Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku

Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku
Meminta pertolongan


__ADS_3

"Saya harus antar kamu kemana?" tanya Devan pada gadis itu. Gadis itu dia sejenak, dia tampak kebingungan menjawab pertanyaan Devan.


"Saya gak tahu harus kemana, saya gak punya tujuan. Saya kabur dari orang tua saya, karena mau di jodohkan dengan orang yang belum pernah saya lihat," terang gadis itu.


"Terus, saya harus antar kamu kemana?" Devan memukul-mukul stir mobil, karena kesal.


"Ya ampun mas, saya tuh gak tau mau kemana? kalau mas mau nolong saya jangan setengah-setengah dong! Carikan saya tempat tinggal gitu kek" cerocos gadis itu.


"Apa? gak Sudi saya. Apa perlu saya turunkan kamu disini?" ancam Devan.


"Ya ampun Mas, tega banget sih!" gerutu gadis itu.


"Ayo dong mas, bantu saya kali ini aja. Saya gak bakal lupa deh dengan bantuan Mas. Suatu saat saya akan balas deh kebaikan Mas," bujuk gadis itu lagi.


"Ya Tuhan, kenapa saya harus ketemu dengan orang aneh ini sih. Lain kali kalau kabur itu ada persiapan, biar gak ngrepotin orang gini." Devan semakin bingung, akan membawa kemana gadis itu.


"Yaelah Mas, kalau harus persiapan dulu bukan kabur namanya. Tapi liburan"


"Diam kamu!" bentak Devan membuat gadis itu terkejut.


Devan terus melajukan mobilnya, dia jadi tidak punya arah tujuan. Gara-gara gadis aneh itu, dia juga bingung harus mengantarnya kemana. Gak mungkin juga, akan membawanya ke rumah. Bisa-bisa disemprot habis dengan mamanya. Akhirnya Devan membawa gadis itu ke apartemennya. Disana, dirasa aman untuk tempat tinggal sementara gadis itu.


Di sebuah apartemen di pusat kota Jogjakarta, mobil Devan berhenti. Devan kemudian, menyuruh gadis itu turun.


"Ayo ikut dengan saya!" seru Devan pada gadis itu.


Devan dan gadis itu menuju apartemennya Devan. Dilantai sembilan belas dengan nomor dua kosong dua, itulah apartemen Devan berada. Mereka masuk, setelah Devan memasangkan card Id nya di pintu apartemennya.


"Sementara ini, kamu tinggal di sini, e..siapa namamu?" Devan menyuruh masuk gadis itu kedalam apartemen nya.


"Cahaya Mas, Mas nya sendiri siapa?" jawab Cahaya, lalu bertanya balik pada Devan.


"Saya Devan, ini cart Id nya, pin nya 211187." Devan memberikan id card apartemennya, dan menyebutkan pin nya.


"Saya pulang dulu, ingat jangan macam-macam kamu!" Devan meninggalkan Cahaya di dalam apartemennya.


"Tunggu Mas," sergah Cahaya.


"Apalagi?"


"Mas, saya gak bawa uang sepeserpun dari rumah. Jadi, mas bisa kan minjemin aku yang dulu," ucap Cahaya jujur. Devan mengeluarkan dompetnya dari saku celananya, dan mengambil beberapa lembar uang ratusan dari dalam dompetnya.


"Kamu tuh merepotkan saya saja." Devan memberikannya uang itu pada Cahaya. Kemudian Devan segera pergi dari apartemennya. Cahaya tersenyum lega, karena dia akan aman sementara di sana.

__ADS_1


Faisal dan Sisi sudah sampai di rumah, Mereka langsung menuju kamarnya masing-masing. Semenjak ditinggal bundanya meninggal, Sisi memang lebih mandiri. Tidur sudah tak harus di temani Faisal.


Di kamar, Faisal terus kepikiran tentang pertemuannya dengan Delia. Entah kenapa, Faisal yakin kalau Delia itu istrinya. Tapi Faisal bingung kenapa dia tidak ingat padanya dan Sisi.


Esok harinya, seperti biasanya, Faisal mengantar Sisi kesekolah. Karena Bilqis belum sembuh dari demamnya.


Usai mengantar Sisi, Faisal langsung ke rumah sakit. Dia akan bercerita dengan Dino, tentang Delia.


"Din, Lo sibuk gak?" tanya Faisal saat bertemu Dino di lobi rumah sakit.


"Belum tahu, kemarin kan gak berangkat. Ada apa emangnya."


"Gue mau cerita sesuatu sama Lo"


"Ya udah, sekarang aja kita ke kantin"


mereka berdua pergi ke kantin rumah sakit. Faisal dan Dino memesan kopi dan teh manis. Mereka tidak ada niat untuk makan disana.


"Gue ketemu orang yang mirip banget dengan Yulia."


