Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku

Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku
Aku akan pergi, jika itu yang kamu minta


__ADS_3

Belum juga sampai di ruang melati 03, tempat dimana nek Puspita di rawat. Sisi yang saat itu akan melintasi ruang rawat Bilqis sedikit merasa ketakutan. Takut jika bertemu Felisa dan Dino. Apalagi, Yulia sudah menceritakan pada putrinya kalau sahabatnya sangat membenci putrinya dan menyalahkan atas apa yang menimpa Bilqis.


Dengan sedikit ragu, dia melintasi ruang itu. Tapi sepertinya memang Dino dan Felisa sedang ada di dalam, dan Sisi bisa lolos melintasi ruangan itu tanpa harus bertemu sepasang suami istri itu. Baru juga berjalan beberapa melangkah dari tempat itu, bajunya di tarik dari belakang oleh seseorang. Sontak membuat dia menoleh kebelakang dan betapa terkejutnya dia saat melihat orang yang menariknya. Felisa, wanita itu penuh amarah saat bertemu dengan Sisi. Belum juga hilang, rasa terkejutnya. Sisi harus menerima sebuah tamparan dari Felisa di pipi sebelah kanannya.


"Plak...dasar wanita murahan! Belum cukup kamu rebut Hanif dari Bilqis. Sekarang kamu juga mau rebut Iqbal dari Bilqis...cuihhh... penampilan kamu yang seperti ini, benar-benar tidak bisa menutupi kelakuan kamu!!!!" bentak Felisa histeris. Sementara Sisi hanya bisa menangis dan memegangi pipinya, bekas tamparan Felisa.


Dino yang mengetahui kejadian itu, langsung melerai mereka berdua. Felisa yang masih menggebu-gebu dengan amarahnya, wanita itu terus saja memukuli tangan, bahu, sekenanya tubuh Sisi. Felisa benar-benar lepas kontrol dan tidak sadar apa yang dia lakukan saat itu.


"Sayang!!!! Hentikan!!!" teriak Dino menarik tubuh istrinya agar menjauh dari Sisi.


"Kenapa? Dia pantas menerima itu semuanya. Gara-gara dia, anak kita sekarang harus terbaring lemah di sini!!" teriak Felisa menatap tajam kearah Sisi, seraya memberontak berusaha melepaskan diri dari Dino. Sisi hanya bisa menangis, sesegukan tak berani menatap mereka berdua. Dadanya terasa sesak, seketika harga dirinya runtuh di depan sepasang suami-istri itu. Bukan hanya mereka bertiga yang berada di tempat itu dan melihat kejadian itu, tapi banyak orang yang sedang melintas, terpaksa berhenti dan menonton pertunjukan gratis di depan mereka.


"Sayang, kamu gak boleh menyalahkan Sisi. Dia gak salah sayang! Dia juga korban, itu musibah!!!" Dino berusaha memberi pengertian pada istrinya untuk tidak menyalahkan Sisi lagi. Tapi sepertinya Felisa memang tidak bisa lagi di kendalikan. Amarahnya meluap-luap sehingga akal sehatnya tidak berfungsi dengan baik. Felisa terus berontak, melepaskan diri dari suaminya untuk melakukan lebih pada wanita yang masuk h terisak sembari memegangi pipi bekas tamparannya.


"Lepaskan Mas!!! Dia pantas menerima itu. Wanita murahan!!!!!" teriaknya lagi.


Dino sudah tidak bisa lagi membiarkan Felisa terus menyakiti Sisi, akhirnya dia menarik paksa istrinya untuk masuk kedalam ruang rawat Bilqis. Namun, sebelumnya dia meminta maaf dulu pada Sisi atas perlakuan istrinya pada wanita itu. "Si, Om Dino minta maaf ya atas perlakuan Tante mu yang sudah menyakitimu. Om masuk dulu!" ujar Dino meninggalkan Sisi yang masih terisak. Rasanya benar-benar hancur hatinya, saat itu.


Dino menarik tubuh istrinya, hingga mereka sudah berada di dalam ruangan itu. Felisa yang tidak terima dengan perlakuan Dino, dia balik marah pada suaminya itu. "Kenapa kami biarkan wanita jalang itu pergi dari sini!!!!" teriaknya pada Dino. Dino langsung melepaskan tangannya dari tubuh istrinya yang terus meronta, Dino hanya bisa mengelus dada atas apa yang diucapkan istrinya itu.


