
Usai mendapat telpon dari orang yang menolong Bundanya, Hanif bergegas menuju ke rumah sakit. Tak lupa dia bawa dompet dan kunci mobilnya tergeletak di meja, samping ranjangnya. Setelah semua siap, dia menuju ke garasi.
Dengan mengendari mobilnya, Hanif menuju ke rumah sakit Zahra Medica, tempat dia bekerja. Sesampainya di sana, dia langsung menuju ke ruang UGD. Beberapa perawat menyapa dirinya, saat sedang berpapasan. Dia menanggapinya dengan senyuman.
Sesampainya di UGD, pandangnya menangkap sosok yang tak asing bagi dirinya sedang duduk sembari mensinkronisasikan ponselnya di kursi, ruang tunggu. Hanif berjalan mendekat kearah gadis itu.
"Bagaimana keadaan bunda saya?" tanyanya dengan nada khawatir. Wanita itu sejenak menghentikan aktivitasnya dan mendongak ke arah wajah Hanif. Di tatapnya lekat wajah Hanif, manik matanya berputar, mencoba mengingat pria di hadapannya itu.
"Kamu!" tunjuknya. Hanif membuang mukanya.
"Bagaimana keadaan bunda saya?" ulang Hanif dengan nada kesal.
"Eh, iya. Tadi kata perawat udah di pindahin ke ruang bogenvil nomor 206," terang gadis itu sedikit gugup.
Hanif langsung pergi ke ruang yang di tunjuk oleh gadis itu meninggalkan kekesalan pada gadis itu. "Huuhh... terimakasih, kek!"
Sejurus kemudian dia pun menyusul Hanif menuju ke ruang bogenvil. Saat mereka akan masuk kedalam, secara bersamaan dokter yang menangani Bu Tari keluar dari dalam usai memeriksanya.
"Apa yang terjadi pada bunda saya dok?" tanya Hanif dengan nada cemas.
"Kolesterol Bu Tari tinggi, karena itu beliau mengalami sakit kepala yang hebat di bagian tengkuknya. Tapi, beliau sudah sadar, kok!" terang dokter itu. Hanif bisa bernafas lega mendengar bundanya sudah sadar.
"Kalau begitu saya permisi dulu," pamit Dokter itu.
"Terimakasih, Dok!"
Mereka berdua masuk kedalam, Bu Tari masih terbaring lemas dengan selang infus di lengannya. Hanif mendekat, diikuti oleh gadis itu.
"Apa yang bunda rasakan sekarang?" Hanif menggenggam tangan bundanya.
"Sakitnya sudah lumayan berkurang, nggak seperti tadi!" keluh Bu Tari memegangi pelipisnya dengan satu tangannya lagi.
Kini tatapannya beralih pada sosok wanita yang berdiri di belakang putranya. "Siapa wanita yang berdiri di belakang kamu?" Kemudian bertanya pada Hanif.
"Dia yang nolongin Bunda," jawab Hanif dengan singkat, wanita itu tersenyum ramah pada Bu Tari. Pun dengan dia.
"Terimakasih, ya sudah nolongin Bunda!" ucapnya pada wanita itu.
"Iya, Bu sama-sama."
__ADS_1
"Oh, iya namanya siapa?" Hanif mengernyit, dia sendiri tidak tahu nama gadis yang hampir ia tabrak sekaligus yang menolong Bundanya. Karena pertemuannya pertama kali mereka bahkan tidak saling berkenalan. Saat satu mobil, mengantarnya di rumah Faisal, Hanif tidak ada niatan untuk menanyakan nama gadis itu.
"Saya Asyifa, Bu. Panggil saja saya Syifa," ujar Syifa memperkenalkan diri.
"Cantik, seperti orangnya!" pujinya membuat wanita itu tersipu malu. Hanif hanya bersikap datar.
Mungkin karena hatinya masih sakit, hingga dia menutup diri dengan wanita. Sampai kapan, Hanif sendiri tidak tahu jawabannya. Yang jelas, hatinya masih terpatri nama Sisi hingga saat ini. Dia belum bisa melupakan wanita itu.
Syifa dan Bu tari semakin akrab, terlihat mereka ngobrol bersama, terkadang tawa kecil menghiasi obrolan mereka. Hanif hanya memperhatikan nya dari tempat duduknya.
Saat sedang asyik ngobrol, tiba-tiba ponselnya berdering. Di ambilnya ponsel dari dalam tasnya, setelah itu dia mengerutkan keningnya saat melihat nomor Uminya di layar ponselnya. Dia sampai lupa, kalau dia meninggalkan Umi dan Abinya di bandara. Segera dia geser tanda telpon berwarna hijau keatas, dan menempelkan benda pipih itu di pipinya.
