
Faisal dan Yulia sudah pulang ke Jogja lagi. Perjalanan bulan madu kali ini, benar-benar sangat berkesan untuk mereka berdua. Faisal berharap akan ada Adeknya Sisi di dalam perut istrinya, usai bulan madunya. Mereka tiba di rumah sudah disambut oleh keluarganya dan sahabatnya. Bu sari dan pak Hermawan pun ada di Jogja sekarang. Pak Hermawan rencananya mau mengadakan syukuran atas kembalinya Yulia.
"Wah pengantin kawak udah datang, mari kita sambut dengan pelukan...." canda Dino saat Faisal dan Yulia turun dari mobil.
Bu sari langsung menghampiri menantunya, beliau sangat senang bisa melihat Yulia lagi. Beliau sedih saat Yulia dinyatakan meninggal, rasanya tidak ikhlas bila wanita sebaik dan selembut Yulia, mati muda.
"Ya Allah ndok, ini kamu?" tangis haru mengiringi pelukan mereka.
"Iya Bu.. ini Yulia." Yulia sangat bahagia memiliki mertua yang baik seperti Bu Sari.
"Ya sudah kita kedalam dulu, makan siang sama-sama," ajak Bu Siti mewakili semuanya.
Mereka masuk ke rumah, untuk bersiap-siap makan siang. Ruang makan Faisal sudah di tata agar kuat untuk mereka semua makan.
Faisal dan Yulia duduk bersebelahan, Sisi duduk disampingnya eyang Sari, kemudian pak Hermawan. Dino dan Felisa duduk mengapit Bilqis. Pak Sukamto dan Bu Siti duduk di seberang Yulia dan Faisal. Mereka semua sudah siap dengan hidangan yang sudah tertata rapi di meja.
"Sal, Bapak rencananya mau buat syukuran di rumah ini. Nanti kita undang kerabat dekat, dan teman-teman dekat mu saja. Syukuran untuk kepulangan Yulia." Pak Hermawan menyampaikan niatnya pada Faisal, karena memang mereka berdua belum tahu rencana pak Hermawan.
"Boleh Pak, Faisal juga rencananya memang mau buat syukuran. Alhamdulillah kalau gitu, bisa kita atur bersama-sama." Faisal menerima niat baik dari bapaknya, karena memang dia juga sudah merencanakannya.
"Terus kapan kira-kira waktu yang tepat ya Mbak Yu?" timpal Bu Siti.
"Gimana kalau lusa, lusa kan pas hari Minggu. Jadi, para lelaki kan bisa bantu-bantu juga," usul Pak Hermawan.
"Ya udah Pak, lusa saja. Kebetulan kan Faisal masih ada cuti. Nanti Dino juga bisa bantu disini," imbuh Dino yang begitu antusias.
Saat mereka sedang ngobrol, membicarakan rencana syukuran. Tiba-tiba ponsel Faisal berdering. Faisal beranjak untuk mengangkatnya. Faisal pergi ke ruang keluarga, untuk mengambil ponselnya. Ponsel Faisal sedang di charger, jadi ditinggalkan di sana.
__ADS_1
"Assalamualaikum, ada yang bisa saya bantu?" ucap Faisal ramah, karena nomor yang menelponnya tidak di kenal.
"Waalaikumussalam, dengan dokter Faisal?" suara diseberang.
"Iya, saya sendiri!"
"Saya ingin menyampaikan informasi terkait dengan kecelakaan yang menimpa istri anda enam bulan yang lalu." Sepertinya yang menelpon Faisal adalah dari pihak kepolisian.
"Iya Pak, apakah sudah ada kabar mengenai hal itu?"
"Anda diminta untuk datang ke kantor polisi sekarang, nanti akan kami jelaskan semuanya."
"Baik Pak, saya akan kesana sekarang."
Faisal menutup telponnya, raut wajah Faisal seketika berubah cemas. Faisal kembali ke meja makan, untuk memberitahu pada yang lainnya.
"Siapa yang telpon, Mas?" tanya Yulia, saat Faisal sudah duduk ditempat nya tadi.
"Terus gimana, ada perkembangan apa Sal?" sahut Dino penasaran.
"Aku disuruh datang ke kantor polisi, sepertinya mereka ingin menyampaikan hasil penyelidikan mereka," jelas Faisal.
"Ya sudah, kamu kesana sama Nak Dino aja, Sal" saran Pak Sukamto.
