
"Sayang... Kenapa kesini...?" Dino yang setengah berlari mendekati Weli.
"Aku ingin konsultasi dengan dokter Monica, kenapa kamu ada disini...?" Tanya Weli bingung.
"Dengerin aku, kamu sehat sayang, gak ada yang perlu dikhawatirkan dengan rahim kamu... Sekarang kita pulang saja ya..!" Seru Rio melirik kearah dokter Monica, Rio memberi isyarat pada dokter Monica.
"Aku hanya ingin memastikan saja, jika memang aku benar-benar sehat. Aku akan pulang, tapi setidaknya aku ingin tahu sendiri dari dokter Monica.." Weli bersikeras untuk tetap berkonsultasi dengan dokter Monica. Sikap Rio, semakin membuat dia curiga.
"Sekarang katakan dokter Monica, jika istri saya sehat, tidak ada yang harus dikhawatirkan di rahimnya.."Rio menatap tajam ke arah dokter Monica.
"Sayang, kamu kenapa sih...!, biarkan dokter Monica memeriksa aku dulu.." Dokter Monica tambah bingung dengan keadaan saat ini. Disisi lain, memang Weli harus tahu keadaan nya yang sebenarnya. Namun, disisi lain dia juga gak tega bila harus mengatakan semuanya.
"Dokter Monica, kenapa anda diam saja, tadi anda mengatakan apa.. sebenarnya saya kenapa? Ayo katakan dok..." Weli yang menaruh curiga pada dokter Monica dan Rio, memaksa dokter Monica untuk berbicara jujur.
"Sayang...sayang, kamu gak kenapa-kenapa kok.. Sekarang lebih baik kita pulang saja ya..." Rio mulai panik dengan keadaan Weli, sepertinya Weli memang sudah curiga padanya.
"Kenapa kamu melarang aku untuk berkonsultasi pada dokter Monica, apa yang sebenarnya kamu sembunyikan dari aku sayang..huhuhu..." Air mata Weli lolos dari pelupuk matanya.
"Ibu Weli, sebenarnya anda.. akan sulit untuk mempunyai keturunan. Mengingat rahim anda yang terbentur keras, saat anda mengalami kecelakaan waktu itu..." Dokter Monica sudah tidak tahan menyimpan kebohongan itu dari Weli, dia tahu perasaan Weli. Sebagai sesama perempuan dia tidak bisa lagi menutupi keadaan yang sebenarnya pada Weli.
Weli, yang mendengar ucapan dokter Monica, mendadak langsung melemas. Air matanya tak dapat lagi terbendung, apa yang ia takutkan ternyata benar adanya. Namun, ada hal yang membuat ia kecewa. Kenapa suaminya menutupi dari dirinya sendiri.
"Sayang, dengerin aku..." Rio mencoba meraih
tangan Weli.
"Lepaskan... kenapa kamu tega sayang...huhuhu.. kenapa..?"
__ADS_1
"Kamu masih bisa hamil, bukan tidak bisa, masih ada kemungkinan kamu bisa hamil sayang... Aku mohon sayang, berhentilah menangis..." Rio mengusap air mata Weli yang terus saja mengalir, kenyataan akan susah memiliki keturunan ternyata membuat dirinya hancur. Meskipun sudah ia duga, sebelumnya.
"Berapa persen kemungkinan itu..?" Tanyanya memelas..
"Lima.. persen...'
"Huhuhu.... sayang, aku tidak akan bisa memberi mu anak, huhuhu...." Tangisnya semakin pecah, dia merasa menjadi seorang wanita yang tak sempurna...
"Kita masih mempunyai kemungkinan itu sayang, kamu jangan sedih lagi...ya..." Dipeluknya Weli oleh Rio, untuk menguatkan istrinya.
"Ibu Weli, anda masih mempunyai kesempatan, yang paling penting, anda harus jaga pola hidup anda. Dan anda harus yakin, Berusaha dan berdoa jangan pernah putus.. " Dokter Monica memberi saran, kini emosi Weli sedikit mereda. Dia jadi ingat perkataan ibu-ibu yang bertemu dengannya tadi. Setelah mengetahui istrinya mulai tenang Rio mengajak Weli, pulang.
