Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku

Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku
Aku akan menerima kamu apa adanya


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Hanif bergegas menemui bundanya yang masih ada di dapur. Dia ingin menyampaikan niat baiknya pada wanita yang selama ini mendukung semua keputusannya. Dan besar harapannya, kali ini Bundanya juga akan mendukung niat baiknya menikahi tambatan hatinya.


"Assalamualaikum, Bun," sapanya, segera ia raih punggung tangan wanita paruh baya itu, dan mengecupnya.


"Waalaikumussalam, sayang. Tumben jam segini baru pulang, kamu udah sholat magrib kan'." Wanita itu mengusap pelanggan punggung putranya.


"Alhamdulillah sudah, Bun. Ayo ikut Hanif, Bun!" Hanif menarik pelanggan tangan bundanya agar bisa mengikutinya.


Hanif membawa bundanya di ruang tengah, setelah itu mereka duduk. Bu Tari jadi bingung dengan tingkah anaknya, yang terlihat bahagia malam itu.


"Ada apa ini, kenapa bunda di tarik-tarik kayak gini?" tanya Bu Tari penasaran, dan Hanif hanya tersenyum menanggapinya. Setelah itu, dia mengambil sebuah kota berbahan bludru dari dalam saku jasnya, setelah itu dia menunjukkan isi dari kotak itu pada bundanya.


"Bun, menurut Bunda. Ini bagus, nggak?" Bu Tari menatap lekat benda itu, seraya mengulum senyumnya.


"Cantik, ini sangat cantik sayang." Bu Tari bisa menebak arah pembicaraan putranya. "Apapun, keputusan mu. Bunda akan dukung, sepenuhnya!" Di teluknya pelan pundak anaknya.


Hanif begitu terharu melihat ketulusan dari bundanya yang selalu mendukung apa yang terbaik untuknya. Segera ia peluk wanita yang ada di hadapannya itu. Beruntunglah dia, mempunyai seorang ibu sekaligus ayah yang selalu ada di saat dia senang maupun susah.


"Terimakasih, Bun."


Kini Hanif sudah ada di kamarnya, dia segera membersihkan diri setelahnya sholat isya terlebih dulu. Tak lupa ia titipkan permohonan pada pemilik kehidupan, agar di berikan kelancaran. Dan Alira adalah jodoh terakhirnya.


Usai sholat, dia memakai pakaiannya. Sengaja ia memilih kemeja berwarna maroon, pemberian dari Alira saat ulang tahunya bulan lalu. Dengan memakai celana jeans berwarna hitam. Begitu cocok di tubuh pria berlesung pipi itu. Dengan rambut cipaknya, membuat dia sedikit lebih muda dari umurnya.


Setelah selesai dengan dandannya. Pria itu segera menyusul bundanya yang sudah siap menunggunya di ruang tengah. Seulas senyum terpancar dari wajah keduanya, saat mereka keluar rumah menuju ke kediaman Bu Yuni.


Dengan menggunakan mobilnya, Hanif sampai di tempat tujuannya. Rumah mewah bercat abu-abu, mobilnya berhenti. Dengan di bantu oleh satpam rumah itu, mobilnya terparkir sempurna di halaman rumah itu.


Hanif keluar dari mobilnya terlebih dulu, dan membukakan pintu mobil untuk bundanya. Setelah terbuka, Bu Tari turun dan bergegas mereka menuju ke pintu utama. Pintu rumah itu masih tertutup rapat, karena memang Hanif tak memberi tahu rencananya datang ke rumah itu.

__ADS_1


Hanif pun menekan bel yang terletak di dinding, sebelah kiri dari pintu itu. Dua kali dia menekannya, tak lama setelah itu terdengar seseorang membukakan pintunya dari dalam. Seorang wanita yang terlihat cantik dengan gamis berwarna peach berdiri menyambut kedatangan mereka.


"Bunda! Hanif! Mari silahkan masuk." Wanita itu mempersilahkan mereka berdua untuk masuk kedalam.


"Silahkan duduk! Alira panggil ibu dulu," ujar wanita itu tersenyum ramah. Setelah itu meninggalkan mereka menuju kedalam.


Tak lama setelah itu, Bu Yuni datang dari dalam. Pun dengan Alira, beliau cukup terkejut dengan kedatangan mereka. Setelah berbincang-bincang, Alira pun datang dengan membawa nampan berisi minuman dan beberapa cemilan. Di letakkannya minuman itu diatas meja, pun dengan makanannya. Setelah itu mempersilahkan tamunya untuk menikmatinya. Lalu, dia duduk di samping Bu Yuni.


"Alira, gimana kabar kamu sayang?" tanya Bu Tari membuka percakapan dengan Alira.


"Alhamdulillah baik, Bun!" Sekilas Alira melirik kearah Hanif yang terlihat menunduk, tidak seperti biasanya yang selalu cerewet jika bertemu dengannya.


"Nif, kenapa kamu kelihatan tegang seperti itu," goda Bu Yuni yang mencium gelagat tidak beres dari pria itu, Hanif pun mengangkat wajahnya dan terpaksa memperlihatkan senyumnya. Tak dapat di pungkiri, pria itu terlihat gugup saat menatap wajah Alira.


