
Selepas mengantarkan Veronika ke cafe rumah sakit. Sisi memilih pergi meninggalkan dokter muda itu. Dia merasa terganggu dengan sikap agresif wanita itu. Sisi juga mencium bau-bau pelakor dari wanita itu.
"Eh maaf ya dok. Saya tidak jadi ikut masuk. Tiba-tiba perut saya mules," ujarnya sembari memegangi perutnya.
"It's ok. Makasih ya udah anterin," balas wanita yang memakai celana berbahan katun itu.
Segera Sisi meninggalkan tempat itu menuju keruangannya. Dia masih sangat kesal dengan kekasihnya yang mudah tertipu dengan penampilan polos wanita itu. Dengan langka terburu-buru, Sisi sampai di depan ruangannya. Tapi saat dia akan masuk kedalam, dia melihat sosok yang tak asih sedang menuju kearahnya.
Sepasang kekasih yang terlihat bahagia berjalan menuju ruangan dokter Hanif. Mereka adalah Bilqis dan Iqbal. Hari ini adalah jadwal Bilqis kontrol, kebetulan Iqbal yang mengantarnya. Sesungging senyum dipancarkan dari wajah wanita berambut ikal itu, kala melihat sahabatnya yang akan masuk keruangan yang ia tuju.
"Bilqis, Iqbal. Cie-cie yang baru jadian. Selamat ya.. akhirnya Bal, kamu berani juga ngutarain perasaan mu selama ini pada adik aku," goda Sisi menyenggol tangan laki-laki yang sedang menggandeng sahabatnya. Laki-laki itu langsung menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena malu digoda oleh dokter cantik itu.
"Ya udah ayo masuk," ajak sisi pada kedua sahabatnya itu. Mereka pun akhirnya masuk kedalam. Kebetulan Hanif baru saja akan keluar. Namun niatnya diurungkan saat melihat kedatangan kekasih dan kedua sahabat kekasihnya itu.
"Selamat siang dokter Hanif," sapa Bilqis agak canggung. Hanif pun tersenyum melihat sikap Bilqis yang terlihat gugup didepannya.
"Siang Bilqis. Oh iya, hari jadwalnya kontrol ya. Tapi sepertinya ini masih jam istirahat. Gimana kalau kita makan siang bersama dulu," saran Hanif pada semua orang yang ada disana.
"Aku setuju sa-yang," timpal Sisi keceplosan. Wanita itu langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Dia tidak sadar kalau ada Bilqis disampingnya.
"Sa-yang? Kalian?" terka Bilqis menunjuk Hanif dan Sisi. Sisi pun jadi tidak enak pada sahabatnya itu.
"Nanti kita jelasin sambil makan siang aja," ujar Iqbal menengahi.
Mereka berempat akhirnya keluar dari ruangan itu. Rencananya mereka akan makan siang di cafetaria depan rumah sakit. Karena disana tempatnya nyaman selain itu tidak terlalu ramai kalau siang-siang begini.
__ADS_1
Mereka memilih tempat duduk yang lesehan. Agar lebih nyaman dalam mengobrol. Di sebuah meja beralaskan karpet yang tak jauh dari jendela. Tempat yang mereka pilih. Setelah mereka duduk semua. Seorang pelayang datang menghampiri mereka untuk menanyakan pesanan mereka. Pelayan itu memberikan buku menunya pada Hanif. Terlihat pria berkacamata itu membolak-balikkan buku menu yang ia pegang untuk memilih menu yang akan dia makan.
"Kalian mau apa?" tanya Hanif menunjukan isi buku itu pada Sisi, Bilqis, dan Iqbal.
"Aku samain aja sama kamu. Kalau kalian mau apa?" Sekarang giliran sisi yang bertanya pada kedua sahabatnya itu.
"Kayaknya kalau Bilqis yang ini aja. Mengingat dia harus menjaga pola makannya." Hanif menunjukkan menu yang cocok untuk pasiennya.
"Kalau aku Samsung aja dengan Bilqis," sahut Iqbal.
Setelah menyebutkan pesanannya. Hanif memberikan buku menu itu pada pelayan. Setelah itu pelayan itu pergi meninggalkan mereka untuk menyiapkan pesanan mereka.
"Sekarang jelasin ke aku Kak. Kakak ada hubungan apa dengan dokter Hanif?" Bilqis pun membuka suara. Dia sangat penasaran dengan apa yang terjadi dengan kakak dan dokternya itu. Sisi menghela nafas panjang, setelah itu baru dia bisa menjelaskan pada adiknya.
