Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku

Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku
Demi kamu, sayang! apa sih yang nggak?


__ADS_3

Melihat raut wajah suaminya yang aneh, Sisi langsung mendekat. Lalu mengambil sendok dari tangan suaminya, dan mengambil sedikit kuah dari mi goreng, nyemek itu.


"Sayang, jangan!" sergah Ilham, saat sendok berisi kuah mi goreng nyemek itu sudah di ujung bibi istrinya. Ilham langsung meraih sendok itu, dari tangan istrinya. "Jangan dimakan! Rasanya aneh!"


Sisi menaikkan sebelah alisnya, dia tidak percaya dengan ucapan suaminya. "Sisi pengen coba!!!!" rengeknya manyun.


"Kamu bisa sakit perut, nanti sayang! Rasanya aneh, beneran! Aku gak bohong!" Semangkuk mie goreng itu, di jauhkan dari istrinya. Sedetik kemudian, Sisi merebut mangkuk itu dan di bawa pergi ke meja makan.


Satu suap....dua suap. Bahkan berkali-kali di suapkan mi goreng itu kedalam mulutnya. Tanpa ia muntahan, bahkan dia begitu antusias melahap makanan itu. Seperti seorang yang tidak makan, beberapa hari.


Ilham yang melihat itu, hanya bisa mendelik dan menelan Slavinanya. Dia tidak menyangka, mi buatannya itu. Yang rasanya aneh, justru di makan istrinya hingga tak bersisa.


Padahal Ilham salah memasukan salah satu bumbunya. Yang harusnya merica, dia tukar menjadi ketumbar. Tak hanya itu, dia juga memberikan garam di mie tersebut sedikit kebanyakan. Jadi, sedikit asin. Membayangkannya saja, dia sudah enek. Tapi, Sisi justru menyukainya.


"Enak, kok! Kak, besok bikinin lagi ya! Sama persis dengan yang ini!" ujar Sisi menunjukkan mangkok, yang sudah tak berisi itu pada suaminya.


Ilham semakin tertegun dengan permintaan istrinya, yang menurutnya aneh. Tak ingin membuat istrinya bersedih, Ilham akhirnya mengangguk setuju. Dan dapat dilihat, raut wajah Sisi langsung berbinar bak menemukan mas satu peti.


*******


Pagi harinya.


Keluarga kecil itu, beserta Syifa sedang menikmati sarapannya. Meja makan di ruangan itu sudah terisi semua. Dengan menu yang sama, nasi goreng kesukaan Ilham sudah tersaji di meja makan. Tak lupa segelas susu untuk ibu hamil, pun sudah siap di meja makan itu.


"Kak Sisi sakit apa?" tanya Syifa yang ketinggalan berita, karena semalam dia pulang sudah sedikit larut. Dia di tugaskan oleh kakaknya untuk berbelanja keperluan cafe. Jadi, dia tidak bertemu dengan sepasang suami istri itu, saat mereka pulang.


"Oh, iya Dek. Kamu belum tahu ya?" Sekilas Syifa mengangkat wajahnya.


"Tahu apa, Kak? Kak Sisi gak kenapa-kenapa, kan!" Ilham langsung tersenyum menanggapi kekhawatiran adiknya terhadap istrinya. "Kok malah senyum-senyum gitu, sih Kak!" lanjut Syifa sebel.


"Sebentar lagi, kamu bakal di panggil Tante?" Syifa membulatkan matanya sempurna.


"Beneran Kak?" tanyanya tak percaya, dan Sisi menjawabnya dengan anggukan. "Yeachhh, akhirnya bakal ada malaikat kecil di rumah ini!!!" lonjaknya kegirangan.

__ADS_1


"Umi udah di kasih tahu, belum Kak?"


"Udah, hari ini Umi dan Bunda akan datang!" Kini Ilham yang menjawabnya. Syifa semakin kegirangan.


Dan ternyata benar, yang di tunggu-tunggu datang juga. Dengan di jemput oleh supir pribadinya, Umi Qoniah tiba di rumah Ilham.


Wanita itu langsung menuju kedalam, usai turun dari mobilnya bahkan meninggalkan koper miliknya. "Assalamualaikum, Ham, Si, Fa!" teriaknya lantang.


Dan yang di panggil, satu persatu muncul dari tempat yang berbeda.


"Umi!!!!" balas Syifa setengah berlari kearah Uminya. Saat akan memeluk, Umi Qoniah justru mendekati Sisi dan langsung mengelus perut menantunya.


"Alhamdulillah, baik-baik ya di dalam sini?!!!" Syifa pun tercengang, dia seperti sudah tidak dianggap oleh Uminya.


"Umi......yang anak Umi tuh, siapa sih!!!!" rengeknya, cemberut. Mereka bertiga langsung tergelak, melihat ekspresinya Syifa.


