
Setelah mendapat telpon dari Faisal, Delia bergegas ke sekolahan Sisi. Faisal mengirim alamatnya lewat via WA. Mendengar masalah Sisi dari Faisal, membuat Delia ikut bersedih. Entah kenapa rasanya batinnya tak terima, jika Sisi di ejek teman-temannya.
Dengan menaiki taksi online, Delia sampai di Sekolahan Sisi. Delia berjalan mencari ruangan guru, untuk menemui Sisi. Semua mata yang melihatnya, menjadi bengong. Yang mereka tahu, Bundanya Sisi sudah meninggal. Saat melihat Delia mereka menjadi terbelalak. Delia sampai juga, di ruang guru. Di dalam sana, tampak Sisi yang masih merengek, menangis. Sedangkan wali kelasnya terus membujuk, agar Sisi diam.
"Assalamualaikum" sala Delia, membuat Bu Mery menengok ke sumber suara. Beliau juga terkejut, saat melihat Delia diambang pintu.
"Waalaikumussalam, Bu Yulia" jawab Bu Merly menyebut Delia dengan Yulia.
" Bunda...huhuhu" Sisi berlari langsung memeluk Delia.
"Iya sayang, kamu jangan sedih lagi ya Nak! ada Bunda di disini" Delia membalas pelukan Sisi.
"Bu Yulia, anda" Bu Merly tidak melanjutkan kata-katanya. Dia juga bingung, harus berkata apa.
"Maaf Bu, nama saya Delia," jelas Delia tersenyum ramah ke arah Bu Merly.
Bu Merly menjelaskan kejadian keributan Sisi dan teman-temannya tadi dihalaman Sekolah. Beliau juga meminta maaf, mewakili anak-anak muridnya. Delia bisa mengerti dengan yang terjadi pada Sisi. Delia juga meminta izin, untuk mengajak Sisi pulang. Berharap Sisi bisa menenangkan diri dulu, Delia juga berjanji akan memberi pengertian pada Sisi.
Setelah mendapatkan izin dari Bu Merly, Delia mengantar pulang Sisi. Di sepanjang jalan, Sisi tak mau lepas dari pelukan Delia. Kasih sayang yang Delia berikan juga tulus, dia seperti melihat anaknya sendiri. Ada ikatan batin tersendiri, dari dalam diri Delia.
Saat sudah sampai rumah, Sisi dan Delia masuk ke dalam. Delia melihat foto keluarga yang terpampang di ruang tamu. Dia serasa melihat dirinya sendiri. Tiba-tiba kepalanya sedikit sakit, ada sebuah memori yang sepertinya dia lewati.
"Bunda kenapa?" tanya Sisi menatap bingung Delia yang memegangi kepalanya.
"Kepala bunda sakit" jawabnya sambil terus memegangi kepalanya.
"Bi... Imah, tolong ambilkan Bunda minum" teriak Sisi memanggil bi Imah.
Dengan membawa segelas air putih, bi Imah pergi keruang tamu. Dia begitu kaget saat melihat Delia, yang sama persis dengan mendiang istri majikannya.
"Ibu Bu" bik Imah lalu memberikan segelas air putih itu pada Delia. Dengan cepat, Delia meminum habis minumannya.
__ADS_1
"Bunda, apa masih sakit, kepalanya?" Sisi memegangi dahi Delia. Anak kecil itu seakan memeriksa Delia.
"Udah mendingan kok, sayang. Sisi, apa itu Bundanya Sisi?" Delia menunjuk foto keluarga yang menempel di dinding.
"Iya, itu kan Bunda. Apa Bunda gak ingat," jawab Sisi dengan polos, Delia hanya tersenyum.
Sisi membawa Delia kesemua ruangan rumah Faisal. Dari mulai kamar Faisal, ruang keluarga, kamar Sisi, ruang kerja Faisal, dan yang terakhir di dapur. Delia jadi mengerti, kenapa Faisal dan Sisi menganggap dia adalah istri dan bundanya. Karena memang sangat mirip sekali dengannya. Sisi juga bercerita, kalau bundanya sangat suka memasak. Apalagi kalau buat kue kesukaan Ayahnya.
Sisi meminta Delia untuk di buatkan banana cake, kesukaan Faisal. Delia dengan senang hati menerimanya. Kini Sisi dan Delia sedang ada di dapur untuk membuat banana cake, seperti yang diminta Sisi. Dengan lihainya, Delia bisa cepat menyelesaikan tugasnya. Satu loyang, banana cake sudah tertata rapi di piring.
Sisi dengan tak sabar ingin segera mencicipi nya. Sepotong banana cake, di makan oleh Sisi. "Bunda... ini enak banget, sama kaya waktu Bunda dulu buat," puji Sisi mengacungkan jempolnya.
