
Mata Hanif mengikuti cincin itu menggelinding, hingga berhenti tepat di depan kaki Sisi. Wanita itu sontak terkejut melihat kejadian itu. Dan Sisi pun langsung menjadi pusat perhatian para tamu undangan.
Gadis itu mengambil cincin yang ada di hadapannya untuk di berikannya lagi pada Iqbal. Sementara Hanif, gemuruh di dadanya semakin membuncah saat wanita yang dicintainya berjalan menapaki karpet menuju ke tempat Iqbal dan Bilqis.
Mungkin efek menjadi pusat perhatian semua orang yang berada di sana, hingga kakinya tidak sengaja menginjak gamis panjang miliknya, sehingga keseimbangannya goyah dan terjatuh tepat di dekapan Iqbal.
Sepasang mata menatap tajam kearah Sisi dan Iqbal. Hanif segera menghampiri mereka berdua dan menarik gadis itu dari dekapan Iqbal.
"Berikan cincin itu padanya!" perintah Hanif pada wanita yang sekarang berada di sampingnya.
Sisi kemudian memberikan cincin itu pada Iqbal. Sama halnya dengan Hanif, Bilqis pun mulai terbakar api cemburu kala melihat gelagat Iqbal yang terlihat gugup saat mengambil cincin itu dari tangan Sisi.
Setelah berada di tangannya, cincin itu langsung di sematkan di jari manis Bilqis, tak lama setelah itu sorakan dan tepuk tangan mengiringinya. Setelah terpasang rapi di jari manis Bilqis. Wanita itu mengambil sisa cincin itu kemudian menyematkannya di jari manis Iqbal.
Seiring dengan itu, MC memberikan ucapan selamat pada keduanya, dan pengiring musik mulai memainkan alat musiknya.
Sisi yang masih berada di tempat itu, langsung mengulurkan tangannya menyalami Bilqis setelah itu merengkuh tubuh adiknya. Seraya berucap, "selamat ya, dek. Semoga lancar hingga hari H." Bilqis membalas ucapan Sisi.
"Makasih ya, kak."
Tak lama setelah itu, Hanif pun memberi selamat pada keduanya.
"Selamat ya, semoga hubungan kalian tidak akan goyah. Dan lancar sampai ke jenjang pernikahan." Ucapan Hanif di Aamiin kan oleh Iqbal dan Bilqis.
Usai salam-salaman dan memberi selamat. Hanif membawa Sisi untuk menjauh dari tempat itu. Jujur yang ia rasakan saat ini adalah rasa sesak di dadanya. Akibat kejadian demi kejadian tadi. Dan itu semakin membuat dia menjadi takut. Takut kehilangan wanita yang di cintainya.
"Sayang, kamu kenapa? kita makan yuk!" ucap Sisi yang mulai tak nyaman dengan situasi yang ada.
Hanif mendadak menjadi pendiam. Sesekali diajak bicara oleh Sisi, dia tidak menanggapinya. Dan itu membuat Sisi merasa bersalah.
"Sayang, kamu kenapa, sih!" Sisi mencoba mencairkan suasana, dengan menanyakan apa yang membuat kekasihnya itu menjadi pendiam.
Sisi lebih baik adu mulut dengan Hanif. Ketimbang pria itu mendiamkan dia seperti ini.
"Kamu marah! hanya kejadian yang tidak sengaja itu!" seru Sisi dengan menaikkan nada suaranya.
Mendengar Sisi bicara seperti itu. Hanif menatap tajam kearah Sisi.
__ADS_1
"Kamu bilang cuma!! cuma seperti itu!!" Hanif mengelap mukanya kasar. Bagaimana mungkin Sisi menganggap itu hanya hal yang remeh.
"Coba kalau kamu di posisi aku. Apa kamu tidak akan berbuat yang sama dengan apa yang aku lakukan sekarang!" teriak Hanif yang mulai terpancing.
"Kejadian itu tidak sengaja! Tidak sengaja!" Sisi menekankan beberapa kata-kata yang semakin membuat Hanif tersulut emosi.
"Termasuk dengan memandang Iqbal dengan tatapan kagum?" Pertanyaan Hanif seketika mengunci mulut Sisi. Dia bingung harus berkata apa, agar situasi tidak semakin rumit.
"Terserah kamu mau bilang apa!!!" Sisi kemudian pergi meninggalkan Hanif. Dia memilih ikut bergabung dengan ayah bundanya yang sedang mengobrol dengan Felisa dan Dino.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Faisal yang melihat wajah putri kesayangannya menjadi kesal.