"Sayang, kamu gak boleh bicara seperti itu?!!! Kita belum tahu kebenarannya, jangan sampai kamu menyesal, saat kamu tahu apa yang terjadi sesungguhnya. Berhenti menyalahkan orang lain, anggap ini ujian hidup kita dan Bilqis." Felisa sama sekali tidak mau mendengar pembelaan dari suaminya, dia memilih untuk menjauh dari Dino dan mendekati Bilqis yang masih terbaring lemas di atas brangkar rumah sakit. Belum ada tanda-tanda untuk anaknya sadar dari koma-nya. Walau demikian, tak menyurutkan keyakinan sepasang suami istri itu bila suatu saat putrinya akan kembali sadar.


Sementara di luar ruangan itu, tampak seorang wanita yang masih berdiri mematung di tempat insiden penyerangan tadi seraya menangis pilu meratapi nasibnya yang malang. Orang-orang yang tadi menonton kejadian itu, mulai membubarkan diri dari tempat itu. Kaki Sisi masih kelu untuk melanjutkan langkahnya menuju keruang melati 03. Hatinya masih hancur setelah apa yang dilakukan oleh Felisa tadi. Banyak yang melintas di benak wanita itu. Menyesal, sedih, dan kecewa menjadi satu menderu menghantam perasaannya sekarang. Menyesal, kenapa malam itu dia mau menerima ajakan Iqbal untuk pulang bareng. Sedih, betapa tidak atas kejadian itu bukan cuma Bilqis yang menjadi korban. Tapi juga nek Puspita yang syok mendengar berita itu sehingga terkena serangan jantung. Kecewa, dia kecewa dengan jalan takdir yang ia lewati saat ini. Dosa, mungkin benar dia berdosa menyalahkan ketentuan dari Allah. Tapi, dia hanya manusia biasa, yang memiliki perasaan. Salahkah jika dia mempunyai rasa kecewa itu. Walau begitu, dia masih seorang hamba yang taat dan patuh. Walau begitu dia masih seorang hamba yang menggantungkan hidupnya pada ketentuan Allah. Kembali lagi, dengan keyakinannya. Bahwa Allah tidak akan menguji umatnya, di luar batas kemampuan umatnya itu sendiri. Mungkin dengan kejadian itu, Allah mengangkat derajatnya yang tinggi karena kesabarannya menghadapi masalah itu.


Perlahan Sisi mulai bangkit dari keterpurukan itu. Dia mulai menata hatinya untuk ikhlas dan kembali melanjutkan tujuannya datang ke rumah sakit itu. Seraya mengelap bekas air matanya, wanita itu multi melanjutkan langkahnya menuju ruang melati 03. Tapi langkahnya terhenti lagi, saat Bu Tari yang berjalan dari arah berlawanan memanggil namanya.


"Sayang, Sisi kamu datang, sayang!" ucapnya langsung menuju kearah Sisi.


"Iya Bunda!!!!" balas Sisi masih dengan suara berat, khas orang yang sedang menangis.

__ADS_1


"Kamu kenapa, sayang? Mata kamu merah, kamu habis nangis? Apa yang terjadi?" cecar Bu Tari penasaran.


Sisi masih diam, belum menjawab pertanyaan dari bu Tari. Sehingga wanita itu berasumsi sendiri. "Apa kamu bertemu dengan Hanif? Apa dia bicara yang tidak-tidak sama kamu? Katakan sayang, ada apa?" Wanita itu ikut panik dengan keadaan Sisi saat ini. Matanya sembab, dan pipinya memerah bekas tamparan Felisa tadi.


"Nggak, Bun. Kita temui nenek sekarang, ya?" kilah Sisi tidak mau masalahnya di ketahui oleh Bu Tari. Sehingga dia memilih untuk cepat meninggalkan tempat itu sebelum kemungkinan terburuk terjadi lagi.


Mereka berjalan menuju ke ruang nek Puspita di rawat. Tidak memakan waktu yang lama, mereka sampai di tempat itu. Mereka langsung masuk kedalam. Sisi begitu tersayat hatinya, saat nek Puspita yang terus-menerus memanggil namanya. Entah apa yang akan di sampaikan oleh nek Puspita padanya. Apakah akan sama dengan Hanif yang menyalahkan dia atas kejadian itu.


