Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku

Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku
Atika fhitriya tsabitsa


__ADS_3

mempercepat pernikahannya dengan Alira. Dia tak ingin kejadian itu terulang lagi. Berjarak dua Minggu usai lamarannya itu, dia memutuskan untuk segera menikahi wanita pujaannya itu.


Tepat hari ini, hari yang di tunggu oleh dua insan saling mencinta itu mengikrarkan janji suci mereka di depan penghulu dan saksi. Dan acara ijab qobul nya berjalan dengan lancar.


Malam harinya di adakan tasyakuran untuk pernikahan mereka. Tak banyak tamu yang di undang oleh kedua belah pihak. Hanya keluarga terdekat dan sahabat-sahabat dari keduanya.


Namun ada yang mengejutkan di acara tersebut, Sisi dengan di temani oleh suaminya menghadiri acara itu. Kebetulan mereka di undang, oleh Hanif.


Tak sengaja beberapa waktu lalu, Hanif bertemu dengan mereka berdua. Dan di sanalah permusuhan antara mereka melebur. Hanif secara terang-terangan meminta maaf pada mereka. Terlebih pada Sisi.


'maafkan aku yang sudah egois, ingin merusak kebahagiaan mu. Dan ternyata benar, kebahagiaan mu bukanlah bersama ku, tapi Ilham lah orang yang bisa membuatmu bahagia.'


Seperti itulah kata-kata terakhir dari pertemuan mereka. Setelah itu tak ada lagi kebencian diantara mereka. Mereka berjanji akan saling menjaga persahabatan mereka. Dan melupakan masa lalu, kini yang ada ada adalah kebahagiaan yang dimiliki mereka masing-masing. Hanif dengan Alira, Ilham dengan Sisi.


Di acara tersebut, beberapa petuah di sampaikan oleh ustadz yang mengisi pengajian itu. Salah satunya menjaga keutuhan rumah tangga itu seperti apa.


Tanamkan kepercayaan dalam rumah tangga kita. Itu pondasi utama, agar cinta mereka tidak bisa di goyahkan. Dan yang paling utama, niatkan menikah itu untuk ibadah bukan karena yang lain. Inshaa Allah berkah menyusulnya.


Kita harus bisa menutupi aib dari pasangan kita. Termasuk pada orang tua kita. Jika ada masalah, jangan libatkan pihak ketiga untuk menyelesaikannya. Jika, tidak ada jalan keluarnya. Adukan semua masalah kita pada Allah. Karena Allah lah maha membolak-balikkan hati manusia. Yang keras bisa melunak apalagi yang lembut. Intinya jangan ceritakan masalah rumah tangga kita pada orang lain.


Seperti itulah salah satunya petuah yang di sampaikan oleh pak ustadz. Tentunya itu sangat berguna untuk mereka.


Kini tiba di acara jamuan. Setelah mendengar ceramah dari pak ustadz, dan doa bersama semua para tamu undangan menikmati hidangan yang sudah di siapkan oleh pemilik hajat.


Dengan perut yang membuncit Sisi berjalan kearah kedua mempelai dengan di bantu oleh suaminya. Dia ingin menyerahkan bingkisan, untuk pasangan pengantin baru itu.


"Selamat, ya! Samawa selalu..." ucap Sisi menyalami Alira, dan Ilham menyalami Hanif.


"Makasih, ya kalian udah mau datang," balas Hanif tersenyum bersahabat pada keduanya.


"Wah udah waktunya lahiran, ya. Udah berapa bulan? tanya Alira menatap perut Sisi.


"Tinggal nunggu hari," jawab Sisi. "Semoga kalian cepat nyusul, ya?" lanjutnya, seketika wajah Alira berubah menjadi sendu.


"Sayang," sarkas Hanif menggeleng. Dia tahu, Akira pasti sedih mendengarnya.


Menyadari itu, Sisi pun meminta maaf sudah membuat Alira bersedih.

__ADS_1


"Maaf, ya." Alira mengangguk.


"Jangan takut, yakinlah Allah maha baik. Dia akan mengabulkan doa hambanya yang mau berusaha dan berdoa. Intinya Nif, kamu harus sering-sering..." goda Ilham menyenggol lengan sahabatnya itu, seketika wajah Alira memerah. Dan kecanggungan diantara mereka sudah tak terlihat lagi.


Sesekali Ilham menggoda pasangan pengantin baru itu. Hingga mereka tergelak. Tapi, saat Ilham pamit pada Hanif dan Alira, Sisi mengaduh.


"Aughhh sakit..." erangnya memegangi perutnya. Sontak membuat Ilham terlihat panik, segera ia merengkuh tubuh istrinya.


"Kamu kenapa sayang?" tanyanya ikut memegangi perut Sisi.


Hanif dan Alira pun ikut panik, mereka juga mendekat. Bu Tari dan Bu Yuni, segera menghampiri Sisi yang meringis kesakitan.


