Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku

Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku
Selamat, ya?


__ADS_3

Dengan pertimbangan yang cukup sulit, akhirnya Hanif mengikuti saran bundanya. Dia memilih tetap melaksanakan pertunangan dirinya dengan Veronika. Dia menganggap, apa yang terjadi pada dirinya adalah hukuman dari keegoisannya.


Acara pertunangannya bersama Veronica memang, terlihat lebih mewah di banding acara lamarannya dengan Sisi, dulu. Dan tentu saja, itu adalah kemauan dari Veronika sendiri, dia memilih dan menyiapkan semuanya.


Dengan setelan jas berwarna hijau muda, di balut dengan jas berwarna putih tulang, menambah kesan cool, pada pria itu. Dengan di dampingi oleh Bu Tari, Hanif menuju ke kediaman Veronika dan Bu Sarah.


Saat sudah sampai di rumah Veronika, Hanif langsung turun dari mobilnya bersama dengan bundanya. Tema yang di pilih untuk mengungsung konsep pertunangan itu adalah tema outdoor. Mengingat rumah kontrakan Veronika yang sedikit sempit, jadi mereka sepakat mengungsung konsep itu. Garden party, dengan hiasan bunga-bunga yang terkesan hidup Hanif berjalan kearah halaman rumah Veronika. Semua mata kini, tertuju padanya. Perlahan tapi pasti, dia berjalan kearah Veronika dan ibunya.


"Sayang, kamu datang!" ucap Veronika dengan raut wajah lega. Betapa tidak, Hanif memang datang terlambat satu jam dari jadwal acaranya. Dan itu yang membuat Veronika klimpengan, takut jika pria itu membatalkan pertunangannya.


"Maaf, saya terlambat!" tutur Hanif tersenyum paksa pada Veronika dan ibunya.


"Nggak apa, sayang!" sahut Veronika.


Hanif berdiri tepat disamping Veronika. Dsn disisi kiri Hanif, Bu tari yang mendampingi. Dsn disisi kanan Veronika, Bu Sarah yang mendampingi mereka. Dan acara pertukaran cincin itu berjalan dengan lancar. Meski, hati Hanif begitu sakit harus menerima kenyataan ini. Kini, statusnya adalah tunangan Veronika.


*********


Di tempat lain.


Seorang gadis yang sedang, merapikan meja belajarnya harus menghentikan aktivitasnya kala ponselnya berdering. Sisi berjalan ke ranjang, dimana ponselnya tergeletak. Setelah tahu siapa yang menelpon dirinya, Sisi langsung menjawabnya.


"Assalamualaikum, Bilqis adikku!" sapanya dengan girang.


"Waalaikumussalam, Kak!" balas Bilqis di seberang sana.

__ADS_1


"Kamu apa kabar, dek?" tanya Sisi mengawali perbincangan mereka.


"Hmmm, Alhamdulillah baik Kak. Kakak sendiri, gimana?" jawab Bilqis balik bertanya.


"Seperti yang kamu lihat sekarang ini, Kakak baik-baik saja kok!" Sisi tersenyum lebar pada Adiknya.


"Hmmm, ngomong-ngomong udah dapet bule belum Kak, disana?" goda Bilqis membuat Sisi cemberut.


"Apaan sih, Dek! Gak lucu, ah. Hmmm ada apa ini, tumben telpon!" Sisi mengalihkan pembicaraannya, dia tidak mau Bilqis menggodanya lagi.


"Bilqis cuma mau kasih kabar aja, ke Kak Sisi. Minggu depan, Bilqis jadi nikah.." Belum selesai Bilqis bicara, di potong oleh Sisi.


"Alhamdulillah, Kakak ikut seneng, Dek!" sahutnya dengan girang.


"Kakak gak janji, Dek. Soalnya Minggu depan, pas jadwal Kakak ujian mid semester Dek! Kakak, kayaknya gak bisa deh!" ujar Sisi, membuat Bilqis menjadi sedih.


"Ya ampun, Kak. Sehari aja, loh! Please!!! Ya???" ucap Bilqis memelas.


"Inshaa Allah, Dek! Kakak usahain." Jawaban dari Sisi, sedikit menghibur hati Bilqis. Wanita itu jadi teringat sesuatu, dan dia harus memberitahunya pada Sisi. Perihal pertunangannya Hanif dengan Veronika.


