Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku

Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku
Wanita itu ibu kandungku


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, Bu Tari sudah bersiap untuk pergi ke kontrakan Veronika. Dari semalam pikirannya tidak tenang, setelah mengetahui kebenaran itu. Veronika adalah adik tirinya.


Jalanan raya masih sepi, belum terlalu ramai lalu lalang kendaraan. Dengan diantar olek ojek online, dia sampai di sebuah rumah petak yang di halamannya tidak terlalu luas. Setelah membayar ongkos pada driver ojek online, Bu Tari bergegas melangkahkan kakinya menuju kesalahan satu rumah petak itu.


"Assalamualaikum!" Bu Tari mengetuk-ngetuk pintu rumah itu. "Assalamualaikum, Ver. Ini Bunda Tari!" Teriak Bu Tari.


Tak lama setelah itu, handle pintunya bergerak lalu pintu itu terbuka. "Waalaikumussalam, Bun. Masuk!" seru Veronika setelah melihat calon mertuanya yang datang. "Tumben pagi-pagi begini main ke sini!" Veronica mempersilahkan tamunya untuk duduk.


"Ver, ada yang ingin Bunda tanyakan pada kamu!" ucap Bu Tari dengan nada serius.


"Ada apa, Bun? Apa ada masalah dengan Hanif?" tanya Veronica bingung.


Tak lama setelah itu Bu Sarah datang dari dalam. Dia tersenyum ramah pada calon besannya. Tak lupa, wanita itu menyalami Bu Tari. "Jeng, udah lama?" tanyanya basa-basi.


"Barusan, kebetulan ada Bu Sarah di sini! Ada hal penting yang akan saya tanyakan pada kalian berdua!" Bu Tari menatap serius dua wanita di depannya itu.


"Ada apa Jeng, sepertinya serius sekali?" Bu Sarah memandang Bu Tari setelah itu beralih memandang Veronika. Banyak hal yang terlintas di benak dua wanita itu, perihal kedatangan Bu Tari ke rumahnya pagi-pagi buta.


Bu Tari membuka tasnya, dan mengambil sesuatu di dalam tas itu. Setelah mendapatkannya, beliau menarik tangannya dari dalam tas itu dan memperlihatkan sebuah foto pada mereka berdua. "Kalian kenal dengan orang yang berada di dalam foto itu?" tanyanya menatap satu persatu Bu Sarah dan Veronika.


Bu Sarah mengambil foto itu dari tangan Bu Tari, setelah itu memandangnya sekilas. Seulas senyum terpancar dari bibir Bu Sarah. "Tentu saja kami kenal, Jeng. Dia itu suami saya!" Ucapan Bu Sarah bak suara petir di siang bolong untuk Bu Tari. Seketika raut wajahnya memerah, meredam kemarahan pada dua wanita itu. Namun dia masih bisa mengontrolnya. "Memangnya kenapa, Jeng?" lanjut Bu Sarah bertanya balik pada Bu Tari.


"Ada apa Bun? Kenapa Bunda tiba-tiba menjadi lesu begitu!" sambung Veronika bingung.


"Kamu dan Hanif tidak bisa melanjutkan pernikahan kalian!!" Kalimat Bu Tari sontak membuat ibu dan anak itu terkejut. Bagaimana tidak, Bu Tari tiba-tiba membatalkan rencana pernikahan Vero dan Hanif.


"Maksudnya apa ini Jeng? Kenapa Jeng Tari memutuskan pertunangan ini secara sepihak?" tanya Bu Sarah meminta penjelasan.


"Kalian ingin tahu apa alasannya?" Bu Tari mengambil satu foto lagi dari dalam tasnya, dan memperlihatkan kembali pada mereka berdua. "Kalian kenal dengan wanita itu?" Kemudian bertanya pada Vero dan Bu Sarah tentang siapa yang ada di dalam foto itu.

__ADS_1


Mereka tak kalah terkejutnya melihat foto nek Puspita dari tangan Bu Tadi. Ada hubungan apa antara nek Puspita dengan Bu Tari. Seperti itu kira-kira pikiran mereka menanggapi pertanyaan dari Bu Tari.


"Jawab, kalian kenal dengan wanita yang ada di dalam foto itu!!!" teriak Bu Tari dengan nada serak, dia sudah tidak bisa mengontrol dirinya untuk tidak menangis. Jika mengingat apa yang di ceritakan ibunya pada dia. "Kenapa kalian diam!!!" lanjutnya setelah itu dia terisak.


"Kalian tahu siapa wanita itu?" Bu Tari menjeda kalimatnya, sorot matanya tajam bak elang yang siap mencengkeram mangsanya. "Dia adalah orang yang kalian buang di panti jompo empat tahun lalu, apa kalian masih ingat, Hah!!!!" Mereka tertunduk lemas dan mempertanyakan darimana Bu Tari tahu tentang hal itu.


