Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku

Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku
Mereka juga saling cinta


__ADS_3

"Iqbal?" Bilqis mengulang kata-kata Sisi. Sisi pun mengangguk.


"Kakak becanda ya. Mana mungkin dia suka denganku. Kita kan sahabat Kak." Bilqis tidak percaya dengan pernyataan Sisi mengenai Iqbal.


"Dek, dia suka sama kamu sudah lama banget. Ingat gak, waktuku kamu hampir tenggelam di danau buatan itu. Dia bahkan sampai kebingungan karena kamu gak sadar-sadar," jelas Sisi yang menceritakan perasaan Iqbal. Bilqis pun diam sejenak, pikirannya menerawang mengingat kejadian waktu dia di selamatkan oleh laki-laki yang sedang mereka bicarakan, saat dia hampir tenggelam.


"Dia tulus mencintai mu Dek. Bahkan dia tidak berani mengutarakan perasaannya padamu. Karena takut kamu akan marah padanya. Dia tidak sanggup, jika kamu membencinya. Dan memilih menyimpan perasaan untukmu," lanjut Sisi memegang kedua pundak sahabatnya itu.


Disela obrolan mereka Felisa datang membawa minuman dan beberapa makanan untuk tamu dan putrinya. Sekilas dia mendengar obrolan mereka. Sepertinya dia harus menyekinkan putrinya mengenai pria yang mencintai putrinya itu.


"Bener apa yang di sampaikan kakak mu, sayang." Wanita yang memakai jilbab warna marun itu meletakkan nampannya diatas meja. Setelah itu ikut gabung dengan putri dan tamunya.


"Bunda kok tahu?" tanya wanita yang terlihat pucat itu.


"Sayang, tidak sadarkah kamu. Saat dia begitu perhatiannya padamu. Saat dia khawatir dengan keadaanmu. Bukankah dia yang selalu ada saat kamu mengalami kesulitan. Apa itu masih kurang jelas untuk membuktikan, kalau laki-laki itu begitu tulus mencintaimu." Felisa menatap wajah putrinya dengan penuh keyakinan.


Dia akan berusaha membuat putrinya melupakan Hanif. Karena laki-laki yang menyandang gelar dokter itu. Tidak mencintainya. Laki-laki itu hanya prihatin dan memberi semangat untuk putrinya. Dia tidak mau putrinya salah menilai seseorang. Orang yang benar-benar tulus mencintai nya saja, tidak bisa ia lihat dengan jelas.


Felisa juga tidak mau kalau sampai Hanif menjalin hubungan dengan putrinya atas dasar kasihan. Bukan atas dasar saling mencintai. Dia tidak mau anak yang selama 22 tahun ia rawat salah memilih pria untuk dijadikan sebagai teman hidupnya. Dia tidak mau nasib putrinya akan sama dengan sahabatnya dulu. Dia tidak akan sanggup melihatnya.


Bilqis tampak berfikir sejenak dengan apa yang disampaikan oleh sahabat dan bundanya. Memang benar, kalau dipikir-pikir. Iqbal lah yang selalu ada saat dia membutuhkan. Tanpa terasa, buliran air bening keluar dari kelopak matanya. Betapa bodohnya dia selama ini. Menyia-nyiakan orang yang tulus mencintainya.


"Bun, tolong pertemukan Bilqis dengan Iqbal." Wanita yang memakai dress sebatas lutut itu kemudian menatap yakin Bundanya untuk mempertemukan dengan pria yang selama ini Mencintainya.


"Kamu benar sayang, mau ketemu Iqbal sekarang?" tanya Felisa pada putrinya, dan dijawab anggukan oleh putrinya. Sisi pun ikut bahagia mendengarnya. Akhirnya sahabatnya itu menemukan cinta sejatinya. Yang paling penting masalahnya kini sudah teratasi.

__ADS_1


Felisa kemudian menelpon Iqbal untuk datang kerumahnya. Mungkin putrinya ingin bertanya langsung dengan pria itu. Untuk lebih menyakinkan lagi hatinya. Sisi pun pamit pada sahabatnya. Mengingat hari sudah semakin sore.


"Makasih ya Kak. Kakak sudah menceritakan semuanya pada Bilqis!" ujar Bilqis memeluk erat sahabat sekaligus kakak baginya.


"Kamu berhak bahagia Dek. Kebahagiaan kamu ada bersama Iqbal. Kamu yang kuat ya! Dalam melawan penyakitmu," balas Sisi kemudian melepas tubuhnya dari pelukan sahabatnya itu.


"Kakak pamit dulu, assalamualaikum!" Sisi pun langsung keluar dari kamar Bilqis untuk segera pulang ke rumah.


