Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku

Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku
Malam yang indah bersamamu, Mas


__ADS_3

Mereka sedang menyantap makan siang. Faisal duduk tepat, disampingnya Yulia. Sementara Sisi, duduk ditengah-tengah pak Andrian dan Bu Sari. Hidangan khas orang Lampung, disuguhkan bu Sari. Pindang patin kuah bening, sambal belacan, dirasa cocok dengan suasana siang itu. Faisal makan dengan lahapnya, seperti orang yang tak makan beberapa hari. Ya karena memang, selama Yulia dan Sisi pergi dari rumah, Faisal tak makan dengan baik. Yulia merasa senang, karena bisa berkumpul bersama-sama mertuanya saat ini.


Usai makan, Yulia dan Bu Sari merapikan meja makan. Yulia menuju dapur untuk mencuci piring. Sementara Bu Sari, dia membereskan sisa makanan yang ada di meja makan.


Faisal, Sisi, dan pak Hermawan, mereka berada di halaman belakang. Mereka memilih ngobrol di teras belakang, sambil menikmati cemilan pisang salai, yang dibuat Bu Sari.


Sisi berceloteh, menceritakan momen-momen saat bersama Yulia di Lampung. Pak Hermawan yang mendengar celotehan Sisi, kemudian bertanya.


"Apa kamu sedang ada masalah dengan istrimu, Sal?" dengan ragu dijawab oleh Faisal "Sedikit Pak, hanya kesalahpahaman saja."


"Masalah sekecil apapun harus kamu selesaikan dengan baik. Kesalahpahaman apa yang membuat istrimu pergi dari rumah?" tanyanya pak Hermawan lagi.


"Maaf Pak, bukannya Faisal tak mau cerita pada Bapak. Tapi masalah ini biarlah Faisal dan Yulia yang tahu.' Faisal mengusap-usap rambut Sisi.


"Sebagai seorang lelaki, kamu harus bisa membahagiakan istri dan anakmu. Sekecil apapun masalah itu, jangan malu untuk meminta maaf duluan. Seorang istri adalah ujung tombak disebuah keluarga. Kalau istrimu tak bahagia, maka, keluarga mu pun tidak akan bahagia. Kamu beruntung mendapatkan wanita baik seperti Yulia, dia tidak pernah mengeluh apapun selama menjadi istrimu. Jangan sia-siakan dia, Sal." Pak Hermawan memberikan petuah-petuahnya pada Faisal, Faisal hanya mendengarkan saja.


"Ayah, kita nginep di rumah Opa kan?" Tanya Sisi mendongakkan wajahnya ke wajah Faisal.


"Iya, malam ini kita nginep disini!" seru Faisal tersenyum tipis.


Disela obrolan mereka, Yulia dan Bu Sari datang. Mereka membawa es jeruk dan beberapa cemilan lainnya. Yulia meletakkan nampan berisi cemilan dan es jeruk di meja.


Kemudian, mereka berdua ikut gabung dengan Faisal dan pak Hermawan. Mereka bercengkrama layaknya sebuah keluarga yang bahagia. Yulia bisa tersenyum lagi, saat Faisal menggodanya di depan mertuanya. Perasaan marah, kecewa dalam diri Yulia, seakan terkikis saat melihat Sisi begitu bahagia bersama ayahnya.


Adzan ashar berkumandang, usai membersihkan diri, Sisi, Yulia, dan Faisal sholat berjamaah. Ada perasaan damai dalam hati Faisal, karena bisa berkumpul lagi dengan keluarga kecilnya. Di dalam doanya, Faisal juga memohon untuk keutuhan rumah tangganya. Mendengar doa yang dipanjatkan Faisal, hati Yulia tersentuh. Kini ia mulai menyadari, kalau selama ini Faisal sebenarnya sudah mencintainya. Tapi Yulia bingung, kenapa Faisal enggan mengungkapkannya pada dia.

__ADS_1


Malam harinya, Faisal menepati janjinya pada Sisi. Dia mengajak seluruh keluarga untuk makan bakso bersama. Di kedai bakso langganan ibunya, menjadi pilihan mereka. Yulia memesan bakso tumpeng, sama seperti yang ia makan di Jepara. Sementara Sisi, dia memilih makan bakso urat, karena menurutnya kenyal-kenyal seperti permen karet. Ibu Sari, pak Hermawan, dan Faisal, mereka memilih makan bakso tulang rusuk.


Mereka menikmati pesanan mereka masing-masing.


"Ayah, Sisi pernah makan bakso urat sama Om Angga," ujar Sisi jujur.


"Om Angga itu baik banget, Sisi sering dibelikan coklat sama permen." Ucapan Sisi yang memuji Angga, membuat Faisal murung. Angga benar-benar bisa mengambil hati istri dan anaknya.


