
Faisal berjalan mendekat ke arah Yulia dan Angga. Dia menatap tajam kearah Angga, amarahnya bergemuruh di dada Faisal.
"Oh, jadi ini suami kamu Yul, suami yang gak becus menjaga istrinya sendiri," tukas Angga mengejek Faisal.
"Jaga bicara Anda" sahut Faisal, "kenapa?, anda tidak suka. Kalau anda tidak bisa menjaga Yulia dengan baik, lebih baik serahkan dia pada saya."
"Saya bilang jaga bicara anda." Bughhh, sebuah pukulan mendarat disudut bibir Angga. Faisal benar-benar terpancing dengan ucapan Angga, sampai-sampai dia tidak bisa mengontrol dirinya sendiri.
"Kenapa anda marah? Dokter Faisal yang terhormat, bukankah Anda tidak mencintai Yulia." Angga meraih kerah baju Faisal, ditatapnya mata Faisal dengan tatapan kebencian. Yulia yang bingung dengan perkelahian Angga dan suaminya,berusaha melerai. Tapi, sepertinya mereka berdua sudah sama-sama kalap, tidak memperhatikan situasi disekitar mereka.
"Peduli apa anda tentang perasaan saya! tidak tahu malu mendekati istri orang. cuihh.. apa anda sebegitu tidak lakunya, hingga mengejar-ngejar istri saya." Faisal menghempaskan tangan Angga dari kerah bajunya. "Tutup mulut anda." Bughhh, giliran Angga yang memukul sudut bibir Faisal. Saat Faisal akan membalasnya, Yulia menarik tangan Faisal, kemudian memeluknya. Yulia memeluk tubuh Faisal, pelukan yang dirindukan selama akhir-akhir ini. Faisal yang mendapati pelukan tiba-tiba dari Yulia, seketika menikmati pelukan dari istrinya. Sosok yang dirindukan belakangan ini, sedang memeluknya. Tetesan air mata haru, membasahi pundak Istrinya. Untuk pertama kalinya, Faisal menangis bahagia didepan Yulia. Tak ingin melepaskan pelukan Yulia, tiba-tiba Sisi datang.
"Ayah! sisi kangen, huhuhu.." Sisi memeluk kaki Faisal. Perlahan Yulia melepaskan pelukannya dari Faisal. Dia ingin memberi kesempatan pada Sisi untuk melepas rindu dengan ayahnya. Faisal berlutut, kemudian memeluk gadis kecil, miliknya. Sosok yang juga dirindukan Faisal selama ini. Tangis haru pecah dari keluarga kecil Faisal dan Yulia. Angga yang melihat kejadian mengharukan keluarga kecil itu, hanya bisa tersenyum mengejek. mengejek dirinya, yang dengan pedenya akan merebut Yulia dari tangan Faisal. Angga melihat ada cinta dari Faisal terhadap Yulia. Angga memilih pergi meninggalkan mereka bertiga.
Paklek dan buklek Yulia yang mendengar keributan dari dalam, mereka beranjak keluar untuk melihatnya. Mereka melihat Faisal yang sedang memeluk Sisi. Ternyata benar, kecurigaan Paklek dan buklek Yulia selama ini, tentang ributnya rumah tangga Faisal dan Yulia. Terbukti, Yulia dan Faisal hanya saling diam, padahal mereka saling merindukan.
Mereka semua sudah ada didalam rumah, buklek membuatkan minuman untuk Faisal. Sisi duduk dipangkuan Faisal, sementara Yulia duduk diseberang bangku Faisal. Yulia memperhatikan Faisal dengan seksama. Tubuh Faisal tidak terlihat terurus, badannya yang kurus, rambut, kumis, dan janggut tumbuh di wajah Faisal. Yulia merasa bersalah telah meninggalkan Faisal selama ini. Faisal pun tak kalah dengan Yulia, dia terus memperhatikan wajah ayu istrinya. Istri yang dia cintai, istri yang mampu membuat hidupnya berarti, dan istri yang dirindukan selama dia pergi.
"Kita pulang ya Yul?" lirih Faisal.
"Tapi Yuli mau mampir ke rumah Ibu dulu," jawab Yulia tak kalah lirihnya.
"Ayah, ayah, Sisi jalan-jalan sama bunda. Kita lihat gajah, makan bakso, ups." Sisi menutup mulutnya, dia keceplosan bilang pada Faisal makan bakso. Selama ini, Faisal memang tidak membolehkan Sisi untuk makan bakso. Faisal melarang bukan tanpa alasan, Faisal tidak ingin putri kecilnya makan, makanan yang banyak mengandung MSG.
"Hmmm, Sisi bandel ya!" Faisal mencubit kecil hidung Sisi, membuat Sisi meringis.
