Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku

Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku
Terjebak


__ADS_3

"Ke-napa, kamu bicara seperti itu, Bal? Iqbal menoleh kearah wajah Sisi, setelah itu dia tersenyum simpul melihat wanita di sampingnya terlihat gugup.


"Wajar aja sih, Si. Kalau Dokter Hanif cemburu sama aku. Soalnya kamu menang pantas untuk di cemburuin. Kamu, cantik!!!" ungkap Iqbal, membuat wanita itu semakin terlihat gugup.


"Gak usah gugup juga, kali Sih!" Iqbal tergelak. Seketika membuat wanita itu ingin mencubit pria yang di sebelahnya. Iqbal memang paling bisa, membuat wanita itu tertawa lepas, dulu. Tapi tidak untuk sekarang, karena baginya Iqbal seperti senjata yang kapan aja akan membuat hati Hanif terluka. Dan Sisi, dia tidak mau itu terjadi.


"Lama, amat ya. Mobilnya gak jalan-jalan. Ada apa Sih?" gumam Iqbal mempertajam penglihatannya ke arah depan.


Banyak mobil yang putar arah. Karena pohon yang tumbang itu cukup besar. Jadi tidak bisa di evakuasi oleh warga sekitar. Harus menunggu petugas yang ahlinya untuk mengevakuasi pohon tumbang itu.


Sementara Sisi, wanita itu terlihat sangat cemas. Karena tidak bisa menghubungi siapapun. Pasti sekarang, orangtua dan calon suaminya sedang mengkhawatirkan dia. Melihat itu, membuat Iqbal mencari cara agar bisa sampai ke rumah Sisi.


"Si, kamu tahu nggak jalan pintas menuju ke rumah kamu. Selain lewat jalan ini?" tanya Iqbal. Wanita itu mengingat-ngingat sesuatu. Tapi dia memang dia asing dengan jalan itu. Jadi, belum hafal betul.


"Si, aku tanya Lo sama kamu! Kenapa sih, kamu sering ngelamun sekarang?" goda Iqbal, mendapat tatapan tajam dari Sisi.


"Menyebalkan, seenaknya aja kamu bilang kek gitu ke aku!"


"Lagian, di tanyain cuma dia aja!"Iqbal kembali tergelak. Saat Sisi sudah kembali menjadi Sisi yang gak jaim lagi di depannya.


"Jadi, tahu nggak nih! Jalan pintas," imbuh Iqbal. Sisi menggeleng.


"Lihat aja di google map. Cari disana, ada gak jalan pintas menuju rumahku," jawab Sisi.


Akhirnya Iqbal mencarinya di google map. Meskipun dia tidak begitu yakin, jika lewat aplikasi itu. Iqbal memutar arah, saat mobil di depannya sedikit senggang.


Iqbal mengikuti petunjuk dari aplikasi yang ada di handphone nya.


"Si, aku gak yakin deh! Takut kesasar!" keluh Iqbal, tapi tetap masih fokus menyetir.


"Kalau gak yakin Kenapa, diikuti?" seloroh Sisi yang membuat Iqbal mendelik.


"Ya ampun Si-si, bukannya kasih saran. Malah protes," salak Iqbal kesal.


Hujan deras masih mengguyur kota itu. Sesekali petir pun menyambar. Mobil Iqbal masih menyusuri derasnya air hujan. Mencari jalan pintas menuju ke rumah Sisi. Sesuai petunjuk dari aplikasi itu, mereka melewati sebuah perkampungan yang jarak rumah dari rumah masih senggang. Belum lagi, akses jalan yang banyak berlubang membuat mobil mereka tidak bisa berjalan lebih cepat.


"Kok lewat sini, Sih Bal. Kita gak kesasar nih!" tanya Sisi menoleh kearah Iqbal.


"Ya aku cuma ikutin petunjuk dari Mbah google, Sisi!" Iqbal mendengus kesal, saat di protes oleh Sisi.

__ADS_1


Beberapa lubang, menggoyang mobil yang melaju melambat. Jalanan pun sudah terlihat sepi. Tak ada lalu lalang kendaraan di sana. Yang tambah membuat suasana menjadi seram. Tidak ada bias cahaya lampu-lampu dari rumah warga sekitar. Itu menandakan lampu disana sedang padam, mungkin ada kabel yang terkena pohon tumbang.