"Kak, Kakak kapan mau kenalin Bilqis ke cowok Kakak. Masa iya Kakak kalah dengan dokter Hanif, hari ini dia tunangan dengan dokter Veronika." Bagai di sambar petir saat ini, Sisi yang mendengar ucapan Bilqis. Seketika tubuhnya menegang, pelupuk matanya sudah dipenuhi dengan peluhnya. Sekali saja, dia mengedipkan matanya, air mata itu pasti lolos dari iris mata gadis itu.


"Kak, Kakak gak apa Kan! Maaf, bukannya Bilqis tega, bicara hal ini dengan Kakak. Bilqis hanya ingin Kakak sadar, jika Dokter Hanif tidak pantas untuk di tunggu. Kakak temukan kebahagiaan Kakak bersama laki-laki yang bisa menerima kekurangan Kakak, dan menjadikan kelebihan kakak sebagai sesuatu yang bisa di banggakan. Kakak harus bangkit," ucap Bilqis menguatkan Kakaknya.


"Dek, Kakak tutup dulu ya telponnya. Assalamualaikum." Setelah dijawab oleh Bilqis, Sisi langsung menutup telponnya. Dia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Pria yang masih sangat dia cintai, bertunangan dengan wanita lain. Betapa hancurnya hati Sisi saat ini.

__ADS_1


Tidak terasa, tubuhnya jatuh kelantai. Seketika tulang-tulang di kakinya melemas, setelah mendengar informasi itu. Sisi menangis tersedu, meratapi nasibnya yang malang. Betapa tidak, disaat dia ingin menata kembali hatinya agar tidak terluka, disaat itu pula Hanif menabur garam di bekas lukanya. Baru beberapa bulan, mereka berpisah, Hanif sudah menemukan cinta untuk wanita lain. Sementara dia, Sisi masih harus menutup luka itu yang sampai saat ini belum ada yang menutupnya. Belum ada pengganti Hanif, di hati Sisi saat ini.


Hingga sebuah ketukan pintu, terdengar di kamar itu. Sisi buru-buru menghapus Sisa-sisa air matanya, dan merapikan jilbab yang ia kenakan. Setelah itu, dia membuka pintu kamarnya.


"Ayu? Ada apa?" tanya Sisi pada Ayu. Wanita itu menatap wajah Sisi yang terlihat masih sembab. Hingga satu pertanyaan keluar dari bibir Ayu.


"Kak, Sisi kenapa? Kok nangis?" Sontak membuat Sisi menatap kearah lain.


"Nggak kok, Nggak apa!" kilahnya dengan suara parau.


"Nenek nungguin Kakak, katanya mau ikut pengajian di masjid An-Nur. Nenek sudah siap, Kak!" Sisi baru sadar, kalau dia ada janji dengan neneknya untuk mengantar neneknya pengajian rutin tiap sebulan sekali di kompleks perumahannya.


"Oh, iya. Kakak lupa! Bilang ke Nenek, Kakak ganti baju dulu, ya?" Ayumi mengangguk, lalu pergi meninggalkan Sisi.


Sepeninggal Ayumi, Sisi bergegas mencuci mukanya dan mengganti pakaiannya. Dia memilih memakai setelan gamis beserta hijab syar'i nya. Tak lupa mempoles sedikit wajahnya agar tidak terlihat sendu. Setelah selesai, dia langsung menemui neneknya di bawah.


Bu Sundari dan Sisi berangkat ke pengajian di masjid kompleks, tempat tinggal mereka. Kebetulan, tempatnya tidak terlalu jauh. Sehingga, mereka memilih mengendari motornya di Bandung naik mobil.


Sesampainya di masjid, mereka langsung masuk kedalam. Karena acara sudah di mulai, terlihat dari suara seorang ustadz yang sedang memberi tausiyah nya. Sisi dsn Bu Sundari ikut gabung dengan jemaah lainya. Sisi merasa tidak asing dengan suara ustadz penyampai tausiyah. Karena memang, mereka tidak bisa melihat secara langsung ustadz itu. Mereka terhalang penyekat yang terbuat dari kain panjang, sehingga mereka tidak bisa melihat orang yang berada di depannya.


Ustadz itu menyampaikan tausiyahnya mengenai, indahnya berbagi dengan sesama. Semua telinga mendengarkan secara seksama apa yang disampaikan ustadz tersebut. Hingga pengajian berakhir. Dan mereka mulai membubarkan diri.


Saat Sisi, sedang ingin mengambil motornya. Di saat itulah dia bertemu dengan seseorang yang tak asing baginya. "Ya Allah, kenapa ada dia di tempat ini?" gumamnya masih menatap kearah orang itu.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2