"Sisi pernah diajak berenang juga sama Om Angga," imbuh Sisi membuat Yulia mengerutkan keningnya.


"Apa bunda ikut Sisi berenang?" tanya Faisal mengorek informasi dari Sisi.


"Bunda gak ikut, Bunda nemenin eyang putri ke pasar." Kini Faisal tersenyum lega, karena Yulia tak ikut menemani Sisi berenang. Kalau saja sampai Yulia ikut, pasti disangka nya orang-orang yang melihat mereka, seperti pasangan suami-istri dan anaknya.


"Om Angga itu temennya Bunda waktu masih sekolah, iya kan Bunda?" Sisi mempertegas jawabannya pada Yulia.


"Iya Bu, Angga sangat suka dengan anak kecil. Jadi, saat bertemu dengan Sisi, mereka langsung akrab," jelas Yulia.


Pak Hermawan uang mengetahui masalah Faisal dan Yulia, lantas menyenggol tangan Faisal. Sembari berkata " awas aja ketikung" Faisal hanya tersenyum getir.


Mereka sekarang sudah ada di Jalan menuju rumah. Di tengah jalan ada keramaian yang membuat kemacetan disana.


"Kok macet ya Pa?" Faisal mengeluarkan kepalanya di pintu mobil, untuk melihat apa yang terjadi.


Keramaian yang menyebabkan kemacetan itu, ternyata ada pasar malam yang gak jauh dari situ. Sisi yang mengetahui ada pasar malam merengek ingin melihatnya. Faisal hanya pasrah menuruti kemauan Sisi, meski badannya sangat lelah. Selama Yulia pergi dari rumah, Faisal tak cukup banyak istirahat. Jika ada waktu senggang, dia gunakan untuk mencari Yulia. Di pasar malam itu, Mereka menaiki beberapa permainan. Faisal memberikan sebuah boneka bear yang membawa hati pada Yulia. Boneka itu dia dapatkan, saat dia main capit boneka. Faisal bekerja keras untuk mendapatkan boneka itu. Sisi yang mendapati bundanya di beri boneka oleh ayahnya. Membuat dia merajuk, minta pulsa diberikan boneka yang sama. Sementara di sana tidak ada lagi yang menjual boneka tersebut. Akhirnya Yulia mengalah, diberikannya boneka itu pada Sisi.

__ADS_1


Dengar berat hati, Faisal menyetujui pendapat Yulia. Sebenarnya, Faisal ingin Yulia yang menerima boneka itu, alih-alih Sisi.


Mereka sudah ada di rumah, malam yang panjang telah dilewati oleh keluarga kecil Faisal dan Yulia. Ibu Sari dan pak Hermawan berencana, akan membawa Sisi tidur di kamarnya. Agar bisa memberikan kesempatan Faisal dan Yulia bicara dari hati ke hati. Sisi mau tidur dengan mereka, setelah membujuknya dengan segala cara.


Kini Yulia sudah ada di kamar, setelah ganti baju Yulia membaringkan tubuhnya di ranjang. Faisal yang baru saja mengantar Sisi ke kamar eyangnya, menyusul Yulia berbaring di ranjang. Saat mereka sudah ada di ranjang, Faisal bingung harus memulai mengajak ngobrol Yulia. Memang, saat berada ditengah-tengah Bu Sari dan pak Hermawan, mereka seakan baik-baik saja. Tapi saat mereka cuma berdua, mereka saling diam.


Yulia tidur dengan membelakangi Faisal, Faisal cuma bisa menatap punggung Yulia.


"Yul, kamu udah tidur ya?" Dengan gugup Faisal membuka suara.


"Belum" Yulia hanya menjawab singkat.


"Yul, lihat kesini dong, masa aku di punggungi seperti ini. Mas mau bicara sama kamu, Yul." Dengan hati-hati Faisal membujuk Yulia agar mau melihatnya. Dengan perlahan Yulia membalikkan tubuhnya kearah Faisal. Wajah mereka seketika bertemu, hanya dengan jarak satu senti saja. Di tatapnya wajah Yulia lekat-lekat, kemudian Faisal tersenyum pada Yulia. Jantung Yulia seakan berdegup kencang. Saat melihat suaminya, di depan wajahnya


"Mas mau minta maaf padamu, kamu jangan salah paham lagi ya" dengan pelan Faisal mulai menjelaskan semuanya. " Yul, mas dengan Weli sudah tidak ada perasaan apa-apa. Karena saat ini ada kamu yang hadir dalam hidup Mas. Mas sebenarnya ci.."


"Ayah, bunda huhuhu sisi gak mau bobo dengan eyang"


to be continued..


Simpan dulu ya mas Faisal kata-katanya.


Lihat anakmu nangis tuh🤭


Masih mau lanjut?

__ADS_1


__ADS_2