
Sepeninggal Hanif dan ibunya, mereka saling pandang. Banyak terlintas pertanyaan dari benak keluarga Hanif. Namun, mereka memilih tidak bertanya langsung pada keluarga Faisal tentang apa yang terjadi dengan Sisi dan Hanif.
"Maafkan kami ya kyai Abdullah dan keluarga atas ketidaknyamanan ini," tutur Faisal membuka suara setelah sunyi menerpa ruangan itu.
"Tidak apa Pak Faisal, kami bisa maklum," sahut Kyai Abdulloh menyunggingkan senyumnya.
"Eh...maaf Nak Sisi, terus gimana langkah selanjutnya atas hubungan kalian berdua!" Pak Zakri menggeser jari telunjuknya kearah Sisi kemudian beralih ke arah Ilham.
Sekilas pandangan dia insan itu bertemu. Mereka terlihat canggung, namun segera Sisi menundukkan wajahnya lagi.
"Sebelumnya, izinkan Sisi untuk bicara berdua dengan Kak Ilham," pinta Sisi pada semuanya.
Faisal menepuk pelan pundak putrinya, dia tahu betul apa yang sedang mengganggu pikirannya sekarang. "Kamu gak usah khawatir ya sayang, inshaa Allah Ilham akan menerimamu apa adanya!" lirih Faisal, tersenyum tipis pada putrinya. Sisi pun mengangguk pelan.
"Ya sudah, kalian memang butuh bicara berdua dulu," ujar pak Zakri pada keduanya. "Ham, ajak Sisi bicara di teras depan, kalian cari kesepakatan kapan kalian menikah," lanjutnya memandang keponakannya.
"Iya, Paklek." Ilham pun beranjak dari tempat duduknya. Diikuti oleh Sisi.
Mereka kemudian berjalan keluar menuju teras, Ilham terlebih dulu, lalu diikuti oleh Sisi di belakangnya.
Sementara dia keluarga itu kembali mengobrol kecil untuk mencairkan suasana yang sempat tegang itu. Faisal tahu, ada yang mengganjal pikiran mereka mengenai hubungan Sisi dengan Hanif.
"Ehmmm, saya harus mengatakan ini pada keluarga Kyai," tutur Faisal pada mereka bertiga.
"Ini tentang putri saya dan Dokter Hanif tadi," sambung Yulia pun sedikit tegang.
"Oh, iya Pak silahkan!" jawab dari umi Qoniah dan kyai Abdullah.
Faisal menceritakan hubungan Hanif dan Sisi, dari awal mereka saling mengenal, menjalin hubungan, dan lamaran itu. Namun saat akan menceritakan kejadian yang menggagalkan pertunangan mereka, Faisal sedikit ragu. Hingga kyai Abdullah berbicara, "katakan saja Pak Faisal, inshaa Allah kami tidak akan menggagalkan khitbah-an ini."
Faisal tersenyum lega mendengar jawaban dari kyai Abdullah. Setelah itu dia kembali bercerita kalau Sisi sempat di grebek warga karena kesalahpahaman itu dan berakhir dengan gagalnya pertunangan Sisi dan Hanif.
"Astaghfirullah, jadi seperti itu kejadiannya. Saya bisa mengerti perasaan Dokter Hanif. Kasihan dia, termakan dengan keegoisannya sendiri." Kyai Abdullah menggeleng.
__ADS_1
"Terkadang apa yang kita dengar dan lihat tidak sesuai dengan apa yang terjadi. Karena itu kita jangan sampai menjadi seorang yang egois dengan asumsi diri kita sendiri. Dengarkan, saran dari orang-orang di sekitar kita," timpal Pak Zakri.
Di tempat lain. Sisi dan Ilham memilih duduk di halaman depan rumah Faisal. Disana ada sebuah taman kecil yang letaknya di sebelah kanan dari pintu masuk rumah Faisal. Di taman itu terdapat satu bangku, tempat mereka duduk saat ini. Gemercik air mancur yang berada di tempat itu menjadi pengiring dari keheningan ditempat itu.
Seperdetik kemudian Sisi menarik nafasnya pelan dan dihembuskannya perlahan untuk menata dirinya agar bisa menyampaikan isi hatinya pada Ilham.
"Apa yang ingin kamu katakan pada Kakak, Si?" Satu pertanyaan mampu menarik pandangan Sisi kearah wajah Ilham, di tatapnya lekat wajah pria berwajah manis itu, kemudian dia mengalihkan pandangannya kearah air mancur yang berada di dekat Ilham.