"Kita pulang sekarang ya sayang..."
"Ibu Weli saya akan berikan vitamin untuk anda, dan juga obat penyubur kandungan. Diminum yang rutin ya bu..." Dokter Monica memberikan resep obat pada Weli.
Sesampainya di rumah Rio membukakan pintu mobil Weli, dipapah nya keluar dari mobil. Rio takut istrinya akan tumbang, ternyata dirumahnya sudah ada Psk Andrian dan istrinya. Mereka ke rumah, karena menelpon anak dan menantunya. Namun tak ada satupun yang mengangkat, kemudian Bu Sindi menelpon asisten rumah tangga Weli. Asisten rumah tangga Weli mengatakan kalau majikannya ke rumah sakit, ibu Sindi bertanya rumah sakit mana?, namun mereka tidak tahu. Akhirnya beliau dan Psk Andrian langsung datang ke rumah Weli saja, dan menunggu kepulangan Weli dan Rio.
Melihat kedua mertuanya ada disitu, Weli langsung berlari ke kamar dengan air mata yang kembali menetes. Dia tidak sanggup jika bertemu dengan mertuanya, mereka pasti akan kecewa jika mengetahui menantunya akan sulit memberinya cucu. Rio mengejar Weli dan mengabaikan ibu Sindi dan pak Andrian.
"Ada apa dengan mereka ma...?" Tanya pak Andrian pada istrinya, dia bingung melihat sikap Weli yang lari karena melihatnya.
"Gak tau pah... Apa jangan-jangan mereka bertengkar.." Ibu Sindi menyusul Weli dan Rio ke kamar nya.
Saat sudah didepan kamar mereka, ternyata pintunya terkunci. Diketuknya beberapa kali, namun tak ada yang menyaut.
"Sudah sayang, ada Mama dan Papa disini, jangan buat mereka khawatir..." Rio berusaha menenangkan Weli yang masih terisak.
__ADS_1
"Hapus air mata kamu sayang, air mata ini terlalu mahal jika untuk menangisi keadaan yang belum pasti. Aku yakin kita masih bisa punya anak... " Rio menghapus air mata Weli.
"Tapi bagaimana jika aku benar-benar tidak bisa memberimu anak...' Ucap Weli putus asa.
"Stttt, ucapan adalah doa sayang, jadi kita berucap yang baik saja ya... Sekarang kita temui Mama dan Papa ya..." Rio mengangkat tubuh Weli, namun Weli enggan untuk berdiri.
"Apa kamu akan meninggalkan aku, jika aku..."
"Sttt, apapun yang terjadi pada kamu, sekalipun kita tidak bisa memiliki anak, aku tidak akan pernah meninggalkan mu.. Sekarang hapus air mata kamu ya..." Ucapan Rio membuat hati Weli sejuk, seakan memberinya kekuatan. Ketulusan Rio benar-benar membuat Weli terenyuh. Selama ini dia salah menilai Rio. Dipikirnya Rio hanya menginginkan hartanya saja, tapi ternyata dia salah. Weli bersyukur bisa dicintai pria tulus, setulus Rio.
Rio membuka pintu kamarnya, sudah ada Ibu Sindi yang berdiri disana.
"Ada apa dengan kalian?, apa kalian bertengkar?" Rio dicerca pertanyaan oleh Ibu Sindi.
"Tidak Maa, Weli lagi gak enak badan saja.." Rio sengaja menyembunyikannya dari orang tuanya, dia tidak mau jika orang tuanya berfikir yang tidak-tidak pada Weli.
Ibu Sindi masuk ke kamar Rio, dilihatnya Weli yang duduk ditepi ranjang dengan sedikit air mata yang tersisa.
"Kamu kenapa sayang... Kenapa sedih..? Ibu Sindi memeluk menantunya.
"Hiks..hiks..." Weli kembali menangis, dia tahu mertuanya pasti akan sangat kecewa jika mengetahui keadaannya yang sebenarnya....
To be continued..
Maaf baru bisa up,
Up kedua nanti malam ya...
__ADS_1
terimakasih yang sudah kasih dukungan ke karya aku...