"Nggak kok, Yah!" kilah Sisi.
"Hmmm, mana Hanif, sayang?" Sekarang giliran Yulia yang bertanya.
"Ada, kok Bun. Di-sana, bareng teman-temannya." Sisi menunjuk kearah kolam renang. Dimana Hanif sedang berdiri bersama teman-teman prianya.
Yulia bisa menyimpulkan kalau putrinya sedang ada masalah dengan tunangannya. Yulia tidak bisa membiarkan itu terjadi. Dia mengambil tindakan, agar hubungan putrinya dan Hanif kembali membaik. Akhirnya Yulia memanggil calon menantunya.
"Sini!!" Yulia melambaikan tangannya.
Pria pemilik lesung Pipit itu akhirnya berjalan mendekat kearah rombongan Sisi.
"Iya Tante!" seru Hanif saat sudah ada di tempat itu.
"Sini, ikutan ngobrol sini! kan bentar lagi Hanif akan jadi menantu Bunda. Jadi, Hanif harus terbiasa dengan situasi yang seperti ini. Kita sering kumpul bareng, kayak gini. Biar nanti kalau sudah jadi suaminya Sisi gak canggung lagi," ucap Yulia membuat pria di sebelahnya mengulum senyumnya sesaat.
Pria itu kemudian menyapa sahabat-sahabatnya calon mertuanya itu. Dan ikut ngobrol bersama. Suasana yang awalnya menegang, kini sudah bisa mencair karena cerita-cerita lucu yang di buat Dino. Dari dulu, Dino memang paling bisa mencairkan suasana menjadi ceria lagi.
"Oh iya, Fel. Mbak Weli dan Mas Rio gak kalian undang?" tanya Yulia di sela-sela obrolan mereka.
"Iya, aku gak liat mereka dari tadi," timpal Faisal.
"Udah, kemarin aku dah undang mereka. Tapi sepertinya mereka sedang ada di Singapura. Jadi gak bisa hadir ke sini!" jelas Felisa.
"Hmmm tapi, tadi putrinya ada kok. Salsa, tapi dimana ya!" Felisa seperti sedang mencari-cari sesuatu.
__ADS_1
Saat menemukan apa yang dia cari. Felisa memanggil gadis berperawakan tinggi, dengan rambut panjang sebahu yang masih ngobrol bersama putri dan calon menantunya.
"Nah, itu dia. Salsa!" Wanita itu menoleh.
"Sini, sayang!" Salsa pun menghampiri mereka.
"Hai Tante Yulia, Om Faisal. Kak Sisi," sapa gadis itu.
"Hai sayang. Ya ampun kamu udah sebesar ini. Cantik lagi!!" balas Yulia kemudian memuji gadis itu.
Sementara Faisal membalas sapaan Salsa dengan senyuman. Begitu juga dengan Sisi dan Hanif.
"Makasih, Tante!" balas gadis itu.
"Sal, cocok tuh dijadiin mantu bujang-bujanmu," celetuk Dino, membuat gadis itu tersipu malu.
Mereka mengobrol bersama hingga hari semakin larut. Para tamu undangan pun sudah mulai membubarkan diri. Demikian juga dengan Faisal dan Yulia Mereka berpamitan pada tuan rumah. Sisi dan Hanif pun demikian.
Mereka meninggalkan tempat pesta itu dan menuju ke halaman rumah Dino.
"Sayang, kamu pulang dengan Hanif atau dengan kita?" tanya Faisal saat mereka sudah berada di dekat mobil Faisal.
"Sisi biar sama saya saja, dok." Pertanyaan Faisal di jawab oleh Hanif. Sakura di sebelahnya hanya terdiam pasrah.
"Ya udah, tapi kalian langsung pulang ya!"
Mereka sedang berada di perjalanan menuju ke rumah Faisal. Tidak ada suara diantara sepasang kekasih itu. Mereka hanyut dalam pikirannya masing-masing.
Hingga Hanif menghentikan mobilnya secara tiba-tiba.
"Sa-yang. Aku minta maaf ya atas kejadian tadi." Hanif menghadap kearah wanita yang masih merucutkan bibirnya akibat kesal dengan pria di sebelahnya.
"Itu aku lakukan karena aku takut kehilanganmu!" Mendengar sedikit gombal-an dari pria itu, sedikit demi sedikit hatinya luluh.
"Aku nggak akan sanggup jika ada laki-laki lain di pikiran mu. Aku cemburu!"
To be continued
__ADS_1