Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku

Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku
Apa kabar, Felisya Basri?


__ADS_3

Matahari mulai mencondong ke arah barat. Langit yang tadinya cerah berwarna biru, kini berubah menjadi hingga. Pertanda hari sudah mulai senja. Di situlah semua aktivitas dari para pekerja berakhir. Sama halnya dengan Hanif, setelah membereskan barang-barangnya. Pria itu berjalan ke luar dari ruangannya menuju ke parkiran.


Sesampainya di parkiran, Hanif terlebih dulu menghidupkan handphonenya yang selama dia bekerja di non-aktifkan. Sepersekian detik, nontifikasi dari panggilan tak terjawab dari ponselnya berderet. Semua panggilan itu dari Veronika, dsn ada beberapa dari Bundanya. Hanif langsung menghubungi bundanya, dia takut terjadi sesuatu dengan Bu Tari. Mengingat, dari dia berangkat kerja tadi, dia belum sempat bertemu dengan Bundanya.


"Assalamualaikum, Bun! Bunda di mana sekarang?" tanya Hanif pada seseorang di seberang.


"Alhamdulillah kalau begitu. Bunda gak apa, kan?" Hanif tampak sedikit khawatir. Namun setelah mendapat jawaban dari Bu Tari, dia bisa tersenyum lega. Namun seketika raut wajahnya berubah menjadi tegang, setelah bundanya meminta untuk segera pulang, karena ada sesuatu yang penting yang akan di sampaikan Bundanya.


Hanif menutup panggilannya, lalu memasukkan handphonenya di saku celananya, dan bergegas masuk kedalam mobilnya. "Ada apa ya! Kok, Bunda kelihatan serius gitu!" gumamnya seraya menghidupkan mesin mobilnya, dengan cepat dia tancap gas agar cepat sampai di rumahnya.


Kurang lebih memakan waktu dua puluh lima menit, Hanif sampai di rumahnya. Tak menunggu lama, Hanif langsung menemui bundanya yang sedang duduk di sofa, ruang tengah. "Bun, ada apa? Kok kelihatannya panik gitu, tadi di telpon?" tanya Hanif merasa cemas.


Bu Tari meletakkan remote Tv yang dia pegang tadi ke atas meja. Setelah itu dia memegang pundak putranya, bulir air matanya mulai tampak di pipinya.


"Bunda kenapa nangis?" Hanif semakin cemas dengan keadaan bundanya yang tiba-tiba meneteskan air matanya. "Apa ada yang nyakitin, Bunda?" Bu Tari menggeleng.


"Nif, Bunda dukung kamu untuk baikkan lagi dengan Sisi!" Hanif membelalakkan matanya sempurna. Dia terkejut dengan apa yang baru saja dia dengar.


"Bunda serius?" Bu Tari mengangguk. Hanif sangat senang karena tiba-tiba bundanya kembali memberi dukungan agar dia bersatu lagi dengan Sisi. "Tapi, kenapa bunda tiba-tiba berubah pikiran dan mendukung Hanif?" tanya pria itu menatap curiga kearah bundanya.


Wanita itu terdiam sejenak. Sesak di dadanya yang memaksa wanita itu untuk mengatakan semuanya pada Hanif. "Karena Veronika adalah adik tiri, Bunda!" Tak kalah mengejutkan lagi bagi Hanif apa yang baru saja di sampaikan oleh Bundanya.


"Apa!!! Maksud Bunda..."


"Veronika adalah anak dari istri kedua Kakek, sayang!" pangkas Bu Tari, sontak membuat Hanif mengelap mukanya kasar.


"Astaghfirullah, itu artinya dia..."

__ADS_1


"Iya sayang, mereka yang membuang nek Puspita di panti itu???"


"Brengsek kamu Veronika!!!!" teriak Hanif memukul keras kearah sofa. Sementara Bu Tari hanya bisa terisak. "Hanif harus memberi mereka pelajaran, sekarang!" Hanif menarik diri dari tempat itu dan mulai berjalan keluar dengan emosi yang meluap-luap.


"Nif, gak usah sayang! Berhenti!!!" teriak Bu Tari mengejar Hanif. "Bunda sudah kesana tadi pagi, dan membatalkan pertunangan kalian!!" Hanif menghentikan langkahnya, hingga Bu Tari berhasil menyusulnya. "Sudahlah sayang, yang terpenting saat ini kita gak usah lagi berhubungan dengan dua wanita ular itu!" seloroh Bu Tari, membuat Hanif mengurungkan niatnya untuk menemui Veronika dan Bu Sarah.


Selepas sholat magrib, Hanif baru ingat kalau dia mendapat undangan pernikahan dari Bilqis dan Iqbal. Hanif tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu, untuk menghadirinya. Dia yakin Sisi akan ada di sana, dan itu kesempatan yang tepat untuk dia bertemu dengan wanita pujaannya.


Dengan memakai jas warna marun, dengan setelan kemeja warna hitam. Hanif sudah bersiap untuk pergi ke pesta itu.