"Perutku sakit, Kak!!!" keluh Sisi mencengkram lengan suaminya, menahan rasa sakitnya.


"Mungkin, mau melahirkan Nak Sisinya," timpal Bu Tari ikut panik.


"Ham, cepat bawa Sisi ke rumah sakit!" titah Hanif tak tega melihat wajah Sisi yang sudah memerah.


Ilham segera membopong tubuh istrinya dan membawanya kedalam mobilnya dengan di bantu oleh Hanif, membukakan pintu mobilnya.


Setelah masuk kedalam. Ilham segera menyusul.


"Sakit...sakit....huhuhu!"


"Sabar ya sayang. Sebentar lagi kita sampai," ucap Ilham mencoba menenangkan istrinya.


"Si, tarik nafas hembuskan. Inshaa Allah bisa sedikit mengurangi rasa sakitnya," saran Bu Tari pada Sisi. Segera di praktekkan oleh wanita itu.


Wajah Sisi memucat diiringi keringat dingin yang mulai muncul dari wajahnya. Rasa sakit yang begitu hebatnya, ia rasakan saat itu.


"Sisi pengen pipis, Bun," ucapnya dengan meringis. Tak berapa lama, sebuah cairan merembes dari area intimnya.


"Air ketubannya sudah mulai pecah', ayo Nak Ilham cepetan!" ujar Bu Tari panik, dan Sisi terlihat tak sadarkan diri.


Mereka sampai juga di rumah sakit sejahtera. Mobil Ilham berhenti tepat di lobi rumah sakit itu, tak berapa lama dia turun memanggil perawat untuk membawakan brankar dorong padanya.


Beberapa perawat berlari menuju kearah mobil Ilham, dan dengan sigap membantu mengeluarkan tubuh Sisi dari dalam mobil untuk di letakkan di brankar dorong, setelah itu perawat itu membawanya keruang bersalin. Diikuti oleh Bu Tari di belakangnya.

__ADS_1


Sementara Ilham, dia terlebih dulu memarkirkan mobilnya. Setelah itu menghubungi mertuanya, memberitahu kalau Sisi akan melahirkan. Lalu menyusul Bu Tari ke ruang bersalin.


"Bu, bagaimana istri saya?" tanya Ilham khawatir pada Bu Tari yang menunggunya di luar.


"Dokter belum keluar, Nak. Tapi, jika melihat kondisi Nak Sisi yang sudah tak sadarkan diri, sepertinya ceacar deh!"


Ilham mengelap mukanya kasar, dia berjalan mondar-mandir untuk menghilangkan kegelisahannya. Seraya berdoa memohon keselamatan untuk istrinya.


Tak lama setelah itu, dokter Monica keluar dari dalam dengan dua orang perawatnya, segera Ilham menghampiri dokter itu.


Sebelum Ilham bertanya, dokter Monica terlebih dulu membuka suara. "Dokter Sisi harus menjalani operasi Caesar. Mengingat kondisinya yang sudah lemah," terang dokter tersebut pada Ilham.


"Lakukan yang terbaik untuk istri saya, Dok!"


Setelah menandatangani berkasnya, dokter Monika dan teamnya melakukan tindakan operasi pada Sisi.


Ilham dan Bu Tari yang menunggunya di luar, ikut deg-degan hingga suara bayi menangis terdengar di sana.


"Alhamdulillah, anak saya sudah lahir!"


Bersamaan dengan itu Faisal dan Yulia datang, segera mereka bertanya pada menantunya kondisi putrinya saat ini.


"Alhamdulillah." Seperti itulah yang di ucapkan keduanya setelah mendengar cucunya sudah lahir.


Tak berapa lama, dokter Monica keluar dari ruang operasi. Memberitahu pada keluarga Sisi, kalau wanita itu melahirkan bayi perempuan yang sangat cantik. Dan meminta Ilham untuk mengadzani bayinya setelah selesai di bersihkan.


Sisi juga sudah di pindahkan di ruang rawat VVIP yang terletak tak jauh dari ruang bayi.


Usai mengadzani bayinya, Ilham diminta untuk membawa bayinya pada ibunya. Yang kebetulan sudah sadar.


"Bayi kita sayang," ujar Ilham penuh haru mendekat kearah istrinya.


Dengan linangan air mata Sisi menyambut bayi mungil itu untuk di susui. Dengan di bantu, suaminya Sisi berhasil memberi ASI pertamanya untuk bayinya. Dengan lahapnya, bayi mungil itu menyedot ****** susu ibunya. Sementara Sisi, meringis geli. Karena itu pertama kalinya.


"Alhamdulillah, semuanya selamat. Oh iya Nak Ilham, apa Nak Ilham sudah menyiapkan nama untuk anak kalian?" tanya Faisal pada menantunya.


"Alhamdulillah sudah, Yah. Ilham memberi nama bayi Ilham Atika Fithriya Tsabita: Seseorang dengan hati yang mulia dan teguh."

__ADS_1


Dan semua suka dengan nama itu.


Selesai


__ADS_2