
"Tolong!! Siapapun yang ada di luar, tolong saya!!!" Teriak Sisi, mengharap ada bantuan dari luar. Dia merasa ada yang mengerjainya, sehingga pintu kamar mandi bisa terkunci dari luar.
Disisi lain. Seorang pria yang sedang duduk di bangku, meja kerjanya sesekali melirik jam berbahan stainless di pergelangan tangannya. Raut wajahnya tampak Felisa menunggu kedatangan kekasihnya yang pamit ke toilet. Sudah hampir setengah jam kekasihnya itu pergi. Tapi tak kunjung kelihatan batang hidungnya. Padahal mereka sudah janjian untuk makan siang dan sholat Dzuhur bersama. Tapi sampai sekarang yang ditunggu belum juga datang.
Pria itu melirik ke meja kerja kekasihnya. Di sana dia bisa melihat handphone dan tas kekasihnya masih ada di meja. Menandakan wanita itu belum kembali dari toilet. Pria muda itu kemudian keluar untuk mencarinya. Beberapa perawat dia tanyai berharap mengetahui keberadaan kekasihnya. Semua orang yang ditanyai Hanif, tidak ada satupun yang tahu dimana Sisi berada.
Akhirnya pria itu menyusul ke toilet cewek. Tapi saat dia menuju kesana, seorang perawat yang dari arah berlawanan bertanya padanya.
"Maaf Dok, dokter mau kemana?" tanya perawat itu pada pria yang berwajah tampan itu.
"Saya mau mencari dokter Sisi di toilet. Dari tadi, dia belum kembali dari sana," jelas Hanif pada perawat itu.
"Tapi toilet khusus wanita sedang rusak. Sedang dalam perbaikan. Saya baru dari sana," sahut perawat itu memberi tahu Hanif.
"Oh begitu. Ya sudah, terimakasih ya atas infonya!" Balas Hanif kemudian membalikkan badannya untuk kembali keruangannya. Tapi perasaannya sedikit aneh, firasatnya mengatakan dia harus tetap ke toilet itu. Tapi mengingat jam istirahat sudah hampir habis, akhirnya Hanif memutuskan ke mushola rumah sakit untuk sholat terlebih dulu.
Tersungging senyum terpancar dari bibir perawat itu. Karena merasa rencananya telah berhasil. Yaitu menggalakan dokter tampan itu menuju ke toilet.
Usai sholat Dzuhur, Hanif pergi ke cafe untuk membeli beberapa makanan yang bisa dibawa keruangannya. Karena dia tidak sempat, kalau makan siang di cafe itu. Dia membeli dua porsi mi goreng dan es teh manis. Sengaja dia membeli dua porsi. Berharap setelah kembali keruangannya nanti Sisi sudah ada di sana.
Setelah membayar makanannya di cafe. Hanif segera menuju keruangannya. Saat akan masuk kedalam, Veronika menyapanya. "Dokter Hanif darimana?"
"Eh, ini dari cafe. Kalau begitu saya permisi dulu, ya!" Hanif langsung masuk kedalam. Dia tidak mau terkena masalah jika kekasihnya tahu dia ngobrol dengan wanita itu. Saat sudah ada di dalam, tatapan Hanif tertuju ke meja kerja kekasihnya. Meja itu masih kosong, berarti Sisi belum kembali. Hanif tampak berfikir. Kemana perginya Sisi, sampai jam segini belum kembali juga.
Namun tuntutan pekerjaan, sehingga dia menyampingkan pikirannya. Dia melakukan pekerjaannya, yaitu memeriksa rutin pasien-pasiennya. Walau dia sedang bekerja, tapi pikirannya tertuju pada wanita yang sekarang menjadi tunangannya. Hingga, dia tidak sengaja menjatuhkan nampan berisi obat-obatan yang dibawa perawat.
"Kamu gak apa?" ucapannya tak enak pada perawat itu.
__ADS_1
"Nggak Dok. Saya tidak apa." Setelah memastikan keadaan perawat itu baik-baik saja. Hanif pergi keluar dari ruangan itu. Pikirannya kacau. Tidak bisa konsentrasi. Meski begitu dia tetap melanjutkan pekerjaannya hingga jam pulang kantor tiba.
Hanif masih duduk di bangku meja kerjanya. Menatap bingung kearah meja kerja kekasihnya. "Dimana kamu Sayang?" Hingga sebuah ketukan pintu memekakkan telinganya. Hanif segera membuka pintu itu.
"Dokter Hanif, Dokter Sisi pingsan di toilet wanita." Seorang pria yang memakai seragam office boy memberitahu keberadaan kekasihnya.