Setelah mengganti pakaiannya, Sisi berangkat menuju ke rumah Dino. Dimana acara resepsi pernikahan Bilqis dan Iqbal di selenggarakan. Dengan memakai gamis berwarna pink dengan kombinasi warna abu-abu bermotif garis-garis dan bagian lengan yang berkancing, menambah kesan anggun untuk Sisi. Apalagi jilbabnya di padupadan dengan warna pink, membuat wanita itu lebih muda dari usianya. Dengan di jemput oleh supir pribadinya keluarga Dino, Sisi sampai di rumah itu.


***************


Sisi berjalan menuju ke halaman samping rumah itu. Dengan mengusung konsep garden party, halaman rumah itu di sulap menjadi tempat yang indah. Di tambah langit cerah malam itu, bertabur bintang di langit, seolah alam pun ikut senang melihat dua insan terikat sebuah ikatan pernikahan yang sedang berbahagia itu.


"Dek!!! Selamat ya atas pernikahan kalian!" ucap Sisi saat sudah sampai di panggung, tempat kedua mempelai duduk.


"Terimakasih, Kak!" balas Bilqis kemudian mereka cipaka cipiki. Setelah memberi selamat pada Bilqis, Sisi beralih pada Iqbal.


"Selamat ya, Bal. Akhirnya perjuangan kamu mendapatkan adik aku berbuah manis juga." Iqbal tergelak. "Tapi inget, kalau sampai kamu sakiti adikku, aku orang yang pertama akan bikin kamu menyesal," ancam Sisi, Iqbal pun mendelik.


"Aku janji, gak akan menyakiti hati wanita secantik istriku ini!" ucap Iqbal merangkul pundak Bilqis. Sementara Sisi dia merasa canggung, dengan kemesraan sepasang pengantin itu. Dan memilih pergi meninggalkan panggung itu.


"Kak, Kakak mau kemana?" tanya Bilqis menghentikan langkahnya.


"Turunlah, Dek!" jawab Sisi meringis.

__ADS_1


"Enak aja!!! Kakak harus dampingi Bilqis sampai acara selesai!" Sisi membelalakkan matanya.


"Dek, Kakak malu lho! Kakak turun aja ya, gak ada temennya!" tawar Sisi memelas.


"Nggak! Pokoknya Kakak harus di samping Bilqis sampai acaranya selesai!" tegas Bilqis tak dapat lagi di bantah oleh Sisi.


Beberapa saat kemudian Dino dan Felisa naik ke panggung itu. Felisa tersenyum ramah dengan Sisi, begitupun juga dengan Dino. "Sayang, akhirnya kamu datang juga! Adik mu dari tadi nanyain kamu terus!" ujar Felisa memeluk Sisi.


"Maaf Tan, soalnya ada sesuatu yang harus Sisi kerjakan tadi pagi!" balas Sisi tak enak hati. "Bunda sama Ayah mana, Tan? Kemudian bertanya tentang keberadaan orangtuanya.


"Masih di dalam, Bundamu kelihatan capek tadi. Jadi Ayahmu, menyuruh bundamu untuk istirahat di dalam," terang Felisa, Sisi hanya manggut-manggut.


Mereka kemudian duduk di tempat mereka masing-masing. Semua para tamu undangan sudah mulai naik keatas untuk mengucapkan selamat pada kedua mempelai. Satu persatu mereka menyalami orang yang ada di atas panggung itu.


Dari kejauhan Hanif, yang baru saja datang dari pintu masuk berjalan kearah panggung. Seulas senyuman terpancar dari pria itu, kala melihat sosok yang ia rindukan berdiri di samping pengantin wanita. Dengan penuh semangat, Hanif naik ke atas panggung dan ikut mengantri untuk memberi selamat pada kedua mempelai.


Jantungnya terasa berdebar-debar saat dia sudah dekat dengan Sisi, dan saat dia berada tepat dihadapannya. Wanita itu baru menyadari kehadirannya. Setelah melihat sekilas wajah Hanif, Sisi kembali menunduk.


"Apa kabar, Felisya Basri?" tanya Hanif dengan suara parau. Matanya berbinar-binar melihat wanita yang di cintainya nyata di depannya saat ini.


"Alhamdulillah, baik!" jawab Sisi tak kalah gemetarnya. Kini mereka menjadi pusat perhatian orang-orang yang ada di sana. Hanif hanya bisa memandang separuh wajah Sisi, karena wanita itu tak mau menatapnya.


"Kita perlu bicara, Si. Aku harap kamu tidak menghindari aku!" lanjut Hanif, memberanikan diri untuk bersuara. Setelah sekian detik mereka hanya mematung.


Orang-orang yang sedang mengantri di belakang Hanif sedikit kesal dengannya. "Mas, kalau mau pacaran inget tempat, dong!" seloroh orang yang di belakang Hanif.


"Eh, maaf-maaf." Hanif meminta maaf pada orang itu. "Aku tunggu kamu di bawah," ujar Hanif beralih menatap Sisi.

__ADS_1


__ADS_2