Di dalam perjalanan, dia menelpon kekasihnya. Mengabarkan kalau masalahnya sudah selesai. Dia sangat bahagia, karena bisa menyelesaikan masalahnya tanpa harus menyakiti sahabatnya. "Assalamualaikum," sapanya pada orang yang diseberang sana.


"Nanti malam ke rumah ya, aku mau kasih kejutan untukmu. Assalamualaikum." Setelah mengutarakan niatnya pada Hanif, wanita yang masih memakai jas dokter nya itu menutup telponnya. Tampak jelas wajahnya begitu berbinar.


Sekitar pukul 19.30, sebuah mobil MPV memasuki gerbang rumah bercat putih. Tampak seorang pria yang memakai kaos dengan kerah dilehernya turun dari mobil itu. Seulas senyum terpancar dari bibir pria itu. Di langkahkan kakinya menuju pintu utama. Seorang pria paruh baya dan wanita berjilbab peach menyambut kedatangan pria muda itu.


"Waalaikumussalam, masuk nak Iqbal!" balas Dino meminta tamunya untuk masuk kedalam.


Mereka bertiga masuk menuju ruang tamu. Iqbal pun duduk, ditemani oleh pemilik rumah. Sementara Felisa, dia kedapur untuk mengambil minum dan memanggil putrinya.


"Sayang, Iqbal sudah datang. Temui dia dulu sana!" Felisa memberi tahu putrinya kalau pria yang ditunggunya sudah ada di depan.


"Bun, kok Bilqis jadi deg-degan gini ya." Felisa pun tersenyum mendengar ucapan putrinya itu. Bilqis langsung cemberut.


"Itu tandanya kamu juga punya perasaan sama Iqbal," jawab Felisa memberikan nampan berisi minuman untuk di berikan kepada tamunya.


Dengan kegugupannya, Bilqis pun menuju ruang tamu dengan nampan ditangannya. Melihat putrinya sudah datang, Dino pun berdiri dan pamit pada tamunya untuk masuk ke dalam. Setelah meletakkan minumannya di meja, Bilqis pun mempersilahkan Iqbal untuk meminumnya.

__ADS_1


"Diminum tehnya, Bal." Iqbal bisa melihat dengan jelas kalau wanita disampingnya itu terlihat gugup.


"Kamu kenapa Qis, kok pucat gitu. Masih sakit? Kalau sakit kenapa dipaksakan keluar?" cecar Iqbal panik. Bilqis pun. Berusaha menetralkan perasaannya agar tidak terlihat gugup dihadapan Iqbal.


"Ada yang ingin aku tanyakan ke kamu." Bilqis menjeda kata-katanya. "Apa kamu suka sama aku?" Sekarang Iqbal yang terlihat salah tingkah setelah mendengar pertanyaan dari Bilqis.


"Aku..aku.."


"Jawab Bal, kamu harus jawab yang sejujurnya." Iqbal menarik nafasnya panjang.


"Kamu gak marah kan?" tanya Iqbal balik. Bilqis pun menggeleng. "Bener?" Lanjutnya.


"Nggak Muhammad Iqbal Alfahri." Iqbal pun tersenyum lebar. Dia memegang kedua tangan Bilqis. Setelah itu, mencoba untuk menenangkan hatinya dulu. Setelah itu baru dia membuka suara.


"Aku mencintaimu Bilqis Humaira. Sangat-sangat Mencintaimu." Mendengar pernyataan cinta dari pria dihadapannya. Membuat Bilqis tersipu malu. Benar yang dikatakan bunda dan sahabatnya tadi.


"Sejak kapan?" Iqbal pun mengingat-ingatnya.


"Sejak pertama kali aku bertemu denganmu," jawabnya kemudian tertunduk.


"Selamat itu?" Iqbal mengangguk.


"Aku mendekatimu bukan untuk jadi sahabatmu. Tapi ingin memacari kamu. Tapi kamu selalu bilang, kita sahabat. Dari situ aku tidak pernah mengatakannya padamu. Aku takut kamu akan membenciku." Entah sejak kapan mereka berpelukan. Mungkin kata-kata romantis yang membuat keduanya terbawa suasana.


Orang tua Bilqis yang mengintip putrinya dari balik gorden, ikut senang mendengar mereka sudah menjalin hubungan. Bilqis pun sekarang sadar, kalau perasaannya pada dokter Hanif bukan perasaan cinta. Tapi perasaan kagum pada dokter muda itu. Ternyata selama ini, Bilqis pun punya perasaan yang sama dengan Iqbal. Hanya saja, dia tidak menyadarinya. Atau mungkin tertutup dengan prinsip yang mereka buat.

__ADS_1


__ADS_2