"Alhamdulillah, kalau Sisi suka." Delia ikut mencicipi kue buatannya.
Di apartemen Devan
Cahaya baru bangun dari tidurnya, dilihatnya jam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Dia beranjak dari tempat tidurnya, untuk mandi. Usai membersihkan diri, perut cahaya sangat lapar. Dari kemarin dia tidak makan, akhirnya dia turun ke bawah untuk mencari makanan. Saat di lobi apartemen, dia melihat Devan yang baru saja turun dari mobilnya. Segera Cahaya menghampirinya
"Ngapain kamu kesini?" tanya Devan sinis.
"Ya ampun Mas, yang harusnya tanya tuh Cahaya, kenapa Mas Devan ada disini?" Cahaya balik bertanya pada Devan.
"Atau jangan-jangan Mas Devan kangen ya dengan Cahaya," imbuh cahaya cengengesan.
"Cuih... gak Sudi gue kangen dengan cewek arukan kayak kamu..." Devan memalingkan wajahnya dari Cahaya.
"Masa...!"
"Saya kesini karena ada urusan dengan clien di sekitar sini. Kebetulan saya mampir" jelas Devan mulai meninggalkan Cahaya.
"Mas Devan! tunggu dong, kejam banget sih ninggalin gadis manis kaya Cahaya." Cahaya berlari kecil mengejar Devan, Devan tidak peduli dengan Cahaya yang kesulitan mengejar dia.
__ADS_1
Mereka akhirnya makan bersama, entah makan siang atau sarapan. Cahaya berhasil membujuk Devan untuk menemani nya makan. Mereka makan di cafe dekat apartemen Devan.
Sejujurnya Devan memang mengkhawatirkan Cahaya. Apalagi mendengar ceritanya semalam, dia tidak tega membiarkan Cahaya tanpa pengawasannya. Devan kebetulan ada meeting dengan klien di hotel sebrang apartemen nya. Jadi dia memutuskan untuk sekedar menengok keadaan Cahaya. Orang tua Devan juga tidak pernah tahu, kalau Devan mempunyai apartemen disana. Jadi, dia tidak khawatir, jika orang tuanya akan tahu, kalau dia sedang menyembunyikan seorang wanita.
Sore itu Delia pamit pulang pada Sisi, sebelum Faisal pulang. Dia tak enak, jika berada di rumah dengan pria yang baru dia kenal. Akhirnya, dia memutuskan untuk segera pulang. Awalnya Sisi tidak membolehkan Delia pulang. Karena janjinya pada Sisi, besok akan kerumahnya lagi. Sisi pun mengizinkan Delia pulang. Kini Sisi dirumah hanya tinggal berdua dengan baik Imah.
Saat jam pulang kerja tiba, Faisal berniat akan ke rumah mertuanya. Tapi setelah mendapatkan pesan dari Delia, kalau dia sudah pulang. Diurungkannya niatnya ke rumah mertuanya. Faisal langsung pulang ke rumah. Sisi yang sudah menunggu Faisal di teras bersama bisa Imah. Sesekali melihat kearah jalan, dia sudah tak sabar melihat ayahnya pulang. Sisi akan menunjukkan cake buatannya dan Delia.
Mobil Faisal sudah mulai terlihat, bisa Imah langsung berlari membukakan pintu gerbangnya. Sisi berlompat kegirangan, saat Faisal sudah turun dari mobilnya.
"Ayah.....ye udah pulang" teriak Sisi memeluk Ayahnya.
"Hmmm gimana kabar anak Ayah." Faisal langsung menggendong Sisi dan berjalan masuk ke dalam rumah.
Sisi menceritakan kegiatannya dengan Delia dirumah. Faisal merasa senang, karena Delia mau menemani Sisi di rumah. Faisal tak lantas mandi, dia duduk di ruang tv bersama Sisi. Bi Imah membawa nampan berisi teh hangat dan beberapa potong banana cake buatan Delia.
"Ayah, Ayah.. ini tuh buatan Bunda, enak banget kayak yang Bunda bikin waktu itu.." Sisi menyuapkan sepotong banana cake kedalam mulut Faisal.
Saat sudah mencicipi banana cake dari Sisi, Faisal merasakan rasa dari cake itu, sama persis dengan buatan istrinya.
To be continued..
Hai-hai buat para readers disini
author punya novel baru Lo...
Novel ini tuh, udah sempet rillis di NT, terus udah aku bawa juga ke Nome. Tapi ujung-ujungnya, aku rilis lagi ke sini.
Buat yang suka grazy up, nah rekomendasi novel terbaru ku. Dua episode langsung aku bikin grazy up.. ayo cus langsung klik aja profil author. Nanti disitu bisa di temukan ya..
Terimakasih 😘😘😘😘
__ADS_1