
Dino langsung ikut bergabung dengan Faisal dan Iqbal. Melihat ada calon menantunya ada di rumah sahabatnya, lantas membuat pria yang memiliki lesung pipi itu bertanya pada Iqbal, "Bal, kok pagi-pagi udah ada di sini?" Di no mendaratkan tubuhnya di sofa, sebelah Iqbal.
Iqbal menatap kearah, Faisal. Meminta saran untuk jawaban dari pertanyaan calon mertuanya. Faisal mengangguk pelan, sebagai tanda kalau Iqbal harus berkata jujur pada Dino.
Iqbal mengatur nafasnya, sebelum dia membuka suara. Jujur, ada ketakutan tersendiri dalam diri pria itu. Takut kalau, calon mertuanya itu salah paham dengannya, sama halnya seperti Hanif yang langsung pergi meninggalkan tempat itu, sebelum mendengar semua ceritanya.
"Bal!" seru Dino, mengejutkan Iqbal.
"Din, ada masalah dengan anak-anak kita." Akhirnya Faisal yang mulai membuka suara.
"Masalah? Ada masalah apa?" cecar Dino bingung.
"Tapi sebelum Iqbal cerita, kamu harus mendengarkan sampai habis masalah ini," sahut Faisal yang tahu betul apa yang ada di dalam pikiran Dino. Mendengar ucapan Faisal, wajah Dino berubah menjadi serius. Laki-laki itu menatap lekat ke arah Iqbal. Sedangkan Iqbal sendiri, dia hanya menunduk.
"Ceritakan, apa masalahnya?" tanya Dino yang mulai fokus mendengarkan.
"Ceritakan sekarang, Nak Iqbal!"
Iqbal menceritakan kejadian itu pada Dino. Dari awal hingga akhir, tidak ada yang dia tutup-tutupi. Beda dengan reaksi Hanif, pria itu justru prihatin dengan kejadian yang menimpa Iqbal dan Sisi. Meski begitu, Dino juga merasa was-was kalau, putrinya sampai mendengar hal itu dari orang lain. Dino takut kalau Bilqis akan drop dan mengkhawatirkan keadaannya.
"Jadi, kalian hanya di beri waktu tiga hari untuk membuktikan hal itu?" tanya Dino di sela-sela cerita Iqbal.
__ADS_1
"Iya, Om." Dino seperti sedang berfikir dengan hal itu. Hari ini adalah hari Jumat, biasanya dokter yang ahli di bidang itu hanya setengah hari praktek. Dan Sabtu, minggu libur. Itu artinya, hari Senin mereka baru bisa melakukan cek perawan itu. Tapi biasanya, dokter tidak semudah itu mau melakukan pemeriksaan itu. Tanpa alasan yang jelas.
Meskipun rumah sakit itu yang bertanggung jawab adalah Faisal. Lantas bisa seenaknya melakukan pemeriksaan itu tanpa melewati prosedur yang ada. Sepertinya akan sulit. Jika hanya di beri waktu selama tiga hari. Dan itu yang sedang di bahas oleh mereka.
"Sulit," gumam Dino seraya memegangi dagunya.
"Benar, apa yang kamu katakan, Din! Kita harus cari cara lain, agar masalah ini bisa di selesaikan," timpal Faisal.
"Ada satu cara agar kalian bisa tepat waktu mendapatkan hasil test itu." Faisal menautkan kedua alisnya, dan bertanya pada Dino.
"Apa, Din."
Dino memberitahu cara itu pada Faisal dan Iqbal. Memang sedikit menyalahi aturan, tapi hanya itu jalan satu-satunya agar mereka terbebas dengan masalah itu. Faisal dan Iqbal pun setuju dengan rencana Dino. Setelah berdiskusi, mereka membubarkan diri.
"Aku bisa jelasin semuanya, kita perlu bicara!" Hening, tidak ada suara dari seberang. Yang terdengar hanya suara nafas pria itu yang berhembus ke udara.
"Sayang, aku mohon bicaralah. Kita perlu ketemu," salak Sisi, namun tak mendapat sahutan dari pria itu. Lelah, wanita itu lelah. Percuma juga bicara dengan seorang yang sedang emosi. Tidak akan ada gunanya. Akhirnya, Sisi mematikan teleponnya. Dan menaruh handphonenya lagi di atas meja. Sesaat kemudian Faisal dan Yulia masuk kedalam kamarnya.