"Ayah, kenapa lama sekali nyusulnya? Sisi kangen Yah." Gadis kecil itu memeluk lagi Faisal.
__ADS_1
"Sayang, maafin Ayah ya nak. Selama ini Ayah banyak salah sama bunda dan Sisi." Faisal membelai rambut panjang Sisi. Yulia hanya diam tak menanggapi ucapan Faisal.
Saat Faisal dan Sisi bercengkrama, buklek datang membawa mangkuk berisi air hangat dan lap bersih.
"Yul, kompres bekal luka nak Faisal, biar gak bengkak." Buklek memberikan mangkuk dan lab itu pada Yulia. Setelah menerima mangkuk dan lab yang diberikan Bulek, Yulia mendekat ke arah Faisal. Dengan telaten Yulia mengompres bekas memar Faisal. Faisal tersenyum manis, lalu menatap mata Yulia.
Diraihnya tangan Yulia, " Yul, aku mencintaimu" batin Faisal.
Faisal ingin sekali menyatakan perasaannya pada Yulia saat itu juga. Tapi, dia tidak mungkin melakukan itu didepan anaknya. Dia tak ingin melihat anaknya mendengar ucapan orang dewasa. Lama tangan Yulia dipegang oleh Faisal, mata mereka saling menatap.
"Cie, Ayah sama bunda pacaran," goda sisi membuyarkan lamunan keduanya.
"Sisi, Sisi gak boleh ngomong gitu ya nak." Faisal mengatukan jari telunjuknya di bibirnya, Sisi hanya tersenyum.
"Bunda, kita makan bakso tumpeng lagi yuk!" ajak Sisi menatap bundanya.
"Nanti makan baksonya, dirumahnya Oma. Kita beli bakso yang banyak ya!" Faisal mengalihkan perhatian Sisi, yang sudah mulai berkaca-kaca, karena permintaannya di tolak bundanya.
"Beneran boleh Ayah?" tanya Sisi tak percaya.
"Boleh sayang, asal jangan banyak-banyak ya." tegas Faisal mencium anaknya.
Mereka bertiga akhirnya pamit ke rumah orang tua Faisal. Buklek dan paklek senang, karena ponakannya bisa bersatu lagi dengan suaminya. Mereka sangat sayang pada Yulia, karena Yulia memang wanita yang baik.
Mereka pergi ke rumah pak Hermawan, dengan menggunakan mobil travel. Perjalanan menuju ke rumah pak Hermawan, mencapai satu setengah jam, dari tempat buleknya Yulia. Di dalam mobil, Sisi terus berceloteh pada Faisal. Sehingga tidak memberikan kesempatan untuk dia bicara pada istrinya. Faisal hanya menggenggam erat tangan Yulia, seakan menggambarkan kalau dia tak bisa jauh dari Yulia. Yulia hanya diam mendapat perlakuan dari suaminya.
Di dalam benak Yulia hanya satu, dia tidak pernah ada dihatinya Faisal. Faisal menatap sayu wajah Yulia, dia tidak menyangka Tuhan begitu baik padanya. Selama ini, dia sudah menyakiti hati istrinya, tapi istrinya masih tetap menerima kembali. Dia sangat bersyukur, sudah memiliki istrinya yang seperti Yulia.
__ADS_1
Mereka sampai di kediaman pak Hermawan. Beliau yang baru saja akan pergi, lantas mengurungkan niatnya. Bergegas pak Hermawan menghampiri mereka bertiga.
"Opa!!!!" teriak Sisi memeluk opanya.
"Cucu opa yang cantik" Pak Hermawan balas memeluk cucunya.
"Pak, Ibu ada kan?" Faisal langsung menanyakan keberadaan ibunya.
"Ada, ayo masuk kedalam!" ajak psk Hermawan pada Faisal, Yulia, dan Sisi.
"Buk, buk, ini coba lihat siapa yang datang." Psk Hermawan berjalan masuk memanggil istrinya. Ibu Sari yang melihat siapa yang datang, bersorak gembira menyambutnya.
"Ya Allah, cucu Oma. Oma kangen!" seru Bu Sari memeluk Sisi.
"Kenapa kalian kesini gak bilang dulu sama Ibu?" tanya Bu Sari memeluk Yulia.
"Itu..Bu, eh.." Faisal gelagapan menjawab pertanyaan Bu Sari.
"Ya udah kita makan dulu ya!" ajak Bu Sari pada Faisal, Sisi, dan Yulia. Faisal menggandeng tangan Yulia, seperti tak ingin dilepaskan.
to be continued
Faisal jadi bucin...
rasain tubuh Faisal..
seneng banget deh nulis bab ini...
__ADS_1
Masih mau lanjut...