Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku

Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku
Rencana perjodohan


__ADS_3

Selepas mengisi pengajian di masjid, dekat kompleks rumahnya. Ilham langsung pulang. Selain menjadi dosen dan pemilik cafe, Ilham memang sering di tunjuk oleh pengurus majelis taklim di sana untuk mengisi pengajian rutin bulanan di kompleks perumahan Griya Asri. Walau awalnya dia menolak, namun seiring berjalannya waktu dia menerimanya juga. Ilham adalah sosok muslim yang rendah diri, yang tidak mau di katakan guru ataupun ustadz. Karena bagi Ilham, dia masih sama-sama belajar. Karena itu, banyak ibu-ibu komplek tersebut ingin menjodohkan putrinya dengan ustadz muda dan tampan itu.


Dia memasuki pintu masuk, sebelah cafenya. Sebenarnya antara cafe dan rumahnya tersekat dinding. Tapi, jika di perhatikan sekilas dari luar tidak kelihatan. Sebelah pintu masuk cafe itu, ada sebuah pintu untuk masuk ke dalam rumahnya. Dan cafenya berada di sebelahnya.


Setelah mengucapkan salam, Ilham masuk kedalam. Kebetulan semua keluarganya sedang berkumpul di sana. "Nah, ini yang dibicarakan dari tadi datang juga orangnya!" seru seorang wanita berjilbab coklat susu. Wanita itu adalah adik dari uminya.


"Ham, sini!" pinta uminya tersenyum pada pria itu. Tidak menunggu lama, Ilham langsung duduk di sebelah uminya.


"Kenapa, Umi?" tanya Iqbal membalas senyuman dari uminya.


"Sayang, kemarin teman dari Abi mu ingin menjodohkan kamu dengan cucunya. Apa kamu tidak keberatan sayang?" tanya Umi Qoniah pada putranya. Pria itu tampak berfikir, setelah itu raut wajahnya berubah menjadi sendu. "Apa kamu sudah punya pilihan, sayang?" Umi Qoniah kembali bertanya, setelah perubahan mimik wajah putranya.


"Ilham, Ilham belum punya pilihan kok, Umi. Kalau memang gadis itu yang terbaik buat Ilham, inshaa Allah Ilham terima!" jawab pria itu, namun ada ketidakikhlasan dari dalam dirinya. Dan umi Qoniah bisa melihat itu.


Orang tua Ilham memang tidak tinggal di Singapura. Mereka tinggal di Lembang, mengurus pondok pesantren keluarga Ilham. Sedangkan, Ilham sendiri. Dia tidak menetap di negara itu, dia hanya bekerja dan mencari peruntungan di sana. Ilham sendiri tinggal bersama, adik perempuan yang masih menyelesaikan S2 nya di tempat Ilham mengajar, dan karena alasan itulah, Ilham bertahan di negara itu. Dan tujuannya datang kesana, yaitu ingin memberi kabar itu. Bahwa Ilham akan dijodohkan dengan cucu, teman Abinya.


"Ham, kok kamu jadi murung begitu, kalau kamu nggak suka, kamu bilang aja!" celetuk Umi Kulsum, adik dari uminya.


"Iya, sayang. Umi dan Abimu ngga akan memaksa kamu. Kami ikut dengan keputusan kamu. Lagian, kalau nggak salah cucu teman Abi mu juga baru melanjutkan studinya," seloroh Umi Qoniah lagi. Ilham hanya tersenyum seraya berkata.


"Ilham ikut dengan Umi dan Abi saja, inshaa Allah pilihan Umi dan Abi yang terbaik untuk Ilham."


"Atau jangan-jangan Kakak lagi kesemsem sama cewek depan itu Umi, cucunya Nek Sundari. Hehe.. soalnya tiap pagi, Kakak selalu memandangi ke arah sana, dan kalau Kak Sisi keluar dia langsung senyum-senyum sendiri," timpal Asyifa, adik Ilham yang memperhatikan gelagat kakaknya akhir-akhir ini.


"Adek, jangan di dengerin Mi!" sahut Ilham melotot kearah Asyifa.


"Wah, beneran Fa. Cantik nggak orangnya?" tanya Umi Kalsum ingin tahu.

__ADS_1


"Cantik, dia pake jilbab juga. Kayaknya cocok deh, sama Kak Ilham. Soalnya, Syifa perhatiin, dia juga sering senyum-senyum gitu kalau gak sengaja ketemu dengan Kakak." Ilham langsung tertunduk, pria itu wajahnya memerah. Sepertinya memang apa yang dikatakan adiknya itu memang benar.


"Umi jadi kepengen lihat, orangnya," timpal Umi Qoniah. Semua orang di sana tergelak.


"Nanti, deh Mi. Syifa ajak kesini? Syifa kan, akrab dengan Sisi. Kebetulan, kita gak sengaja ketemu. Dan dari itu, Syifa jadi akrab dengan dia. Orangnya asyik kok, gak jaim. Gak kayak temen-temennya gitu!"