"Mungkin kalian bertanya-tanya saat ini. Dari mana saya tahu semua itu." Tatapan tajam dari Bu Tari berubah menjadi tatapan kebencian melihat mereka berdua. "Karena wanita tua yang kalian buang itu adalah ibu kandung saya!!!!" Seketika Bu Sarah dan Veronika membulatkan kedua kelompok matanya sempurna, mereka seakan tak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar.


"Jadi, kamu adalah anak dari Mbak Puspita!!" ucap Bu Sarah terbata-bata, setelah itu dia menutup mulutnya dengan tangannya. Seketika tubuhnya melemas, karena tambang mas yang sudah hampir dia dapatkan, kini harus sirna di depan mata.


"Iya!!!"


"Bunda!! Maafkan kami!!! Kami gak bermaksud membuang Ibu!!!!" rengek Veronika mengiba berlutut di kaki Bu Tari. Namun wanita itu tidak peduli dengan rengeknya, dan memilih menatap kearah lain. "Kami hanya di jebak Bunda!!!" kilah Veronika memainkan sandiwaranya.


"Sudahlah, saya bukan orang bodoh seperti yang kalian kira!!! Sampai kapanpun saya tidak akan memaafkan kesalahan kalian berdua!!!!" terus Bu Tari menarik dirinya untuk pergi dari tempat itu. Bahkan dia melewati Veronika yang masih bersimpuh di sana. Dengan langkah lebar, Bu Renata meninggalkan rumah ibu dan adik tirinya itu.


Perasaannya kini lega, karena dia bisa mengetahui kebenaran itu sebelum Hanif dan Veronika menikah. Rasa marahnya sedikit terobati, saat terbayang wajah putranya yang masih sangat mengharapkan Sisi untuk kembali. Dia akan membantu Hanif supaya bisa mendapatkannya kembali wanita yang di cintainya itu. Sekarang Bu Tari terlebih dulu memberitahu putranya perihal kebenaran itu.


"Tidak perlu, Ver. Bunda punya rencana lain, agar kita bisa masuk kembali dalam keluarga mereka!" ujar Bu Sarah dengan rencana liciknya.


*******


Di tempat lain, disebuah kamar yang sudah di hias cantik. Ranjang pengantin yang sudah bertabur kelopak mawar merah, dan harum ruangan itu membuat penghuninya betah berlama-lama di kamar itu. Bilqis yang baru saja selesai di rias oleh tukang makeup terlihat sangat cantik. Kebaya modern yang membalut tubuh wanita itu dengan bawahan kain batik, membuat Bilqis terlihat sangat anggun. Di tambah tatanan rambut bersanggul modern membuat semua orang yang melihatnya menjadi pangling.


"Tante, Kak Sisi kok belum datang?" tanya Bilqis yang terlihat murung karena Kakak sekaligus sahabatnya belum terlihat di sana.


"Iya sayang. Kakakmu belum ngabarin lagi. Kemarin katanya, mau ambil penerbangan pagi, kok sampai sekarang belum sampai juga!" ucap Yulia sedikit gelisah.


"Kalau kayak gini! Bilqis bakal terlambat ijab qobul nya!" cetuk Bilqis tak bersemangat. Padahal dia sudah mewanti-wanti sebelumnya pada Sisi agar tidak terlambat.

__ADS_1


"Sayang, kamu nggak usah tunggu Kakakmu. Kasihan Iqbal yang udah nunggu lama!! Sebentar lagi, penghulunya akan datang, kalian lanjut aja acara ijab qobul nya. Nanti Kakakmu pasti datang!!?" timpal Felisa yang mencoba memberi pengertian pada putrinya.


Percakapan mereka terhenti, saat dering ponsel Yulia berbunyi. Dan yang menelpon adalah ayah mertuanya.


"Assalamualaikum, Pak!"


"Waalaikumussalam, Yul. Bapak cuma mau kasih tahu ke kamu, kalau keluarga dari Kyai Abdulloh sudah sampai ke Jogja, dan rencananya besok mereka akan bersambang ke rumah kalian sekalian mau melamar Sisi!" ucap Pak Hermawan pada menantunya.


"Alhamdulillah, Ya Pak. Nanti Yulia beritahu Mas Faisal soal ini, ya Pak. Oh, iya, Bapak gak turut menyaksikan acara lamaran itu?"


"Nggak Yul. Bapak ke jogjanya tunggu Sisi nikahan aja. Biar gak bolak balik ke sana, capek!"


Setelah berbincang sedikit dengan bapak mertuanya, Yulia mengakhiri panggilannya. Dia terlihat senang, karena sebentar lagi anak gadisnya akan menyusul Bilqis.


"Kenapa Yul, kok kamu seneng banget?" tanya Felisa penasaran setelah melihat raut wajah sahabatnya berubah menjadi berbinar-binar.


"Sisi mau di lamar!!!"


"Alhamdulillah!!?"


To be continued...


Cerita ini alurnya memang sedikit sudah di tebak...


Tapi yang jelas, author gak akan buat kalian kecewa kok...


Hanya di ending novel ini akan ada kejutan!!!


Semoga kalian gak bosan baca novel ini😍😍😍

__ADS_1


Terimakasih


__ADS_2