
Weli dan Rio mendekati Faisal dan Yulia yang tengah duduk disalah satu bangku taman rumah sakit. Weli yang duduk di kursi roda sembari memangku baby-nya terlihat begitu antusias ingin berbagi kebahagiaan pada sahabat-sahabatnya itu. Sementara Rio, dia dengan setia mendorong kursi roda yang tumpangi istrinya. Terlihat jelas ranum kebahagiaan terpancar di wajah mereka berdua. Setelah menunggu hampir sembilan tahun, akhirnya Allah memberikan kepercayaan kepada mereka. Seorang bayi perempuan yang sangat cantik, hadir di tengah-tengah keluarga kecil mereka.
"Sal, Yul, selamat ya atas kelahiran bayi kembar kalian berdua," ujar Weli tersenyum ramah pada pasangannya paling romantis di sana.
"Eh, Mbak Weli dan Mas Rio. Selamat juga ya atas kelahiran putrinya." Yulia pun membalas senyuman Weli.
"Selamat ya, brow. Udah jadi Bapak kan sekarang!" Seru Faisal pada Rio.
"Thanks ya..." Jawab Rio memegang pundak Faisal.
Yulia senang, karena Faisal sudah bisa bersikap baik pada Rio dan Weli. Tidak seperti dulu, dia seakan menjaga jarak dengan kedua sahabatnya itu. Tapi sekarang, Faisal sudah berdamai dengan keadaan. Begitupun dengan Weli. Dia juga sudah bisa bersikap biasa dengan Faisal. Tidak seperti dulu, yang selalu canggung bila berhadapan dengan Faisal.
"Aku iri deh dengan kamu Yul," ucap Weli yang memegangi pipi bayi yang ada di pangkuan Yulia.
"Kenapa Mbak?"
"Kamu bisa mempunyai banyak kembar. Dengan dua kali hamil, kamu langsung bisa dapat tiga anak," ujar Weli dengan mata berkaca-kaca.
"Iya Mbak, Allah sangat baik pada kami. Setelah beberapa ujian yang kami lalui bersama. Allah memberikan berkahnya pada kami. Lewat mereka- mereka ini." Yulia mengelus pipi Fatan kemudian mengelus pipinya Fatin.
"Sayang, kita juga bisa kok punya anak kembar," ujar Rio menghibur Weli.
"Hmmm, aku gak mau berharap lebih sayang. Dengan hadirnya Ferisya aja aku sudah sangat-sangat bersyukur." Weli memandang Rio dengan wajah sendu.
"Sayang, udah ya jangan sedih lagi." Rio kemudian duduk berjongkok, mengelap air mata Weli yang mulai menetes.
"Oh iya Sal, kayaknya kita bisa jadi besan nih," ujar Rio mencairkan suasana yang sudah mulai sayu.
"Hmmm besanan dengan Lo, enggak deh!"
"Emangnya kenapa Sal, Lo gak mau besanan dengan gue?" Rio tergelak melihat ekspresi wajah Faisal.
"Hmmm aku setuju sih, ide kamu bagus juga sayang!" sambung Weli ikut tertawa.
"Iya Mas, Yulia juga setuju. Hehehehe!" Ujar Yulia ikut tergelak.
"Kalian ini kenapa, kok bersikeras mau jodohin anak-anak kita." Faisal menatap satu persatu wajah Yulia, Weli, dan Rio.
__ADS_1
"Ya apa salahnya Sal. Biar persahabatan kita ini bisa langgeng," jawab Rio santai.
"Hmmm Gue sih gak setuju ya. Gue gak mau mengekang anak-anak gue tentang jodoh mereka." Tampak jelas Faisal serius dengan ucapannya.
"Ya ampun Sal, gue cuma becanda kali. Gitu aja udah tegang tuh muka." Seketika Faisal memukul dada Rio, diikuti gelak tawa semuanya.
"Ya tapi kalau bisa jadi kenyataan sih, gue setuju." Faisal langsung melototi Rio.
Matahari sudah mulai meninggi. Hari pun sudah mulai panas. Acara berjemur pun telah berakhir. Faisal dan Yulia kembali keruangannya. Kebetulan di dalam Bu Sundari dan pak Erlangga sudah ada di sana.
"Ma, Pa, kapan datangnya?" Faisal dan Yulia menyapa kedua orang tua angkatnya.
"Barusan kok sayang, sini biar Mama yang gendong cucu Mama." Bu Sundari kemudian mengambil Fatin dari gendongan Faisal.
"Coba lihat deh Pa, mereka lucu-lucu banget ya," kata Bu Sundari memperlihatkan Fatin pada suaminya.
"Iya Ma, mirip Ayahnya semua kayaknya." Pak Erlangga mengelus lembut pipi bayi yang ada didalam gendongan istrinya.