Faisal akhirnya pergi ke kantor polisi bersama Dino. Faisal memang merasa ada kejanggalan dari kecelakaan yang menimpa Yulia. Polisi juga sudah menyelidiki, kasus kecelakaan itu. Awalnya, Faisal sudah pasrah atas apa yang menimpa Yulia. Tapi sepertinya kasus itu ditindaklanjuti oleh pihak kepolisian. Setelah tujuh bulan lamanya, kasus ini ada perkembangan nya juga.
Dino dan Faisal langsung menemui polisi yang menelponnya tadi.
__ADS_1
"Selamat Siang Pak," sapa Faisal dan Dino.
"Siang Dokter Faisal, silahkan duduk"
"Terimakasih, jadi ada informasi apa Pak?"
"Setelah melakukan penyidikan, motor yang dikendarai Bu Yulia ada yang mensabotase. Tali rem dari motor tersebut sengaja di potong, sehingga tidak bisa digunakan secara baik." jelas Briptu Fadly, polusi yang melakukan penyidikan atas kasus kecelakaan yang menimpa Yulia.
"Apa Dokter Faisal mempunyai musuh, sehingga akan mudah untuk proses penyidikan selanjutnya?" tanya Briptu Fadhly.
"Saya tidak pernah merasa punya musuh Pak. Jadi saya juga bingung, siapa yang tega melakukan itu pada istri saya." Faisal memang tidak pernah memiliki musuh selama ini. Dia begitu terkejut, mendengar penjelasan Briptu Fadly tadi.
"Tunggu Pak, sebelum terjadinya kecelakaan itu, istri saya dan Yulia pernah sengaja ditabrak oleh seseorang. Tapi sayangnya, mereka tidak ingat plat nomor mobil itu." Dino menceritakan kejadian yang menyerempet Yulia dan Felisa enam tahun lalu.
"Istri saya juga pernah di teror, dengan ancaman-ancaman yang membuat dia resah." sambung Faisal.
"Baiklah Dok, terimakasih atas informasi yang anda sampaikan. Untuk kelanjutannya nanti, saya akan kabari."
Faisal dan Dino pergi dari kantor polisi itu. Semua kejadian-kejafian janggal yang selama ini mereka alami, mereka coba kait-kaitkan dengan kasusnya Yulia. Faisal dan Dino Langsung pulang kerumahnya. Mereka belum bisa, mencari titik terang tentang kasus ini. Mereka juga tidak begitu saja, membiarkan polisi kerja sendiri. Faisal dan Dino juga akan menyelidiki kasus ini.
Sampai dirumahnya mereka sudah ditunggu oleh semua orang yang ada dirumah Faisal. Mereka berharap Cemas, atas kabar yang dibawa oleh Faisal. Faisal dan Dino memberitahu apa yang disampaikan oleh pihak kepolisian tadi. Mereka semua tak kalah terkejutnya oleh Faisal dan Dino.
Hari sudah malam, Dino, Felisa,dan Bilqis pulang terlebih dahulu. Disusul oleh Bu Siti dan pak Sukamto. Kini tinggal Faisal, Yulia, Sisi dan orang tua Faisal. Mereka berbincang tentang banyak hal, salah satunya saat pertemuan awal Yulia dan Faisal usai kecelakaan itu. Sisi juga menghibur mereka dengan celotehan nya. Bu Sari sangat bersyukur karena kehidupan putranya masih diberi keberuntungan oleh Allah. Faisal masih diberi kesempatan kedua oleh Allah, untuk memperbaiki kesalahannya. Bu Sari juga berharap, kedepannya tidak akan ada masalah lagi yang menimpa rumah tangga anaknya.
Sisi malam ini tidur bersama Faisal dan Yulia, anak itu menanyakan tentang dedek bayi yang dijanjikan oleh Faisal. Yulia dan Faisal dibuat pusing oleh keinginan Sisi. Yulia menyerahkan masalah nya pada Faisal, dia harus bertanggungjawab karena sudah membuat Sisi berharap. Bukan Faisal namanya, kaldu tidak bisa membujuk putri kecilnya itu. Dengan sedikit penjelasan, akhirnya Sisi bisa mengerti dan mau untuk segera tidur.
"Yul, kita ulangi seperti bulan madu kemarin yuk!" goda Faisal, mendapat cubitan mesra dari Yulia.
__ADS_1
"Mas Faisal ih, ada Sisi Mas!"
to be continued...