Setelah berjalan mendekat, dia langsung meraih tangan kisut nek Puspita. Diangkatnya perlahan tangan itu dan di kecupnya seraya berkata. "Nek, Sisi datang. Nenek mau bicara soal dengan Sisi?"


Melihat ketulusan Sisi, membuat Bu Tari semakin yakin kalau Sisi tidak bersalah. Mana mungkin wanita berhati lembut seperti dia tega menyakiti hati orang lain. Apalagi yang disakiti adalah tunangan dan sahabatnya sendiri.


Nek Puspita akhirnya sadar, dia begitu bahagia saat melihat Sisi berada di sampingnya saat ini. Wanita senja itu tersenyum kingsut kearah Sisi. Senyuman itu penuh arti menggambarkan betapa sayangnya dia pada Sisi. Hingga satu kalimat terucap dari mulutnya. "Nenek percaya kamu nggak salah!" Ucapan Nek Puspita membuat Sisi bernafas lega. Setidaknya masih ada orang yang percaya padanya, selain orangtuanya.


"Terimakasih, Nek. Nenek udah percaya dengan Sisi!" ucap Sisi menciumi punggung tangan wanita senja itu. Setelah itu, dada nek Puspita kembali sakit. Bu Tari langsung memanggil dokter yang menangani ibunya.


Nek Puspita mencari keberadaan Hanif. Ada sesuatu yang akan dia katakan pada cucunya itu. Tapi karena Hanif tidak berada di tempat itu. Akhirnya, Bu Tari menelpon Hanif untuk segera ke ruangan neneknya.


"Nenek ngomong apa, Nek!!! Hanif sudah mengambil keputusan, Nek!" Kata-kata Hanif semakin memperburuk keadaan nek Puspita, wanita senja itu semakin merasakan sakit yang luar biasa di dadanya, sehingga tidak mampu lagi berkata-kata. Yang ia lakukan hanya menggeleng, tanda dia tidak terima dengan keputusan Hanif.


"Nif, kasihan Nenek. Kamu harus menerima apa yang di ucapkan nenek mu, sayang!" ujar Bu Tari, yang berusaha membuka pintu hati anaknya.


"Nek, Nenek akan sembuh. Dan sebentar lagi dokter akan datang. Nenek akan baik-baik saja!" seru Hanif yang masih menolak keinginan neneknya. Selang beberapa saat, tubuh nek Puspita kejang-kejang disusul dengan matanya yang mulai tertutup, dan denyut nadinya pun mulai melemah.


"Ibu!!! Ibu jangan pergi tinggalkan Tari, Bu!!!!" Teriak Bu Tadi histeris...


"Nenek....." Disusul oleh Sisi, yang semakin terisak melihat keadaan nek Puspita.


"Nek, buka matanya Nek. Nek!!! Nenek!!! Dokter!!! Dokter!!!" teriak Hanif panik, setelah itu dokter Munif datang untuk memeriksa keadaan nek Puspita.

__ADS_1


Sisi dan Bu Tadi saling berpelukan, mereka saling menguatkan, bahwa tidak akan terjadi apa-apa dengan nek Puspita. Usai memeriksa Nek Puspita, dokter Munif menggeleng seraya berkata. "Innalilahi wainalillahi roji'un, maaf kami tidak bisa menyelamatkan nek Puspita." Ucapan dokter Munif langsung di sambut dengan teriakkan dan isakkan dari Sisi dan Bu Tari. Mereka tidak menyangka kalau beliau akan pergi secepat ini.


"Ibu!!? Bangun Bu!!! Tari belum bisa membahagiakan Ibu!!!" teriak Bu Tari menggoyang-goyangkan tubuh nek Puspita. Begitupun juga yang di lakukan oleh Sisi. Wanita itu belum bisa menerima kepergian nek Puspita dari dunia ini.


Sementara Hanif, pria itu tidak bisa berkata-kata lagi m yang ada di benaknya adalah kebencian pada wanita yang berada di samping bundanya. Dia menyalahkan kepergian neneknya pada wanita itu. Seorang perawat datang, dan langsung menutup wajah nek Puspita dengan kain yang sudah menyelimuti tubuhnya. Dan langsung membawa jenazah ke ruang mayat.