Sisi yang terus menerus mencoba meminta pertolongan pada siapapun yang ada disana, pun tidak sanggup lagi. Karena udara di kamar mandi itu terbatas membuat dokter berparas cantik itu pingsan. Beruntung ada office boy, yang akan membersihkan toilet itu. Samar-samar dia mendengar teriakkan Sisi, hingga membuat office boy itu penasaran. Ternyata, toilet itu tidak ada kerusakan apa-apa. Setelah dia membuka pintu utama toilet itu. Setelah terbuka dia memeriksa satu persatu toilet yang ada disana. Hingga dia menemukan dokter cantik itu pingsan di salah satu toilet itu. Segera dia membawa dokter itu ke UGD. Dengan cepat langsung ditolong oleh dokter yang sedang bertugas. Setelah itu office boy itu memanggil Hanif untuk memberitahu keadaan Sisi.
Hanif bergegas ke ruang UGD. Setelah sampai diruangan itu, dia langsung masuk kedalam. Kebetulan yang bertugas menangani kekasihnya adalah dokter Farah. Dia langsung menetapkan keadaan kekasihnya pada dokter muda yang baru selesai memeriksa pasiennya.
"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya Hanif dengan nada khawatir.
"Dia tidak apa. Hanya kekurangan udara segar. Sehingga kesulitan dalam bernafas. Beruntung pria itu menemukannya tepat waktu," jelas dokter Farah tersenyum ramah kearah Hanif.
"Syukurlah kalau begitu. Saya sangat khawatir."
Hanif pun langsung mendekat kearah kekasihnya itu. Diusap-usapnya tangan wanita yang terbaring lemas itu. Berharap wanita itu bisa segera sadar. Dan benar saja. Perlahan wanita itu membuka matanya. Pandangannya tertuju pada langit-langit ruangan itu. Setelah sadar, pandangan wanita itu tertuju pada pria yang disampingnya.
"Sayang, kamu sudah sadar. Sekarang ceritakan padaku. Kenapa kamu bisa terkunci di toilet itu?" Hanif sudah tidak sabar ingin mengetahui kejadian yang sebenarnya.
Sisi tampak mengingat-ingat kejadian yang menimpa dirinya. Setelah itu dia mulai bercerita pada Hanif kalau ada orang yang sengaja menguncinya di toilet itu. Hanif menjadi tercengang mendengar cerita Sisi.
"Waktu kamu disana, apakah ada orang yang menurut kamu mencurigakan?" tanya Hanif penasaran.
"Ada."
"Siapa?"
__ADS_1
"Veronica." Mata Hanif langsung terbelalak mendengar ucapan kekasihnya.
"Veronica?" Sisi pun mengangguk yakin.
"Kamu yakin, Sayang?" Terlihat ada keraguan dari wajah Hanif.
"Kamu nggak percaya sama aku. Kamu gak percaya, kalau dia yang melakukannya." Sisi pun merajuk karena Hanif tidak percaya padanya.
"Bukan begitu Sayang. Apa alibinya dia menyelakai kamu?"
"Pake nanya. Dia itu suka sama kamu? Udah ah. Aku mau pulang aja." Sisi beranjak dari tempat tidurnya, tapi ditahan oleh Hanif.
"Kamu udah kuat?"
"Udah." Hanif kemudian memberi memapah Sisi samping ke mobilnya. Setelah itu dia tinggalkan Sisi disana untuk mengambil barang-barangnya dan barang-barang Sisi. Setelah mengambilnya dia kembali lagi menuju parkiran. Tapi langkahnya terhenti saat ada suara orang yang sedang berdiri tak jauh dari ruangannya.
"Jadi office boy itu udah nemuin cewek sialan itu," umpatnya wanita berambut ikal itu.
"I-ya. Dokter Sisi lolos dari toilet."
"Brengsek. Lihat aja nanti. Saya akan lakukan yang lebih parah lagi dari ini." Mendengar percakapan dua orang wanita itu Hanif pun langsung mendekat.
"Jadi benar kalian yang celakai Sisi. Benar-benar keterlaluan kalian!" Teriaknya membuat dua wanita itu menoleh kearah Hanif. Begitu tahu siapa yang berbicara, Veronika langsung menutup mulutnya yang melingkar karena terkejut.
"Kenapa kalian tega lakuin itu pada Sisi?" Pertanyaan Hanif pun tidak dijawab oleh keduanya.
"Saya akan laporkan ini kepada dokter Faisal!!"
__ADS_1
To be continued