Setelah berjalan hampir satu kilometer, tak ada tanda-tanda mereka memasuki jalanan ramai. Tiba-tiba mobil Iqbal berhenti mendadak di tengah jalan.


"Bal, kenapa mobilnya mati?" tanya Sisi yang di liputi rasa khawatir. Dia teringat kejadian, yang ia alami dulu. Saat Hanif menolongnya dari preman-preman yang akan menodainya.


"Sisi, kalau Iqbal tahu, gak mungkin masih ada di sini? Ini mobil kenapa juga, pake berhenti segala!!" Iqbal memukul-mukul stir mobil, seraya mengumpat kesal.


"Cari bantuan dong, Bal. Ya Allah," seloroh wanita berparas ayu itu panik.


"Sisi, kamu tenang dong! Jangan bikin aku tambah panik!" Iqbal mencoba men-start lagi mobilnya. Tapi tetep tidak nyala.


Mereka sudah menempuh kurang lebih perjalanan selama satu setengah jam. Karena fokus melihat arah dari ponselnya. Iqbal tidak menyadari kalau bensin di mobilnya kering. Itu yang mengakibatkan mobilnya tiba-tiba mogok.


Sementara itu, di luar masih gerimis. Meski tidak terlalu lebat. Tapi jika, mereka keluar dari dalam. Tubuh mereka akan basah.


"Shiiit... bensinnya habis, Si!" umpat Iqbal, memukul benda yang ada di dekatnya.


"Apa!!! Ceroboh banget, sih! Kenapa gak cek dulu..trs kita gimana, Bal? aku takut!" Seloroh Sisi.


"Tenang, Si! Kita cari bantuan aja dulu!" ucap Iqbal menenangkan.


Iqbal masih bisa melihat wajah Sisi yang terlihat panik. Tubuh wanita itu sedikit gemetar. Efek takut atau lapar. Iqbal tidak tahu. Yang jelas mereka terjebak di situasi yang sulit. Karena disana masih jarang rumah warga. Tidak hanya itu, hujan yang sejak sore tadi bahkan belum reda. Di tambah mati lampu, membuat mereka sedikit sulit untuk meminta bantuan.


Iqbal mengambil ponselnya yang terletak di darkboks mobil untuk menghubungi seseorang. Minta bantuan pada siapa saja, yang kiranya rumahnya dekat dari tempat mereka terjebak.


Saat sedang menelpon, suaranya putus-putus akibat sinyal di sana tidak memungkinkan. Iqbal menghubungi temannya yang ngekost, yang jarak kost-kostan gak jauh dari tempat dia berada.


"Si, handphone kamu ada sinyal-nya nggak?" tanya Iqbal pada Sisi. Sisi menghela nafasnya ke udara. Tiba-tiba dia diserang rasa sesak di dadanya. Saat Iqbal menanyakan handphone padanya. Bagaimana tidak, seharian tidak mengabari orang rumah dan Hanif. Sekarang, dia justru terjebak di tempat itu.


"Bal, handphone aku low sejak masih di rumah sakit."


"Sial!!!!"


Iqbal melihat sekeliling di mana mereka berhenti. Tak jauh dari sana, ada rumah warga. Meski gelap, Iqbal bisa melihatnya, dari pantulan warna cat dari rumah itu sendiri.


"Kamu tunggu disini, ya! Aku mau minta bantuan pada orang yang ada di rumah itu." Iqbal menunjuk ke arah rumah yang berada di sebelah kiri mobilnya.


"Nggak, Bal! Aku ikut, aku takut disini sendirian!" ucap Sisi memelas. Tanpa banyak berfikir Iqbal pun menyetujui permintaan Sisi. Dia juga tidak tega bila harus meninggalkan Sisi sendirian di mobil.

__ADS_1


"Ya udah, ayo turun!" ajak Iqbal, kemudian mereka turun secara bersamaan.


Rintik hujan dari langit menyambut dua orang manusia itu. Rintik yang masih sering jatuh itu, mampu membuat baju mereka sedikit basah. Iqbal memayungkan jaketnya di kepala Sisi, berharap bisa sedikit membantu untuk melindungi tubuh Sisi dari air hujan yang masih turun.


Mereka setengah berlari menuju rumah itu. Rumah setengah permanen yang terlihat sepi. Entah karena tidak ada penghuninya atau penghuninya sudah terlelap.