"Uhuk..uhukk.. dimana?"


"Di mall, tapi anehnya dia tidak mengenali gue dan Sisi."


"Gue malah sempat ngantar dia balik.'


"Serius Lo Sal?"


"Masa iya gue bohong Din!"


"Terus, terus, Lo minta no hpnya gak Sa?"


"Jelas dong! tapi gue yakin, dia itu Yulia."


"Jangan yakin dulu, sapa tau cuma mirip doang."


"Gak, gak, semirip-miripnya orang gak kayak gitu juga kali. Cara dia ngomong, cara berpakaiannya, cara dia menatap gue itu sama persis dengan Yulia."


"Atau mungkin, Yulia punya saudara kembar?"


"Saudara kembar? tapi yang gue tahu, Yulia anak tunggal dari mertua gue."


"Ada baiknya, Lo tanyain lagi deh, ke mertua Lo."

__ADS_1


"Bener juga sih!"


Setelah menceritakan tentang Delia pada Dino, Faisal jadi ragu, apa mungkin itu kembaran Yulia. Mereka berdua kembali ke ruangan masing-masing untuk bekerja.


Rencananya Faisal akan menanyakan hal ini pada kedua mertuanya. Tapi Faisal sendiri masih ragu, yang dia tahu Yulia adalah anak tunggal dari mertuanya. Namun, Faisal akan mencoba menyakannya.


Pagi itu di sekolahan Sisi, semua anak berkumpul di halaman sekolah. Para orang tua yang sedang menunggu anaknya, berada dibawah pohon mangga, gak jauh dari para anak-anak.


"Sisi, kenapa Bundamu gak pernah nganterin kamu lagi? tanya salah satu teman Sisi.


"Sisi kan udah gak punya Bunda lagi, Bundanya udah meninggal," dijawab oleh teman lainnya.


"Terus siapa yang nganterin Sisi waktu itu?" sambung teman lainnya.


"Itu Bunda nya Bilqis, Sisi gak punya Bunda" ejek teman-temannya.


Sisi hanya diam, tak menanggapi omongan teman-temannya. Tiba-tiba salah seorang teman lainnya, mendorong Sisi hingga jatuh.


"Sisi gak punya Bunda, Sisi gak punya Bunda" sorak teman-teman Sisi.


"Huhuhu"


Melihat ada keributan, datang gurunya Sisi untuk melihat apa yang terjadi.


"Sisi kenapa nangis Nak?" Bu guru Sisi membantu Sisi untuk berdiri.


"Mereka mengatai Sisi gak punya Bunda, Bu!" jawab Sisi terisak.


"Ya ampun nak." Bu guru itu mengusap sisa air mata Sisi.


"Kalian gak boleh mengolok-olok Sisi seperti itu. Kasihan Sisi, bagaimana kalau kalian jadi Sisi, sedih nggak?" Bu guru itu menasehati anak-anak yang sudah meghina Sisi. Sisi masih gak mau melihat teman-temannya. Dia masih sedih, karena perkataan temannya.


"Ayo minta maaf sama Sisi, semuanya!" perintah Bu guru pada teman-teman Sisi.


Setelah keadaan mulai tenang, anak-anak masuk ke kelasnya. Sisi, masih enggan masuk ke kelasnya. Dia masih saja menangis diruang guru. Wali kelasnya, akhirnya menghubungi Faisal. Beliau memberitahu Faisal, tentang kejadian yang dialami Sisi. Faisal merasa sedih, tapi dia juga gak bisa meninggalkan pekerjaannya. Karena di rumah sakit, masih banyak Faisal yang berobat.


Faisal mencoba menghubungi Felisa, untuk menjemput Sisi. Namun sayang, Bilqis masih enggan ditinggal oleh Bundanya. Faisal akan menghubungi ibu mertuanya, tapi diurungkan niatnya. Karena jam segini, beliau sedang menjajakan dagangannya di pasar. Faisal bingung akan minta bantuan pada siapa. Faisal teringat sesuatu, dia menghubungi seseorang. Faisal menceritakan semuanya pada orang itu, dengan tak enak hati, Faisal meminta bantuan pada orang tersebut untuk menjemput Sisi disekolanya. Dan beruntungnya, dia mau membantu Faisal. Faisal lega, masalah Sisi sudah beres. Dia bisa bekerja lagi dengan tenang. Bagi Faisal Sisi memang segalanya, tapi dia juga tidak bisa seenaknya meninggalkan tugasnya.


To be continued


Semangat pagi buat semuanya.


Terimakasih untuk para readers yang sudah setia membaca novel "Suamiku tak pernah mencintaiku". Semoga kita semua selalu diberikan kesehatan, rezeki yang melimpah. Aamiin Allah Huma Aamiin.

__ADS_1


__ADS_2