"Tuh, Mi. Bayi besar Umi mau di peluk juga!" goda Ilham mendapat lirikan mematikan dari adiknya.


Puas dengan menantunya, Umi Qoniah menuju ke dapur. Yang di tuju pertama kalinya adalah lemari pendingin. Di bukanya barang itu, lalu mengambil beberapa sayuran di sana. Seperti salada, kubis, dan beberapa jenis sayuran lainnya.


Setelah semuanya sudah matang, Umi menyiapkan di meja makan. Dan memerintahkan putranya untuk memanggil Sisi untuk makan siang.


Sisi pun menuruti perintah mertuanya untuk menyantap makanan itu, namun baru saja mencium baunya, Sisi kembali muntah-muntah. Dia langsung berlari kedapur, bulir peluh sudah merembes di sekitar dahinya. Tenaga nya sudah terkuras untuk mengeluarkan isi perutnya.


"Maaf Umi, Sisi gak bisa makan masakan Umi!" lirihnya, saat melihat mertuanya merasa khawatir.


"Nggak apa, sayang!"


Ilham yang baru saja datang, langsung merengkuh pundak istrinya. Ilham bisa menangkap rasa bersalah istrinya terhadap Uminya karena tidak bisa makan, masakan Uminya.


"Sudah, sayang! Gak perlu di paksakan. Kamu, mau makan apa sekarang?" Wajah Sisi kembali berbinar.


"Kak, Sisi mau makan mi goreng yang kayak semalem!" Seraya tersenyum penuh harap, Sisi mengutarakan keinginannya.

__ADS_1


Ilham hanya bisa menatap wajah istrinya, dia masih tak percaya dengan permintaan Sisi. Tapi, dia menuruti keinginan Sisi. Makan, mi goreng buatan chef Ilham. Umi Qoniah, pun hanya bisa terbengong. Dalam hatinya, sejak kapan Ilham bisa memasak.


Sisi memilih menunggunya di ruang tengah. Sementara Ilham, dia mulai berkutik dengan aktivitasnya di dapur. Tentu, di bantu oleh Uminya.


Melihat bumbu yang di gunakan untuk membuat mi goreng oleh Ilham, Umi Qoniah langsung mengambil alih tugas putranya.


"Kamu mau bikin menantu Mama keracunan dengan masakan kamu, Ham!" Ilham seketika menghentikan aktivitasnya.


"Tapi, Sisi suka Umi!"


"Sini! Biar Umi yang buatin, Umi gak rela melihat menantu Umi makan makanan seperti itu." Ilham pun tersenyum getir, sebenarnya dia juga pun sama. Tak rela, jika Istrinya memakan masakannya yang nggak banget di lidah.


Seksi, mi goreng cemek udah selesai di buat oleh Umi Qoniah. Mi goreng dengan telur Arik, sawi dan sosis sudah tersaji di piring. Dan yang paling penting, rasanya jauh beda dengan buatan putranya.


"Ham, panggilkan istrimu. Umi udah masakan mi goreng spesial untuk membantu kesayangan Umi!" titah Umi Qoniah, dan Ilham pun langsung menjemput istrinya.


Setelah sampai di meja makan, Sisi kembali duduk di tempat yang sama. Kini di hadapannya ada semangkuk mie goreng cemek, sesuai pesanannya. Di hidupnya wangi masakan itu, dan air liurnya sudah mulai keluar.


Dia sudah tidak sabar ingin segera menyantap makanan itu. Satu suapan pertama sudah masuk kedalam mulutnya. Namun, ekspresi Sisi berubah seketika. Dan dia meletakkan sendok dan garpuny di piringnya.


"Kenapa, sayang? Gak enak, ya?" Umi Qoniah dan Ilham pun saling pandang, mereka sudah tidak sabar mendengar jawaban dari Sisi.


"Kak, mie-nya rasanya aneh. Ini bener masakan Kakak?" protes Sisi mendapat tatapan aneh dari ibu mertua dan suaminya. Ilham berinisiatif untuk mencicipi mie itu. Dan menurutnya itu jauh lebih enak di banding masakannya tadi malam.


Seketika wajah Ilham melingsut, saat istrinya sudah bisa menebak rasa dari mi itu.


"Sisi gak mau makan ini, Kak. Kakak harus, bikinin lagi yang baru!" Umi Qoniah tergelak, karena putranya yang terlihat lesu dengan permintaan menantunya.


"Untung cinta, kalau nggak! Astaghfirullah!" gumam Ilham kembali lagi ke dapur.


To be continued


Besok mulai terkuak kejahatan Veronika oleh Hanif.

__ADS_1


Yang mana saja, ya!!!!


Tunggu besok lah😘😘😘


__ADS_2