"Adek, nggak usah bikin masalah deh. Kakak nggak enak, kalau sampai kamu bawa Sisi kesini. Apa kata keluarganya nanti," cegah Ilham.


"Ya ampun Kak, lagian kan cuma main dengan Syifa. Gak pengen ketemuan juga dengan Kakak. Pede amat sih, Kak!"


"Udah-udah, gak usah ribut lagi. Ya udah, nanti kita ke rumah depan aja, Fa. Umi mau buat, soto Lamongan. Nah, kita Anter ke depan, sekalian Umi pengen tahu anaknya seperti apa?"


"Ok, Umi!!" Ilham tidak bisa lagi mencegah ide Uminya. Yang pasti tidak akan berhasil. Tapi memang apa yang dikatakan Syifa benar. Sejak pertemuannya dengan Sisi, aura Ilham memang beda. Pria itu terlihat sumringah, dan terlihat bahagia.


********


Di tempat lain.


Usai memotong-motong dagingnya. Sisi membantu neneknya untuk menyiapkan bumbu rendangnya. "Ini diinget sayang, bumbunya. Ketumbar, merica, kemirinya yang banyak, gula merah, jahe, kunyit, dan cabe merah. Ini yang dihaluskan. Tapi beda lo sayang kalau rendangnya orang Minang dengan orang Jawa. Kalau orang Minang, kebanyakan gak pake kunyit. Tapi kalau orang Jawa, kunyit gak ketinggalan!" terang Bu Sundari, sementara Sisi hanya memperhatikan dan mengingat semua bumbu yang sudah di sebutkan oleh Neneknya.


Tak lama setelah itu, assisten rumah tangga Bu Sundari datang dari depan. "Bu ada tamu," tuturnya pada majikannya.


"Siapa Bik?" tanya Bu Sundari masih sibuk meracik bumbu rendangnya.


"Non Asyifa, adiknya Mas Ilham sama seorang wanita," jelas Bi Darsih.


"Oh, ya sudah Bi. Saya akan temui sekarang. Sayang, kamu haluskan bumbu-bumbu ini, pake blender aja gak apa. Nenek temui mereka dulu!" ujar Bu Sundari pada bi Darsih dan Sisi. Setelah itu, dia mencuci tangannya terlebih dulu, lalu menemui tamunya di depan.

__ADS_1


"Assalamualaikum, Nek Sundari!" sapa Asyifa pada Bu Sundari, saat dia sudah berada di ruang tamu.


"Waalaikumussalam, Sifa!" balas Bu Sundari menyalami kedua tamunya. Setelah itu mempersilahkan mereka untuk duduk kembali.


"Nek, Kak Sisi mana?" tanya Syifa langsung.


"Oh, Sisi. Ada di dapur, masih belajar masak rendang. Apa Nenek panggilkan dulu?" tawar Bu Sundari pada Syifa, wanita itu hanya tersenyum tipis dan menggeleng.


"Nek, ini Uminya Syifa yang datang dari Lembang. Umi ini Nek Sundari, Neneknya kak Sisi!" Sifa memperkenalkan mereka berdua. "Nek, biar Syifa susul Kak Sisi, ya?" pinta Syifa pada Bu Sundari.


"Oh, iya. Susul aja!" jawab Bu Sundari. Syifa langsung beranjak menuju ke dapur.


"Oh iya Bu. Ini ada sedikit makanan dari kami, soto Lamongan untuk Bu Sundari sekeluarga." Umi Qoniah menyerahkan rantang yang berisi makanan pada Bu Sundari.


"Wah terimakasih. Repot-repot segala!" Bu Sundari meletakkan rantang itu di atas meja. "hmmm, dari aromanya saja sepertinya sudah enak," puji Bu Sundari, dan mereka saling melempar senyuman.


"Assalamualaikum, Kak Sisi!"


"Waalaikumussalam, eh Syifa." Sisi menghentikan aktivitasnya dan mencuci tangannya, setelah itu mendekat kearah Syifa.


"Lagi masak, Ya Kak?"


"Iya, Kakak baru mau belajar, kamu sama siapa?"


"Sana Umi Syifa. Umi Syifa Mei kenalan loh sama Kak Sisi." Ucapan Syifa sedikit membuat Sisi terkejut.


"Kenalan? Dengan Kakak?" tanyanya tak percaya.

__ADS_1


"Iya, Kak! Yuk, kita kedepan!" ajak Syifa yang langsung menarik Sisi ke ruang tamu. Sisi hanya bisa pasrah dan mengikuti Syifa. Setelah sampai di ruang tamu, Umi Qoniah sempat di buat terkejut dengan wanita yang di bawa putrinya. Karena wanita itu, sama persis dengan foto yang ditunjukan suaminya untuk di jodohkan dengan putranya.


To be continued


__ADS_2