"Ini semua gara-gara kamu!!! Pergi kamu dari hidupku....pergi!!!??" teriak Hanif menatap tajam ke wajah Sisi. Bu Tari yang masih menangis pilu, mencoba menenangkan putranya.


"Sayang, ini bukan salah Sisi. Berhenti menyalahkan dia!!!" Sambil terus menangis sebisa mungkin, dia meluluhkan hati putranya. Tapi sepertinya kebenciannya sudah mendarah daging, sehingga Hanif tidak bisa di bujuk oleh siapapun.


Pria itu memilih pergi meninggalkan ruangan itu, untuk mengurus administrasi di rumah sakit itu.


"Sayang, kamu yang sabar ya!! Mungkin Hanif masih emosi dan terpukul atas kepergian neneknya." Bu Tari langsung memeluk Sisi yang masih menangis pilu.


Sisi dan Bu Tari keluar dari ruangan itu. Mereka akan membawa jenazah nek Puspita pulang ke rumah. Setelah semua administrasi sudah di selesaikan. Hanif yang saat itu sudah kembali dari ruang receptionis, dia mengajak bundanya untuk segera membawa jenazah neneknya ke rumah. Bu Tari pun langsung menyetujui rencana Hanif. Tapi saat Sisi akan ikut bersama mereka, dengan lantang di tolak oleh Hanif.


"Untuk apa kamu iku!! Kamu tidak pantas ikut bersama kami!!!" Byar... kata-kata Hanif meluluhlantakkan hatinya Sisi. Wanita itu seketika melemas. Seakan tulang-tulang di kakinya runtuh bersama kepergian Hanif dan Bu Tari dari tempat itu. Dia tidak menyangka Hanif akan mengatakan itu padanya. Tahu, dia tahu kalau Hanif membencinya. Tapi tidak seperti itu juga memperlakukan dia seperti itu. Bukan cuma mereka yang sedih dengan kepergian nek Puspita. Dia juga sedih, apalagi pertemuannya dengan beliau menjadikan hubungannya semakin dekat. Tapi Kenapa? Hanif tidak memperbolehkan dia untuk menghantar jenazah nek Puspita sampai di pembaringan terakhirnya. Miris, sungguh miris.


Kaki Sisi sudah tak mampu menopang tubuhnya lagi. Sehingga dia jatuh terduduk di lantai. Tatapannya kosong, sehingga tidak menyadari lalu lalang orang yang melintas di tempat itu. Hatinya hancur sehancur-hancurnya. Dadanya terasa sesak. Hingga mulutnya tak sengaja mengucapkan. "Aku akan pergi. Jika itu yang kamu mau!!!" Dia kembali terisak. Dia tidak sanggup lagi untuk berjuang memperbaiki hubungannya dengan Hanif. Mungkin setelah masalah itu selesai. Dia memilih untuk menjauh dari Hanif. Pria yang benar-benar egois, tidak mau mendengarkan penjelasannya barang sedikitpun dari dia.


Lama Sisi terduduk di tempat itu, sehingga membuat seseorang memperhatikan dia dari jauh. Pria itu ragu saat ingin mendekat kearah Sisi. Bukan ragu ingin menolongnya, tapi dia takut salah lihat. Hingga langkah kakinya menarik dia untuk mendekat kearah Sisi. Dan setelah yakin, kalau wanita itu memang Sisi. Pria itu menyapanya.


"Sisi!!?" sapa Iqbal yang sudah berada di hadapan Sisi. Sisi mendongakkan wajahnya kearah pria itu, agar dia tahu siapa pria yang berdiri dihadapannya itu.


"Iqbal!" lirihnya, setelah itu dia memilih untuk menunduk lagi. Dia tidak mau menatap wajah pria itu.


"Kamu kenapa? Bangunlah!" Iqbal akan mendekat dan membantu Sisi untuk berdiri, sejurus kemudian tangan Sisi menghentikan pergerakan pria itu.


"Pergilah!" seru Sisi tanpa menengok ke wajah Iqbal.

__ADS_1


"Tapi kamu!!!"


"Pergilah!!!" serunya dengan menaikkan nada bicaranya. Membuat pria itu menyerah dengan keputusan sahabatnya itu. Tapi dia tak lantas meninggalkan tempat itu, dia masih khawatir dengan keadaan Sisi yang benar-benar terluka saat itu. Hingga sepasang mata mengamati gerak-gerik mereka.


__ADS_2