
Faisal dan Sisi masih berada di rumah sakit. Faisal tidak akan meninggalkan Yulia sebelum dia sadar. Faisal juga berharap saat Delia sadar nanti, dia sudah bisa mengingat semuanya. Faisal, Devan dan pak Erlangga menunggu di luar. Sementara Sisi dan Bu Sundari berada di dalam.
"Halo Eyang, Eyang duduk aja ya di sini!" Sisi memberikan kursinya pada Bu Sundari.
"Kenapa kamu masih berada di sini? dia bukan Bundamu," ketus Bu Sundari pada Sisi. Sisi hanya tersenyum melihat wajah tak bersahabat dari Bu Sundari.
"Eyang, itu Bundanya Sisi. Eyang kenapa jahat, misahin Sisi sama Bunda," ucap Sisi polos, Bu Sundari semakin tidak suka dengan Sisi.
"Sayang, kita makan dulu yuk! Sisi belum makan dari tadi kan? nanti kalau Sisi sakit gak ada yang jagain Bunda." Faisal masuk kedalam, dia membujuk anaknya untuk makan. Sisi melewatkan makan siangnya, karena harus menjaga bundanya.
"Iya Ayah," Sisi kemudian turun dari ranjang bundanya, di bantu oleh Faisal. Bu Sundari hanya melirik Sinis Faisal.
Faisal mengajak Sisi untuk makan, hari juga sudah menjelang magrib. Sekalian mereka sholat magrib bersama. Sisi sangat rajin beribadah, meski usianya masih kecil. Bundanya selalu mengajarkan Sisi untuk sholat lima waktu. Dari kebiasaan nya itu, Sisi semakin disiplin melaksanakannya walaupun tidak sedang bersama bundanya.
Devan kemudian menyusul Sisi dan Faisal. Devan juga sudah melewatkan makan siangnya, karena harus ke rumah sakit. Mereka bertiga makan di kantin, yang gak jauh dari mushola. Devan memilih gabung bersama Faisal dan Sisi, di bandingkan harus seorang diri.
"Om baik, Om baik kenapa selalu sama bunda?" tanya Sisi polos, saat Devan mengajaknya bercanda.
"Apa, Om baik mau jadi suaminya Bunda?" tanyanya lagi, karena Devan urung menjawab pertanyaan Sisi.
"Tidak sayang, kenapa Sisi bicara seperti itu." Devan tidak mungkin mengatakan pada Sisi rencana perjodohan itu.
"Eyang yang ada di dalam, yang ngomong sama Sidi.," jelas Sisi saat Bu Sundari bilang kalau Devan calon suami Delia.
__ADS_1
"Sisi gak boleh dengerin Eyang Sundari ya, sekarang kita makan ya Nak?" Faisal mencoba menenangkan Sisi, sepertinya hati anak itu sedang rapuh. Karena hasutan dari Bu Sundari.
"Om baik, Sisi mohon, jangan pisahkan Sisi dengan Bunda lagi. Om baik, bisa kok, cari istri lain. Tapi jangan Bundanya Sisi," ucap Sisi memohon pada Devan. Air mata Sisi menetes begitu saja, Devan yang mendengar ucapan Sisi menjadi terhenyut.
"Sayang, Sisi gak boleh ngomong gitu ya. Bunda gak akan pergi lagi dari kita. Bunda akan selalu bersama kita." Faisal memeluk Sisi yang sedang bersedih.
"Sayang, dengerin Om baik. Om baik, gak akan pernah rebut Bundanya Sisi. Om baik kan ganteng, jadi bisa cari cewek yang lebih cantik dari Bundanya Sisi." Devan berusaha menghibur Sisi dengan candaannya. Devan tahu, Perasaannya Sisi dan Faisal. Mereka tentu tak ingin, terpisah lagi dari orang yang mereka sayangi.
"Tapi, gak ada yang lebih cantik daripada Bundanya Sisi." Sisi tersenyum berat pada Devan.
"Kalau gitu, Om baik nikah aja sama anaknya. hahahaha.
"Sisi gak mau." Suasana haru seketika mencair saat candaan Devan keluar. Pria itu, memang selalu bisa membuat orang disekitarnya tersenyum.
Usai makan mereka bertiga pergi ke mushola rumah sakit. Mereka melaksanakan sholat magrib berjamaah. Kebetulan ada seseorang yang mengimami nya. Selesai Sholat Sisi berdoa. Dia memohon untuk kesembuhan Bundanya.