"Kakak jahat. Jahat! Kenapa kakak gak bilang ke Bilqis kalau kalian menjalin hubungan. Hampir saja." Bilqis tidak melanjutkan kata-katanya. Dia teringat saat dia mengatakan pada sisi kalau dia suka dengan Hanif. Dia tahu perasaan kakaknya saat itu. Dia merasa bersalah, menyesal.
"Dek, Kakak gak apa kok." Sisi pun memegang tangan adiknya itu.
"Sudah-sudah! Yang terpenting sekarang kita semua udah menemukan kebahagiaan kita masing-masing. Kamu dengan Iqbal, dan saya dengan Sisi!" Timpal Hanif menengahi. Kalau tidak, tidak selesai-selesai perdebatan kakak dan adik itu.
"Iya sayang. Bukankah kamu yang bilang, kalau perasaan mu pada dokter Hanif hanya sekedar kagum saja," sambung Iqbal memegang pundak kekasihnya.
"Kita anggap semua ini udah selesai ya dek. Kakak senang pada akhirnya kamu bisa menemukan cinta sejati kamu. Yang lalu biarlah berlalu. Kakak minta maaf ya, gak cerita sama kamu." Sisi pun kemudian beranjak dari tempat duduknya, kemudian memeluk adiknya. Bilqis pun membalas pelukan Sisi. Jadi diantara mereka semua masalah sudah selesai.
Tak berapa lama pesanan mereka datang. Mereka menyantap makanan mereka masing-masing. Sesekali ada adegan romantis dari kedua pasangan itu. Seolah mereka berlomba-lomba pasangan mana yang lebih romantis. Keseruan itu berlanjut saat mereka usai menyantap makanan mereka. Sekarang mereka memutuskan untuk sholat Dzuhur berjamaah terlebih dahulu sebelum memulai pekerjaan mereka lagi.
__ADS_1
Sekarang mereka berempat sudah ada diruangan Hanif. Sesuai janjinya tadi. Hanif pun langsung memeriksa kondisi pasiennya. Tampak jelas dari ranum wajah Hanif. Dia tersenyum lepas usai memeriksa keadaan Bilqis.
"Banyak banget perubahannya. Sekarang apa masih sering pusing?" tanya dokter tampan itu pada wanita yang terbaring di brangkar rumah sakit.
"Sedikit Dok. Sudah tidak terlalu sering," jawab pasiennya itu.
"Setidaknya sel kanker yang ada dalam tubuh tidak lagi berkembang. Hanya saja, kamu juga harus berhati-hati. Jaga pola makan. Hindari dulu makanan yang mengandung MSG," jelas dokter muda itu lagi.
Sisi pun tersenyum senang melihat banyak perubahan dalam kondisi adiknya itu. Dia berharap Iqbal bisa menjadi penyemangat untuk adiknya itu. Usai pemeriksaan itu, Bilqis dan Iqbal pun pamit untuk pulang.
Selepas kepergian kedua sahabatnya itu. Sisi melanjutkan pekerjaannya. Kebetulan hari ini dia ditugaskan oleh dokter Mark untuk menemani beliau menghadiri kunjungan ke panti jompo bina sejahtera. Panti yang menampung para lansia yang menderita penyakit kanker.
Sisi pun menuju ke ruangan dokter Mark untuk berangkat bersama. Tapi sebelum keluar Hanif memanggilnya.
"Sayang, nanti pulangnya biar aku yang jemput. Ingat, jangan macam-macam ya dengan dokter ganjen itu." Hanif memang tidak terlalu suka dengan seniornya itu. Pria berumur yang sampai sekarang belum mempunyai pasangan. Apalagi sepertinya dokter itu curi-curi kesempatan pada kekasihnya itu.
"Iya. Aku berangkat dulu ya. Saat." Sisi langsung keluar, kebetulan dokter Mark sudah ada di luar ruangannya. Mereka langsung berangkat menuju panti tersebut.
Sesampainya di panti. Dokter Mark mencoba menggandeng tangan Sisi. Namun dengan cepat Sisi menolaknya.
"Maaf Dok, saya bisa jalan sendiri." Pria itu tersenyum seolah sedang merencanakan sesuatu.
"Ya sudah, mari." Sisi pun langsung jalan duluan. Dia memiliki perasaan yang tidak enak pada rekannya itu. Cara menatapnya pun sangat meresahkan dirinya.
To be continued
__ADS_1