Saat mereka sudah sampai di teras rumsh itu. Iqbal berjalan mendekat kearah pintu, dan mengetuknya. Beberapakali pintu itu di ketuk oleh Iqbal. Namun tidak ada sahutan dari dalam. Iqbal sedikit frustasi, usahanya berjalan kesana sia-sia.


"Gimana, Bal?" tanya Sisi mendekat kearah teman laki-lakinya itu. Iqbal hanya menggeleng.


"Nggak ada orang, Si! Kita kembali saja ke mobil!" seru Iqbal dengan nada kecewa.


Sisi hanya menurut. Dia juga sudah terlalu lelah untuk berdebat dengan Iqbal. Tapi saat mereka akan melangkahkan kakinya menuju ke mobil tiba-tiba hujannya kembali lebat. Sehingga tidak memungkinkan mereka kembali ke mobil saat itu. Akhirnya mereka memilih untuk berteduh dulu, disitu. Menunggu hujannya reda.


Sudah hampir satu jam lebih, hujan tak kunjung reda juga. Semakin lama semakin deras. Apalagi sesekali suara petir menggelegar, menghiasi malam itu.


Sementara Sisi, wanita itu terlihat menggigil kedinginan. Meski dia memakai baju yang menutupi seluruh tubuhnya. Tapi baju itu sedikit basah, terkena hujan tadi. Iqbal melepas jaketnya, untuk di berikan pada wanita itu. Dia tidak tega melihat sahabatnya yang menggigil kedinginan.


"Pake ini, Si. Kamu menggigil gitu." Iqbal menyerahkan jaketnya pada wanita itu. Sebelum mengambil jaketnya, Sisi memandang wajah Iqbal terlebih dulu. Menyadari itu, Iqbal langsung memberi isyarat untuk mengambil jaket itu.


"Makasih, Bal!" Pria itu tersenyum.


Sisi langsung mengalungkan jaket itu ke punggungnya. Lumayan sedikit menghangatkan tubuhnya.


Malam semakin larut. Udara semakin dingin di luar. Hujan pun tak kunjung reda. Jaket yang menyelimuti tubuh Sisi, sudah tidak mempan lagi untuk sekedar menghangatkan tubuh wanita itu. Sisi kembali menggigil, dan di tambah wajahnya terlihat pucat. Melihat hal itu, Iqbal tidak tega. Dia kembali mengetuk pintu rumah itu. Berharap orangnya terjaga dan membukakan pintunya.


Tapi jika di lihat sekali lagi. Rumah itu sudah lama tidak di huni pemiliknya. Terlihat banyak sarang laba-laba yang menempel di celah pintu. Merasa tidak berhasil membangunkan orang yang ada di dalam. Iqbal iseng memegang handle pintu, setelah itu ditarik olehnya. Selang beberapa detik pintu itu terbuka. Ternyata benar rumah itu tidak berpenghuni.


Sebelum masuk kedalam, Iqbal menghampiri Sisi untuk masuk. Sisi yang duduk di kursi teras menyadari Iqbal mendekat kearahnya, dia tak menunjukkan wajahnya.


"Si, kita masuk aja ya. Di luar udara semakin dingin. Pintunya gak di kunci kok," ucap Iqbal. Sesaat kemudian wanita itu mendongakkan kepalanya. Menatap wajah Iqbal dan sedikit memikirkan kata-kata Iqbal. Dengan sedikit pertimbangan, akhirnya Sisi bangkit dari tempat duduknya. Dia benar-benar lemas. Sudah gak punya tenaga lagi. Karena sejak siang tadi, perutnya belum terisi makanan. Di tambah, dia hanya makan sedikit, makan siangnya. Karena terburu-buru.


Akhirnya mereka masuk. Memang benar rumah itu tak berpenghuni. Banyak debu-debu yang menebal di perabotan rumah itu. Iqbal mencari lap untuk membersihkan debu yang menempel di kursi, agar Sisi bisa duduk dan beristirahat disana. Dengan berbekal senter dari handphone nya. Iqbal berhasil menemukan lab itu. Baju bekas yang tersampir di dekat bupet, di rumah itu.


Iqbal langsung membersihkan kursi itu. Dan setelah bersih, dia mengajak Sisi untuk duduk. Sesaat kemudian, tubuh Sisi tumbang, namun masih bisa di tangkap oleh Iqbal.


"Sisi!!!! Bangun, Si!!!"


To be continued

__ADS_1


Apa yang akan terjadi selanjutnya


__ADS_2