"Oh iya, Sal, Yul. Kedatangan Papa kesini ada yang ingin Papa sampaikan kepada kalian berdua." Faisal dan Yulia tampak menerka-nerka sesuatu yang akan disampaikan oleh pak Erlangga.
"Jadi gini, Papa dan Mama mu akan kembali ke Singapura. Karena memang bisnis yang Papa jalani disini sudah rampung. Jadi kami tidak punya alasan untuk tinggal disini lagi. Sementara bisnis Papa yang ada di Singapura Sepertinya memerlukan perhatian khusus dari Papa.
"Papa mau Faisal yang mewakili Papa untuk mengawasi perkembangan rumah sakit itu. Jadi, Papa minta kamu bekerja disana sekaligus menjadi direktur di sana." Faisal sedikit terkejut dengan ucapan papa angkat nya itu.
"Tapi Faisal tidak mempunyai kemampuan di bidang itu Pa. Kaldu untuk bekerja disana, inshaa Allah Faisal mau. Tapi kalau untuk menjadi direktur disana, Faisal tidak bisa." Faisal merasa tidak akan bisa mengemban amanah yang di berikan pada pak Erlangga.
"Nanti Devan yang akan membantu kamu," sambung pak Erlangga.
"Mama mohon kamu terima tawaran Papamu ya sayang," ujar Bu Sundari memelas.
"Anggap saja ini amanah dari kami!" Sambung Bu Sundari lagi.
"Tapi Ma." Ucapan Faisal terpotong kala Yulia memberikan isyarat padanya.
"Mas, kalau bukan kita yang bantu mereka terus siapa lagi?" Yulia membantu membujuk suaminya untuk menerima tawaran ke-dua orang tua angkatnya.
"Ya sudah Pa, Ma. Faisal akan coba." Ucapan Faisal membuat pak Erlangga dan Bu Sundari merasa lega.
__ADS_1
Sebenarnya rumah sakit itu sudah mereka rencanakan dari jauh-jauh hari. Hanya saja, mereka masih ragu dengan Faisal. Mereka takut, Faisal akan menolaknya. Karena itu, sebelum Yulia melahirkan kemarin. Mereka terlebih dahulu menemui Yulia. Mereka meminta bantuan pada Yulia untuk membujuk Faisal agar mau menerima amanah dari mereka. Ternyata rencananya berhasil.
Selepas menyampaikan tujuan mereka. Bu Sundari dan pak Erlangga pamit pulang. Sementara Faisal dan Yulia sedang sarapan makanan yang di bawa oleh Bu Sundari tadi. Usai makan, Faisal yang membereskan bekas Mereka makan tadi. Yulia duduk di sofa sembari memperhatikan baby-nya.
"Sayang, Mas hanya takut tidak bisa menjalankan amanah mereka dengan baik," ujar Faisal menyusul Yulia duduk di sofa.
"Mas Faisal inshaa Allah bisa. Yulia yakin!" Yulia berusaha menyakinkan suaminya yang sepertinya masih ragu menerima amanah dari pak Erlangga.
"Oh iya, apa Mas rekrut Dino untuk kerja di rumah sakit milik Papa, ya!" Seru Faisal meminta saran dari istrinya.
"Secara dia pernah kuliah di jurusan manajemen bisnis. Tapi cuma satu semester sih. Karena dia nggak mau menuruti perintah papanya yang ingin dia menjadi pengusaha. Dino dari SMA menang ingin menjadi dokter. Jadi dia memilih kuliah di kedokteran," terang Faisal memberi alasan ingin merekrut Dino untuk membantu nya.
"Yulia setuju Mas, apapun yang menurut Mas Faisal baik, Yulia akan dukung Mas." Yulia mengelus pundak suaminya.
"Terimakasih sayang, kamu selalu ada untuk Mas. Muachh." Faisal mengecup kening Yulia.
"Mas ih, cari-cari kesempatan deh!"
"Emangnya kenapa? Kan sama istri sendiri, sah-sah saja! Lagian Mas udah kangen sama kamu."
"Mas ih, tunggu tiga bulan lagi!"
"Kok tiga bulan sih, Yul! Bukannya empat puluh hari, ya!"
"Mas, Yulia barusan aja melahirkan bayi kembar. Ya, jadi perlu waktu yang lebih untuk memulihkan kondisi Yulia."
"Itu sih, alasan kamu aja." Faisal Sepertinya tidak rela jika harus menunggu sampai tiga bulan.
"Mas, emangnya Mas tuh mau kalau Yulia gak bisa muasin Mas lagi! Seru Yulia yang mulai ngambek dengan Faisal.
"Iya sayang, iya. Tiga bulan lagi, Mas bakalan nunggu dengan setia kok. Udah ya jangan ngambek lagi."
to be continued...
Besok di lanjut season ketiga novel
Suamiku tak pernah mencintaiku ya...
__ADS_1
tetep di lapak ini...
kisah cinta Sisi, Bilqis dan dokter Hanif