"Sayang!!" Yulia langsung memeluk putrinya. Dari masalah yang menimpa hubungan Hanif dengan Sisi. Mungkin ini yang terberat bagi Sisi.
"Berikan dulu waktu pada Hanif. Apa kamu yakin akan melakukan tes itu sayang?" tanya Faisal. Mereka sekarang sudah duduk di ranjang.
__ADS_1
Sisi menoleh kearah Faisal, seraya berkata, "jika itu hanya cara agar membuktikan kalau Sisi gak salah. Inshaa Allah Sisi yakin." Dengan nada bicaranya, Sisi memang hanya mengandalkan tes itu agar dia terbebas dari pernikahan paksa dengan Iqbal.
Mendengar Sisi sudah yakin dengan keputusannya. Faisal hanya bisa memberi dukungan dan doa untuk buah hatinya.
Sesuai rencana dari Dino tadi, Faisal mengantar Sisi ke klinik yang di tunjuk oleh Dino untuk melakukan tes perawan itu. Tes itu tidak bisa dilakukan secara terang-terangan. Jadi mereka harus sembunyi-sembunyi melakukan tes itu. Dan hanya klinik itu yang bisa membantu mereka. Tentunya dengan bayaran yang tidak sedikit. Tapi itu tidak menjadi masalah dengan Faisal. Dan hasilnya tidak bisa langsung keluar. Paling tidak mereka harus menunggu beberapa hari, sampai hasilnya itu bisa keluar.
Di tempat yang berbeda. Hanif mengurungkan diri di kamarnya. Pria itu seperti sudah tidak punya daya lagi setelah mendengar penuturan warga di rumah Faisal, pagi tadi. Dia benar-benar tidak menyangka, kalau Sisi akan tega mengkhianatinya. Padahal kenyataannya tidak seperti itu. Kalau saja pria itu mau mendengar penjelasan dari Sisi dan Iqbal. Mungkin tidak akan seperti ini.
Saat calon istrinya menelpon pun, dia seperti sudah tidak ingin mendengar suara wanita itu. Yang ada di benaknya, kenapa harus membohongi dirinya. Kalau sejak awal Sisi tidak mencintainya, kenapa tidak jujur saja. Penilaiannya terhadap Sisi sekarang sudah berubah.
Dan bersamaan dengan itu, di rumah Dino. Pria yang baru saja keluar dari mobilnya itu, langsung masuk ke dalam rumahnya. Sama, perasaan Dino saat ini adalah harap-harap cemas. Karena dia menyembunyikan bom waktu dari anaknya, sewaktu-waktu akan meledak jika tidak di tangani dengan baik.
Dino berjalan menuju ke kamarnya, dan saat dia melintas di kamar Bilqis. Wanita itu sedang telponan dengan Iqbal. Dino bisa melihat kalau Bilqis benar-benar mencintai Iqbal. Wanita itu bahkan bisa tertawa lepas, saat mendengar candaan Iqbal.
Melihat hal itu, Dino menjadi tidak tega. Kalau kemungkinan terburuk masalah itu tidak bisa di selesaikan dan berakhir dengan pernikahan Sisi dan Iqbal. Akankah tawa ceria, putrinya seketika menghilang? Akankah semangat putrinya untuk sembuh dari penyakitnya akan sirna? Membayangkannya pun membuat Dino merasa sesak di dadanya. Apalagi jika itu sampai terjadi.
"Sayang, kamu udah pulang?" sapa Felisa saat mengetahui suaminya berdiri mematung di depan kamar putrinya.
"Iya sayang." Melihat ketegangan di wajah suaminya, membuat wanita berhijab ungu itu menaruh curiga.
"Sayang, apa ada masalah? Kok mukanya tegang gitu?" cecar Felisa, Dino menghembuskan nafasnya panjang. Mencari celah oksigen di dalam tubuhnya yang terasa sesak dengan masalah itu.
__ADS_1
"Kita bicara di kamar saja, ya sayang!" Felisa hanya mengangguk. Kemudian mereka melangkahkan kakinya menuju ke kamar. Tapi sesaat kemudian, Bilqis berteriak histeris.