"Assalamualaikum, Umi!"
"Iya Umi. Kayaknya Syifa gak jadi ikut pulang sekarang, deh!"
"Udah ketinggalan pesawat juga!"
"Di rumah sakit, Umi!"
"Eh bukan-bukan. Bukan Syifa yang sakit. Iya, tadi Syifa tolongin ibu-ibu yang tiba-tiba pingsan di lobi bandara."
"Iya Umi, salam buat Abi ya. Assalamualaikum?"
Syifa menghembuskan nafasnya ke udara. Dia tidak jadi pulang kampung bersama Umi dan Abinya. Itu artinya dia akan lebih lama lagi di kota ini
Melihat kekecewaan dari wajah Syifa, Bu Tari merasa tak enak hati. "Maaf, ya! Karena ibu kamu gak jadi pergi," ujarnya dengan nada penyesalan.
"Eh, gak apa kok Bu. Syifa justru seneng, karena masih lama di kota ini. Sekalian pengen jalan-jalan di sini," balasnya dengan senyum mendamba. Karena ada tempat yang ingin sekali dia datangi.
Hanif yang baru saja masuk dengan membawa dua kantong plastik berjalan mendekat kearah Syifa dan Bundanya. Saat Syifa telponan tadi, dia memang keluar untuk membeli beberapa makanan dan cemilan.
"Ini makanan, buat kamu!" Hanif menyerahkan satu kantong plastik di tangannya pada Syifa.
"Ah, gak usah. Aku gak laper kok, kan udah sarapan tadi. Kayaknya kamu deh yang butuh makanan ini," tolak Syifa yang memperhatikan wajah Hanif. "Kamu kelihatan kurus, Sepertinya kamu tidak makan dengan baik, ya!" selorohnya lagi mendapat tatapan tajam dari Hanif.
"Eh maaf-maaf. Aku gak bermaksud..." Ucapannya melambung ke udara, saat Hanif pergi dari tempat itu tanpa memperdulikan celotehannya. Syifa hanya bisa mendelik sebal.
Bu Tari menggeleng, melihat kelakuan anaknya yang dingin pada Syifa.
__ADS_1
*****************
Di tempat lain.
Ilham yang baru saja membantu Faisal berkebun di belakang, mencuci tangannya terlebih dulu sebelum masuk kedalam. Usai itu, dia masuk kedalam rumah lewat pintu belakang. Saat dia akan berjalan menuju ke tangga, Sisi terlebih dulu turun dengan tergesa-gesa.
"Ada apa sayang, kok kamu kelihatan panik begitu?" tanya Ilham yang ikut panik melihat wajah serius dari Sisi.
"Umi telpon, katanya kita di minta untuk menjemput Syifa di rumah sakit!" Ilham menautkan kedua alisnya, sesaat dia berfikir.
"Syifa sakit? Ada apa dengan Syifa?" cecarnya yang masih belum mengerti arah pembicaraan istrinya.
"Iya, Sisi juga gak begitu jelas. Suaranya putus-putus Kak, pas Sisi telpon balik nomor Umi udah gak aktif."
"Ya sudah aku mandi dulu ya," ujarnya mengelus pundak istrinya, setelah itu dia naik keatas menuju ke kamarnya untuk mandi terlebih dulu.
Pikirannya semakin tidak tenang, takut terjadi sesuatu pada adiknya. Usai mandi dan berpakaian, Ilham menyusul istrinya yang sudah menunggunya di ruang tengah. Dengan langkah-langkah tergesa-gesa, dia menghampiri Sisi.
"Ayo kita ke rumah sakit sekarang!" serunya pada Sisi.
"Iya, Kak!" Mereka berdua beranjak dari tempat itu, namun langkahnya terhenti saat Yulia menegur mereka.
"Kalian mau kemana?"
"Ke rumah sakit, Bun!"
"Rumah sakit? Mau ngapain?"
"Syifa Bun, Syifa. Kamu di minta Umi untuk menjemput Syifa di rumah sakit."
"Ya Allah apa yang terjadi pada Syifa!"
"Kita juga belum tahu, Bun. Karena itu kita mau kesana sekarang, pengen memastikan apa yang terjadi pada Syifa."
"Ya Allah semoga gak terjadi apa-apa ya dengan Syifa."
"Iya, Bun. Kita pamit ya?"
To be continued
__ADS_1
Apa yang terjadi ya kalau Hanif tahu, Syifa adalah adiknya Ilham