Faisal dan Devan yang sudah ada di belakang Sisi, ikut mengaamiini doa Sisi. Faisal senang, Sisi adalah anak yang penurut dan pintar. Dia tidak pernah meminta yang aneh-aneh, seperti kebanyakan anak seusia Sisi. Sisi, Faisal,dan Devan kembali keruang rawat Delia. Disana tidak ada orang, Bu Sundari dan pak Erlangga entah kemana. Faisal ikut Sisi masuk kedalam, sementara Devan, dia memilih menunggu di luar.
Faisal mendekat ke arah Yulia yang terbaring lemah di ranjang. Meskipun kondisinya sudah stabil, Yulia belum juga sadar. Faisal duduk di bangku yang tadi ditempati oleh Bu Sundari. Sementara Sisi, duduk di sebelah Delia. Faisal meraih tangan istrinya, sembari berkata.
"Yul! bangunlah, ini aku Suamimu dan Putri kita. Yul, ingat gak waktu kita lagi berduaan, terus diganggu oleh Sisi. Terus, waktu pagi hari kamu siapin sarapan selalu direcoki oleh Sisi, terus kamu minta tolong sama Mas, Mas malah ikut ngrecokin kamu juga." Faisal tertawa saat mengingat kejadian demi kejadian yang dilalui bersama Yulia.
"Apa kamu gak ingin, kita mengulangnya lagi. Apa kamu gak rindu, momen-momen kebersamaan kita. Cepatlah sadar sayang, aku punya hadiah spesial untuk kamu." Faisal berharap dengan dia menceritakan momen-momen kebersamaan nya dulu, bisa membuat Yulia sadar dan bisa segera mengingat kembali. Faisal masih memegangi tangan Yulia, tiba-tiba tangan Yulia merespon.
__ADS_1
"Yul, kamu denger aku ngomong. Cepatlah bangun sayang, aku mencintaimu, sangat mencintaimu." Faisal senang karena Yulia merespon ucapan nya. Dia semakin yakin, tak lama lagi Yulia akan pulih, dan bisa berkumpul denganya lagi.
"Ayah, Bunda bergerak.." Sisi yang menyadari tangan Yulia bergerak, memberitahu pada Faisal.
"Bunda, Bunda ini Sisi Bunda. Bunda ingat gak, waktu Bunda jemput kesekolah, Sisi sembunyi di balik pohon mangga. Sisi kena hukuman dari Bunda. Kita juga pernah kan Bunda, makan bakso tanpa sepengetahuan Ayah." Sisi ikut membantu Faisal menceritakan momen-momen yang mereka lewati. Momen-momen yang gak akan bisa dilupakan oleh mereka.
Mata Yulia mulai terbuka, yang dilihat pertama kalinya adalah Faisal, kemudian beralih ke Sisi. Faisal tersenyum, dia senang akhirnya istrinya sudah sadar.
"Mas, Sisi, Yulia ada dimana ini?" Faisal terkejut saat Yulia menyebut namanya. Faisal mencoba untuk mengontrol perasaannya.
"Sayang, kamu sudah ingat semuanya?" tanya Faisal terharu.
"Emangnya Yulia kenapa Mas?" Benar istrinya sudah kembali. Faisal tak bisa lagi berkata apa-apa. Hanya kebahagiaan yang dapat ia rasakan. Sisi memeluk bundanya, karena Bundanya sudah sadar.
"Bunda!!!" teriaknya sudah ada dipelukan Yulia.
"Sayang, kenapa anak Bunda menangis?" Yulia membalas pelukan putrinya. Faisal pun ikut bergabung memeluk keduanya. Kini penantian Faisal sudah berakhir, kini cintanya sudah kembali.
"Yul, aku mencintaimu, aku mencintaimu" Faisal tidak mau membuang waktu lagi, untuk mengungkapkan isi hatinya selama ini. Perasaan cinta yang tidak pernah diketahui oleh istrinya.
"Yulia juga Mencintai mas Faisal." Yulia tersipu malu, saat Faisal menyatakan cintanya padanya. Saat kegembiraan yang sedang mereka rasakan, pintu ruangan terbuka...
To be continued...
__ADS_1
Siapa yang datang hayo...
tebak, kaldu bener nanti up tiga kali dehπππππ