"Apa ini ada hubungannya dengan Hanif!" terka Ilham, Sisi mengangguk. "Kamu pernah menjalin hubungan dengan dua," lanjutnya lagi, dan mendapat jawaban anggukan lagi dari Sisi.
Ilham tersenyum lebar, setelah itu dia berucap, "selepas dari masalalu kamu. Saya tidak akan mempermasalahkan itu, Di. Tujuan saya menikahi kamu, karena kamu adalah wanita pilihan Allah yang diberikan untuk saya, kamu adalah jawaban dari doa-doa ku selama enam bulan ini. Sejak pertama kali bertemu kamu di bandara, hari ini sudah terikat pada gadis manis bergamis peach di samping saya saat ini."
Sisi tercengang mendengar kalimat demi kalimat yang terucap dari mulut Ilham. Dia tidak menyangka kalau perasaannya terbalas oleh pria itu. Mereka saling mencintai, sejak kapan? Mungkin itu yang terlintas di benak Sisi saat ini. Dan jawabannya, Sisi pun tidak tahu. Yang jelas, jika memandang wajah Ilham, hatinya terasa damai, tentram, dan hangat. Hanya dengan memandangnya saja.
"Bismillah, kita jalani hubungan ini karena niatkan untuk ibadah. Inshaa Allah akan ada berkah dalam hubungan kita," tutur Ilham lagi, membuat cairan bening yang sudah menumpuk di pelupuk mata Sisi, jatuh tekena terbendung. Bukan tangis kesedihan atau penyesalan, tapi tangis bahagia dan haru.
"Terimakasih Kak, tapi sebelum itu Sisi akan ceritakan masa lalu Sisi pada Kakak." Ilham tersenyum dan mengangguk.
"Ceritakan!"
"Kak!"
"Hmmm."
"Kok, diem aja!"
Ilham bisa melihat kekhawatiran dari dalam diri Sisi. Segera dia pangkas dengan berkata, "mungkin kamu bukan jodoh Hanif. Karena Allah menyimpannya untuk Kakak." Sontak wajah Sisi langsung memerah karena malu.
"Kakak kenal siapa Hanif!" Bola mata Sisi membulat sempurna.
"Serius, Kak?"
"Iya, dia adalah adik kelas Kakak pas di SMA dulu. Kebetulan juga, kita satu kost-an saat kuliah di Singapura dulu," jelas Ilham Sisi pun mengangguk.
__ADS_1
"Dia memang sedikit egois. Kakak gak nyangka, kalau sifatnya masih sama," lanjutnya lagi. "Tapi Kakak seneng pada akhirnya kamu memilih Kakak sebagai calon imam kamu." Wajah Sisi kembali memerah.
"Ya sudah, kita masuk kedalam, yuk! Gak baik kita di sini berdua lama-lama, takut menimbulkan fitnah," ajak Ilham, Sisi pun mengangguk patuh.
Mereka berdua kembali masuk ke ruang tamu, dan duduk di tempat duduk mereka yang semula. Ranum wajah mereka tidak setegang tadi, saat keluar. Kini, mereka sudah terlihat nyaman.
"Apa kalian sudah saling bicara?" tahta Pak Zakri pada keduanya.
"Sudah Paklek, untuk kapannya Paklek tanyakan langsung pada Sisi." Pandangan Pak Zakri beralih pada sosok manis yang terlihat anggun malam itu.
"Nak Sisi, apa sudah bisa memutuskan kapan kalian akan menikah?" Kemudian bertanya langsung pada gadis itu.
"Sudah Paman," jawab Sisi singkat.
Kini Sisi menjadi pusat perhatian dari mereka yang ada di ruangan itu.
"Kapan?"
"Sisi ingin dinikahi oleh Kak Ilham, besok!" Semua orang terperangah dengan jawaban Sisi. Terlebih Ilham, pria itu sampai melongo, tak percaya Sisi akan secepat ini minta di nikahi dirinya.
"Sayang, kamu bercanda, kan?" Faisal ikut bicara.
"Nggak Yah, Sisi ingin cepat di halalin oleh Kak Ilham. Sisi gak mau menundanya lagi. Sisi hanya ingin pernikahan sederhana antara penghulu, saksi, dan mas kawin terlebih dulu. Jika sudah sah secara agama, nanti nyusul surat menyuratnya, Yah!" jelas Sisi.
Semua orang pun mengangguk mengerti. Ranum kebahagiaan terpancar jelas dari wajah mereka.
"Nak Ilham, apa kamu sudah siap halalin putri saya besok?" Faisal beralih bertanya ke Ilham.
"Inshaa Allah Ilham siap, Dok!"
"Alhamdulillah."
To be continued
__ADS_1
Inshaa Allah siang up lagi...