"Bu Yuni ini bisa aja! Iya, Lo sayang. Kamu kelihatan tegang, udah jangan tegang gitu, ah!" timpal Bu Tari, membuat Bu Yuni tergelak, melihat ekspresi Hanif yang seketika memucat.


Setelah obrolan ringan yang di lontarkan mereka. Kini Hanif membuka suara.


"Kedatangan Hanif ke rumah ini karena memang ada sesuatu yang akan Hanif sampaikan. Hanif ingin..." Pria itu menjeda kalimatnya, seketika Alira tak kuasa membalas tatapan Hanif yang mematikan. Gemuruh di dadanya membuat bulir bening muncul dari wajahnya. "Hanif ingin melamar kamu, Alira. Maukah kamu menerima lamaranku ini?"


Hanif menghela nafas lega, akhirnya dia bisa mengatakan itu di depan Alira. Kini dia hanya tinggal menunggu jawaban dari wanita itu. Bahkan ekspresi dari wajah wanita itu tak bisa ia tebak. Seperkian detik wanita itu menunduk, suara Bu Yuni memaksa wanita itu menatap kearahnya.


"Ra... Bagaimana? Apa kamu mau menerima lamaran Hanif?" Bibirnya mengatupkan sempurna, tak terasa cairan bening merembes ke pipi wanita itu.


"Alira... Alira tidak bisa menerimanya...hiks...hiks..." Seketika jantung Hanif seperti terkena sembilu, mendengar penolakan dari wanita itu. "Alira tidak pantas untuk kamu, Nif...." Dan Alira langsung berlari meninggalkan ruangan itu. Dia berlari menuju ke kamarnya.


Membuat semua orang yang berada di ruangan itu menatap heran. Seolah tak percaya dengan ucapan Alira, Bu Yuni pamit pada mereka berdua. Beliau ingin bicara dengan menantunya itu, dia menangkap ada yang tidak beres dengan wanita itu. Jelas-jelas dia bisa melihat, kalau Alira sangat mencintai Hanif, tapi apa yang membuat wanita itu menolaknya.


"Ra...sayang buka pintunya dulu. Ini ibu mau bicara!" Bu Yuni mengetuk-ngetuk pintu kamar Alira yang tertutup rapat.

__ADS_1


"Masuk..Bu... Tidak Alira kunci," ucapnya dengan suara berat.


Bu Yuni masuk kedalam kamar Alira, terlihat jelas kalau wanita itu sedang sedih. Dengan keputusannya.


"Ra... kenapa kamu menolaknya?" tanya Bu Yuni, saat dia sudah duduk di sebelah menantunya.


"Alira tidak pantas, Bu. Alira hanya seorang janda yang memiliki kekurangan. Ibu tahu, kan'?" Bu Yuni menghela nafasnya berat. Dia tahu posisi Alira saat ini. Berat memang, untuk bisa dia menerima lamaran Hanif sementara statusnya saat ini. Dan terlebih lagi, dia akan sulit memiliki keturunan.


"Sayang, Hanif pria yang baik. Ibu yakin, dia tidak akan mempermasalahkan hal itu," bujuknya, agar Alira mengerti.


"Nggak Bu, Alira tidak ingin Hanif ikut menanggung penderitaan seperti yang Alira alami, saat ini," tolak wanita itu sambil terisak, mengingat semua penderitaannya.


"Dia sudah banyak berkorban untuk Alira. Justru kebaikannya itu yang membuat Akira tidak sanggup menerima lamarannya. Alira tidak sempur..."


"Siapa bilang kamu tidak sempurna!!!" pangkas Hanif berjalan mendekati dua orang wanita itu. "Bagiku, kamu adalah wanita yang paling sempurna." Di tatapnya lekat wajah itu, wajah yang selalu terbayang di benaknya.


"Ra... kamu tahu kan'? Sudah lama aku mencintaimu? Apa itu belum cukup untuk membuktikan ketulusan ku padamu?"


"Tapi kita beda!!!!"


"Perbedaan itu hal yang lumrah dalam sebuah hubungan. Dan aku akan menerimamu apa adanya! Kita akan berjuang bersama, aku yakin kamu bisa hamil lagi, Ra!"


Sorot mata mereka bertemu, Alira bisa melihat dengan jelas ketulusan dari Hanif.


"Kita coba, Ra! Aku mohon, menikahlah denganku!" ucapnya mencoba menyakinkan Alira.


Alira menatap kearah Bu Yuni, wanita itu mengangguk pelan dan tersenyum hangat kearahnya. Pertanda, dia setuju, jika dirinya menikah dengan Hanif. Merasa sudah mendapatkan jawaban dari mertuanya, tatapan Alira beralih pada pria yang saat ini sudah bersimpuh di depannya. Lama, dia menatap wajah pria itu, setelahnya dia berucap, "Bismillah, Alira mau."


Seulas senyum hangat terpancar dari bibir Hanif. Pria itu sampai menitikkan air matanya, akhirnya Alira mau menerima lamarannya.

__ADS_1


"Alhamdulillah, makasih Ra."


To be continued


__ADS_2