Faisal pada pria itu sembari memberi sebuah tulisan di secarik kertas.


"Baik, Pak!" sahut pria itu patuh. Tak lama dari itu, pria itu pergi meninggalkan Faisal dan Dino di sana. Dino mendekat kearah Faisal, sekali lagi dia bertanya pada sahabatnya.


"Siapa pelakunya, Sal. Sama aku, kamu mau sembunyi-sembunyi." Faisal tersenyum mendengar ucapan sahabatnya itu.


"Nanti, sebentar lagi kamu akan tahu pelakunya." Jawaban Faisal membuat pria bertubuh berisi itu menjadi kesal.

__ADS_1


"Ayo kita, keruang meeting!" ajak Faisal pada sahabatnya.


"Ngapain?" Faisal menggeleng.


"Katanya pengen tahu siapa pelakunya!" Dino langsung menarik dirinya dari kursi menyusul sahabatnya yang sudah dulu beranjak dari tempat itu.


Semua nama-nama yang dipanggil oleh Faisal sudah ada disana. Salah satu diantara mereka, suster yang membantu persalinan korban itu. Dia yang ditugaskan oleh dokter Monica untuk mengambil simple darah itu. Dua diantaranya adalah, perawat yang menjaga dan menyimpan kantong-kantong darah itu. Dan satu lagi dia yang bertugas mengambil darah dari pendonor. Satu yang tidak di undang oleh Faisal. Dia adalah pelakunya.


Faisal juga memerintahkan petugas Cctv untuk masuk ke ruangan meeting, dia akan memerintahkan pria itu untuk mengedit beberapa video yang sudah di lihat oleh Faisal. Dari situ, semuanya sudah jelas pelakunya siapa.


Faisal memerintahkan kepada orang-orang itu untuk menjadi saksi, besok di pengadilan. Dan bukan itu saja, dia juga meminta pada mereka untuk tidak membocorkan kalau mereka di panggil oleh Faisal.


Keesokan harinya. Faisal dengan didampingi oleh sahabat dan pengacaranya menuju ke ruang sidang. Mereka sudah ada di pengadilan dari pukul 0800 pagi tadi. Sebelum ke ruang itu, Faisal memberikan beberapa bukti pada pengacaranya berupa hasil pemeriksaan forensik dan beberapa video.


Diruang sidang itu terdapat beberapa orang. Diantaranya adalah penggugat, pria yang menjadi suami korban. Dokter Monica, selaku tergugat. Yang menarik perhatian dokter Faisal, dokter Soraya dia ada di ruangan sidang itu.


Kini giliran penggugat memberikan saksi atas kasus ini. Dengan dibantu oleh pengacaranya, dia memberikan kesaksian sesuai dengan yang terjadi di TKP. Tidak ditambahi, dan juga dikurangi.


Sekarang giliran para saksi-saksi yang memberikan keterangan atas kasus ini. Ternyata kehadiran dokter Soraya disana me jadi saksi dari penggugat. Dia memberikan pengakuan kalau kinerja dokter Monica memang sudah berkurang. Itu terjadi saat ada seorang pasien meninggal karena melahirkan di rumah sakit sejaktera. Sebenarnya itu bukan kesalahan dari dokter Monica. Pasien itu memang sudah meninggal saat di perjalanan menuju ke rumah sakit. Dan pihak keluarga pun memahaminya. Intinya, dokter Soraya memberatkan dokter Monica.


Sekarang giliran Faisal yang memberikan kesaksian untuk dokter Monica. Sebelumnya, dia meminta dokter Soraya untuk di tampilkan di podium saksi dari tergugat. Dan hakim pun mengabulkan permintaan Faisal. Kini mereka sama-sama saling berhadapan.


Pengacara dokter Monica memberikan sejumlah pertanyaan pada dokter Soraya.


"Maaf sebelumnya, apakah anda sudah lama bekerja di rumah sakit ini? Awal pertanyaan dari pengacara Monica, ditujukan ke Soraya.


"Sudah selama satu tahun ini," jawabnya dengan santai. Lalu pengacara itu bertanya pada Faisal, apakah benar yang dikatakan wanita itu.


"Apakah benar, Dok?"

__ADS_1


"Iya."


"Berarti anda belum mengenal lama dokter Monica, tapi kenapa anda seakan tahu segalanya tentang dia? Apakah Anda tahu, sebelum dokter Monica bekerja di rumah sakit sejahtera, dia bekerja dimana?" Tanya pengacara pada Soraya.


"Tentu saja saya tahu, dia pernah bekerja di rumah sakit Zahra Medica selama hampir sepuluh tahun disana."


"Wah-wah, secara detail. Ya? Apa anda kenal dengan foto ini." Pengacara itu menunjuk ke layar proyektor yang berada di tempat persidangan. Sebuah foto Soraya dan pak Darul sedang berbincang di cafe, seberang rumah sakit Zahra Medica.


Seketika wajah wanita itu memucat. Seperti seorang yang sedang tertangkap basah melakukan kesalahan.


"Dokter Soraya, apa anda kenal dengan pria itu?" ulang pengacara.


"Iya saya kenal dengan beliau. Beliau adalah pemilik rumah sakit Zahra Medica," jawabnya dengan sedikit terbata.


"Ada hubungan apa, anda dengan beliau. Teman, saudara, atau rekan kerja?" Pertanyaan itu lagi-lagi membuat dokter muda itu tersudut.


"Saya adalah sepupu dari pak Darul." Jawaban dari dokter Soraya membuat semua peserta sidang menjadi riuh.


Hakim kembali memenangkan ruangan itu dengan memberi peringatan pada semua orang ada di situ untuk tenang. Setelah tenang, Hakim meminta pengacara tergugat untuk melanjutkan lagi pertanyaannya.


"Sepupu? Tapi kenapa anda lebih memilih untuk bekerja di rumah sakit sejaktera. Jika anda dengan mudah mendapatkan pekerjaan disana?"


"Karena saya tidak suka bekerja disana," kilah Soraya.


"Bukan karena di rumah sakit itu memang sudah tidak membutuhkan anda disana?"


"Iya!" Jawaban tersingkat dari semua pertanyaan yang diajukan oleh pengacara itu.


"Sekarang apa tanggapan anda mengenai video ini!"

__ADS_1


Pengarang itu pun mengintruksikan kepada seseorang untuk memutar sebuah video....


To be continued


__ADS_2